Ketika Istriku Menyerah

Ketika Istriku Menyerah
Obsesi


__ADS_3

Sarah meraba pipinya yang terasa kebas, untuk pertama kalinya ada orang yang berani menamparnya. Jemari tangannya mengepal, hendak menampar balik, namun dengan cepat Krisan menepis.


"Paman, aku kemari hanya untuk berkunjung tidak memiliki niatan buruk, walaupun Rain berkata paman ingin membunuhnya. Tapi setelah mendengar kata-kata Sarah, aku tidak ingin lagi berkunjung kemari..." ucapnya menunduk hendak bangkit.


"Krisan! Tunggu, Sarah tidak bermaksud begitu," Santoso menggelengkan kepalanya pada Sarah, bagaikan memberi isyarat untuk meminta maaf.


Namun, sekian tahun hidup dengan harga diri tinggi, tanpa ada orang yang tidak tunduk padanya. Mengambil apapun yang diinginkannya sesuka hati, membuat Sarah lebih mudah tersulut emosi. Tidak memakai logikanya lagi.


"Memang benarkan kamu diam-diam menyukai Wily, untuk apa minta maaf!? Aku tidak salah, selain itu kamu berhutang budi pada keluargaku, jika bukan karena keluargaku, mungkin perusahaan ayahmu hancur lebih awal!! Wanita nona muda kecil sepertimu akan hidup di jalanan!! Merasa beruntunglah sudah dititipkan di panti asuhan!! Dasar yatim-piatu!!" ucap Sarah sinis.


Geram? Tentu saja, Krisan mengepalkan tangannya. Apalagi dengan kedatangan Morena yang memperkeruh keadaan, meraba pipi putrinya yang memerah."Siapa yang melakukan ini!?" bentaknya.


"Aku ..." Krisan kembali duduk di samping suaminya.


"Morena dia tidak senga..." kata-kata Santoso terpotong.


"Dasar wanita sial!! Punya nyawa berapa kamu!! Berani-beraninya menampar putriku!!" geramnya mendekat hendak menjambak rambut Krisan namun dengan cepat Santoso memeganginya.


Rain mengenyitkan keningnya merasa ada yang aneh. Ada yang membuat keluarga ini menahan diri untuk melukai Krisan, entah itu apa.


"Bibi Morena, Sarah mengatakan dengan sengaja, di depan suamiku aku menyukai Willy. Bibi tidak ingat? Ketika kecil jangankan bermain, menyapa saja Willy tidak pernah, bagaimana aku bisa menyukainya. Mungkin sudah kebiasaan mengambil barang di kamarku, hanya dengan mengatakan menyukainya saja,"


"Jika dia mengatakan menyukai suamiku, haruskah aku memberikannya?" ucap Krisan menatap sinis.


Morena tertegun diam sejenak,"Kamu Krisan?" tanyanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Krisan.


Wanita paruh baya itu kembali menekan emosinya. Kesal? Tentu saja, tapi Krisan jauh lebih kaya darinya, jika menjadi menantunya sekalipun harus dihormati olehnya. "Krisan, ini kamu? Maaf ya bibi tidak sengaja,"

__ADS_1


"Rain, ayo kita pergi! Kamu benar, keluarga ini memang perlu diwaspadai," ucapnya bangkit dari sofa tempatnya duduk.


Hanya tersenyum, Rain ikut bangkit, sedikit menemukan petunjuk tentang keluarga Santoso, tapi beberapa langkah mereka berjalan, suara Santoso terdengar,"Krisan, kami keluargamu, mungkin kamu sudah terlalu dipengaruhi oleh suamimu. Paman hanya ingin mengatakan, Rain tipikal pria yang tidak setia. Karena itu paman tidak ingin kamu menyesal nantinya,"


Merencanakan langkah selanjutnya? Tentu saja, bagikan mengendalikan bidak catur. Rain, pria ini terlalu pintar, harus disingkirkan terlebih dahulu bagaimanapun caranya.


Krisan tipikal orang ragu, tidak mudah yakin. Santoso hendak menanam bibit ketidak percayaan, untuk membuat sebuah pernikahan menjadi retak. Langkah selanjutnya? Hanya menjerat Rain untuk berselingkuh, melenyapkannya jika sudah menjauh dari Krisan.


Tinggal merangkul Krisan untuk menjadi menantunya.


Keserakahan terkadang menenggelamkan logika manusia. Iming-iming ratusan juta dollar, bahkan ditambah aset mungkin mencapai milyaran dollar. Bukan disebut konglomerat di negara ini lagi, namun mungkin sudah memasuki konglomerat kelas dunia.


Tapi apa benar demikian? Krisan menghentikan langkahnya,"Aku tau dia genit!! Aku tau dia suatu hari nanti akan berselingkuh!! Lalu kenapa!? Rain satu-satunya orang yang bersedia menjadikanku anggota keluarganya!!" bentaknya, pergi meninggalkan rumah dengan penghuninya yang hanya membuat tekanan darahnya naik.


Suara pintu mobil dibanting terdengar, pertanda sang pemilik murka. Mobil Rain yang melaju, meninggalkan rumah tersebut.


Santoso menghela napas, melirik ke arah Sarah. Tangannya terulur mencengkram kuat kedua pipi putrinya hanya dengan satu tangan."Apa yang kamu lakukan, hah!?" bentaknya.


Namun gagal, cengkeramannya terasa semakin kuat. Sarah mulai menangis terisak ketakutan,"Ayah, ini bukan salahku...".


"Kamu menyukai Rain kan!?" teriak Santoso menghempaskan tubuh putri ke sofa.


Pipi yang terlihat memerah, dengan bekas cap kuku sang ayah. Menyakitkan, benar-benar menyakitkan, untuk pertama kalinya Santoso semarah ini pada putrinya.


"Apa salahnya, jika aku merebut Rain dari Krisan. Kakak tinggal menikah dengan Krisan saja ..." jawaban yang terdengar begitu mudah dari bibir Sarah, membuat Santoso lebih murka lagi. Menjambak rambut putrinya.


"Dengar! Rain bukan pebisnis biasa, dia cerdas, licik, dan tidak terobsesi oleh uang, kedudukan, ataupun wanita. Jika dia tau apa yang dimiliki oleh istrinya, maka dia akan menginjak keluarga kita tanpa ampun," ucap sang pria paruh baya.

__ADS_1


"Ayah lepas! Sakit!" pekik Sarah, berusaha melepaskan tangan sang ayah dari rambutnya.


Willy tersenyum berjalan mendekat, pemuda itu menatap ke arah adiknya tanpa berbelas kasih,"Kamu tau biang keladi semua ini adalah dirimu sendiri!? Aku berkorban untukmu agar karier politikmu cemerlang dengan menikah dengan Sasha,"


"Satu persatu barang di kamar Krisan kamu sendiri yang mengambilnya. Bahkan tempat tidur besar megah miliknya diganti dengan kasur spon murah. Lemari, pakaian, boneka, semua hal yang dimilikinya. Karena itu aku katakan jangan terlalu serakah,"


"Rain menjadi suamimu? Jangan bercanda, dia tipikal orang yang berbahaya, kemampuan memanipulasinya setara dengan ayah. Jika dia ingin, dia akan memanfaatkanmu sebagai pion, kemudian membuangmu jika sudah tidak perlu," cibirnya menepuk pundak adiknya, berjalan berlalu meninggalkan rumah hendak pergi bekerja.


"Kamu dengar kata-kata kakakmu? Dia lebih pintar darimu..." ucap Santoso, mengambil tas kerjanya dengan perasaan kesal, berjalan meninggalkan ruang tamu menuju tempat parkir mobil.


Morena membelai rambut putrinya, menghela napas kasar mendekap wanita yang terus menangis itu erat,"Aku hanya ingin masa depan yang lebih baik. Dari pada membunuhnya, jika aku menikahinya, ini juga bagus untuk bisnis ayah kan?" ucapnya terisak.


Sang ibu mengangguk,"Terkadang ibu juga tidak mengerti dengan jalan fikiran ayahmu. Tapi ibu akan membujuknya untuk kebahagiaanmu..."


Morena tersenyum, kebahagiaan Sarah adalah yang utama untuknya. Kebahagiaan dari anak pria yang benar-benar dicintainya, bahkan kebahagiaan Sarah lebih penting dari kebahagiaan Willy.


Kenapa kedua anak itu dibedakan padahal lahir dari rahim yang sama? Tentu saja karena hanya Morena yang mengetahui, Willy dan Sarah memiliki ayah yang berbeda.


Willy adalah anak kandung Santoso di awal pernikahan mereka. Tapi tidak dengan Sarah, kehidupan Santoso yang sulit saat itu, membuat Morena mengingkari janji pernikahan, dengan berselingkuh.


Ayah kandung Sarah? Sejatinya dahulu saat kehidupan Santoso masih sulit, seorang kontraktor, namun sayang perusahaan tempatnya bekerja bankrut. Ayah kandung Sarah saat ini bekerja sebagai supir di rumah Santoso mengawasi putri dan wanita yang dicintainya.


Apa Santoso mengetahuinya? Sejatinya tidak sama sekali. Anak perempuan yang dimanjakannya, anak perempuan yang selalu ingin menjadi nona muda, bukanlah anak kandungnya. Sungguh miris bukan? Memaksa Willy putra kandungnya untuk menikahi Sasha, hanya demi menaikan karier politik anak hasil perselingkuhan istrinya.


"Ibu akan berusaha agar kamu bisa memiliki Rain. Kamu sangat menyukainya?" tanya Morena lembut.


Sarah menggangguk,"Aku ingin semua yang dimiliki Krisan. Pakaiannya, perhiasannya, dan pria yang dicintainya..."

__ADS_1


Sebuah obsesi yang masih ada hingga saat ini. Menginginkan menjadi seorang nona muda sejati. Dengan merebut milik seseorang yang dianggapnya sebagai nona muda.


Bersambung


__ADS_2