Ketika Istriku Menyerah

Ketika Istriku Menyerah
Mau


__ADS_3

🍀🍀🍀🍀 Maaf baru update, kejar target novel sebelah. Biasa akhir bulan, biar bisa buat beli kuota 🤭🤭😁😁😁 🍀🍀🍀🍀


Pria itu memejamkan matanya, tangannya masih terluka saat ini, mengeluarkan darah segar. Terkena pecahan kaca, kala dirinya baru mengetahui darahnya tidak mengalir dalam tubuh putri bungsu yang disayanginya.


Air mata membasahi pipinya. Apa kekurangan dirinya sebagai seorang suami? Semua sudah dilakukan olehnya. Tangannya mengepal, menghapus noda darah yang terlanjur melekat pada hendel pintu, menggunakan kaos putih yang dipakainya.


Ini terlalu mudah untuk Morena, semua perbuatannya harus dibalas bagaimanapun caranya. Samar-samar pembicaraan mereka terdengar dari balik pintu.


"Janin dalam kandungan Krisan sudah tidak ada. Tinggal menunggu kesempatan untuk menjeratnya dengan Willy. Maka putri kita akan memiliki suami seorang Rain. Aku akan menyingkirkan Santoso setelahnya..." Irwan tersenyum, masih tidak mengenakan sehelai benangpun hanya berselimutkan bedcover tebal yang menutupi area pinggang hingga mata kakinya.


"Tapi," kata-kata Morena disela.


Irwan mengeratkan pelukannya."Tidak perlu takut, kita saling mencintai dari dulu hingga sekarang bukan? Tidak ada yang salah dengan perasaan ini, ini satu-satunya jalan agar kita bisa bersama. Bersatu sepenuhnya,"


"Bagaimana dengan istrimu?" tanya Morena kembali.


Irwan menggeleng."Kami sudah bercerai, palu pengadilan telah di ketuk, uang yang kamu berikan aku gunakan untuk mempercepat proses gugatan..."


"Aku mencintaimu." Morena, memulai kembali ciuman panas mereka, hingga akhirnya menaiki tubuh Irwan. Ingin merasakan kehangatan itu kembali di tengah udara dingin yang menerpa.


Dua orang yang melakukan banyak dosa, menyakiti hati orang-orang terdekatnya. Menonggakkan kepalanya, menikmati kembali penyatuannya.


Santoso hanya tersenyum lirih, duduk di lantai balik pintu. Mendengar semuanya, Irwan dahulu memang tetangga mereka. Seorang kontraktor yang memiliki penghasilan lebih besar darinya, yang hanya seorang buruh kuli angkut di pasar, bekerja sambil mengikuti kuliah untuk menjadi sekretaris di sela waktu pekerjaannya.


Walaupun tidak banyak, tapi uang yang diberikannya pada Morena termasuk cukup, jika hanya untuk hidup sederhana di rumah kontrakan mereka. Pantas saja, kini dirinya mengerti, kalung dan cincin emas yang tiba-tiba dimiliki istrinya kala itu. Menanyakannya? Jawaban dari Morena, itu adalah warisan dari orang tuanya.


Sarah yang dimanjakan secara berlebihan ketika bayi. Serta peralatan bayi yang dibelikan Irwan saat itu, pada awalnya dirinya hanya menyangka itu hanya kebaikan hati tetangganya. Namun, semua sudah terlihat jelas saat ini. Mereka melakukan semuanya di belakangnya.


Pernah ada kalanya Willy kecil mengadu, mendengar ibunya menjerit berkali-kali di dalam kamar yang terkunci. Anak yang mencemaskan ibunya, inilah kenyataannya, Willy mungkin saat itu mendengar suara perselingkuhan sang ibu.


Perasaan sakit yang menjalar, hanya Willy yang saat ini dimiliki olehnya. Jika saja saat itu, Morena terus terang, meminta untuk bercerai darinya, semua tidak mungkin akan menjadi begini.

__ADS_1


Dendam yang menjalar dalam dirinya. Akan memutuskan hubungan dengan ketiga benalu di rumahnya. Tapi sebelum itu, semua yang diberikannya untuk Morena akan ditagih kembali olehnya. Tanah, villa, beberapa kios, saham bahkan entah berapa set berlian.


Dirinya selama ini menjaga kesetiaannya, tapi tidak dengan Morena. Karena itu, mulai saat ini semuanya untuk Willy, tidak akan ada Sarah dan Morena lagi.


Tangannya mengepal, apa ini balasan dari perbuatannya yang telah mengambil harta anak yatim-piatu? Entahlah, Willy putra tunggal yang tidak pernah begitu didengarkan permintaan dan pendapat padanya, mulai saat ini apapun yang diinginkan putranya akan diikuti olehnya.


Tapi sebelum itu, wajah Santoso tersenyum tangannya mengepal...


***


Menemui klien menjadi alasannya untuk pergi ke luar kota selama beberapa hari. Rumah kecil yang menjadi tujuannya, perlahan turun dari mobilnya.


Ada seorang lansia yang tinggal disana, dengan putri dan cucunya. Tanpa ragu Santoso melangkah, mengetuk pintu. Seorang wanita seusia dengan Morena membuka pintu, bertubuh kurus memakai pakaian lusuh, serta kulit yang kusam.


"Maaf ada keperluan apa?" tanyanya membukakan pintu. Mata Santoso menelisik, ada seorang remaja disana tengah menjahit boneka, mengisinya dengan dakron dan beberapa kain perca.


Inilah nasib istri sah dan putra kandung Irwan. Salah, lebih tepatnya mantan istri."Saya Santoso ingin membicarakan beberapa hal, boleh saya masuk?" tanyanya.


"Kamu tidak sekolah?" tanyanya menatap sang remaja.


Sang remaja menggeleng."Kakek sakit, ibu kerja jadi pembantu. Sekarang aku sedang mengumpulkan uang untuk bayar SPP dan uang ujian. Kalau belum bayar tidak boleh sekolah..." jawabnya.


Santoso tersenyum, benar-benar pasangan bodoh yang saling mencintai. Sampah yang tertarik pada sampah. Saat Willy dibeda-bedakan, anak ini bahkan memiliki nasib yang lebih buruk. Anak yang hanya tumbuh dengan ibu dan kakeknya.


"Ayahmu tidak memberikan uang?" tanyanya lagi.


Sang remaja menggeleng."Tidak pernah dari dulu. Jikapun pernah itu karena ibu meminta, dikirimkan dua ratus ribu tapi mengomel di handphone bahkan di media sosial, mengunggah status, ibuku hanya bisa minta uang saja,"


Santoso mendekatinya."Kamu masih menyayangi ayahmu?"


Anak itu menggeleng, menitikan air matanya."Ayah kasar, pernah memukulku hingga beberapa hari harus rawat jalan ke puskesmas. Ibu sudah berpisah dengan ayah aku malah senang..." ucapnya, kembali menjahit boneka menggunakan jarum dan benangnya, sesekali menghapus air matanya.

__ADS_1


Hingga Ina (istri Irwan) datang membawakan minuman.


"Terimakasih..." Santoso tersenyum padanya, tidak buruk sama sekali. Wanita yang dinikahi Irwan saat bisnisnya sudah hancur. Wanita yang menemaninya kala terpuruk, kelebihan Morena? Hanya perawatan kulit, makeup dan rutin ke gym.


Inilah Ina, wanita yang kini akan dimanjakan, dirawat baik-baik olehnya...


"Maaf apa maksud kedatangan anda kemari?" tanya Ina tertunduk menatap pria di hadapannya.


"Memberi sebuah penawaran untuk menjadi istri keduaku. Putramu dapat kembali sekolah, bahkan melanjutkan kuliah ke universitas yang diinginkannya." jawabnya.


Ina menggeleng."Aku tidak ingin menjadi..."


"Tanpa kehadiranmu rumah tanggaku juga sudah hancur. Aku hanya ingin mempercepat perceraian saja, jika kamu menolongku, aku juga akan menolongmu..." wajah Santoso terlihat masih tersenyum, menatap wanita yang memilin jemarinya sendiri, ragu.


***


Rain menghela napas kasar, mendapatkan telfon dari ayahnya. Penyelidikan masih dilakukan, tentang kasus penggelapan uang perusahaan Cargo milik keluarga Krisan.


Tapi benar-benar hasil yang tidak memuaskan baginya. Jika diperkarakan, hanya uang perusahaan yang digelapkan akan kembali, serta Santoso dapat di jebloskan beberapa bulan ke penjara. Namun, uang dan aset yang telah dikembangkannya tidak akan dapat disita pengadilan.


Kesal? Tentu saja, Irwan supir kelurga itu bahkan berani berniat membunuh janin dalam perut Krisan.


"Rain," wanita itu mulai masuk ke dalam ruang kerja suaminya.


"Aku sedang sibuk, untuk apa disini, aku tidak merindukanmu..." ucapnya berusaha terlihat sibuk, menghidupkan laptop, menahan kerinduannya pada istrinya yang baru pulang dari bekerja.


Krisan menipiskan bibir, menahan tawanya menatap ke arah suaminya. Kini dirinya lebih mengerti dan gemas dengan prilaku suaminya yang selalu menjaga image.


"Rain tidak ingin mandi bersama?" tanya Krisan berdiri di ambang pintu, mengedipkan sebelah matanya, menggigit bagian bawah bibirnya sendiri.


"Mau!!" ucap Rain spontan penuh semangat, sejenak kemudian menutup mulutnya sendiri menggunakan tangan. Benar-benar merasa malu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2