Ketika Istriku Menyerah

Ketika Istriku Menyerah
Kura-kura


__ADS_3

Masih mengenakan sarung tangan karetnya, menunggu aktivitas itu terhenti.


Hingga fajar menyingsing barulah Willy bersiap-siap keluar diam-diam, menghindari penjaga villa. Kening istrinya dikecupnya, tersenyum sendiri menatap bekas keunguan ciptaannya yang entah ada berapa. Bahkan ada beberapa di paha Sasha, kala membuai wanita itu agar meminta dirinya melakukan lagi.


Tempat tidur benar-benar kacau balau."Aku mencintaimu... maaf aku egois tidak dapat memilih antara dirimu dan keluargaku," ucapnya, menepikan anak rambut yang menutupi wajah rupawan istrinya. Mengecup bibirnya sekilas.


Tubuh tanpa sehelai benangpun yang menutupi, diselimutinya. Cantik? Istrinya cukup cantik, wanita pertama dan satu-satunya yang pernah ditidurinya.


Entah bagaimana, dirinya tidak mencintai istrinya sama sekali. Wanita yang awalnya hanya didekatinya, dinikahinya, hanya demi karier politik sang adik, hanya agar status sosial keluarganya meningkat, demi mengenal lebih dekat klien. Kini, wanita itulah yang paling dicintainya.


Willy yang telah membersihkan tubuhnya, memakai pakaian lengkap, kembali meninggalkan uang. Memberi nafkah yang mungkin sejatinya tidak seberapa bagi istrinya. Sesuatu yang dulu tidak pernah dapat diberikannya, ketakutan suatu saat nanti Sarah dan Morena akan berbuat lebih buruk.


Ketakutan kehilangan istrinya, namun tetap saja tidak dapat melepaskan diri dari keluarganya.Bukan karena materi, namun memang karena mereka keluarganya.


Air matanya mengalir, menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Duduk di tepi tempat tidur, tidak jemu rasanya menatap wajah yang tengah tertidur lelap.


Jemari tangannya mengepal."Sasha, aku awalnya tidak mencintaimu. Tidak sama sekali, menjeratmu untuk menyerahkan hatimu. Untuk masuk ke dalam keluargaku yang dipenuhi lintah penghisap darah,"


Air mata Willy kembali mengalir, segera diseka olehnya."Setelahnya, aku belajar artinya ketulusan, belajar untuk mencintaimu. Tapi ibu dan Sarah selalu iri tidak pernah puas. Karena itu maaf... selama ini, aku acuh dan kasar padamu. Sasha-ku tidak pernah berselingkuh, akulah yang tidur di hotel bersamamu. Aku juga tidak pernah berselingkuh, parfum wanita, tanda lipstik, itu perbuatan sektretarisku,"


"Aku mencintaimu..." ucapnya mengecup kening istrinya yang sebentar lagi akan diceraikannya. Sebentar lagi, status mantan suami akan disandangnya. Meninggalkan sang istri yang terlelap.


Akhir dari segalanya? Mungkin, ibu yang menjajakan adiknya dan selalu mengesampingkan dirinya. Mengapa? Willy tidak mengerti, bakat, prestasi, semuanya tentang dirinya mengungguli Sarah. Namun percuma saja sang ibu tidak pernah mencintainya.


Willy segera berjalan ke balkon kamar, turun menapaki tangga bambu yang tadi malam dipakainya untuk naik.


Tidak menyadari Sasha membuka matanya, menutup mulutnya sendiri. Mendengarkan semua yang dikatakan suaminya. Sasha tidak tidur sama sekali, dirinya hanya berpura-pura, agar Willy merasa nyaman untuk tidur bersamanya, usai malam panjang mereka.


Satu pengakuan yang didengarnya, kini dirinya mengerti segalanya."Willy..." lirihnya menahan rasa sakit, semua kata-kata kasar dari suaminya hanya untuk melindungi dirinya.


Perut ratanya dielus olehnya, mungkin inilah sebab Willy berusaha membuat dirinya menggugat cerai dan memberikan obat kontrasepsi diam-diam. Tidak ingin ibu mertua dan adik iparnya mencelakai dirinya jika hamil nanti.


Ini juga alasan mengapa, setelah terucap kata perceraian Willy berhubungan dengannya tanpa pengaman. Menginginkan anak mereka terlindungi di bawah kuasa keluaga Sasha.

__ADS_1


"Pria lemah dan bodoh..." cibirnya tersenyum, masih juga tetap mencintainya. Pria pertama yang menyentuhnya meluluhkan hatinya.


Matanya menatap sinar matahari tipis yang mulai masuk melalui balkon kamar."Aku juga, dengan bodohnya masih mencintai dan mempercayaimu..."


Tempat tidur yang berantakan, dengan seorang wanita rupawan ditinggalkan di atas tempat tidur hanya berselimut selimut putih yang hangat. Wanita yang mulai dapat tersenyum, dalam air matanya yang mengalir.


Menuntut harta gono-gini dalam jumlah yang besar? Mungkin itulah yang akan dilakukannya, guna memperlambat proses perceraian, berusaha menunggu lebih lama, agar Willy berakhir memilih dirinya dan janinnya nanti.


***


Bug...


Sementara itu kura-kura ninja yang baru saja mencapai permukaan tanah. Salah, maksudnya Willy yang berpura-pura menjadi ninja setiap malamnya baru mencapai permukaan tanah.


Menyadarinya ada hal yang aneh, beberapa orang tiba-tiba mengepungnya. Pemuda itu membulatkan matanya mengangkat tangannya ketakutan."A...apa mau kalian?" tanyanya gemetaran.


Ferdy menghela napas kasar."Aku ingin kamu bertemu seseorang," ucapnya tersenyum.


***


Hari masih terlalu pagi, dengan dalil berjalan-jalan dirinya meninggalkan Krisan sarapan dan membersihkan diri. Dengan Ferdy yang mendorong kursi rodanya, menuju taman. Willy terdiam menunduk, tidak mengerti mengapa dirinya dibawa ke tempat itu hingga Rain terlihat disana.


"Apa tujuan ayahmu?" tanyanya to the points.


"Aku tidak bisa mengatakannya, maaf.... Tapi hanya satu saran dariku, ayahku ingin membunuhmu. Sedangkan ibu dan adikku ingin kamu menikah dengannya. Jadi bawa istrimu melarikan diri ke luar negeri," jawaban dari mulutnya, tertunduk, kemudian tersenyum.


"Jika hanya karena ini, kamu memanggilku kemari. Aku permisi..." lanjutnya sedikit menunduk berjalan pergi, tidak ingin Santoso atau Morena, salah sangka jika melihat keberadaan disini.


"Kamu yakin dia masih mencintai istrinya?" tanya Rain, tidak mengerti, menatap kepergian Willy.


"Yakin! Kamu seharusnya menaikan gajiku!! Semalaman aku mendengar suara. Owh Willy, lebih cepat lagi, lebih kuat lagi! Sasha ... Sasha aku hampir keluar," Ferdy menjawab menggunakan ala suara wanita dan laki-laki.


Rain memijit pelipisnya sendiri."Seharusnya kamu mempunyai pacar kemudian menikah, agar tidak iri!!"

__ADS_1


"Aku akan menikahi Istrimu, setelah kamu bercerai..." ancaman dari mulut Ferdy.


"Aku akan menikahi ibumu, menjadi ayah tirimu, setelah aku menjadi duda," Rain mengancam balik.


"A...aku cuma bercanda!!" ucap Ferdy cepat, kembali meraih kursi roda Rain.


***


Beberapa puluh menit berlalu, kedua orang itu kembali ke dalam ruang rawat. Menatap Krisan berada disana, memakai pakaian bermerek, mengenakan make-up untuk pertama kalinya, bibirnya terlihat merah merona. Menyajikan beberapa jenis makanan yang sebelumnya dibawanya.


"Cantik, istrimu bertambah cantik..." Ferdy terpana pada pemandangan di hadapannya.


Sedangkan Rain, terlihat tegang, tertegun diam.


"Kamu tidak terpesona?" tanyanya menghentikan lamunan Rain.


Pemuda itu terlihat menelan ludahnya, menghapus liurnya yang sempat menetes.


"Rain...ayo kita sarapan bersama," ucap Krisan menggeser rambutnya terurai, memperlihatkan leher putih jenjang tanpa nodanya.


"Krisan!! Pakaianmu itu!! Riasanmu!!" ucap Rain menunjuk-nunjuk.


"Apa aku cantik?" Krisan berjalan berlenggak-lenggok, dengan pakaian ketat, memperlihatkan lekukan tubuhnya.


Sebelum waktu terulang, setiap hari Rain mengeluh pada Krisan tentang penampilannya. Namun sekarang? Tidak lagi, dirinya akan menjadi apapun yang diinginkan Rain.


"Tidak!! Dasar jelek! Ganti sekarang!" teriaknya posesif, melirik keberadaan Ferdy yang terlihat masih terdiam kagum.


"Aku ingin berganti pakaian di dekatmu," Krisan mengedipkan sebelah matanya, mengibaskan rambutnya, naik keatas pangkuan Rain.


Ferdy menelan ludahnya sendiri, sial! Dirinya benar-benar sial, baru saja terlepas dari pasangan kura-kura ninja, kini dirinya di hadapan dengan pasangan yang lebih panas.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2