
Mata itu ditatapnya."Kamu tidak mengingatnya? Waktu yang diulangi..."
Rain menghela napas kasar."Jangan mengada-ada," ucapnya.
Sifat Rain memang terasa berbeda, jika sebelumnya pemuda itu akan menggodanya setiap saat. Kali ini tidak, bagaikan kembali pada sosok Rain yang dulu, terlihat dari luar tidak mencintainya.
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Krisan padanya, menggenggam erat jemari tangannya.
"Aku... kamu sudah makan?" tanya Rain mengalihkan pembicaraan.
"Belum," bibir Rain dikecupnya sekilas, tangannya menyentuh dada kirinya suaminya. Debaran yang terasa cepat, ternyata sebuah kebenaran suaminya yang dulu saat sebelum waktu terulang hanya mencintainya.
Seolah melupakan sudut bibirnya yang terluka, tubuhnya yang sulit bergerak, tengkuk Krisan ditahannya, tanpa menjawab kata 'Aku juga mencintaimu,'
Rambut Krisan sedikit dirapikannya, usai pangutan singkat mereka terhenti. Wajah yang terlihat dingin ini benar-benar mencintainya, hanya saja tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya.
"Rain, katakan kamu juga mencintaiku," pinta Krisan pada suaminya.
Pemuda yang masih memakai baju pasien itu tertunduk sesaat. Air matanya mengalir,"Jika aku mengatakannya, kamu tidak akan mati seperti nenekku kan? Tidak akan mencari kebahagiaan lain seperti ayah dan ibuku?"
Jemari tangannya mengepal, Rain masih takut untuk mengatakannya. Tidak menyadari karena itulah istrinya mati meninggalkannya sebelum waktu terulang.
Krisan menggeleng."Aku tidak memiliki ayah, ibu, saudara, teman, hanya memilikimu. Tidak mungkin aku meninggalkan sesuatu yang paling berharga untukku," jawabnya.
Rain menghirup napasnya dalam-dalam."Krisan aku...aku...aku lapar! Kamu sebagai istri seharusnya ingat untuk menyediakan makanan untukku," ucapan dari mulutnya bingung harus bagaimana.
Krisan hanya tersenyum, kemudian tertawa. Jika sebelum waktu terulang dirinya akan kecewa, kini tidak. Itulah Rain yang mati-matian bingung bagaimana cara mengungkapkan perasaannya.
Pria yang mencintainya dengan cara yang berbeda, cara yang benar-benar aneh. Hingga Krisan berusaha menetralkan tawanya."Kamu tidak mencintaiku? Kita akhiri saja pernikahan ini," ucapnya tertunduk.
"Jangan! Aku menyukai pakaianmu! Kamu cantik!" pintanya gelagapan, semakin terlihat menggemaskan saja.
Mungkin inilah sisi menarik dari suaminya, dirinya merasa terus-menerus bagaikan istri yang tidak dicintai. Padahal sebenarnya, makhluk ini hanya kesulitan untuk mengatakannya.
"Damien, dia teman yang baik, sebaiknya aku bercerita padanya." Krisan semakin memprovokasi.
__ADS_1
Ayo cemburu lah! Katakan perasaanmu yang sebenarnya... batinnya, menahan tawanya agar tidak keluar.
"I...i..iya! Kita keluar nanti malam aku akan mencarikan restauran Itali yang..." kata-kata Rain terhenti.
"Damien pintar memasak, aku akan..." kalimat Krisan terpotong.
"Iya, Wo ai ni (aku mencintaimu)" ucapnya mengalihkan pandangannya.
"Wo ai ni? Aku tidak mengerti." Krisan mengambil tissue, menghapus air mata palsunya, sudah mengerti namun pura-pura tidak mengerti.
"Aishiteru (Aku mencintaimu)," kesal Rain, benar-benar memalukan dan menakutkan rasanya.
"Aishiteru? Apa itu bahasa Jepang? Aku pulang saja..." ucapnya menahan rasa gemas benar-benar ingin memeluk suaminya saat ini.
"Tunggu!! I love you!! Puas!!" bentaknya, benar-benar ingin menyembunyikan wajahnya di bawah bantal.
"Katakan sekali lagi, maka aku tidak akan pernah pergi dari hidupmu." Krisan tersenyum, menggenggam jemari tangan suaminya.
"Aku mencintaimu," ucapnya dengan suara kecil tertunduk. Dengan cepat Krisan menangkup pipi Rain, menciumnya agresif.
Gelisah? Tentu saja, masa lalu yang indah terbayang di masa remaja mereka yang hidup di panti asuhan.
"Kamu sedang apa?" tanya Krisan remaja, menatap Rain memegang jarum dan benang."Dasar bodoh! Rok sekolahmu robek, aku sedang memperbaikinya. Jika tidak bisa membantu sebaiknya pergi!!" ucapnya dengan tangan gemetar bagaikan gempa 8 skala richter, berusaha memasukkan benang ke lubang jarum.
"Biar aku yang memasukkannya." Krisan remaja mulai berusaha, memasukkan benang ke dalam lubang jarum. Hingga Rain semakin mendekat memperhatikannya, tangannya tiba-tiba juga gemetar bagaikan diguncang gempa 8 skala richter, jantungnya berdegup cepat, menatap wajah rupawan itu dari dekat.
"Kamu juga gemetaran?" Rain remaja mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar bersamaan dengan Krisan.
Dua remaja yang saling menyukai dari awal, hanya saja Krisan yang selalu merasa rendah diri dan Rain yang sulit mengungkapkan perasaannya dengan benar.
***
Hari sudah mulai larut, Krisan sudah pulang untuk beristirahat dan mengambil beberapa helai pakaian. Sedangkan yang kini menjaga Rain adalah Ferdy.
Rain terdiam tersenyum seorang diri, di kamar rawatnya. Namun, dimana sebenarnya seorang Ferdy?
__ADS_1
Sarung tangan karet ala dokter dipakainya memasuki sebuah villa yang ada di luar kota. Ini lumayan merepotkan baginya, namun memiliki bayaran yang sepadan.
Duduk seorang diri di sofa ruang tamu villa setelah pengawal yang baru direkrutnya melumpuhkan pelayan dan penjaga villa.
Gadget dinyalakannya, menonton beberapa video penuh tawa dan senyuman. Menunggu aktivitas di lantai dua usai.
Aktivitas di lantai dua? Itu bukanlah tontonan yang bagus untuk seorang Ferdy.
"Willy, sudah...akh..." pekiknya tidak mengerti dengan suami yang telah digugatnya. Tinggal terpisah? Namun, percuma saja Willy menyusulnya. Selalu pandai membuainya untuk melakukannya lagi dan lagi.
Keduanya memekik bersamaan menonggakkan kepalanya, belum juga puas. Benih-benih itu kembali berusaha membuahi rahim Sasha.
"Istirahat sebentar, hanya boleh sebentar..." ucap tersenyum, tidak menyadari ada seseorang di lantai satu yang menunggunya.
Sasha terdiam menatap langit-langit, Willy sama sekali tidak pernah membujuknya untuk tidak bercerai. Namun, hampir setiap malam mendatanginya, ada penjaga pun pemuda itu selalu saja bisa masuk.
Berapa kalipun dibentak, tetap menulikan telinganya. Menciumnya, memijit titik-titik sensitifnya.'Kamu menginginkannya juga kan?' Hanya dengan kalimat itu dirinya terbuai, mengikuti segala kemauannya. Bahkan membalasnya dengan agresif.
Sasha mengambil bantal kecil memukul kepalanya sendiri."Bodoh! Bodoh! Bodoh!" gumamnya, masih saja mau berhubungan layaknya suami-istri, tanpa pengaman dengan pria yang tengah mengurus prosedur perceraian dengannya.
"Kenapa memukul kepalamu? Mau lagi?" tanyanya sensual di dekat telinga Sasha, jemarinya bergerak di area sensitif bagian bawah istrinya. Sedangkan tangan satunya mendekapnya dari belakang menahan pergerakannya.
"Tidak, sudah, hentikan..." ucapnya menggeliat, pria menyebalkan ini entah apa maunya.
"Hentikan? Apa benar-benar tidak ingin lebih?" tanyanya bergerak lebih intens.
"Akh...aku ingin..." lirihnya memejamkan mata, pada akhirnya. Pria pertama yang menyentuhnya. Pria yang selalu menatap sinis menghinanya telah berselingkuh. Kini saat dirinya telah menyerah, malah selalu menggodanya untuk melakukan hubungan suami-isteri tanpa pengaman.
Dan benar saja, kedua tubuh di bawah selimut itu kembali berpacu, membuat tempat tidur menderit. Suara racauan memenuhi kamar dengan pakaian berserakan.
***
Si jomblo yang tengah menunggu di lantai satu mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar."Kenapa Rain menyuruhku menunggu di sini? Kapan mereka turun? Sialan!!" teriaknya melempar majalah dewasa yang ada diatas meja.
Bersambung
__ADS_1