Ketika Istriku Menyerah

Ketika Istriku Menyerah
Dalamnya Lautan


__ADS_3

Tahu, tempe, dan sayur sup dengan sayap ayam lagi? Tidak disangka Rain benar-benar merindukan makanan ini. Makanan yang selalu dimasak Krisan sebelum waktu terulang. Meja makan kosong dengan nasi bungkus yang dibelinya di warung diingatnya, saat Krisan meninggal dalam kecelakaan.


Rendang? Sate? Bahkan steak tidak ada bandingannya dengan rasa kerinduannya pada tahu, tempe dan sayur sup dengan sayap ayam buatan wanita yang dicintainya. Masakan yang dibuat oleh wanita yang berhemat untuknya.


"Ini enak..." ucapnya tersenyum, menghapus air matanya.


"Enak?" tanyanya. Krisan mulai mencicipinya, benar-benar hanya tahu, tempe hambar dan sup sayur ditambah sayap ayam.


Enak dari mananya... gumamnya dalam hati, sebenarnya dirinya memang tidak pandai memasak. Ditambah sifatnya yang serba hemat, bahkan walaupun waktu telah terulang, dirinya berprofesi sebagai manager hotel, isi kulkasnya tetap saja tahu, tempe, sayur, makanan termahal? Hanya sosis.


Krisan duduk di hadapannya, menatapnya makan dengan lahap. Bibirnya tersenyum, sudah lama tidak melihat pria yang dicintainya sebahagia ini.


"Rain, aku serius ingin kita menikah," ucapnya menghela napas kasar.


"Siapa yang mengagapnya lelucon. Kita akan menikah, saat kamu memasak tadi, aku sudah menghubungi EO," Rain masih mengunyah makanannya, menatap ke arah Krisan.


"Jangan adakah pesta yang besar, hanya sederhana. Dengan beberapa orang yang hadir," Krisan menghela napas sembari tersenyum.


"Dulu aku sudah pernah bercerita tentang bagaimana aku bisa masuk ke panti asuhan. Lalu bagaimana denganmu? Kenapa bisa berakhir di panti asuhan?" tanyanya kembali, bahkan ketika waktu belum terulang, Krisan tidak pernah berniat menceritakannya.


Setelah kematian Krisan sebelum waktu terulang, ada seorang pria berjas dan wanita dari kalangan atas yang mencarinya, menemui Rain. Mengatakan dirinya kerabat Krisan, namun mengetahui kematian Krisan, bukannya berduka orang tersebut terlihat kesal. Meninggalkan rumah milik Rain dan Krisan.


Krisan tidak menjawab pertanyaan Rain hanya tersenyum, seakan ingin mengubur masa lalunya.


***


21 tahun lalu...


Putri dari keluarga kaya? Itulah seorang anak tomboi yang memakai rok, terlihat cantik sebagai nona muda.

__ADS_1


Anak tunggal seorang pengusaha Cargo, aset yang dimiliki ayahnya? Cukup banyak, beberapa villa, hotel, restauran bahkan berinvestasi di bidang real estate. Memiliki keluarga yang sempurna, ayah dan ibu yang dicintainya.


Kedua orangtuanya, bahkan sudah menyiapkan masa depan putri tunggalnya sejak dini. Aset-aset bernilai paling tinggi, dititipkan pada sebuah yayasan dengan surat perjanjian yang berada di bank diawasi notaris kepercayaannya, akan dikembalikan pada putrinya setelah Krisan menikah. Hanya mereka, pihak bank dan notaris yang tahu, bahkan merahasiakan dari putri mereka sendiri.


"Krisan, jangan naik ke pohon!!" teriak sang ibu menatap kelakuan putrinya.


"Iya!! Iya!!" nona muda yang tersenyum, hanya menuruti kata-kata ibunya.


"Kamu ini, kenapa seperti monyet!? Ibu tidak mengerti lagi bagaimana cara mengurusmu!! Daripada naik turun pohon, lebih baik belajar tulisan indah, balet atau bermain piano..." geramnya menatap putri yang disayanginya selalu membahayakan dirinya sendiri.


"Ibu, aku sudah ikut les setiap hari, ibu tidak iba padaku?" tanya Krisan dengan mata berkaca-kaca, mengundang rasa iba.


"Nilaimu biasa-biasa saja, tidak pernah masuk lima besar. Bagaimana kamu dapat hidup nanti..." sang ibu bertambah kesal saja.


"Mudah, aku akan mencari pria seperti ayah, tampan dan pintar, agar dapat menjagaku..." jawabnya enteng.


"Ibu!! Sakit!!" jerit Krisan berusaha melepaskan jeweran ibunya.


"Sudah!! Sudah!! Sudah!!" sang ayah, melepaskan tangan istrinya, menggedong Krisan di punggungnya. "Ayo kita terbang sampai rumah!!" teriaknya, berlari diikuti tawa putrinya.


"Hati-hati!!" sang ibu tertawa berlari menyusul.


"Ayah cepat, ada monster mengejar!!" teriak Krisan kecil dalam tawanya, memegang erat punggung ayahnya.


***


Hari-hari indah yang dilaluinya, anak yang tidak kekurangan apapun, kasih sayang orang tua, cantik manis, kekayaan, tidak ada yang kurang di hidupnya. Hingga ada kalanya kedua orang tua dan dirinya, akan berlibur ke Spanyol sembari mengurus kerjasama bisnis.


Semua sudah dipersiapkannya, bahkan tidur lebih awal. Namun, bagaikan terhindar dari bencana, badannya tiba-tiba panas, tubuhnya menggigil. Dokter keluarga di panggil kedua orang tuanya, namun memerlukan waktu sekitar tiga hari hingga Krisan bisa sembuh.

__ADS_1


Urusan bisnis yang mendesak, membuat kedua orang tuanya mau tidak mau harus pergi. Menitipkannya pada sang pengasuh, mungkin nanti akan mempercepat kepulangan mereka.


"Krisan kamu tidak apa-apa di rumah?" tanya sang ibu yang lebih mengenal klien mereka dibandingkan sang ayah.


Krisan mengangguk dengan wajah pucatnya, kedua orang tuanya menangis entah kenapa. Untuk pertama kalinya ke luar negeri tanpa putri mereka. Tubuh Krisan kecil dipeluknya, menangis sesenggukan. Air mata mereka mengalir, keluarga yang seakan enggan untuk berpisah.


"Krisan, jadi anak yang baik ya? Jangan sering-sering menangis, jangan pilih-pilih makanan, cepatlah sehat. Kami akan menjagamu, dimana pun kamu berada..." ucap sang ibu lirih, seakan memiliki firasat, akan perjalanannya kali ini.


"Anak ayah, ayah tidak pandai bicara. Pesan ayah sama seperti ibumu yang jika marah seperti monster..." kata-kata yang keluar dari sang ayah, mendekap tubuh putrinya.


"Ayah...ibu..." Krisan menangis sesenggukan, di tengah suhu tubuhnya yang mencapai 38,5 derajat celsius.


Keningnya di kecup bergantian, langkah kaki sepasang suami-istri yang terasa berat, entah kenapa. Sedikit berbalik tersenyum pada putrinya yang masih sakit. Dalam diri mereka mungkin hanya tiga hari, hanya tiga hari lagi mereka akan pulang.


Akan pulang? Apakah bisa? Pesawat yang mereka tumpangi mengalami kerusakan mesin. Tidak ada penumpang yang selamat, pesawat yang hancur menghatam lautan dalam. Ratusan orang meregang nyawa, meninggalkan keluarga yang menunggu kepulangan mereka di rumah.


Pasangan suami istri yang saling berpegangan tangan kala akhir hidup mereka. Mengetahui pesawat yang mulai kehilangan ketinggian. Penuh doa untuk kebahagiaan putri kecil mereka. Berakhir sebagai serpihan jazad yang bahkan tidak dapat dimakamkan. Tidak dapat di temukan, burung besi yang hancur tenggelam di tengah dalamnya samudera.


***


Berita itu akhirnya didengarkan sang anak, air matanya mengalir tiada henti. Kedua orang tuanya sudah tidak ada. "A...aku tidak akan naik ke atas pohon lagi, akan ikut khusus balet, piano, rajin belajar...ibu..." lirihnya, memeluk foto pernikahan almarhum kedua orang tuanya yang tersenyum. Terdiam seorang diri di kamar yang gelap, bahkan makanan yang diberikan pengasuhnya tidak disentuhnya.


Hingga seseorang mengetuk pintu kamarnya, itulah Santoso sekretaris ayahnya. "Krisan, buka pintunya! Kita makan bersama, paman kemari membawa Willy (putra Santoso) dan Sarah (putri Santoso, adik Willy). Istri paman juga datang..." ucapnya mengetuk pintu.


Matanya masih sembab, perlahan membuka pintu, menatap sekretaris ayahnya yang bekerja sekitar dua tahun pada keluarganya."Paman... ayah dan ibu, mereka sudah..." Krisan menangis memeluk Santoso menemukan satu-satunya tempatnya bersandar.


"Kamu tenang ya? Mulai sekarang ada paman yang akan menjagamu..." ucapnya mensejajarkan tingginya dengan sang anak, memeluknya erat, senyuman menyungging di wajah sang sekretaris yang seharusnya tengah berduka.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2