
Saat ini, rumah milik Sakha...
Bertahun-tahun dirinya mencari, yayasan sosial, panti asuhan, tidak ada data seorang anak bernama Randy. Berawal dari pengelola showroom mobil, dirinya mulai berinvestasi di berbagai bidang, hingga akhirnya membuka perusahaan penerbangan yang kini sudah cukup besar.
Berharap ketika menemukan Randy nanti sang anak akan memiliki mimpi yang sama dengannya dulu, menjadi seorang pilot. Dirinya berhenti dari sekolah penerbangan, untuk menikahi Melani yang dicintainya. Mengubur mimpi dan cita-citanya demi menjadi suami sekaligus ayah yang bertanggung jawab.
Namun, semuanya percuma Melani perlahan mulai berubah ketika kelahiran Randy. Sering menitipkan putranya sendiri ke tetangga, hingga sekian tahun akhirnya memintanya untuk bercerai menikahi Ari selingkuhannya yang kaya.
Sakha menyadari hanya dua orang yang benar-benar mencintainya dengan tulus almarhum ibunya dan putra tunggalnya.
Putus asa begitulah hidupnya kini, menjebloskan Salma dan Ringgo ke penjara pun hatinya tidak pernah puas atau bahagia. Hingga cukup lelah untuk mengusik hidup Melani.
Air matanya mengalir,"Randy, tolong tetaplah sehat, hiduplah dengan baik..." pintanya membelai foto lama putranya.
***
Sementara itu Randy putra kebanggaannya, salah, maksudnya Rain kini tengah menatap Krisan dengan hati senang, berdebar tiada henti. Memakan dua porsi spaghetti bolognese bersama.
"Sayang, kamu akan menginap?" tanyanya, penuh penekanan, memperjelas status mereka saat ini.
"Tidak setelah spaghetti ini habis, aku segera pulang!!" jawabnya dengan intonasi tinggi.
"Tapi tidak boleh, Sela membawa teman-temannya, bagaimana jika teman-temannya ingin berkenalan denganmu!?" Rain mengenyitkan keningnya, menancapkan garpu pada spaghetti di hadapannya.
"Aku tidak suka pada yang lebih muda! Memang aku tante-tante girang!!" ucapnya dengan mulut penuh.
"Lebih muda?" gumamnya. Sementara Rain terdiam sejenak, menghela napas kasar. Teringat akan salah satu berita yang paling menggemparkan ketika waktu belum terulang, bos salah satu maskapai penerbangan menjatuhkan dirinya dari kamar hotel, di hadapan wanita penghibur yang berusia lebih muda dan beberapa karyawan hotel yang mencoba menghentikannya.
Nama dan lokasi dulu sebelum waktu terulang tidak jelas diperhatikan olehnya. Karena si sialan Louis (wakil direktur perusahaan milik Dara) memberikan pekerjaan menumpuk padanya, hingga harus lembur, meninggalkan istrinya yang tengah hamil muda di rumah sendirian. Tapi apa hotel yang kini dimilikinya? Semoga saja tidak, kematian akibat bunuh diri dapat menurunkan omsetnya nanti.
"Krisan, bagaimana jika kita tinggal bersama? Kita sepasang kekasih sekarang bukan?" tanyanya menatap wajah Krisan.
"Tidak mau...Rain, pernahkah kamu berfikir batasan antara pria dan wanita?" tanya Krisan memendam rasa geramnya, berusaha tersenyum selebar mungkin.
"Tidak ada batasan antara kita, aku sudah pernah melihat sekujur tubuhmu tanpa sensor. Begitu juga kamu sudah pernah melihat seluruh harta berhargaku tanpa sensor. Kita tinggal menyatukannya saja..." jawabnya tanpa malu sedikitpun, mengingat masa-masa yang dihabiskannya di panti asuhan bersama Krisan.
Kala dirinya yang cemas mendobrak pintu kamar mandi, di masa remaja mereka. Karena Krisan yang sedang mandi setelah itu buang air besar tidak menyahut panggilannya.
"Aku pulang!! Bicara dengan brondong yang dibawa Sela lebih baik!!" kesalnya mulai bangkit, meninggalkan apartemen Rain.
"Apa aku perlu bersikap dingin seperti dulu? Menjadi pria yang sempurna tanpa celah, menjaga image di matanya? Tapi saat malu istriku benar-benar menggemaskan..." gumamnya tersenyum menghela napas kasar. Satu-satunya anggota keluarganya masih hidup. Di kesempatan kedua hidupnya ini, akan dimanfaatkan sebaik-baiknya.
***
__ADS_1
Hari ini merupakan hari yang baru lagi, Rain tengah mendata stok minuman. Sedangkan Krisan tidak berada di area restauran, mengadakan rapat tentang penyambutan kedatangan pemilik baru hotel. Yang sebenarnya tidak diketahui olehnya, tengah bekerja di restauran sebagai pegawai F&B service. Hanya General Manager dan Manager HRD yang mengetahui, menutup mulut mereka sesuai permintaan Rain.
Hingga tidak ada yang mengetahui dalam kamar 1012, seorang pria paruh baya terdiam. Hidup tanpa keluarga dan tujuan, cukup melelahkan baginya. Dengan seorang wanita penghibur yang menemaninya semalaman, tengah berada di kamar mandi saat ini membersihkan dirinya.
Sementara sang pria paruh baya terdiam, telah membersihkan dirinya terlebih dahulu. Memakai pakaian lengkap, kemeja putih dengan celana panjang berwarna hitam.
Terpaku menatap langit, andai saja dirinya fokus pada impiannya menjadi pilot saat itu, mungkin ibunya dapat tinggal bersamanya. Andai saja dirinya tidak berakhir menikahi Melani, Randy tidak akan memiliki ibu yang buruk.
Benar-benar tidak menemukan jejak apapun dari putranya. Tidak ada data siswa bernama Randy di sekolah manapun, pernah ada yang bernama serupa, dengan gembira penuh harapan dirinya datang. Namun, itu bukanlah Randy putra kebanggaannya. Anak yang memiliki nama sama bersama orang tua kandungnya yang masih lengkap.
Apa mungkin Randy sudah mati kelaparan di jalanan? Itu sempat terlintas di benaknya. Dirinya benar-benar ayah yang buruk, air matanya mengalir. Mungkin memang benar satu-satunya putra kebanggaannya telah tiada.
Sakha kembali menatap ke arah balkon, menyingkap selimutnya. Berjalan menuju kearah balkon, kakinya menaiki tralis balkon. Berdiri menjaga keseimbangan, merentangkan kedua tangannya, merasakan terpaan cahaya matahari dan semilir angin. Matanya terpejam,"Ibu... Randy..." panggilnya setelah 18 tahun mencari dirinya menyerah. Putranya mungkin telah tiada.
Menyusul orang-orang yang mencintainya dengan tulus mungkin lebih baik. Fikiran pendek dari seorang Sakha yang putus asa pada hidupnya.
"Aa...aa... tolong! Om jangan melompat!!" teriak sang wanita penghibur, ketakutan. Membuka pintu kamar, mencari pertolongan,"Tolong!!" ucapnya, beberapa karyawan hotel yang ada didekat sana segera masuk. Menatap Sakha yang berdiri di tralis balkon dengan mata terpejam.
"Tu...tuan jangan mengambil keputusan gegabah," ucap salah satu karyawan hotel mendekati Sakha.
"Jangan mendekat atau aku akan menjatuhkan diriku sekarang juga. Aku hanya ingin merasakan angin, menemui ibu dan anakku untuk meminta maaf..." gumamnya.
Sang karyawan hotel melangkah mundur, ketakutan jika Sakha benar-benar melompat. Hingga seorang wanita yang baru selesai rapat berjalan menelusuri lorong membenturkan kepalanya berkali-kali ke dinding. Dirinya yang ditugaskan menjamu sang pemilik baru dari hotel ini, ditambah dengan statusnya dengan Rain yang kini telah menjadi sepasang kekasih.
Keributan di dengarnya dari kamar 1012, pintu kamar terbuka lebar, dengan teriakan dan bujukan beberapa orang. Krisan menghela napas kasar, sungguh suara yang berisik. Mungkin hantu penunggu hotel pun akan terusik karenanya. Apalagi manager F&B departemen yang mendapatkan tugas tambahan, jengkel? Tentu saja, ingin rasanya menghajar samsak atau orang sekalian.
Pintu mulai dibukanya lebih lebar lagi menggunakan kaki, terlihat seorang pria paruh baya, dengan tubuh masih segar bugar. Usianya sudah tidak muda lagi, namun wajah maskulinnya menyaingi aktor berusia 40-an. Usia sesungguhnya? Saat ini usia Sakha sekitar 53 tahun. Seorang pria yang masih berdiri di tralis balkon.
"Ceritakan masalahmu, kamu punya waktu 7 menit!! Apa service hotel ini kurang memuaskan!?" teriaknya dengan nada tinggi.
"Bukan service hotel ini, tapi aku hanya merindukan almarhum ibu serta putraku yang pintar dan mandiri, dia sudah lama menghilang. Mungkin sudah mati," jawaban dari Sakha, masih menatap ke depan.
"Anakmu sudah mati dan membusuk, dia bodoh setelah terpisah dari ayahnya, anak tidak mandiri akan mati! Karena itulah kamu mau mati..." ucap sang manager hotel tanpa belas kasih.
"Buk Krisan, bagaimana kalau..." sang pegawai House Keeping hendak menasehati. Namun kekesalan Krisan yang baru keluar dari ruang rapat memerlukan pelampiasan, menatap tajam pada karyawan House Keeping yang menunduk ketakutan, mengehentikan kata-katanya.
"Randy tidak mati!!" teriak Sakha penuh kemarahan.
"Dia mati!! Mayatnya dikerubuti belatung!! Sudah membusuk!! Anakmu sangat bodoh hingga mati dengan mudah!!" ucap Krisan lebih keji lagi.
Sakha segera turun dengan cepat emosional dengan hinaan pada putranya, meraih kerah kemeja sang manager muda,"Dia tidak mati!! Putraku pintar dan..."
Krisan tersenyum,"Maaf, saya tidak pandai membujuk orang. Tapi jika memang putra tuan masih hidup cari dia seumur hidupmu tidak peduli hasilnya. Persiapkan rencana hidupnya dengan baik. Jika dia memang cerdas dan mandiri, yakinlah kalian akan bertemu..."
__ADS_1
"Maaf, sudah berkata kasar keributan hari ini juga atas kesalahan kami. Mohon berikan rate 5 dan ulasan yang baik nantinya..." ucap Krisan, membungkuk selaku manager. Pergi meninggalkan kamar.
Sementara karyawan House Keeping hanya diam terpaku.
"Wa ... wanita itu!! Membuatku kehabisan kata-kata..." ucap Sakha menunjuk-nunjuk melupakan keinginan bunuh dirinya.
Namun, sejenak Sakha terdiam, mungkin jika latar belakang dan prilakunya baik. Dapat menjadi calon istri untuk putranya nanti. Wanita yang berfikiran logis, tidak berpura-pura dan tegas, bertolak belakang dengan Melani mantan istrinya. Akan cocok dengan Randy nantinya.
"Dia siapa?" tanya Sakha pada pegawai House Keeping.
"Krisan, manager F&B departemen di hotel kami ..." jawabnya.
Sakha tersenyum, pendapat wanita itu benar. Dirinya lebih baik mempersiapkan masa depan Randy saat kembali nanti ke pelukannya, finansial dan mengatur pernikahannya. Menemukan istri yang baik, yang tidak hanya pandai berkata-kata manis di depan. Menantu yang dapat melahirkan cucu-cucu yang manis nanti.
Tidak ada yang boleh berebut menantu incaran seorang Sakha.
"Apa dia sudah menikah?" tanyanya.
"Belum, maaf atas prilakunya mungkin karena terlalu kasar, tidak ada pria yang mau mendekatinya. Jadi dia memang emosional..." jawaban jujur dari sang House Keeping.
Sakha mulai meraih handphonenya. Menghubungi seseorang,"Halo Martin," sapanya setelah panggilannya tersambung.
"Ada apa tuan?" tanyanya seseorang di seberang sana.
"Selidiki seorang wanita bernama Krisan, manager di hotel tempatku menginap," jawabnya.
"Dia akan cocok dengan Randy nantinya. Randy tidak boleh sepertiku yang salah memilih istri. Jika anak itu aku temukan, akan segera aku nikahkan..."
"Selama itu, dia tidak boleh didekati pria manapun," lanjutnya.
"Baik tuan akan saya selidiki latar belakangnya," jawaban dari seberang sana.
Sementara Sakha mulai berjalan ke area restauran hotel. Hendak menguji kesabaran dan mengetahui lebih banyak tentang wanita yang diincarnya untuk menjadi istri Randy nantinya.
Setidaknya ini lebih dapat dilakukannya dari pada bunuh diri. Anaknya yang pintar dan mandiri masih hidup entah dimana, Randy bukan anak yang bodoh...dia akan masih hidup...
Jalannya waktu telah banyak berubah, melenceng dari asalnya. Sakha seharusnya mati hari ini, tanpa membalas perlakuan Melani pada putranya. Tidak dapat bertemu kembali dengan putra yang dicintainya.
Saat waktu belum terulang, Krisan hanya seorang kasir yang tengah hamil. Bukan salah satu dari orang-orang yang mencoba menghentikan Sakha untuk bunuh diri.
Namun, jalannya waktu yang melenceng, merubah takdir banyak orang, akankah kebahagiaan orang-orang yang menyakiti mereka tetap bertahan? Entahlah...
Bersambung
__ADS_1