
Di setiap awal perjalanan akan menemukan akhirnya. Begitu juga dengan sungai yang bermuara selalu menemukan jalannya menuju lautan.
Krisan terdiam menatap ke arah televisi. Kematian Sarah yang tiba-tiba membuatnya terdiam. Air matanya tidak mengalir sedikitpun, tidak begitu dekat dengan sosok itu. Namun, Irwan yang tertangkap, mengakui telah membunuh anak majikannya.
Jemari tangan Krisan gemetar, banyak yang terjadi kala jalannya waktu telah berubah. Mengapa dirinya kembali mengulangi waktu? Jika ada beberapa kematian yang tidak diketahui dan tidak dapat dicegahnya.
Perutnya tiba-tiba terasa sakit,"Rain..." panggilnya pada suaminya yang tengah bersiap-siap untuk bekerja.
Pemuda yang berlari dalam kepanikan menatap istrinya yang mencengkram sofa dengan kuat."Apa sudah waktunya!? Apa sakit?" tanyanya.
"Rain!!" teriak Krisan saat rasa sakit itu semakin menjadi-jadi.
Pemuda yang sempat-sempatnya terjatuh, kala mengambil tas berisikan peralatan bayi dan persalinan di dalam kamar. Mengambil kunci mobil, mulai mengangkat tubuh istrinya, meletakkan dalam mobil, mengenakan sabuk pengaman padanya.
"Hair dryer belum aku matikan!!" ucap Rain kembali keluar dari mobil, berlari ke dalam rumah.
"Rain sialan!!" umpat Krisan menahan rasa sakitnya. Mengatur napasnya seorang diri.
Hingga akhirnya, suaminya kembali ke mobil, menginjak pedal gasnya, melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi."Atur napasmu...huh...huh...huh..." ucap Rain bagaikan dirinya yang hendak melahirkan, sembari menyetir dengan rambut dan kemeja yang kusut, dicengkeram dan dijambak istrinya.
Krisan mulai menghirup napasnya, menahan kemudian menghembuskan lewat mulut. Namun rasa sakit malah semakin menjadi-jadi."Rain br*ngsek!! Kenapa kamu menghamiliku!!" teriaknya dengan wajah pucat, gerakan tangan mulai menggila, semakin mencengkram dan menghajar suaminya yang tengah menyetir.
"Karena enak..." jawaban lugu dari Rain berusaha mengalihkan rasa sakit istrinya.
"Enak apanya!? Sakit...!" lirih Krisan dengan air mata mengalir.
"Sabar, sedikit lagi, kamu tenang ya... atur napas...huh...huh...huh..." Rain kembali mempraktekkan cara mengatur napas, menatap ke arah jalan. Mencari celah untuk sampai ke rumah sakit dengan cepat.
"Huh...huh...huh...Aku hanya ingin punya anak satu!! Aku tidak ingin melahirkan lagi!!" teriak Krisan.
Rain membulatkan matanya."Kita harus punya banyak anak..."
Plak...
Kepala suaminya dipukul oleh Krisan."Kalau begitu biar kamu saja yang melahirkan!!"
***
Banyak hal yang berubah dan terjadi, termasuk kelahiran bayi yang seharusnya mati bersama tubuh mendingin ibunya. Bayi mungil yang kini berada dalam box bayi. Wajah yang benar-benar menyerupai Rain kala baru dilahirkan.
Bayi yang tengah disusui sang ibu. Sora yang berarti langit, itulah namanya. Peralatan bayi dibawa seorang pria sebagai bingkisan untuk menjenguk bayi, pria yang mengenyitkan keningnya. Menyadari dirinya benar-benar dipermainkan seorang bocah.
"Mempertemukan dengan anakku? Benar-benar anak durhaka, anak sialan," gumam seorang pria paruh baya, menitikkan air matanya, mendekat, menatap wajah yang bayi yang masih memerah. Telah diletakkan kembali dalam box bayi oleh perawat.
"Boleh aku menggendongnya?" tanya Sakha pada Krisan. Wanita yang mengangguk, masih duduk di tempat tidur pasien.
Bayi yang tersenyum, perlahan terlelap dalam gendongan Sakha, mungkin pengaruh usai disusui penyebabnya. Sang pria paruh baya, menghela napas kasar, meletakkan Sora dalam baby box.
__ADS_1
Menyentuh pipi mungkin itu menggunakan jari telunjuknya. Hingga perlahan pintu terbuka, menampakan seorang pemuda dengan rambut yang masih acak-acakan usai mengurus administrasi ruangan VIP yang disewanya.
Sakha mengepalkan tangannya, berjalan mendekati Rain.
Plak...
Entah ada angin apa kepalanya tiba-tiba dipukul."Kenapa aku..." kata-kata Rain terhenti, Sakha menarik tubuhnya mendekapnya erat.
"Randy bodoh!! Jika ayah tidak melihat fotocopy wajah cucuku, bagaimana ayah dapat mengenalimu..." gumamnya dalam tangisan, mendekap tubuh putranya yang telah dewasa, bahkan kini menjadi seorang ayah.
"Ka... karena ayah tidak menyayangiku dan nenek. Jadi aku fikir, ini pantas..." kata-kata berurai air mata keluar dari mulutnya. Rain yang tertegun, tanpa membalas pelukan ayahnya.
"Bodoh!! Ayah pulang untuk menjemputmu dan nenekmu ke kota. Setiap bulan ayah mengirimkan uang pada bibimu untuk pendidikanmu. Maaf..." Merasa bersalah? Tentu saja, jika saja adiknya (bibi Rain) tidak berbohong mungkin kehidupan Randy tidak akan seburuk ini. Tidak akan disakiti oleh Melani."Ayah menyayangimu, Randy..." lanjutnya, telah menyadari segalanya. Janji Rain untuk mempertemukannya dengan Randy dan cucunya yang begitu mirip dengan putranya kala baru dilahirkan.
Tangan Rain gemetar, air matanya mengalir, mendekap tubuh ayahnya."Ayah, nenek meninggal, aku sudah berusaha merawatnya..." teriaknya terisak, bagaikan seorang anak yang kembali ke masa kecilnya.
Krisan tertegun diam, perlahan tersenyum. Setidaknya ada beberapa kematian yang dapat dicegah. Mempertemukan dua orang dalam kesalah pahaman. Kini dirinya dapat melihat Rain yang jauh lebih baik, bagaikan menyembuhkan luka masa kecilnya.
Hanya satu yang belum dimengerti Krisan, mengapa dirinya masih mengingat segalanya? Apa ingatannya tentang mengulangi waktu perlahan juga akan menghilang?
Entahlah...
Sementara di koridor rumah sakit, seorang pria memakai pakaian merah, rambut panjang terurai, lambang bunga teratai merah di keningnya. Berjalan tanpa disadari siapapun, pria rupawan yang tersenyum, entah apa yang membuatnya tersenyum. Menghilang perlahan bagaikan transparan dalam setiap langkahnya.
***
Namun, segalanya berubah, air matanya mengalir wanita yang belum juga menyadari kesalahannya. Terdiam seorang diri dalam tangisannya.
Sudah beberapa minggu semenjak kematian Sarah. Putri yang dimanjakannya, mengapa semuanya berakhir seperti ini? Entahlah...
Hingga...
"Ibu aku sudah membeli rumah sendiri. Terserah ibu mengijinkan atau tidak, Sasha sedang mengandung. Aku tidak akan bercerai dengannya..." ucap Willy menghela napas kasar menatap ke arah Morena.
"Bercerailah, Sarah tidak menyukai Sasha. Kamu bukan lagi putraku jika..." kata-kata Morena disela.
"Ayah sudah mengajukan gugatan perceraian di pengadilan. Harta akan dibagi dua. Terserah, setelah Irwan keluar dari penjara ibu akan menikah dengannya atau tidak. Tapi satu yang harus ibu ketahui aku ingin menjadi pria yang baik..."
"Karena itu aku lebih memilih menjadi anak durhaka daripada pria yang tidak bertanggung jawab. Jika Irwan memang lebih baik daripada ayahku, dia tidak akan meninggalkan Wawan untuk ibu. Aku hanya ingin mengatakan, maaf..." kata-kata yang keluar dari mulut Willy tanpa adanya makian sedikitpun.
Morena terdiam sejenak masih dalam tangisan rasa dukanya."Sarah sudah mati! Adikmu mati! Apa kamu sudah puas?" tanyanya menatap ke arah putranya.
Willy menggeleng, tersenyum dengan air mata yang mengalir."Aku memang anak durhaka. Tapi aku kakak yang menyayangi adikku. Karena itu aku memilih untuk diam, menginginkannya berubah..." ucapnya, berjalan hendak meninggalkan rumah.
Morena tertunduk dalam tangisannya. Rumah yang terasa sepi? Dirinya hanyalah seorang nyonya dalam rumah kosong tidak berpenghuni. Mungkin penyesalan mulai tumbuh dalam dirinya.
Jika saja dirinya bercerai dengan Santoso, kala perasaannya mulai tumbuh untuk Irwan, ini tidak akan terjadi. Sarah tidak perlu malu menerima kenyataan terlahir sebagai anak diluar nikah. Walaupun dirinya tidak menjadi seorang nyonya, dirinya dapat tetap bahagia. Hidup sederhana dengan Irwan dan Sarah.
__ADS_1
Namun tidak semua orang diberi kesempatan kedua. Hanya orang-orang yang beruntung mungkin mendapatkannya. Bukan... mungkin hanya orang-orang yang dicintai-Nya dan telah berbuat banyak kebaikan dalam kehidupannya. Takdir kehidupan yang mungkin tidak adil dalam kematiannya.
***
Dua tahun kemudian...
Angin menerpa rambut panjang seorang pemuda yang duduk diatas atap gedung pencakar langit. Pemuda rupawan berambut hitam panjang, yang menatap ke bawah sana.
Melani menarik tangan mantan suaminya."A...aku masih mencintaimu, kita kembali bersama demi Rain..." pintanya.
"Jika Rain masih berusia 8 tahun, dan memerlukan kasih sayang dari seorang ibu, mungkin akan aku pertimbangkan," Sakha menepis tangan Melani, berjalan memasuki gedung apartemen milik putranya.
Menekan tombol lift membawa hadiah untuk Rain dan Sora. Wajahnya terlihat tersenyum, putranya beberapa hari ini memang tinggal di apartemen. Mengingat lokasi proyeknya yang cukup jauh dari rumahnya dan Krisan. Membawa anak dan istrinya tinggal bersama dalam apartemen untuk sementara waktu.
Sakha tersenyum sendiri, keluarga bahagia yang diidamkannya. Membawa paperbag berukuran besar, berisikan mainan kuda-kudaan yang dapat dirakit.
Hingga menekan bel apartemen, pintu itu dibukakan Rain yang meninggalkan putranya bermain seorang diri. Sedangkan Krisan kini mungkin tengah membuat kue moka yang disukai suaminya. Bebauan harum yang tercium memenuhi sudut ruangan.
"Ayah..." Rain tersenyum pada ayahnya, membukakan pintu.
"Dimana Sora?" tanya Sakha tidak sabar untuk merakit mainan untuk cucu pertamanya.
"Dia ada..." Rain berbalik, menatap ketidak beradaan putranya. Balita yang berjalan ke arah balkon lantai 9 apartemen.
"Sora..." Panik? Tentu saja, Rain bergerak cepat menyelamatkan putranya yang terjepit di tralis balkon apartemen. Berusaha mengeluarkan Sora yang menangis ketakutan, tidak menyadari baut tralis yang longgar. Hingga tepat pada saat putranya lolos dapat diselamatkannya, Rain tergelincir, terjatuh bersama tralis besi.
Apa aku akan mati... batinnya merasakan gravitasi menarik tubuhnya. Hingga, dua tangan terulur menyelamatkannya, Krisan dan Sakha, memegang tangan kanan dan kirinya.
Dua orang yang mencintainya...
Krisan terdiam sejenak, menarik Rain besama Sakha. Kemudian menggedong putranya yang menangis sesenggukan, ketakutan.
***
Rain tidak sendiri lagi, di ulang tahunnya kali ini. Meniup lilin ulang tahun, menginginkan orang-orang yang dicintainya diberikan umur yang panjang untuk menemaninya.
Pria berambut hitam panjang, berbaju merah dengan lambang teratai di dahinya, yang semula duduk di atap apartemen, perlahan menghilang. Tanda tugasnya sudah berakhir, bersama dengan ingatan Krisan tentang pengulangan waktu yang juga menghilang.
"Aku mencintaimu..." ucap Rain tanpa perasaan ketakutan dan ragu lagi, mencium pipi istrinya.
"Aku juga..." jawaban dari Krisan menahan rasa malu.
"Kapan kalian akan punya anak lagi?" pertanyaan dari Sakha memangku cucunya.
"Secepatnya..." jawaban enteng dari Rain.
Keluarga hangat yang tertawa bersama di tengah hujan gerimis yang turun diluar sana.
__ADS_1
Tamat