
Tok... tok...tok...
Suara ketukan pintu terdengar, bibir Rain yang ada di leher Krisan menghisap kulitnya antara kesal dan gemas, rencananya gagal lagi kali ini.
"Rain!!" pekik Krisan mendorong pemuda itu, dengan cepat mengambil bedaknya. Yang berisikan cermin kecil, menyorot ke arah lehernya sendiri. Yang memerah perlahan berubah menjadi biru keunguan.
"Manager!?" panggil Damien, masih mengetuk dari luar sana.
"Perlu aku buatkan lagi tanda yang sama? Kamu ingin dimana? Disini?" tanya Rain menunjuk area bahu,"Disini?" kali ini jari pemuda itu menunjuk ke dada,"Atau disini?" ucapnya mengigit bagian bawah bibirnya sendiri. Menunjuk ke area paha Krisan.
"Jangan!! Dasar menyebalkan!!" geramnya, dengan tangan refleks menutupi area dada dan pahanya yang berbalut pakaian lengkap.
"Krisan!?" panggil Damien lagi memastikan keadaannya.
"Iya...aku akan keluar!" dengan secepat kilat, Krisan menutupi bekas bibir Rain menggunakan foundation.
"Kita putus..." ucap Krisan tidak kalah sengitnya.
"Putus itu seperti bercerai, perlu persetujuan dari kedua belah pihak. Aku tidak setuju, jadi kita tidak putus," Rain tersenyum, memeluk Krisan yang hendak pergi dari belakang,"Aku mencintaimu,"
Jika ini Krisan sebelum waktu terulang, mungkin akan membalas pelukannya. Membelai wajahnya, tersenyum penuh kegembiraan.
Namun waktu telah terulang, Rain tidak mengerti dimana kesalahannya hingga hati Krisan berubah. Seiring jalan berbeda yang diambilnya.
"Aku membencimu..." ucapnya masih dapat tersenyum, melepaskan tangan Rain yang melingkar di perutnya.
Matanya terpaku menatap ke arah istrinya yang masih hidup namun dengan hati yang berubah. Apa karena dirinya memilih untuk pergi ke luar negeri? Apa penyebab perubahan besar dalam diri Krisan?
Satu hal yang membuatnya banyak berfikir, asal muasal perubahan hati istrinya. Saat hari dirinya mengulangi waktu, terbangun di masa SMU-nya, Krisan sudah berubah membencinya.
Tapi mengapa? Apa karena dirinya ke kantor guru, menyetujui beasiswa ke luar negeri, tidak seperti sebelum waktu terulang bermain basket mendapatkan kue ulang tahun dan menerima perasaan Krisan.
Rain masih terdiam, benar-benar ada yang ganjil. Bagaikan istrinya juga mengulangi waktu untuk membencinya...
"Tidak mungkin..." gumam Rain, menyangkal deduksinya."Mungkin karena aku tidak datang ke lapangan basket, dan memilih pergi ke luar negeri..." ucapnya ikut keluar menyusul Krisan.
__ADS_1
***
Hari mulai sore, Rain membawa beberapa coklat dan dua kantung besar berisikan puluhan bungkus nasi. Membagikannya di dekat area bawah jembatan, beberapa rumah kardus ada di sana. Banyak anak jalanan dan pengamen yang tertawa senang memakan nasi bungkus dengan lauk ayam.
Seorang anak tertunduk diam, diberikan sebungkus coklat dan sebungkus nasi olehnya."Makanlah..." ucapnya tersenyum. Sang anak laki-laki berlari, berbagi coklatnya dengan seorang anak perempuan lainnya.
Bahkan terlihat mencari tempat duduk memakan nasi lengkap dengan potongan ayam, satu porsi berdua. Air matanya mengalir wajahnya tersenyum.
Andaikan kecelakaan itu tidak terjadi, andaikan dirinya dapat mengungkapkan perasaannya pada Krisan dengan lebih baik, kala waktu belum terulang. Mungkin anak mereka akan lahir dengan sehat.
Bayi laki-laki mungil, menurut hasil USG saat itu. Namun semuanya terhenti, bayi dalam kandungan istrinya meninggal dalam rahim Krisan bersama dengan sang ibu di usia kandungannya yang ke 8 bulan.
Detik-detik persalinan yang ditunggu mereka, dua orang anak yang tidak memiliki keluarga, tumbuh besar bersama, menikah, hidup bahagia di rumah yang tidak begitu besar. Akan memiliki bayi mungil, malaikat kecil yang dititipkan Tuhan. Malaikat yang gagal mereka jaga, karena kesalahan seorang Rain yang tidak dapat meyakinkan hati istrinya. Hanya Krisan yang dicintainya...
"Apa jika kami menikah dan memiliki anak, putra kami akan kembali hidup...? Maaf, ayah yang menyebabkan kematianmu, sebelum Tuhan memberikan kesempatan kedua..." gumamnya menangis terisak seorang diri. Darah dari pangkal paha istrinya, memeluk tubuh tanpa nyawa, mengguncang-guncangnya berharap tubuh dingin dengan mata terbuka itu bergerak.
Tapi tidak ada yang terjadi, tubuh itu tetap harus terkubur di bawah tanah pekuburan.
Rain menghapus air matanya, berusaha kembali tersenyum,"Aku akan mendapatkan hati ibumu kembali, hingga kamu dapat hidup kembali juga ... putraku..." gumamnya.
"Sudah semua?" tanyanya mulai bangkit.
"Sudah, tapi apa tidak sebaiknya menyerahkan pada yayasan saja?" sang asisten mengenyitkan keningnya tidak mengerti. Tentang pemuda yang sering membagikan bahan makanan, pakaian dan obat-obatan ke panti asuhan dan panti jompo.
"Tidak, lebih menyenangkan membagikannya sendiri. Lagipula tidak begitu banyak menguras waktu dan tenaga. Membagikan sendiri, melihat senyuman dari orang-orang lebih memberikan sensasi berbeda. Daripada menyerahkan dana pada yayasan amal..." jawabnya mulai bangkit.
Ferdy membukakan pintu mobilnya untuk Rain. Kemudian kembali duduk di kursi pengemudi. "Ada rapat pemegang saham senin depan, sebagai komisaris anda harus hadir,"
"Em," hanya itulah jawabannya, menatap ke arah jalanan, angin menerpa rambutnya. Wajahnya berusaha tersenyum, menantikan apa yang akan terjadi berikutnya.
Rain menyadari sesuatu, ayahnya lah pemilik maskapai penerbangan yang mati bunuh diri sebelum waktu terulang. Keputusan yang diambilnya, membuat Krisan dapat menjadi manager hotel yang menyelamatkan Sakha. Mungkin putranya yang akan terlahir di rahim Krisan, akan dapat hidup kembali, suatu saat nanti. Putra yang dahulu mereka nantikan...
***
Sudah dua hari, Rain tidak bekerja, ada perasaan yang aneh dalam diri Krisan. Perlahan dirinya yang telah memakai pakaian kerja, hendak mengetuk pintu apartemen milik Rain.
__ADS_1
Namun tangannya gemetar, urung dilakukannya, dirinya benar-benar merindukan Rain. Tapi, ini memang lebih baik, jika Rain menghilang mungkin dirinya dapat menikah dengan pria lain. Mencari ayah yang baik untuk anaknya nanti.
Ayah yang tidak akan meninggalkan istrinya yang tengah hamil. Berselingkuh dengan direktur perusahaan tempatnya bekerja. Dara yang pada akhirnya mengandung anak Rain. Sungguh miris bukan, dirinya sudah mengetahui akhir dari segalanya sebagai wanita yang tidak dicintai, namun tetap saja merindukannya.
Jemari tangannya urung untuk mengetuk pintu apartemen atau menekan bel apartemen milik Rain. Ini memang mungkin lebih baik, mereka menempuh jalan masing-masing. Krisan mengepalkan tangannya, tetap kembali ke tujuan awalnya mencari ayah yang baik untuk anaknya nanti. Mengelus perutnya yang rata, perut tanpa janin di dalamnya.
Pergi menelusuri lorong, guna berangkat untuk bekerja...
***
Semua persiapan telah diaturnya untuk menyambut kedatangan pemilik hotel yang baru. Kalung yang terbuat dari bunga dirangkai, staf berjejer sesuai departemen dan kedudukannya.
Hingga hidangan yang akan disajikan nanti, kamar? Ada yang aneh sebenarnya, General Manager mengatakan pemilik hotel yang baru ingin menginap di kamar dengan dekorasi serta fasilitas honeymoon.
Krisan yang bertanggung jawab mengawasi semuanya. Termasuk kelopak mawar dalam bathtub, bahkan lilin aromaterapi yang biasa digunakan untuk paket honeymoon.
Tempat tidur ukuran king size, berhiaskan kelopak mawar berbentuk hati, dan dua ekor angsa dibentuk menggunakan handuk. Menyatukan bibir membentuk simbol hati.
Wine dengan tahun terbaik, hidangan laut, serta ditambah kue yang dicampur dengan bahan kelopak mawar sebagai penambah aroma.
Orang aneh yang akan datang sendiri ke hotel namun memesan paket honeymoon. Apa orang itu akan memesan wanita penghibur? Entahlah...
Sang manager F&B service yang tidak menyadari kamar serta dua set hidangan itu akan dikonsumsi siapa nantinya.
Hingga, persiapan usai, dirinya mulai turun ke loby, mengambil nampan yang sudah dihias. Berisikan rangkaian kalung bunga yang akan dipakaikan oleh general manager pada pemilik hotel yang baru nantinya.
Krisan berusaha tersenyum, menatap sebuah mobil berharga fantastis berhenti di depan hotel tepat waktu. Pintu mobil mulai dibukakan, seorang pemuda rupawan turun, memakai setelan jas rapi. Menatap padanya, berjalan melewati pada pegawai yang menunduk ketika dirinya melintas diikuti asistennya.
Senyuman di wajah Krisan menghilang, melihat sang pemuda tidak tau malu. Hingga sang general manager, mengalungkan bunga pada Rain.
Krisan masih diam terpaku merutuki nasibnya, hingga tiba-tiba Rain mendekat,"Apa menyenangkan mempersiapkan kamar untuk kita nanti malam? Aku mencintaimu..."
Pria br*ngsek itu mengatakannya lagi, pernyataan cinta yang harus dihindari Krisan.
Bersambung
__ADS_1