
Rain menghela napas kasar, berusaha menyusun kalimat yang tepat untuk bicara, tanpa mengungkit tentang perjalanan waktu yang dialaminya. Mengatakan tentang dirinya yang telah mengulangi waktu? Krisan mungkin akan menganggap dirinya sudah gila atau berbohong.
"Krisan, apa kamu mengenal seseorang bernama Santoso? Dia salah satu pengusaha yang kebetulan menerima undanganku. Dialah yang merusak rem mobilku..." ucapnya mulai duduk di tepi tempat tidur, disamping istrinya.
"Santoso, dia yang melakukannya?" tanya Krisan menghapus ingusnya dengan tissue yang ada diatas meja.
Rain mengangguk membenarkan, mulai merebahkan dirinya, sembari menarik Krisan untuk berbaring dalam dekapannya.
"Ayahku seorang pengusaha bernama Zoya, sedangkan ibuku bernama Wanda, ada seorang bibi yang senang berkeliling dunia. Entah sekarang ada dimana. Sedangkan Santoso, dia hanyalah asisten ayahku," ucap Krisan memeluk tubuh Rain.
"Jadi kamu seorang nona muda?" tanyanya tertawa kecil, mengingat tingkah laku Krisan yang sama sekali tidak mencerminkan nona muda yang anggun.
"Aku tidak berbohong!! Mau aku berkata jujur tidak!?" bentaknya kesal.
"Baik nona muda..." Rain berusaha menahan tawanya.
"Semuanya sempurna, sangat sempurna hingga kecelakaan pesawat terjadi. Ibu dan ayahku tidak pernah dapat pulang dari perjalanannya, pesawat yang mereka tumpangi menghantam laut..." Krisan menenggelamkan wajahnya pada dada suaminya. Tidak ingin raut wajah dukanya terlihat.
"Lalu?" tanya Rain kembali.
"Tidak memiliki kerabat, tinggal sendirian di rumah yang besar. Semenjak itulah keluaga Santoso pindah ke rumahku. Menjadi keluargaku, semuanya terlihat baik-baik saja, semua orang mencintaiku. Hingga paman Santoso memintaku menandatangani beberapa surat, mengaturnya menjadi waliku sepenuhnya,"
"Dari sanalah semuanya berubah, mereka tidak mencintaiku..." ucapnya mulai terisak, tidak dapat menahan segalanya lagi.
"Barang-barang peninggalan ibuku dipakai oleh bibi Morena. Barang-barang di kamarku diberikan pada Sarah, tidak ada perhatian lagi, aku kembali menjadi orang asing..." lanjutnya, merasakan rambutnya dibelai lembut.
Kesal? Tentu saja, dirinya masih mengingat pakaian yang dikenakan Krisan ketika memasuki panti. Hanya pakaian murah dengan warna yang kusam. Jemari tangannya mengepal, namun ini juga belum menjawab pertanyaannya. Mengapa mereka kembali mencari Krisan?
Dan juga, perbedaan penyimpangan waktu, sebelum waktu terulang mereka terlihat pergi dengan kesal. Namun tidak berniat untuk membunuhnya. Tapi kini? Mereka menginginkan nyawa suami Krisan. Satu-satunya perbedaan mendasar adalah Krisan masih hidup dan sudah mati.
"Mereka menyakitimu?" tanyanya mendekap tubuh istrinya lebih erat.
Krisan menggeleng,"Paman Santoso membuat seolah-olah perusahaan ayahku mengalami pailit, rumah dijual untuk menutupi hutang perusahaan. Kenyataannya, semua dipindahkan ke rekeningnya. Untuk mendirikan perusahaan baru yang dimilikinya,"
__ADS_1
"Aku mengetahui segalanya, tapi tetap diam. Tidak ingin dibentak atau dipukuli. Aku pengecut bukan!?" lanjutnya.
Rain menggeleng, berusaha tersenyum,"Krisan pintar..."
"Setelah memiliki segalanya, mereka menitipkanku di panti asuhan. Kemudian kita bertemu..." ucapnya.
Rain menyentuh dagunya, membuat Krisan menonggakkan kepalanya. Bulir-bulir air mata itu dihapusnya."Jangan menagis, aku akan menjagamu,"
Tidak menemukan alasan segalanya, namun ada satu lagi seseorang yang harus diwaspadainya. Santoso, pria yang ingin membunuhnya. Menghancurkan keluarga Santoso? Tidak dapat dilakukan oleh Rain. Kemampuan dan kekuasaannya mungkin hanya setara dengan Santoso.
"Sekarang giliran aku yang bertanya, Rain bukan nama aslimu kan?" Krisan mengenyitkan keningnya, berusaha tersenyum.
Gawat... batinnya, ikut tersenyum ala iklan pasta gigi dengan deretan gigi putih bersinar.
"I...iya...nama, aku membuatnya karena kamu mengatakan menyukai hujan. Jadi...Rain... hujan..." ucapnya menahan perasaan malunya.
"Kamu bucin sejak dini?" canda Krisan tertawa kencang.
Rain mengangguk, menahan perasaan malunya.
"Aku pernah mencuri salah satu pakaianmu. Mencium aromanya sebelum tidur setiap malam. Saat di panti aku sering memilih warna sikat gigi yang sama denganmu. Setiap malam menyelinap, menukar sikat gigi setelah aku gunakan, aku menganggapnya sebagai ciuman tidak langsung," jawabnya penuh kejujuran, Rain yang dahulu terlihat dingin, ternyata posesif, bucin berlebihan dari awal.
"Ingat Tono teman SMU kita? Aku yang menguncinya di gudang sekolah semalaman, karena ketahuan menyukaimu diam-diam," lanjutnya.
Krisan berdidik ngeri, segera menggeser tubuhnya. Apa Rain sebelum waktu terulang sifat aslinya memang begini? Tapi kenapa sampai berselingkuh dengan Dara.
"Kenapa menjauh!? Jangan menjauh!! Itu karena aku mencintaimu!!" ucapnya menarik Krisan kembali, memeluknya lebih erat lagi.
"Rain, apa kamu tidak tertarik pada Dara?" tanya Krisan ragu, ingin menerka-nerka kejadian sebenarnya sebelum waktu terulang.
"Tidak sama sekali, wanita sepertinya ada banyak seperti ular yang hidup di setiap belahan dunia. Tapi kamu berada..." ucapnya.
Terharu tentu saja, dirinya dipuji setinggi langit,"Aku berbeda?" tanya Krisan antusias, penuh harap.
__ADS_1
"Seperti badak bercula satu yang hanya hidup di ujung kulon. Hewan eksotis, hampir punah harus dilindungi..." suara tawa Rain terdengar nyaring.
"Aku merasa kamu juga dapat diibaratkan... seperti nyamuk. Berapa kalipun diusir akan tetap datang, pasang obat nyamuk, menunggu obatnya habis kembali masuk! Dasar nyamuk!!" Krisan membalikkan tubuhnya bersungut-sungut kesal.
Rain, tiba-tiba memeluknya dari belakang, mengigit lehernya gemas,"Aku memang seperti nyamuk, tidak akan puas mengigitmu sekali ..." bisiknya.
Krisan mengepalkan tangannya, berfikir jika Rain benar-benar mencintainya dari awal, apa Dara menjeratnya menggunakan minuman keras atau obat? Entahlah, tapi jika iya, mungkinkah jika dirinya tidak meninggalkan Rain tetap mempertahankan pernikahannya, apapun yang terjadi. Anaknya akan dapat hidup?
Keputusan yang berbeda memberikan hasil akhir yang berbeda pula. Namun yang pasti saat ini dirinya masih mencintainya.
Krisan sedikit berbalik, kembali menyatukan bibir mereka. Lidah yang bermain saling membelit, inilah pria yang dicintainya.
***
Sedangkan di tempat lain, Santoso melajukan mobilnya meninggalkan hotel. Dapat dipastikan berita kecelakaan Rain akan segera terdengar.
Kesal? Tentu saja, sedikit lagi langkahnya. Andai saja saat itu dirinya tidak menitipkan Krisan di panti asuhan, maka tinggal menjodohkannya dengan Willy.
Menantu seorang anak menteri? Tidak dapat dibandingkan dengan Krisan, ratusan juta dollar, hanya jumlah saldo rekeningnya saja. Tidak dihitung aset-aset bernilai tinggi, belum lagi saham yang dicantumkan di sana dalam pengawasan Bank, tidak dalam pengelolaan Jacob.
Jemari tangannya gemetar memukul stir penuh kekesalan."Rain, bocah itu!!" geramnya.
Semua yang dimilikinya ataupun Rain tidak ada apa-apanya dengan segala peninggalan Zoya. Pria cerdas, mencintai keluarganya, satu lagi pria itu tipikal seorang pendendam.
***
Pendendam? Mungkin jiwa yang diwarisi pada menantunya. Kembali membuat istrinya tertidur, membuainya bergelut penuh kepuasan. Berharap anak mereka akan segera tumbuh, dalam rahim yang entah telah berapa kali diisinya.
Tubuh yang telah tertidur kembali itu dikecupnya. Mulai meraih phonecellnya menghubungi seseorang. Duduk di tempat tidur, otot-otot perut dan dadanya masih terlihat. Selimut putih tebal hanya menutupi sebatas pinggangnya saja.
Mengelus rambut istrinya pelan, hingga sambungan phoncellnya tersambung.
"Ferdi ini aku, besok aku ingin menemui seseorang bernama Santoso. Atur jadwalku..."
__ADS_1
Bersambung