Ketika Istriku Menyerah

Ketika Istriku Menyerah
Tukar Istri


__ADS_3

Hari kepulangan Santoso. Seperti biasanya, Morena akan kembali dari villanya, menyambut kedatangan suaminya, yang telah beberapa minggu berada di luar kota.


Pintu dibukakan security. Memperlihatkan Santoso yang turun dari mobilnya dengan wanita yang lebih muda dan rupawan, serta seorang remaja. Beberapa koper diturunkan oleh pelayan.


Dengan cepat Morena berjalan mendekat."Santoso, mereka siapa?" tanyanya.


"Anak sambung dan istri keduaku," jawaban darinya merangkul Ina (mantan istri Irwan).


Cantik? Dengan perawatan wanita bisa cantik, itulah yang selama ini dilakukan Santoso. Mengubah penampilan Ina, wanita yang sudah diceritakan olehnya tentang segalanya yang terjadi.


Hal yang dilakukan Ina? Wanita itu menerima lamaran Santoso. Bukan untuk balas dendam tujuannya. Namun memberikan ayah yang baik untuk putranya agar dapat bersekolah, tidak perlu merasa malu memakai buku hasil fotocopy karena tidak mempunyai uang membeli buku baru. Tidak perlu dirumahkan hanya karena tidak dapat membayar uang sekolah.


Biarlah dirinya disebut tidak tahu diri. Namun, jika memang semua gaji mantan suaminya digunakan untuk wanita ini dan putri hasil perselingkuhannya. Dirinya tidak dapat menerima sama sekali.


Gaji sebagai supir yang tidak seberapa, berhemat dan bekerja demi putra dan orang tuanya yang renta. Entah selama berapa tahun dirinya menjalani kehidupan sebagai janda yang masih bersuami.


Tangannya mengepal, Santoso mengatakan usia anak hasil hubungan gelap Irwan dan Morena jauh lebih tua daripada Wawan (putra Ina dan Irawan) itu artinya hubungan Morena dan Irwan berlangsung sebelum pernikahan dirinya dan Irwan. Jika mencintai Morena untuk apa menikahi dirinya?


Untuk pelampiasan? Untuk dicibir keluarga Irwan sebagai istri tidak tau diri. Dirinya sudah cukup muak dengan suaminya, mendengar semua cerita Santoso yang disertai bukti nyata.


Terjerat menghancurkan rumah tangga orang lain? Morena dan Irwan lah yang egois menginginkan harta dan cinta secara bersamaan sehingga menyakiti hati orang-orang di sekitarnya. Termasuk dirinya dan Wawan putranya yang masih remaja.


"Istri kedua!?" bentak Morena menatap tajam ke arah suaminya. Cinta pada Santoso yang dari dulu telah sirna. Namun memiliki istri lagi? Tidak, tidak boleh semuanya adalah milik dirinya, Sarah dan Irwan, setelah kematian Santoso.


Tidak boleh ada wanita lain lagi...


"Aku tidak setuju!! Aku akan menggugatmu ke pengadilan dan membawa Sarah pergi!!" ancamannya, membawa nama putri kesayangan Santoso.


"Gugat saja, harta kita bagi dengan benar-benar jelas. Willy akan tinggal bersamaku dan ibu sambungnya. Silahkan pergi membawa Sarah..." jawaban dari Santoso menggengam jemari tangan Wawan yang terlihat ketakutan akan situasi saat ini.


Santoso mengenyitkan keningnya, ibu dan anak ini ada dalam perlindungannya. Menatap tajam ke arah Morena yang mengepalkan tangannya penuh keserakahan.


"Aku tidak akan bercerai, kamu tidak lihat aku yang mencintaimu!! Menemanimu dari masa susah!!" teriak Morena membengkakan telinga, tidak akan membiarkan Willy yang pandai mengurus perusahaan jatuh ke tangan Santoso.


Jika saja Santoso mati, maka semua harus menjadi miliknya dan Sarah, dengan Willy yang menjaga kestabilan perusahaan. Tidak rela semuanya dibagi setengah, dirinya yang saling mencintai dengan Irwan harus berakhir bersatu, hidup bahagia tanpa kekurangan harta sedikitpun.


Benar-benar serakah? Karena itulah Santoso tersenyum.

__ADS_1


"Jika tidak ingin aku yang menggugat cerai, sebaiknya tandatangani persetujuan sebagai istri pertama. Bahwa suamimu ini menikah lagi..." ucap Santoso mengambil map yang ada dalam mobil, menyodorkannya pada Morena.


"Tidak akan!! Apa yang kamu lihat darinya!? Dia hanya wanita licik!! Menginginkan uangmu!!" Morena meninggikan intonasi bicaranya, berusaha menyerang Ina, tapi tangan Santoso menepisnya.


"Sebaiknya tanda tangan, karena aku akan tetap memilihnya (Ina). Jadi walaupun kamu tidak tandatangan, aku akan menceraikanmu, menjadikannya istri satu-satunya. Ingin bercerai atau tetap tinggal!? Itu keputusanmu!!" ucapnya menatap tajam, tetap menyodorkan map kuning di tangannya.


Tangan Morena gemetar, menatap ke arah Santoso yang sulit dibantah, mengambil pena kemudian menandatanganinya.


"Bagus, Ina mulai sekarang akan tidur sekamar denganku. Sektretarisku akan mengurus surat-surat pernikahan kami..." cibirnya, merangkul Ina memasuki rumah.


Sedangkan Irwan menunduk, melirik mantan istrinya. Bertambah membenci istri yang selalu menuntut uang padanya, walaupun tidak pernah diberikan olehnya.


Kini wanita sial itu, menggoda Santoso. Apa mau Ina sebenarnya?


Morena berjalan mendekati Irwan."Dia mantan istrimu kan? Habisi saja dia..." ucapnya mengepalkan tangan.


"Tapi Wawan..." kata-kata Irwan terhenti, Morena melihat ke area sekitarnya yang sepi. Kemudian mengecup sekilas bibir Irwan.


"Aku mengabaikan Willy untuk Sarah. Apa kamu tidak dapat mengabaikan Wawan untuk Sarah? Dia buah cinta kita yang tulus, semuanya hanya boleh dimiliki oleh Sarah. Jika Ina meninggal, kamu dapat mengusir Wawan untuk tinggal di kota lain. Dia sudah cukup dewasa untuk bekerja, hidup untuk dirinya sendiri..." kata-kata rayuan dari Morena.


Irwan terdiam semua yang dikatakan Morena adalah kebenaran. Inilah saat dirinya, Morena, dan Sarah bahagia, setelah bertahun-tahun terpisah.


***


Santoso mengantar pasangan ibu dan anak itu ke kamar tamu sementara waktu. Menatap kedua orang yang tertunduk penuh ketakutan dan rasa bersalah.


"Ibu, kenapa ayah ada disini?" tanya Wawan polos, ketakutan menitikkan air matanya.


"Dia bukan ayahmu saat ini, aku ayahmu. Dia hanya supir, yang harus kamu lakukan adalah menjaga ibumu dari supir yang ingin mencelakainya..." ucap Santoso, memegang jemari tangan Wawan, sang remaja yang masih terlihat ketakutan.


"Aku dan Willy, kakak sambungmu akan berusaha membantumu..." lanjut Santoso meyakinkannya. Wawan mengangguk, setidaknya dirinya dapat makan dan bersekolah.


Tidak pernah begitu mengenal sosok ayah yang katanya merantau tanpa mengirimkan uang.


"Boleh aku memanggilmu ayah?" tanya Wawan ragu.


Santoso mengangguk, kemudian memeluknya."Aku tidak mengajarkanmu untuk balas dendam. Tapi lindungi dan jaga ibumu baik-baik. Istriku berbuat banyak kesalahan pada kalian. Aku yang salah membalas dendam padanya, dengan cara ini..." ucapnya.

__ADS_1


Remaja itu mengangguk, sembari menangis. Tidak pernah ada tubuh sehangat ini yang memeluknya selain tubuh ibunya."Ayah..." ucapnya menemukan kehangatan.


Sedangkan Santoso hanya tersenyum, padanya.


***


Hari hampir pagi, namun matahari belum juga terbit. Wawan tidur di kamar tamu lain yang terpisah dengan Santoso dan Ina. Tubuh polos wanita itu diselimutinya.


Menikah tanpa cinta? Tapi Ina beberapa minggu ini berusaha mencintainya, walaupun menjadi istri yang belum sah di mata hukum. Hanya melaksanakan pernikahan tanpa surat-surat, kini setelah mendapatkan tandatangan Morena maka secara hukum Santoso dapat mendaftarkan pernikahannya.


Menjadi istri yang baik, itulah Ina beberapa minggu ini, tinggal dengan Santoso sebelum kepulangannya ke rumah utama hari ini.


Santoso terdiam, hatinya perlahan telah mulai luluh dapat mencintai seseorang selain Morena. Menatap wajah Ina yang tertidur usai melakukan hubungan suami-isteri dengannya. Perlahan Santoso mengecup pipinya."Aku dan Willy akan menjaga kalian..." bisiknya mulai bangkit, berjalan menuju kamar mandi membersihkan dirinya.


Hingga beberapa puluh menit berlalu, Santoso berjalan menuju ke dapur hanya menggunakan jubah mandinya saja. Dalam ruang tamu yang gelap. Tidak menyadari putranya, Willy tengah mengendap-endap, tidak ingin ketahuan keluarganya. Dirinya baru datang dari villa milik Sasha, istri yang tengah dalam proses perceraian dengannya.


Brak...


Ayah dan anak itu bertabrakan dalam ruang tamu yang gelap."Ayah sudah pulang?" ucap Willy ketakutan.


"Kenapa kamu baru pulang?" Santoso berjalan cepat, menyalakan sakelar lampu. Menatap penampilan putranya yang masih acak-acakan, dengan harum aroma sabun bunga. Mungkin usai membersihkan diri di rumah seorang wanita.


Tanda keunguan dan cakaran bertengger di area lehernya.


Kejadian sebenarnya? Willy hanya ingin meminta jatah dari Sasha. Membuainya untuk bersedia berhubungan tanpa pengaman, seperti biasanya. Sudah membayangkan diusir pun, dirinya tidak akan pergi.


Namun, Sasha yang diam-diam telah mengetahui Willy mencintainya, hanya ingin melindungi dirinya dari Sarah dan Morena. Kini pasrah melayani pria yang belum ketuk palu bercerai dengannya.


"Willy...!!" ucap Sasha beberapa jam yang lalu mengenakan pakaian laknat dengan banyak tali. Langsung menerjang tubuh Willy yang baru menaiki balkon menggunakan tangga bambu, membuat pria itu kewalahan, bahkan mereka sempat melakukannya di lantai. Berpindah ke tempat tidur. Mencoba melakukan sensasi ekstrim, di sofa, bathub, balkon. Benar-benar pasangan panas. Dengan aksi terakhir, dimana seorang pengawal memeriksa keadaan Sasha di kamar.


Mengetuk pintu kamar nona mudanya. Sasha menyender di pintu dengan Willy mengakat tubuhnya tanpa pijakan. Menggerakkan tubuhnya cepat mencari sensasi kenikmatan. Sasha menahan suara laknatnya sembari terbata-bata mengatakan aku baik-baik saja. Diiringi napas yang tidak teratur, menikmati semua sensasi yang Willy berikan. Menonggakkan kepalanya merasakan kenikmatan kala sesuatu berkedut, memenuhi rahimnya.


Tenaga seorang Willy yang benar-benar terkuras habis. Tepat setelah membuat Sasha tertidur kelelahan, dirinya membersihkan diri, langsung menuruni tangga bambu kemudian melajukan mobilnya pulang.


"Aku..." Willy tertunduk gugup, kemudian melirik ke arah ayahnya."Ibu yang mencakar leher dan membuat tanda keunguan?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Bukan ibumu, tapi istri kedua ayah..." jawab Santoso santai.

__ADS_1


"Istri kedua!? Ayah menikah lagi!?"


Bersambung


__ADS_2