
Lekuk tubuh yang benar-benar indah, mantel yang dipakainya mulai dilepaskannya. Pria mana yang tidak tergoda, menatap ukuran bagian atas dan belakang yang menantang. Wajah perawatan dengan biaya tinggi, mulus tanpa cacat sedikitpun.
"Maaf, atas insiden sebelumnya, kita ulangi perkenalkan kita, namaku Dara direktur Black Monday Company," ucapnya mengulurkan tangan, duduk menyilangkan kakinya, menonjolkan kaki putih mulus indah yang kontras dengan dres hitam pendek.
"Namaku Rain, mana proposalmu," ucapnya menadahkan tangannya, enggan berjabat tangan dengan orang yang menghancurkan hidupnya.
Dara masih berusaha tersenyum, memberikan proposal miliknya. Wajah itu ditatapnya dalam-dalam, benar-benar rupawan, bahkan bentuk tubuh yang berbalut kemeja dengan bagian lengan digulung itu terlihat otot-otot tidak begitu besar, sangat pas, proposional. Jika diperhatikan Rain benar-benar sempurna.
Brak...
"Aku tidak tertarik untuk bekerjasama dengan kalian, kontrak dan penjelasan tidak detail. Bagaimana jika kalian menggati bahan bangunan untuk mall milikku. Sudah cukup satu perusahaan yang bekerjasama, jika kalian ingin ikut, buat proposal yang lebih matang. Disertai waktu kedatangan bahan,"
"Dan apa ini? Area bermain anak-anak? Membuat permainan halilintar!? Tidak praktis, desain bangunan harus difikirkan ulang. Jika ada sedikit kesalahan saja dalam arsitektur. Maka bangunan dengan biaya besar yang aku keluarkan tidak ada bedanya dengan sampah..." lanjutnya, melempar proposal di atas meja, setelah membaca sekilas.
Rain menghela napas kasar Black Monday Company menjadi cukup besar karena ide dan kerja kerasnya sebelum dirinya melalui perjalanan waktu. Kini? Proposal yang bagaikan sampah diberikan oleh Dara. Wanita ini benar-benar hanya mengandalkan tubuhnya saja, pantaslah kini nasib Black Monday Company berubah, dari perusahaan yang menempati tiga besar sebelumnya waktu terulang, menjadi perusahaan kelas menengah.
"Maaf, akan aku buatkan yang baru," Dara tersenyum, Rain kembali ditatapnya. Senyuman menyungging di wajahnya. Tidak hanya mapan, dan tampan, namun juga cerdas. Jika memiliki suami sepertinya perusahaan ayahnya akan maju pesat, harta semua akan terjamin, dirinya tidak perlu memberikan tubuhnya untuk melayani klien, begitulah fikirnya.
"Bagaimana jika kita minum segelas wine? Ayahku membelinya ketika berliburan ke Prancis," Dara berjalan meraih gelas yang ada di rak dapur apartemen tersebut tanpa canggung. Minuman itu dituangkannya ke dalam dua gelas berbeda. Berjalan mendekati Rain, naik ke pangkuannya.
Tangannya mengarahkan sang pemuda rupawan untuk menyentuh pinggangnya. "Cheers..." dua gelas wine berbenturan.
Dara meminumnya bagaikan mengintai menunggu pemuda ini mabuk. One night stand? Tidak, dirinya ingin seorang Rain menjadi suaminya.
Sedangkan Rain tengah mencari celah, menunggu wanita ini mabuk. Agar dapat menelanjanginya, menyebarkan foto-fotonya. Dendam? Tentu saja, dirinya bekerja siang dan malam melupakan istrinya yang tengah hamil hanya demi bonus yang kecil, setelah beberapa tahun baru mendapatkan jabatan manager. Padahal dari ide-idenya lah Black Monday Company maju pesat, sebelum waktu terulang. Ditambah lagi, dengan ancaman black list jika dirinya mengundurkan diri. Bagaikan *jing peliharaan yang diikat majikannya.
Pada akhirnya kematian Krisan menjadi puncak segalanya. Percuma menjadi penjilat dengan gaji yang tidak seberapa dengan beban pekerjaan yang tinggi. Anak dan istrinya mati, entah apa yang dikatakan direktur bagaikan wanita penghibur ini, pada Krisan sebelum waktu terulang.
Suara kode akses apartemen yang ditekan dengan cepat terdengar. Bersamaan dengan seorang wanita membuka pintu.
Rain membulatkan matanya gelagapan, mendorong tubuh Dara yang ada di pangkuannya dengan cepat.
__ADS_1
Dirinya belum mendapatkan hati Krisan, tapi kenapa malah Krisan melihat hal ini? Bagaimana jika dia salah sangka?
Sudah aku duga, dua orang br*ngsek ini akan berbuat mesum. Apanya yang cinta? Rain sebelum waktu terulang dan kini sama saja. Setelah anakku kembali hidup, aku akan melarikan diri ke luar negeri... menggunakan seluruh uang tabunganku... batinnya penuh rencana.
Namun Krisan hanya tersenyum berjalan mendekat. Botol white wine itu diambilnya, tubuh indah Dara disiramnya.
Dara bangkit hendak menampar Krisan. Namun dengan cepat tangan Rain mencegahnya."Jangan coba-coba menyentuhnya,"
"Dia yang duluan menyiramku! Lagipula dia hanya manager hotel!!" bentaknya, kesal.
"Rain milikku, dia pacarku, kami akan menikah besok. Jangan pernah menggagunya lagi..." Krisan tersenyum di hadapan Dara.
"Milikmu? Pacarmu? Akan menikah?" tanya Rain memastikan. Entahlah, mimpi apa dirinya semalam, setelah maju mundur belok ke kiri dan ke kanan. Menabrak tembok, akhirnya hati Krisan luluh juga.
"Rain? Itu tidak benar kan?" tanya Dara memelas, memegang lengan kemejanya.
Krisan masih berusaha tersenyum mengepalkan tangannya. Rain mungkin akan membela Dara yang lebih cantik kali ini. Tidak, anaknya harus kembali hidup, bagaimanapun caranya.
Krisan menatap aneh, bukankah Rain seharusnya hanya menyukai Dara? Wanita cantik berpenampilan menarik dengan biaya perawatan tinggi. Kenapa setuju-setuju saja untuk menikah?
Dara merapikan rambutnya yang basah, sedikit menutupi wajahnya. Berusaha menjaga harga diri terakhirnya, lagipula walau sudah menikah sekalipun dapat bercerai bukan?
"Rain, aku akan segera mengirim revisi proposal kami..." ucap Dara tersenyum, terlihat tetap berkeras.
"Aku bilang pergi!! Ya pergi...!!" Krisan menariknya secara paksa, membanting pintu apartemen di hadapan Dara.
Wanita itu diam terpaku, mengepalkan tangannya,"Akan ada saatnya, aku membalasmu. Menjadi seorang istri? Jika Rain tidak mencintaiku. Orang jelek tidak tau diri sepertimu harus mati, agar kami yang berwajah rupawan dapat bersatu bersama..." gumamnya penuh obsesi, tidak ingin dikalahkan, tersenyum menatap pintu, kemudian berlalu pergi.
***
Rain mengenyitkan keningnya, tersenyum mendekati Krisan. Kemudian memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Maaf, tadi aku hanya ingin membuatnya mabuk karena itu membiarkannya minum sambil duduk di pangkuanku. Aku ingin mempermalukannya, kamu juga tidak menyukainya kan?" tanyanya menyenderkan dagunya di bahu Krisan.
Wanita itu berusaha tersenyum, seberapapun menyebalkannya, kata-kata tidak logis dari bibir Rain,"Aku mempercayaimu..."
"Jadi kita benar-benar menikah?" tanyanya tersenyum bahagia, tidak terasa setetes air matanya mengalir. Dengan begini keadaan akan kembali seperti semula.
Krisan mengangguk, "Kita akan menikah secepatnya..." ucapnya tersenyum, ini satu-satunya jalan agar putranya yang belum sempat terlahir ketika waktu belum terulang dapat kembali hidup.
Rain membalik tubuh wanita yang dicintainya, memeluknya erat,"Hanya akan ada aku, kamu, dan anak-anak kita..."
Maaf... kata itu yang tertahan di mulut Krisan, membalas pelukan Rain. Segera setelah dirinya hamil, dirinya akan pergi sejauh-jauhnya.
"Aku mencintaimu, aku mencintaimu," kata-kata yang terucap dari bibir Rain.
"Aku juga, sangat mencintaimu. Terlalu mencintaimu," setetes air mata Krisan ikut mengalir, mengikuti takdir yang akan entah kemana ujungnya nanti. Menikmati segalanya, tubuh pria yang mendekapnya erat.
Namun, inilah Rain pria dingin yang dicintainya. Pria yang menggedong tubuhnya, di masa remaja, memakai seragam sekolah menengah pertama. Tertawa melewati jembatan kala akan matahari terbenam.
Dua anak tanpa orang tua yang saling memiliki, menyenderkan kepalanya pada punggung Rain, dimasa SMP. "Jangan berkelahi lagi..." ucap Rain saat itu.
"Mereka mengatakan kita yatim-piatu, tapi kamu memiliki ibu dan ayah walaupun mereka membuangmu, kamu bukan yatim-piatu. Hanya aku yang yatim-piatu..." jawaban dari mulut Krisan remaja, membela satu-satunya orang yang dianggapnya anggota keluarga.
"Kamu juga tidak yatim-piatu, aku adalah ayah, ibu, saudara, teman....dan..." kata-kata itu tertahan di mulut Rain remaja.
"Dan?" Krisan mengenyitkan keningnya.
"Dan kamu menganggapku kacung? Kenapa tubuhmu begitu berat!!" keluhnya tetap menggedong Krisan di punggungnya. Sedangkan Krisan remaja tersenyum, begitu pula dengan Rain remaja. Menikmati udara sore di jembatan panjang dekat sekolah mereka.
Dan pacar, kekasih, suami, orang yang akan terus bersamamu, walaupun maut mencoba memisahkan kita. Aku ingin tetap bersamamu... batin Rain tersenyum, menyimpan lanjutan kata-katanya untuk dirinya sendiri.
Bersambung
__ADS_1