Ketika Istriku Menyerah

Ketika Istriku Menyerah
Tidak Pernah Mengalaminya


__ADS_3

Mencegah jalannya takdir hanya bagaikan memayungkan diri pada daun talas. Air yang bimbang tidak diketahui akan jatuh kemana nantinya.


Tubuh lemah itu mendingin jalannya waktu yang benar-benar berubah. Seharusnya istri dan calon anaknya yang tiada, namun dirinya mengorbankan hidupnya kali ini. Merasa hangat dalam dekapan tubuh istrinya yang terus mengguncangnya.


Terimakasih... hanya kata itu yang dapat diberikannya pada Tuhan dalam wajah tenangnya. Kedua hartanya yang paling berharga masih hidup hingga kini. Kesempatan kedua yang dijalaninya dengan baik, tanpa penyesalan sedikitpun.


"Aaggh... Rain bangun! Aku mohon! Bangun!" teriaknya lirih, seakan tidak peduli pada orang-orang yang ada disekitarnya.


Apa yang salah? Pasangan yang tidak pernah iri dengan milik orang lain, sepasang anak dari panti asuhan yang hanya saling menjaga. Mengapa harus terpisah seperti ini, ini menyakitkan. Kebenaran yang diucapkan pria yang kini ada dalam pelukannya dengan wajah pucat pasi bagaikan tidak memiliki nyawa lagi didalamnya. Ditinggalkan adalah hal yang menyakitkan, dari pada meninggalkan.


Ketika meninggalkan tidak akan merasakan penyesalan apapun, namun bagi yang ditinggalkan luka hati yang dalam akan benar-benar terasa menyakitkan. Bagaikan pisau belati yang mengoyak menikam jantung tiada henti.


"Rain!! Bangun!! Aku mohon!!" teriaknya lagi menjerit dalam tangisnya.


Darah yang mengalir tiada henti, bercampur air hujan yang dingin. Lukanya dipegang jemari tangan istrinya, berharap suaminya tidak akan kehabisan darah. Bodoh bukan? Namun, itulah seorang istri yang telah putus asa.


Dirinya menyesal menyerah akan suaminya, seseorang yang selalu mencintainya sebelum waktu terulang, hingga waktu terulang kini. Hanya mencintainya hingga ujung usianya.


"A...aku ingin kita melihat cucu kita. Aku mencintaimu... sangat..." ucapnya mengecup bibir yang tidak bergeming beberapa kali.


Suara ambulance akhirnya terdengar, memberikan secercah harapan untuknya. Tidak memiliki siapa-siapa lagi, tidak mempercayai siapapun. Hanya Rain yang ada dalam hidupnya.


***


Hanya tertunduk diam, membiarkan tubuhnya berbalut pakaian basah kuyup. Menunggu di depan ruangan operasi. Dirinya dan Rain tidak memiliki kerabat, hanya saling menjaga, tidak memiliki siapapun lagi. Krisan baru menyadari itu, kematian dirinya sendiri sebelum waktu terulang, adalah kesalahannya tidak pernah menanyakan, apakah Rain mencintainya?


Entah, bagaimana perasaan suaminya dari awal, pemuda yang bagaikan hujan untuknya. Menghapus lelahnya, memberikan harapan akan esok yang lebih baik bersamanya.


"Rain," isakannya mengelus perutnya yang rata.


Dalam ruangan operasi...


Tubuh itu terlihat lebih pucat lagi, transfusi darah terpasang. Sebuah selang membantu pernafasan memasuki mulutnya, ada banyak luka di tubuhnya. Bahkan salah satu tulang rusuknya retak. Beberapa organ juga terkena efek benturan.

__ADS_1


Mata yang terpejam tidak sadarkan diri, tubuhnya mulai dibedah pisau operasi. Pemuda yang tidak sadarkan diri, terlelap dalam mimpinya, berada di sebuah gazebo yang indah dengan kolam ikan dan bunga teratai di sekitar gazebo...


Seorang pemuda dengan lambang teratai merah di dahinya berada disana, dihadapannya memiliki rambut yang panjang, wajah rupawan. Menyajikan teh untuknya,"Sudah mengatakannya dengan baik pada istrimu?" tanyanya.


Rain mengangguk terdiam menatap sang pemuda.


"Tuhan adil bukan? Dia tidak akan pernah membiarkan ketidak adilan. Hanya tidak pernah menunjukkan diri-Nya dalam wujud yang nyata. Aku hanya makhluk kecil yang diciptakan-Nya, untuk memberi kesempatan pada orang-orang yang sulit mendapatkan keadilan,"


Sang pemuda menghela napas kasar,"Tidak akan ada orang yang setelah mendapat kesempatan kedua akan mengingatku dalam jangka waktu yang lama. Karena itu, kamu tidak akan mengingat telah mengulangi waktu setelah terbangun nanti,"


Rain menatapnya dalam ekspresi kosong,"Lalu Krisan?"


"Wanita itu juga akan melupakan telah mengulangi waktu tapi tidak sekarang, masih banyak hal yang harus dilakukannya dengan ingatan telah mengulangi waktu," ucap sang pemuda, bangkit dari tempatnya duduk, dahi Rain disentuh ujung jari telunjuknya.


Pemuda yang tersenyum, perlahan pergi meninggalkan Rain dengan wujud seorang kakek tua, kakek yang sedikit bungkuk. Sang kakek yang menjual gulali sebelum waktu terulang.


***


Anastesi telah berhenti bekerja, matanya perlahan terbuka. Menatap Krisan yang tertidur di kursi samping tempat tidurnya.


Jadi...


Rain mengenyitkan keningnya, apa yang sudah dilakukan dirinya? Kenapa bisa menjadi agresif, tidak menjaga image sebagai pria cool mendominasi di hadapan istrinya?


"Aku bodoh," gumamnya ketika sadar.


Perlahan Krisan yang telah memakai pakaian kering, membuka matanya, bersamaan dengan Rain menutup matanya. Tidak tahu harus berkata apa, menjaga imagenya sebagai pria dingin.


"Kenapa belum sadar juga?" gumam Krisan tersenyum, menyingkirkan anak rambut yang sedikit menutupi wajah suaminya. Pipi itu dikecupnya, kemudian meninggalkannya pergi ke toilet.


Rain seketika membuka matanya menyadari ketidak beradaan Krisan, meraba pipinya sendiri, tersenyum-senyum tidak jelas."Kenapa dia menjadi semanis ini..." gerutunya salah tingkah.


Perlahan mencoba menetralkan dirinya, berlatih untuk bicara di hadapan istrinya nanti,"Akrhm...aku sudah menyelamatkan nyawamu, jadi ambilkan aku air,"

__ADS_1


"Tidak, terlalu aneh," Rain menggeleng.


"Aku tidak sengaja menyelamatkan nyawamu, jangan besar kepala," gumamnya lagi.


Sejenak kembali menggeleng,"Aku mencintaimu, karena itu aku mengorbankan nyawaku untukmu,"


Lagi-lagi sang pemuda menghela napas kasar,"Terlalu lebay,"


Namun hal yang tidak diduga, Krisan datang tanpa disadarinya, menatap suaminya yang telah sadarkan diri. Air matanya mengalir tidak terkendali,"Rain..." ucapnya memeluknya erat.


"Sakit!" pekiknya.


"Maaf, aku mencintaimu," Krisan tiba-tiba mengecup bibirnya, penuh senyuman.


"Agresif!!" Rain menoleh ke arah lain dengan wajah yang memerah karena malu, menahan debaran di hatinya. Tetap berusaha menjaga imagenya.


"Agresif? Kamu bahkan lebih agresif lagi," suara tawa Krisan terdengar, menggenggam jemari tangannya.


Aku agresif? Tapi memang ada yang aneh, semenjak pulang dari Jerman aku tidak pernah menjaga imageku lagi di hadapannya. Dia begitu manis... andai saja badanku tidak lemas, dia sudah aku eksekusi di tempat tidur tanpa banyak bicara... batinnya, menoleh ke arah lain.


"Rain, aku mencintaimu. Kamu juga kan? Ayo mengaku," pinta Krisan menggodanya untuk lebih banyak tersenyum lagi.


"A...aku," ucapnya gelagapan. Sedangkan, Krisan mengenyitkan keningnya menunggu kata-kata dari mulut suaminya.


"Aku haus!! Aku baru sadar, tapi tidak diberikan minum," keluhnya, salah tingkah. Krisan yang polos ketika SMU, saat dewasa menjadi menjadi manager hotel benar-benar pandai menggodanya.


"Ini..." Krisan menyodorkan segelas minuman, segera diminum oleh suaminya."Rain, putra kita, apa kamu sudah menyiapkan nama untuknya?" tanyanya, mengelus perutnya yang rata.


"Jenis kelaminnya belum terlihat, laki-laki atau perempuan. Kita buat namanya bersama nanti, jika jenis kelaminnya sudah terlihat," jawaban ganjil dari mulutnya.


Ada yang aneh, Krisan membulatkan matanya. "Sebelum waktu terulang, janin dalam perutku laki-laki jadi seharusnya..."


"Waktu terulang? Apa yang kamu bicarakan?" ucapnya tidak mengerti, sejenak kemudian, mengelus perut rata istrinya."Anak papa tumbuh yang sehat ya? Papa akan menjagamu dan ibumu,"

__ADS_1


Krisan hanya tertegun diam, suaminya tidak ingat telah mengulangi waktu? Ingatan mereka bersama menjalani takdir yang buruk terhapus?


Bersambung


__ADS_2