
Pada akhirnya nona muda yang baru kehilangan kedua orang tuanya itu, tersenyum. Atau lebih tepatnya pura-pura tersenyum, orang-orang ini terasa asing dan berbeda. Namun, memperlakukannya dengan baik, masih merindukan ayah dan ibunya. Terkadang hatinya terasa sakit mengingat kenangan kedua orang tuanya di setiap sudut rumah.
Krisan berusaha keras terlihat tersenyum, agar tidak ditinggalkan sendiri. "Makan yang banyak..." ucap Morena (istri Santoso) meletakkan daging dan sayuran ke dalam piringnya.
Gadis kecil itu mengangguk berusaha untuk makan, dua anak yang duduk di sampingnya diliriknya ada Willy yang kini berumur 9 tahun dua tahun lebih tua darinya dan Sarah yang seusia dengannya.
Keluarga Santoso tiba-tiba pindah ke rumahnya yang tidak memiliki kerabat satupun. Sebenarnya ada, seorang bibi yang berprofesi sebagai pelukis, hidup bebas berpindah dari satu negara ke negara lainnya. Tapi bahkan informasi dirinya berada saat ini sulit ditelusuri, hampir 2 tahun pergi mengelilingi dunia tanpa kabar.
Bahkan kematian adiknya yang merupakan ayah dari Krisan mungkin tidak diketahui sang bibi.
Dengan hadirnya keluarga sekretaris almarhum ayahnya Krisan berharap hidupnya tidak akan terlalu sepi lagi. Tapi sekali lagi, anak yang tidak ingin hidup kesepian akan mengorbankan segalanya.
"Ibu, aku ingin bermain di kamar Krisan," kata-kata yang keluar dari mulut Sarah menarik jemari tangannya usai menghabiskan makan malam mereka.
Hal yang terjadi di sana? Anak yang baru satu minggu tinggal di rumahnya itu membuka lemari pakaiannya. Pakaian mahal ala putri berjejer rapi,"Aku tidak punya yang seperti ini, ini boleh untukku?" pintanya.
Krisan mengangguk, setidaknya dia punya saudara saat ini yang menyayanginya. Itu sudah cukup menghapus rasa sepinya.
Tapi pantaskah anak yang menumpang hidup, mengambil setengah isi lemarinya? Semua adalah gaun pemberian ibunya. Anak yang katanya ingin bermain, tapi pergi tanpa tau malu dari kamarnya.
Air matanya mengalir, kenangan ibunya ada dalam setiap pakaian. Ibu yang menyisir rambutnya, mencocokkan warna bando, sepatu bahkan kaos kaki dengan gaunnya. Mencium keningnya setiap pagi sebelum ibu dan ayahnya pergi bekerja ke kantor mereka.
Tapi menginginkan sebuah cinta memerlukan pengorbanan bukan? Pengorbanan yang membuatnya semakin terpuruk. Tidak ingin keluarga Santoso meninggalkannya di rumah besar seorang diri, hanya karena menjadi anak dengan prilaku buruk. Satu kata yang dilakukannya 'Patuh,'
Hingga satu bulan keluarga itu tinggal, Santoso membelikannya sebuah boneka beruang besar, tersenyum padanya. "Paman akan tetap menjagamu hingga dewasa. Menjadi walimu, ini Krisan sudah bisa tandatangan kan? Mulai sekarang paman adalah kerabatmu. Akan menjaga perusahaan milik almarhum ayahmu," ucapnya menyodorkan map dan bolpoin.
Krisan sudah dapat membaca saat itu, hanya saja isi yang tidak dimengerti olehnya yang berumur 7 tahun. Isi yang bagian surat kuasa sebagai walinya dapat mengelola seluruh kekayaan yang dimiliki almarhum ayahnya.
Santoso tersenyum saat itu, mengelus rambutnya. Walaupun ada hal aneh dalam benak Santoso, hanya perusahaan dan rumah yang saat ini mereka tempati dimiliki almarhum majikannya. Apa almarhum Zoya (ayah Krisan) tidak memiliki aset lain? Entahlah, namun surat ini telah ada di tangannya. Mungkin jikapun ada aset lain, hanya aset tidak berguna.
Santoso tidak menyadari, hanya 15% kekayaan Zoya yang terlihat dimatanya. Sisanya? Berupa cabang hotel yang terdapat di beberapa negara, villa, restauran. Semuanya dikelola oleh sebuah yayasan dengan surat perjanjian keuntungan 50% dari aset bergeraknya itu, akan menjadi milik yayasan yang berbasis di luar negeri, yayasan yang bergerak di bidang amal. Sisa keuntungan 50% akan masuk ke akun bank milik putrinya yang juga berbasis di negara lain. Karena dulu almarhum Zoya sendiri merasa kewalahan mengelola aset-asetnya, ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya.
__ADS_1
Memilih hidup sebagai pengusaha kelas menengah, bagaikan menabung untuk masa depan putri dan cucunya nanti. Harta bernilai lebih tinggi dari perusahaan, yang diketahui hanya oleh notaris, pihak bank dan yayasan yang mengelola sementara, akan dikembalikan pada Krisan setelah menikah nanti.
6 bulan berlalu, sifat semua orang mulai terlihat...
Santoso tidak peduli padanya lagi, barang-barang di kamar sudah dibawa ke kamar Sarah tanpa meminta ijin darinya. Bahkan tempat tidur besar yang memiliki tirai tipis tidak luput dibawa juga. Berganti dengan tempat tidur spon berharga murah. Lemari besar dilengkapi cermin juga menjadi milik Sara.
Alasannya? Krisan tidak memiliki banyak pakaian lagi. Tidak memiliki banyak pakaian lagi? Tentu saja semua boneka dan pakaiannya telah dibawa Sarah.
Hingga dirinya mulai berusaha mengenakan seragam merah putih seorang diri, menyisir rambutnya juga seorang diri, berusaha serapi mungkin walaupun masih sedikit berantakan.
Sarah tidak pernah lagi masuk ke kamarnya, begitu juga dengan Morena tidak pernah lagi mengambilkannya lauk atau membantu menyisir rambutnya. Bahkan dengan sengaja hanya membuat empat potong ayam goreng setiap malamnya.
Plak...
Tangan kecilnya yang hendak meraih ayam goreng dipukul,"Ini untuk Santoso yang sudah berusaha keras menjaga perusahaan milik ayahmu!" ucap Morena, menatap sinis padanya.
Krisan menitikkan air matanya, mengepalkan tangannya. Almarhum ibunya bahkan berusaha keras menyuapinya agar bersedia makan. Namun apa yang dapat dilakukan anak berusia 8 tahun? Jawabannya tidak ada, meminta tolong pada siapa? Gaji pelayan semua dibayar oleh Santoso walaupun sejatinya menggunakan uang ayahnya. Tidak ada pelayan yang ramah atau menganggapnya nona muda lagi.
Hingga malam menjelang, suara jangkrik terdengar, Krisan terbangun kehausan mulai berjalan menuju lantai satu. Namun langkahnya terhenti kala mendengar namanya disebut dari pintu kamar Morena yang sedikit terbuka.
Pintu kamar Morena? Sejatinya itu adalah kamar almarhum kedua orang tuanya.
"Kapan kamu menitipkan dia ke panti asuhan?" tanyanya.
"Secepatnya, bersabarlah! Aku sudah hampir berhasil menguras seluruh dana perusahaan, hingga berhutang. Setelah perusahaan dinyatakan pailit, rumah ini akan disita. Kita sudah bisa terbebas dari anak itu. Uang hasil mengambil dana perusahaan Cargo milik Zoya dapat kita gunakan untuk mendirikan perusahaan baru dan membeli rumah baru..." Santoso tersenyum, memakaikan kalung emas putih yang ditemukannya dalam lemari Wanda ( ibu Krisan).
Krisan mengepalkan tangannya, air matanya mengalir menutup mulutnya sendiri. Anak itu tidak cukup bodoh untuk marah dan membongkar semuanya. Mungkin dirinya akan mengalami penganiayaan, atau diusir tanpa apapun, anak yang tidak memiliki orang dewasa untuk tempatnya berlindung.
Menunggu? Mungkin kehidupan di panti asuhan akan lebih baik, dari pada tinggal dalam rumah yang dipenuhi dengan orang-orang yang memakai topeng.
Dan benar saja, beberapa bulan setelahnya perusahaan dinyatakan pailit. Santoso memeluknya erat, "Maaf paman sudah berusaha, tapi perusahaan ayahmu tidak dapat diselamatkan. Kami juga berada dalam kondisi ekonomi yang sulit. Jadi..."
__ADS_1
"Aku akan tinggal di panti asuhan..." Krisan menyela kata-katanya, tanpa ekspresi.
"Paman akan mengantarmu ke panti dengan fasilitas yang memadai," ucapnya berpura-pura iba.
Hingga akhirnya Santoso berjalan menuju lantai dua, seakan tidak sabaran mengemasi barang-barang milik Krisan.
Sementara itu Sarah menatap sinis padanya, kemudian tersenyum,"Mulai sekarang akulah yang menjadi seorang putri. Semua milikmu sudah menjadi milikku,"
Willy menghela napas, berjalan mendekatinya,"Lain kali jangan begitu bodoh," ucap anak rupawan yang selalu menjadi peringkat pertama di sekolahnya, tersenyum.
Kedua orang anak yang tidak iba atau merasa kehilangannya. Bahkan Morena sibuk memindahkan perabotan milik almarhum kedua orang tua Krisan mengingat rumah itu akan disita karena hutang perusahaan.
Hutang perusahaan? Pailit? Omong kosong, semua telah jatuh ke rekening seorang Santoso. Membuat seolah-olah warisan Krisan berupa perusahaan dan rumah telah habis.
Anak itu dibawanya ke panti asuhan. Hingga di tengah jalan Krisan meminta untuk berhenti, hanya sekedar untuk membeli coklat.
Hujan mengguyur, menyambut kepergiannya dari rumah yang dipenuhi kenangan meyakinkan, kala merindukan kedua orang tuanya. Rumah yang dipenuhi orang-orang yang berpura-pura mencintainya.
Anak itu mendatangi panti asuhan dengan penuh senyuman. Hujan yang menghapus masa lalu dan rasa sakitnya. Berharap mendapatkan keluarga baru disana.
Hanya dengan sebatang coklat. Anak tertampan di panti asuhan akan menjadi keluarganya. Seperti kata-katanya pada almarhum sang ibu, menikahi pria tampan dan pintar. Mengingat dirinya sendiri yang tidak pintar.
Coklat itu dikunyahnya setengah, mengenyitkan keningnya. Pandangan matanya tidak lepas dari anak tertampan dengan tatapan mata kosong, kala orang dari panti asuhan memperkenalkan Krisan pada anak-anak yang lain.
Krisan tersenyum, berjalan mendekatinya... Dia akan menjadi keluargaku... gumamnya dalam hati penuh keyakinan, kala dirinya memaksa sang anak memakan cokelat pemberiannya. Menduduki tubuhnya, tetap memaksanya makan.
Hingga pengurus panti menghentikan Krisan. Gadis kecil yang pergi meninggalkan sang anak berwajah rupawan seorang diri. Anak yang diam-diam memakan setengah coklat pemberian Krisan yang jatuh di tempat tidurnya.
Pertemuan pertama seorang Rain dengan Krisan...
Bersambung
__ADS_1