Ketika Istriku Menyerah

Ketika Istriku Menyerah
Anakku


__ADS_3

Agresif? Begitulah dirinya saat ini, Rain yang sulit untuk digoda membuatnya menahan senyuman di bibirnya.


"Aku keluar..." ucap Ferdy, tidak ingin menyaksikan tontonan live.


"Kri ... Krisan turun! Aku masih sakit, sebagai istri kamu seharusnya merawatku..." ucapnya gelagapan, menggigit bagian bawah bibirnya sendiri.


"Aku mencintaimu, katakan kamu juga mencintaiku. Maka aku akan turun dari pangkuanmu..." ucap Krisan tersenyum.


"Aku juga mencintaimu," Rain mengalihkan pandangannya, menahan rasa malunya.


***


Hujan tiba-tiba mengguyur di luar sana, hujan yang cukup deras. Beberapa puluh menit berlalu, sarapan Rain telah tandas. Pasangan itu terdiam berbaring di tempat tidur pasien. Krisan menatap langit-langit kamar, mendekap tubuh suaminya.


"Rain..." panggilnya.


"Em?" pemuda itu membalas pelukannya.


"Seseorang bernama Jacob menghubungiku. Meminta sampel darahku..." ucap Krisan, memulai pembicaraan dengan ragu.


"Sampel darah?" tanya Rain.


Krisan mengangguk."Dia mengetahui identitasku sebagai Krisan, ingin memastikannya dengan sampel DNA,"


"Lalu?" Rain kembali bertanya.


"Kedua orang tuaku memberi warisan untuk anak kita," jawab Krisan memeluk tubuh suaminya."Itulah tujuan Santoso, untuk menikahkan ku dengan Willy,"


"Apa keputusanmu?" tanyanya kembali pada Krisan.


"Aku akan tetap menitipkan semuanya pada yayasan. Memperbaharui surat perjanjian, menyimpan semuanya untuk anak kita nanti. Berjaga-jaga jika putra kita bernasib sama seperti kita, harus tumbuh dewasa tanpa orang tua." Krisan tersenyum, menggenggam jemari tangan suaminya."Apa tidak apa-apa jika aku bergantung hidup padamu?"


"Tidak apa-apa, aku..." Rain terdiam sejenak.

__ADS_1


"Ayah dan ibuku selalu mengatakan perasaan mereka dengan benar. Berakhir tidak saling meninggalkan, jatuh ke dalam lautan dengan tubuh yang hancur. Jika suatu saat kita mati, aku ingin kita mati bersamaan. Aku..." Krisan tertunduk menitikan air matanya.


"Aku mencintaimu, kita akan mati bersama, di hari, jam, menit dan detik yang sama suatu hari nanti. Agar tidak ada satupun diantara kita yang kesepian..." jawaban dari Rain mendekap tubuhnya erat.


Hangat? Ini benar-benar hangat menurutnya. Mencintainya, tidak memiliki apa pun selain dirinya. Kematian yang terjadi sebelum waktu terulang, mungkin merupakan sebuah pembelajaran untuk mereka. Pasangan yang mengeratkan pelukannya, menyambut dinginnya hari yang akan menerpanya.


Tidak menyadari seorang wanita berpakaian minim berjalan membawa sekeranjang buah. Ruang rawat Rain menjadi tujuannya, tampan, kaya, cerdas, dari kalangan atas. Pasangan yang sempurna untuk dirinya, kesialan yang benar-benar terasa, kala Rain yang terluka untuk Krisan.


Apa kelebihan Krisan? Wanita itu tidak memiliki kelebihan apapun. Tidak sebanding dengan dirinya, Dara tersenyum mengepalkan tangannya, kali ini dirinya tidak akan gagal untuk mendapatkan perhatian Rain.


Hingga ruangan itu terlihat, pasangan yang tengah saling mendekap dalam tempat tidur pasien."Permisi..." ucapnya mengetuk pintu, sembari mengintip dari jendela.


"Dingin, jangan dibuka..." pinta Rain masih betah mendekap tubuh istrinya.


"Akan aku buka," Krisan tersenyum, bangkit meninggalkan Rain. Pintu perlahan dibukanya."Maaf ada apa ya?"


"Aku ingin menjenguk Rain," kalimat yang keluar dari mulut Dara.


Namun...


Satu tamparan mendarat di pipi Dara. Ini sudah diduga olehnya, cara kematian yang sana, keadaan yang sama, dalang dari semuanya? Tentu saja wanita di hadapannya.


"Kenapa kamu menamparku!? Tidak tau sopan santun!!" tangannya terangkat hendak menampar balik. Namun dengan cepat Krisan mendorongnya hingga tersungkur.


"Mengirim orang untuk membunuhku?" tanyanya geram. Semua terasa masuk akal saat ini. Wanita yang menyebabkan kematiannya sebelum waktu terulang. Andai saja dirinya tidak takut, andai saja dirinya mengetahui sebenarnya suaminya tidak pernah mengkhianatinya ini tidak akan terjadi. Mereka tidak perlu menjalani kesempatan ke dua untuk dapat bersama.


"Dasar gila! Apa yang kamu katakan..." geramnya hendak menjambak rambut Krisan. Namun, dengan cepat Ferdy yang baru datang dari membeli minuman, menghalangi Dara mengunci pergerakan tangannya.


"Ferdy, dia yang memiliki kemungkinan mencelakaiku dan Rain. Bisa kamu mengurungnya? Sementara mencari bukti kejahatannya?" tanya Krisan.


"Tapi..." Ferdy terlihat ragu.


"Ikuti keinginannya," ucap Rain dari atas tempat tidur dengan wajah pucat.

__ADS_1


Ferdy mengangguk, diam-diam mengeluarkan pisau cutter dari dalam sakunya. Menodongkannya pada leher Dara."Ikut aku, bergerak sewajar mungkin..." perintahnya, menurunkan pisaunya ke area punggung Dara. Agar tidak ada yang menyadari wanita ini tengah dipaksa untuk mengikutinya.


***


Jalannya waktu yang berubah, begitu juga banyak hal yang menyimpang terjadi...


Santoso mengepalkan tangannya, menghantam kaca di hadapannya. Jemari tangannya yang berlumuran darah gemetar, membasahi kertas putih kini yang telah tercemar noda merah dari darah.


Awalnya dirinya hanya menganggap itu hanya rasa kasih sayang biasa antara ibu dan anak. Tapi, kini tidak lagi, Morena berani menentang perintahnya demi Sarah? Bahkan dulu Morena sendiri yang mengatur pernikahan Willy hanya demi putri kesayangannya itu.


Sudah tidak wajar jika berani terang-terangan mengirim Irwan untuk mengusik keluarga Rain. Mendapatkannya demi Sarah. Hingga dirinya ingin membuktikan sendiri, sampel darah putrinya diambil diam-diam, saat Sarah tertidur. Dan inilah hasilnya, alasan kenapa Willy diperlakukan berbeda dengan Sarah.


Santoso menjambak rambutnya sendiri. Benar-benar kalap, putri yang ikut dimanjakannya bahkan ada kalanya tidak memikirkan putra kandungnya sendiri. Hanya anak hasil perselingkuhan istrinya.


Tangannya yang masih berlumuran darah mengepal, mengambil kunci mobil. Mengetahui keberadaan Morena saat ini? Tentu saja, penjaga villa selalu mengabarkan majikannya akan berlibur seorang diri ke villa setiap hari sabtu hingga minggu.


Lebih memilih berlibur di villa dari pada menemani suaminya di rumah? Apa Morena benar-benar tidak pernah mencintainya?


Hingga pada akhirnya setelah satu setengah jam perjalanan villa itu terlihat juga. Hanya ada satu mobil disana, pertanda istri hanya seorang diri. Namun, apa benar demikian?


Sejatinya tidak, seakan hujan lebat di luar sana menambah hangat permainan mereka. Morena menonggakkan kepalanya pasrah, kala tubuhnya diombang-ambing, kedua titik sensitif bagian atasnya di nikmati secara bergantian.


"Agh...ahhh...hhh..." hanya deru napas dan jeritan kenikmatan yang beradu terdengar.


Tidak menyadari Santoso yang memasuki pintu depan villa, mungkin suara hujan lebat membuat suara mobilnya samar tidak terdengar. Melangkah pasti, mencari keberadaan Morena, guna ingin mengetahui siapa sebenarnya ayah kandung Sarah. Dengan siapa istrinya bersenang-senang selama dirinya tengah berusaha keras mencari uang. Kala kehidupan mereka sulit dahulu.


Foto keluarga terpajang di ruang tamu villa. Keluarga bahagia yang terlihat tersenyum, ayah, ibu, dan dua anaknya. Semua terlihat sempurna, air mata Santoso mengalir, terkadang dirinya sering ikut mengesampingkan Willy sang kakak yang lebih banyak mengalah, menyayangi dan menjaga Sarah, anak bungsu yang manja.


Ternyata hanya Willy satu-satunya anaknya, dirinya benar-benar bodoh...


Maafkan ayah... batinnya menatap foto keluarga, melanjutkan perjalanannya hingga menuju lantai dua.


Suara itu mulai terdengar, suara racauan istrinya. Santoso berjalan semakin mendekati arah pintu kamar, memegang hendelnya dengan tangan terluka berlumuran darah segar.

__ADS_1


"Akh..." suara jeritan kepuasan dua orang bersamaan.


Bersambung


__ADS_2