
Matanya mulai terbuka, matahari memasuki celah tirai. Sinar matahari yang menyengat, pertanda sang nona muda terlambat untuk bekerja.
"Sial sudah siang!!" gumamnya, berjalan cepat ke kamar mandi, walaupun sedikit sulit, mengingat perbuatan Rain padanya yang menerkam lebih dari sekali. Mengujamnya tanpa henti, setiap kali dirinya terbangun.
Dalam 15 menit wanita itu keluar dengan rambut yang basah. Berusaha mengeringkannya secepat mungkin. Hingga tangan pria terulur memeluknya dari belakang.
"Pelan-pelan..." ucapnya meraih hairdryer dari tangan Krisan, membantunya mengerikan rambut perlahan.
"Kenapa tidak membangunkanku? Aku harus berangkat bekerja, aku..." kata-kata Krisan terpotong.
"Aku sudah mengajukan cuti untukmu. Lagipula kamu tidak akan dipecat, hotel ini milik suamimu," Rain tersenyum."Kita akan ke tempat lain setelah ini. Menemui Santoso dan Morena," lanjutnya.
"Jangan, kita hanya perlu menghindari mereka. Ke luar kota, tidak ke luar negeri saja, aku mempunyai tabungan untuk..." kata-katanya terhenti, Rain mengecup pipinya.
"Kita akan menghadapi masalah hingga ke akarnya. Kamu tidak ingin tau kenapa mereka ingin membunuhku?" tanyanya.
"A...aku..." Krisan terlihat ragu, mengingat masa kecilnya, berapa buruknya manusia yang menggunakan topeng, memainkan perasaan seorang anak yang baru kehilangan kedua orang tuanya.
"Aku akan membuatmu kembali menjadi nona muda," Rain tersenyum, menatap pantulan bayangan mereka di cermin.
***
Nona muda? Jangan pernah meremehkan seorang Rain, dirinya menyembunyikan kecantikan istrinya selama ini. Tidak menuntut Krisan untuk berdandan atau tampil cantik, karena kecantikannya cukup dirinya yang mengetahui.
Tapi waktu telah terulang, jalan berbeda juga yang diambilnya. Memperlihatkan betapa cantiknya sebuah batu berlian yang terasah sempurna. Tujuannya? Mengembalikan rasa percaya diri istrinya, bahwa Rain tidak mungkin berpaling dari wanita secantik dirinya. Walaupun rupa fisik tidak begitu dipedulikan Rain.
Rambutnya ditata, makeup tipis menyempurnakan penampilannya. Memakai mini dress tertutup dengan warna peach yang lembut. Kesan yang berbeda, benar-benar bagaikan seorang nona muda keluarga kaya. Kalung berlian indah menghiasi lehernya.
Pemuda itu menghela napas kasar,"Dasar jelek, aku mencintaimu..." ucapnya tersenyum gemas, membuka pintu mobil untuk istrinya.
"Jelek!?" Krisan mengenyitkan keningnya, menatap pantulan bayangan di kaca spion mobil. Bahkan dirinya sendiri tidak percaya. Inikah wajah aslinya dengan hanya beberapa riasan?
***
Bukan berita kecelakaan yang didengarnya. Namun, Rain yang ingin bertemu dengannya menghubunginya melalui Ferdi.
"Sial!!" geramnya, menghela napas kasar, mulai duduk di sofa ruang tamu, mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantor.
__ADS_1
Sementara Willy juga tengah bersiap-siap, mengenakan jam tangannya sebagai aksesorisnya yang terakhir. Sasha istrinya mengindap di rumah orang tuanya hari ini entah mengapa.
Pemuda rupawan yang cerdas itu mulai melangkah menuruni tangga. Mengenyitkan keningnya tidak mengerti menatap sang ayah yang belum juga berangkat.
"Willy tunggu!!" perintahnya.
"Apa? Hari ini aku sibuk, ada beberapa proposal yang harus ..." kata-kata Willy terhenti.
"Kemari!!" Santoso menatap tajam padanya.
Sang pemuda menghela napas kasar, mulai duduk di samping ayahnya. Sedangkan pelayan segera mengambilkan minuman.
"Kamu ingat Krisan?" tanya Santoso memulai pembicaraannya.
"Dia anak dari bos ayah kan? Karena dialah kita tidak tinggal di rumah kontrakan lagi, saat aku masih kecil. Karena anak bodoh yang tidak bisa melawan," jawabnya tersenyum.
"Ayah akan menjodohkanmu dengannya..." jawaban dari bibir Santoso.
Tidak bisa begini terus, dirinya tidak mencintai Sasha namun dipaksa untuk mendekati, bahkan menikah dengannya. Menyenangkan Sasha agar ayahnya yang menjadi menteri juga senang.
Dan sekarang Krisan? Ini pasti sebuah lelucon."Tidak, aku tidak setuju! Bagaimana dengan Sasha," jawabnya tegas.
"Ayah Sasha adalah seorang menteri! Kenapa aku harus menikah dengan si bodoh yang tinggal di panti!?" bentaknya, tidak terima.
"Ini kesalahan ayah, seandainya ayah memperlakukannya dengan baik, tidak membawanya ke panti kemudian menikahkannya denganmu. Nasib keturunan keluarga kita, akan terjamin,"
"Zoya memiliki aset yang lebih banyak di luar negeri. Beberapa hotel bintang lima, saham, villa, bahkan tower apartemen yang terletak di pusat kota. Jumlah saldo rekening Krisan saat ini ratusan juta dollar. Seharusnya ayah sudah menebak, Zoya bukan orang yang bodoh," sesal Santoso.
"Jadi ayah ingin aku menikahinya dan merebut seluruh asetnya?" tanya Willy memastikan asumsinya.
Santoso menggeleng,"Semua kekayaannya tidak dapat dialihkan, hanya dapat dimiliki oleh Krisan dan anaknya. Dalam artian lain, Zoya ingin keturunannya bertahan menyandang status tuan dan nona muda. Karena itu nikahi Krisan, miliki anak dengannya, perlakukan dia dengan baik,"
"Aku mengerti, wanita bodoh itu, entah jadi sejelek apa dia sekarang..." gumam Willy antara enggan, namun tergiur.
Hingga seorang ART mempersilahkan sepasang suami istri masuk.
Cantik? Tentu saja, melangkah bersanding dengan seorang pemuda rupawan. Berjalan masuk, menuju ke arah mereka. Willy tertegun sejenak kemudian terdiam.
__ADS_1
"Rain..." ucap Rain mengulurkan tangan pada Santoso.
"Santoso," Santoso membalas jabatan tangannya masih berusaha tersenyum.
Mata Willy tidak dapat lepas dari tubuh indah berbalut mini dress tertutup itu. Wanita cantik yang tidak dikenalnya.
Willy meminum sedikit minuman dingin yang ada diatas meja. Wanita mana yang tidak dapat ditaklukkan seorang Willy? Memiliki pasangan? Tidak masalah...
"Krisan, terimakasih sudah mengundang paman di pesta pernikahanmu," ucap Santoso masih setia tersenyum.
Krisan sedikit melirik pada Rain, dirinya tidak pernah mengundang Santoso. Mereka baru berkenalan, kenapa Rain bisa mengundangnya.
"I...iya," jawabnya canggung.
Willy tetap terdiam, ternyata inilah Krisan, jauh lebih cantik dari Sasha. Mungkin wanita ini lebih pantas bersanding dengannya.
"Sebelumnya paman ingin meminta maaf. Dulu paman menitipkanmu di panti asuhan pasca perusahaan kedua orang tuamu yang dinyatakan pailit. Tapi keadaan paman juga sulit saat itu, paman harap kamu mengerti," Santoso tersenyum hangat pada Krisan.
Sedangkan Rain menghela napas kasar, berucap dengan tenang."Kedatanganku kemari hanya ingin menyatakan perang secara terang-terangan. Entah apa tujuan kalian ingin membunuhku sebagai suami Krisan. Tapi jangan uji kesabaranku, sebelum aku membalas perbuatan kalian..."
Santoso mendekat hendak memegang jemari tangan Krisan,"Apa maksudmu!? Krisan jangan mempercayainya, untuk apa paman mencelakai hidup orang yang tidak paman kenal. Kamu mengenal paman dari kecil, paman tidak mungkin..." kata-katanya terpotong.
Tiba-tiba Sarah keluar dari kamarnya,"Krisan!?" panggilnya, berjalan mendekatinya.
"Lama tidak bertemu, dulu kita selalu bermain bersama. Masih ingat aku? Aku Sarah..." ucapnya yang memang sudah diberi tahu tentang kedatangan Krisan oleh Santoso sebelumnya.
Bibirnya tersenyum, matanya menelisik mengamati gaun dan kalung berlian yang melingkar di lehernya. Bukan hanya itu, suami Krisan ada di sana, sungguh rupawan, terlihat dari kalangan atas. Seluruh barang terbaik yang dimiliki sang nona muda yang sebenarnya.
Dirinya? Dari kecil terobsesi ingin memiliki segala yang dimiliki sang nona muda. Termasuk pasangan, yang mungkin adalah tuan muda rupawan, suami Krisan saat ini ingin dimilikinya. Refleks karena sudah terbiasa, mengambil barang-barang di kamar Krisan kecil? Kita anggap saja iya...
Hingga otak yang berfungsi cepat itu mulai memerintahkan mulutnya untuk membuat kebohongan."Krisan kamu semakin cantik saja. Saat kecil, kamu dan kak Willy terlihat serasi. Kamu bahkan menyukainya diam-diam..."
"Apa ini suamimu? Perkenalkan aku Sarah..."
Plak...
Satu tamparan keras mendarat di pipi Sarah, Krisan melakukannya sekuat tenaga,"Baru bertemu sudah menginginkan suamiku? Cara ini hanya berlaku untuk anak berusia 7 tahun..."
__ADS_1
Rain menipiskan bibir menahan tawanya, menatap Krisan terlihat marah besar.
Bersambung