Ketika Istriku Menyerah

Ketika Istriku Menyerah
King Size


__ADS_3

Dirinya butuh uang, terikat kontrak kerja, tidak ada yang dapat dilakukannya lagi selain tersenyum."Bapak pandai bercanda," jawabnya seformal mungkin, layaknya atasannya.


"Bapak? Kita sudah pacaran, jadi panggil aku sayang..." kata penuh penekanan dikatakan Rain hingga semua staf mendengarnya.


Beberapa orang staf mulai kasak-kusuk di belakang, membicarakan manager tercantik sekaligus ter-judes di hotel itu.


Pacarnya ternyata adalah pemilik hotel? Siapa yang akan percaya, namun itulah kenyataan yang terpapar saat ini.


"Pak Rain, jangan bergurau..." ucap Krisan berusaha tersenyum canggung.


"Aku tidak bergurau, kamar yang dipesan untuk kita pakai nanti," jawaban tanpa dosa keluar dari mulutnya.


"Tidak boleh mencampuradukkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan. Jika tidak aku akan mengundurkan diri," Krisan memaksakan bibirnya tetap tersenyum, tidak tahan lagi rasanya jika harus berhadapan dengan makhluk ini lagi.


"Baiklah layani aku secara profesional. Kalian boleh kembali bekerja, biar manager F&B departemen yang mengantarku berkeliling," kata-kata dari mulut Rain yang menyeringai penuh senyuman.


Semua staf, tetap kasak-kusuk membicarakan Krisan, kemudian melangkah pergi melakukan pekerjaan kembali. Termasuk Damien, menatap tidak suka pada sosok Rain.


"Sayang, ayo kita ke kamar, meletakkan koperku," ucapnya tersenyum.


"Pak Rain, biar saya bawa kopernya," Krisan mengambil koper dari tangan Ferdy. Berjalan mendahului mereka.


"Tuan, dia siapa?" tanya Ferdy.


"Istriku, dia sedang marah padaku. Makanya bersikap dingin," jawab Rain mengikuti langkah Krisan.


"I...istri?" gumamnya tertegun.


Istri? Orang ini ternyata tidak gay? Dia mempunyai istri? Tapi kenapa di kartu identitasnya singgel? Apa mereka menikah hanya secara adat dan agama, tidak dicatat di catatan sipil... batinnya tidak mengerti.


***


Hingga kamar itu terlihat juga, tempat yang membuat jiwa jomblonya meronta-ronta. Kala menatap si gila mulai mengoceh.

__ADS_1


"Kamar dapat dibuka dengan kartu dan kunci, sebagai akses keamanan ganda. Kartu ini juga langsung terhubung untuk menghidupkan lampu dalam ruangan," jelas Krisan berlaku secara profesional.


"Baguslah dengan kunci ganda, tidak akan ada yang tiba-tiba menerobos masuk saat aku memojokkanmu di dinding. Nantinya..." kata-kata yang tidak memikirkan sang jomblo di belakangnya itu terdengar.


Bayangan Rain memojokkan Krisan di dinding terlintas dalam benak sang perjaka tanggung. Membuat dirinya mengepalkan tangan.


Sedangkan Krisan hanya dapat menghela napasnya. Kembali menjelaskan sedetail-detailnya,"Paket honeymoon yang dipesan memastikan dekorasi berbeda dengan ruangan lainnya. Tempat tidur berukuran king size dengan tambahan kelopak mawar diatasnya, balkon kamar langsung menunjukkan view kolam renang,"


"Lumayan, omong-ngomong kamu masih suka WOT (woman on top). Jika begitu aku tinggal berbaring pasrah, biar kamu saja yang kerjakan," komat-kamit mulut menyebalkan itu berucap kata-kata mesum.


"WOT? Kalian benar-benar sudah menikah?" tanya Ferdy. Dengan otak yang lebih berfikiran mesum lagi, majikannya dan wanita yang menjadi manager hotel ini melakukannya, di atas tempat tidur dengan bunga mawar yang berserakan.


Namun dua orang itu seperti tidak menggubris kata-katanya. Saking kesalnya bahkan Krisan bagaikan enggan menjelaskan.


"Ini remote AC, TV, dan DVD. Ice box ada di sana lengkap dengan isinya. Termasuk daftar harga yang tertempel," ucapnya berjalan berlalu menuju kamar mandi. Diikuti Rain dan Ferdy,"Keran air dingin dan air panas ada disini. Lilin aromaterapi dapat dinyalakan, untuk..."


"Kita dapat berendam bersama di dalam air mawar. Setelah itu saling membilas, mandi dan memeluk saling berciuman di bawah derasnya air shower," kata-kata tidak melihat kondisi kembali terucap. Rain yang gengsian, menjaga image baik di depan istrinya sebelum waktu terulang seolah menghilang.


Berganti dengan dirinya yang kini bebas mengutarakan pemikirannya. Mungkin Rain yang sama, tapi dahulu sebelum waktu terulang terlalu pandai menjaga citra baiknya di depan sang istri. Melakukan serangan senyap tanpa banyak bicara bagaikan pria dingin, langsung menyerang bibir Krisan yang berprofesi sebagai kasir melepaskan pakaian mereka. Tanpa mengatakan cinta atau banyak berkomentar. Berbeda dengan sekarang, bagaikan burung berkicau, mengatakan apapun. Bahkan menyatakan cinta secara terang-terangan.


Ini sungguh gila!! Ferdy melonggarkan dasinya, kepanasan.


Sedangkan Krisan mengenyitkan keningnya kesal. "Karena anda datang hanya berdua, mungkin anda berdua ingin menikmati paket bulan madu dengan tenang. Saya akan pergi tidak ingin menggagu..." ucapnya pergi meninggalkan ruangan.


"Krisan!! Tunggu aku masih normal! Tidak mungkin memiliki hubungan dengan pria! Krisan!!" Rain berjalan cepat mengejar Krisan.


"Tuan, kamar ini!?" Ferdy menghentikan majikannya.


"Kamu saja yang tempati! Sekalian makan kue dan anggur yang aku pesan! Aku akan mengurung istriku dalam apartemen," ucapnya menepis tangan Ferdy. Berlari mengejar Krisan.


***


Derap langkahnya diikuti, Rain tidak menyerah juga. Bahkan duduk dengan sabar menunggu jam pulang Krisan dari restauran. Hingga kala sampai tempat parkir, ban motor milik Krisan kempes. Siapa lagi pelakunya jika bukan pemuda itu.

__ADS_1


Tin...tin...tin...


"Butuh tumpangan?" tanya Rain membuka jendela mobil.


"Tidak!! Aku naik taksi saja," jawab Krisan menghubungi bengkel langganannya, menitipkan kunci motornya pada security hotel.


"Krisan!!" panggil seseorang, berjalan menghampirinya, "Maaf untuk yang sebelumnya, ada yang ingin saya bicarakan. Ini penting, bisa minta waktumu, tidak akan lama,"


Rain kehabisan kata-kata, menghirup udara yang sama dengan ayahnya saja saat ini terasa sesak. Bukan hanya meninggalkannya dengan sang nenek yang sakit-sakitan tanpa kabar. Tapi juga kini mengincar istrinya? Ini sudah terlalu memuakkan.


"Boleh, lebih baik bicara di cafe dekat sini saja," ucap Krisan yang memang ingin melarikan diri dari Rain.


"Aku ikut!!" dengan cepat Rain turun dari mobilnya, memegang tangan Krisan.


"Aku ingin bertanya dari segi pandangan Krisan. Hubungan kalian apa sebenarnya?" Sakha menatap tajam, pada pemuda yang sempat ditatapnya di lobby hotel saat para karyawan menyambut pemilik hotel.


Satu hal yang diketahuinya, pemuda ini bukan orang biasa. Pemilik hotel tempatnya menginap. Namun tekadnya hanya satu, menemukan wanita yang baik untuk dinikahi Randy ketika putranya sudah pulang nanti.


"Aku menerima perasaannya dan beberapa hari yang lalu sudah aku akhiri. Jadi kami hanya pemilik hotel dan managernya..." jawabnya, mengatakan yang sebenarnya.


Hatinya menginginkan Rain, terasa sakit jika menyakiti perasaan pemuda yang dicintainya. Namun mengetahui jika dengan Rain akan berakhir sebagai istri yang diselingkuhi, anak yang dinantikannya akan mati bersamanya. Sesuatu yang ingin dihindari oleh Krisan dengan cara apapun juga. Menjaga putra yang dahulu hampir dilahirkannya, hidup kembali.


Tidak materialistis, benar-benar kebalikan dari Melani. Akan menjadi istri yang baik, untuk putraku Randy... batin Sakha tersenyum, menatap Krisan yang menolak seorang pemilik hotel.


"Aku akan menunggumu disini, nanti kita pulang bersama," ucap Rain mengalah, masuk kembali ke dalam mobilnya.


Matanya menatap kepergian Krisan dengan ayahnya entah apa yang mereka bicarakan. Namun tetap saja dirinya akan menunggu, Krisan untuk kembali bersamanya, menggengam tangannya sebagai mahasiswa miskin, pegawai kantor rendahan, di dalam rumah sederhana yang atapnya sering bocor, kala waktu belum terulang.


Sepasang cincin sebagai bandul kalung digenggam olehnya. Meyakinkan dirinya, istri dan anaknya akan kembali.


***


Sementara itu, di tempat lain, seorang pemuda tengah meminum segelas wine dengan hidangan untuk dua orang. Tempat dan suasana yang romantis. Tapi hati yang bertambah kesepian, menatap tempat tidur indah berhiaskan kelopak bunga mawar.

__ADS_1


"Aku sebagai seorang jomblo, merasa terhina..." gumam Ferdy, menatap tempat tidur king size yang harus ditempatinya sendiri. Dengan handuk berbentuk dua ekor angsa bagaikan tengah berciuman.


Bersambung


__ADS_2