
Merindukannya? Tentu saja, setiap saat Rain merindukannya. Dan kini tubuh indahnya ada dalam kendalinya, telah dimilikinya kembali. Lampu kamar dipadamkannya.
Bibir itu dibungkamnya, tangannya menelisik melepaskan resleting gaun yang dikenakan Krisan.
Jantungnya berdebar cepat, ini sungguh dirindukan olehnya. Memiliki istri yang dicintainya, ikat pinggangnya dilempar asal entah kemana. Begitu juga dengan tuxedo dan kemejanya. Hanya bertelanjang dada bibir itu kembali ditautnya.
Namun, kegiatannya terhenti, wanita dibawah kungkungannya tiba-tiba menagis. Terlihat samar dari cahaya bulan yang menembus tirai kamar. Tapi air mata itu nyata, mengalir dengan sinar sedikit memantul, bagaikan bulir mutiara kecil.
"Jangan menangis..." pintanya mendekap erat tubuh Krisan dengan gaun yang hampir tanggal. Membuat pasangan itu, berubah posisi menjadi, terduduk berdua."Kamu tidak ingin kita menikah? Tidak ingin kita melakukannya? Maka aku akan bersabar menunggumu..."
Krisan masih saja menangis, entah kenapa bayangan dari kecelakaan sebelum waktu terulang, kembali terlintas. Kala darah segar mengalir dari pangkal pahanya. Takut kehilangan? Karena itu takut memiliki? Itulah yang dialaminya kini.
"Aku akan menjagamu kali ini, aku mohon jangan menagis..." kata-kata dari bibir Rain, menatap wajahnya lekat. Bulir-bulir air mata itu dihapus jemarinya.
"Jika aku akan hamil, apa kamu bisa menjaga anak kita?" tanyanya, walaupun sia-sia dirinya ingin meyakinkan diri untuk memulai semuanya dari awal.
Rain tersenyum, namun air matanya ikut mengalir,"Tentu saja, aku akan mengorbankan nyawaku untuk menjaga kalian. Jika aku berakhir mati pun. Tidak apa-apa, yang terpenting kalian hidup..." ucapnya lirih, tidak mengetahui apa yang akan terjadi jika jalannya waktu berbeda.
Namun satu hal yang pasti, tidak ada yang lebih buruk daripada kehilangan anak dan istrinya. Semua masih diingatnya tubuh berlumuran darah segar, tertutup kain di kamar mayat. Bahkan janinnya juga tidak dapat diselamatkan, menantikan kehadiran tangan mungil, hanya tinggal satu bulan lagi. Namun nyawa istrinya melayang.
Menyesal? Tentu saja, namun tidak ada arti dari sebuah penyesalan. Hingga dirinya kembali terbangun di masa SMU, bandul sepasang cincin yang melintasi waktu kini telah berada di jari manis mereka. Hidupnya? Bahkan jika Rain berakhir mati menggatikan istri dan anaknya sekalipun, tidaklah mengapa ini sepadan.
Krisan hanya mengangguk, mengalungkan tangannya pada tempat teraman dan paling menakutkan baginya. Menautkan bibir mereka kembali, dalam dua pasang pipi yang basah karena air mata, sulit untuk dihentikan.
Rain, aku mencintaimu, ingin memiliki keluarga kita lagi... batinnya, terisak lirih tetap melanjutkan tautan bibir mereka. Bahkan tangannya bergerak membuka kancing dan resleting celana panjang pria yang dicintainya.
Benar-benar menyakitkan ketika kehilangannya, tapi tidak akan lagi, apapun yang terjadi nanti. Hanya mereka keluarganya, harta karun paling berharga yang dimiliki Rain.
Jemarinya menghapus air mata Krisan, merangkak di atas tubuh itu, menggerakkan bibirnya perlahan, membuat istrinya senyaman mungkin. Hingga dress indah teronggok di lantai, diikuti dengan sepasang kain kecil yang semula menutupi tubuh Krisan, hingga terakhir sebuah boxer pria.
__ADS_1
Tumbuh mereka tidak terhalang sehelai benangpun, namun tidak ada yang terjadi, hanya saling menatap penuh damba.
"Aku mencintaimu..." ucapnya dengan deru napas beraroma mint menerpa wajah Krisan.
"Aku juga..." kali ini kata-kata jujur dari dalam hatinya. Mata Rain menatapnya, kembali membungkam bibirnya.
Tidak ada yang pasti apa yang difikirkan keduanya. Namun perasaan ini dirindukan mereka, bahu Rain dicakar kukunya. Tidak dapat menahannya lagi, menyakitkan tapi yang melakukannya adalah Rain, hanya Rain...
"Akh...hhhh...hhh..." suara napas yang saling bersautan.
"Kri.... Krisan..." panggilnya, tubuh wanita itu diobang-ambing olehnya, perlahan kembali mengecup bibirnya berkali-kali.
Merasakan penyatuan, saling membagi rasa rindu dan kasih mereka. Kamar yang gelap, hanya samar jemari wanita itu terlihat, menggengam sprei dengan kuat.
"Rain..." Krisan berbisik di telinganya, mendekap tubuhnya erat kala tubuh mereka bergetar, berkedut, benar-benar melelahkan. Namun terasa indah, membiarkan cairan itu mengalir, menciptakan makhluk mungil dalam rahimnya.
***
Namun, perlahan Krisan melepaskannya, berusaha berjalan menuju kamar mandi.
Berendam dengan air hangat sejenak, hingga 30 menit berlalu. Wanita itu telah selesai membersihkan tubuhnya. Berjalan seorang diri mengambil beberapa cemilan di ice box. Sedangkan Rain? Saat dirinya keluar kamar mandi pemuda itu telah menghilang entah kemana.
"Br*sek!!" geram Krisan berusaha tersenyum, menghancurkan kaleng soda, dengan tangannya. Mengingat pengantin pria yang melarikan diri setelah meniduri pengantin wanita.
***
Walau, sebenarnya bukan itulah yang terjadi. Hal yang terjadi setelah Krisan pergi ke kamar mandi? Pemuda itu bangkit, mengenakan jubah mandinya, menatap ke arah balkon kamarnya.
Santoso terlihat disana memberikan instruksi pada dua orang pria. Mengenal Santoso? Sejatinya tidak, namun masih teringat jelas sebelum waktu terulang pria yang datang, beberapa hari setelah pemakaman Krisan, mengaku sebagai keluarga. Menguji? Itulah yang dilakukan Rain, mengudang mereka untuk mengetahui seberapa baik hubungannya dengan Krisan. Tapi tidak ada reaksi sama sekali...
__ADS_1
Hingga Rain segera mengenakan boxernya, meraih piama pria berbentuk yukata. Apa sebenarnya keinginan Santoso? Apa hubungannya dengan Krisan? Dirinya ingin mengetahui.
Hingga langkahnya terhenti, mulai bersembunyi, di belakang salah satu mobil. Orang-orang yang berbicara dengan Santoso ada disana, parkiran bawah tanah gedung hotel, satu orang merusak CCTV dan orang lainnya mengutak-atik mobil milik Rain.
Hingga akhirnya kedua orang itu pergi, Rain berjalan mendekati mobilnya memeriksa dengan seksama. Dan benar saja, rem mobilnya dibuat blong.
Entah ada tujuan apa, Santoso mengincar nyawanya. Banyak hal ganjil yang terjadi, tidak dimengerti olehnya. Jika kerabat Krisan seharusnya akan ikut bahagia mendengar Krisan menikah. Tapi ini? Mengapa ingin membunuh suami Krisan...
***
Rain menghela napas kasar usai membersihkan dirinya di kamar mandi dekat kolam renang. Kembali berjalan menuju kamarnya dengan wajah yang lebih segar.
Perlahan pintu dibukanya, istrinya telah usai membersihkan diri. Berdiri di balkon seorang diri.
Wajah Rain tersenyum, berjalan mendekat memeluknya dari belakang,"Krisan..." bisiknya.
"Sudah selesai bertemu dengan selingkuhanmu!?" bentaknya.
"Se... selingkuh!?" Rain menipiskan bibir menahan tawanya. Inikah wujud asli dari Krisan? Sebelum waktu terulang, istrinya tidak pernah cemburu, bahkan tidak pernah mengeluh jika dirinya lembur hingga larut. Dan kini ditinggalkan selama sekitar 20 menit, berselingkuh?
"Iya!! Rambutmu basah, kalian pasti usai melakukannya kan!? Aku memang tidak cantik!! Tapi jangan lakukan di malam pernikahan kita?!" teriaknya menangis dengan hidung memerah mengeluarkan ingus cair.
Pemuda itu mengangkat tubuh Krisan, tidak menurunkannya walaupun Krisan meronta-ronta, membawanya ke tepi tempat tidur.
Mengecup kening, pipi, hidung, dan bibirnya,"Aku tidak berselingkuh, ada yang ingin membunuhku. Rem mobilku di putuskan..."
"Kenapa bisa!?" Krisan menghapus air matanya, mentap ke arah suaminya.
"Akan aku ceritakan, tapi setelah ini kita harus jujur. Tidak boleh ada rahasia diantara kita..."
__ADS_1
Bersambung