
Hanya diam tidak ada yang dapat diucapkannya. Rain juga mengalami hal serupa dengannya? Lalu apa yang terjadi? Bukankah Rain berakhir mencintai Dara dan menikahinya?
"Besar dan tubuh dewasa di panti asuhan yang sama. Rain memutuskan tidak menerima tawaran beasiswa ke Jerman, hanya karena tidak ingin berpisah dengannya. Tidak ingin ketika dirinya pulang dari Jerman nanti, wanita yang dicintainya sudah menikah dan memiliki anak dari pria lain,"
Angin segar yang menerpa wajah Krisan, di bawah teriknya cahaya matahari. Banyak hal yang ada di fikirannya. Rain tidak mengambil tawaran beasiswa untuk dirinya? Bagaimana perasaan pemuda itu sebenarnya sebelum waktu terulang?
"Konyol bukan? Mengulangi waktu? Dan sebelum dirinya mengulangi waktu, memutuskan tidak mengambil beasiswa ke Jerman. Bodoh! Benar-benar sebuah mimpi atau halusinasi, nyatanya dia ke Jerman bukan?" suara tawa Ferdy terdengar, menganggap cerita Rain hanya halusinasi atau mimpinya saja.
"Apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Krisan dengan mata masih hanya menatap deretan gedung pencakar langit di hadapannya. Jemari tangannya mengepal, menahan air matanya yang hendak mengalir, berusaha terlihat setenang mungkin.
"Dia hanya menyusahkan wanita yang dicintainya. Membuat Krisan berhenti kuliah. Karena itu dirinya bekerja keras untuk membahagiakannya, sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan, dengan gaji kecil, namun beban kerja yang tinggi,"
"Hingga mereka menikah, membeli rumah kecil, dia bahagia saat itu. Istrinya tiba-tiba mengandung, anggota keluarga baru mereka akan terlahir. Setiap hari menjadi penjilat untuk menyenangkan atasannya. Agar mendapatkan promosi jabatan,"
"Tepat pada hari ulang tahunnya, di usia kandungan istrinya pada bulan ke 8. Rain dihubungi untuk menangani masalah pembatalan kontrak, menyetir mobil menuju rumah direktur tempatnya bekerja,"
Itulah hari kematian dirinya, saat Rain pergi menemui Dara, melupakan Krisan. Tidak terasa, setetes air matanya mengalir, mengingat segalanya.
"Lalu?" tanyanya kembali dengan nada suara bergetar.
"Kamu pasti tidak akan menyangka imajinasi Rain begitu besar. Sampai-sampai mengarang cerita tentang kehidupanmu dengannya..." Ferdy kembali tertawa, hal yang mustahil baginya.
Krisan terdiam, menunggu Ferdy melanjutkan ceritanya. Inilah alasan dirinya tidak pernah menceritakan atau membahas tentang hal yang dialaminya. Karena orang lain akan menganggap dirinya tidak waras, atau hanya mengalami ilusi.
Namun, ini nyata bagi Krisan, masih teringat dibenaknya kala janin itu bergerak aktif dalam perutnya. Kala menjalani hidup serba sulit dengan Rain, hingga memiliki rumah kecil dan pekerjaan tetap. Rasa sakit saat detik-detik terakhir hidupnya, masih terasa nyata baginya.
"Lalu, setelah itu..." kata-kata Ferdy terpotong, wajahnya pucat pasi, menatap kedatangan seorang pria yang menatap tajam padanya,"Rain! Maksudku, tu... tuan!?"
"Apa yang kalian lakukan disini? Apa berselingkuh di belakangku?" tanyanya posesif.
"Ti... tidak!! Ka... kami hanya mengobrol. Nyonya ayo jelaskan," pintanya pada Krisan.
__ADS_1
Krisan menghapus air matanya yang tidak terasa menetes di pipinya,"Aku memang berselingkuh! Jika kamu tidak datang, kami sudah membuka pakaian kami!!" ucapnya tiba-tiba.
Wajah Ferdy bertambah pucat saja, bahkan keringat dingin menetes membasahi dahi hingga pelipisnya."Krisan, maksudku nyonya, jangan berbohong aku mohon, kita kemari untuk berbicara. Itu saja..."
Takut? Tentu saja, bagaimana jika dirinya dipecat? Cicilan rumah, cicilan mobil, belum lagi cicilan panci yang baru saja diambil ibunya dari tukang kredit keliling langganan mereka.
"Tidak mungkin kamu berselingkuh, aku tidak akan melepaskanmu," ucap Rain berjalan mendekat dengan mata memerah entah kenapa.
Wajah istrinya yang yang nampak tertunduk terisak ditatapnya. Menyakitkan? Tentu saja, karena kebahagiaannya adalah kebahagian bagi Rain. Wajah yang tertunduk itu, meneteskan air mata dilihatnya samar.
"Krisan?" Rain semakin mendekat, ingin menghapus air mata wanita yang dicintainya.
Sementara Ferdy yang mengamati situasi yang memungkinkan untuk melarikan diri. Segera memundurkan langkahnya, berjalan mengendap-endap tanpa disadari Rain menuju tangga darurat.
Matahari masih bersinar, namun air hujan turun menerpa tubuh mereka. Dua pasang mata yang saling menatap,"Aku berselingkuh," Krisan tersenyum mengatakannya, air matanya telah bercampur dengan tetesan air hujan.
Rain menggeleng,"Kamu tidak dapat berselingkuh. Tidak bisa berselingkuh, karena dari awal kamu adalah milikku..."
"Aku juga sama, tidak dapat berselingkuh, tidak bisa berselingkuh, karena dari awal aku adalah milikmu," jawab Rain, menatap ke arah istrinya, berdiri di hadapannya.
"Anak kita mati karena kesalahanku, yang terlalu mempercayai pria br*ngsek sepertimu..." kata-kata Krisan terpotong.
Rain berjalan lebih dekat memeluk tubuhnya erat, tidak melepaskannya, tidak peduli walaupun Krisan meronta mendorong tubuhnya, tidak ingin kehilangan istrinya. Krisan mengetahui segalanya? Mengalami hal serupa dengannya, sekarang semua terasa lebih masuk akal."Maaf..." ucapnya, lirih.
Satu kata yang membuat wanita itu bagaikan kehilangan tenaga untuk berusaha melepaskan pelukan suaminya. Menangis menjerit, mengingat semua luka hatinya.
"Maaf, anak kita meninggal karenaku. Kamu juga mati karenaku, karena aku yang tidak bisa mengatakannya dengan benar!! Aku mencintaimu!!" teriaknya terisak, mendekap tubuh istrinya lebih erat.
Masih teringat jelas di benaknya, kala tubuh itu terdiam berlumuran darah. Mengguncangnya, berusaha membuatnya bergerak, namun istri dan anaknya telah tiada. Kesempatan kali ini, dikesempatan kali ini, dirinya akan mempertaruhkan nyawanya. Melakukan apapun untuk menebus segalanya.
Krisan masih meronta, dalam isakan tangisannya. Menumpahkan segala rasa sakit yang ditahannya, ingin rasanya melarikan diri dari pria yang mengkhianatinya,"Kenapa kembali menikah denganku!? Dara, dia..." kata-kata Krisan terhenti, Rain melonggarkan pelukannya, menangkup pipinya menciumnya secara paksa.
__ADS_1
"Diam, jangan katakan lagi, aku tidak pernah mencintainya. Apapun yang dikatakannya hanya kebohongan. Aku mencintaimu, hingga ujung usiaku, hingga hari kematianku. Di kehidupan sebelumnya dan juga dikehidupan ini..." ucapnya menatap penuh kesungguhan, dahi mereka bersentuhan dengan rambut yang basah. Sepasang mata yang saling menatap, entah apa yang mereka cari mungkin sebuah kesungguhan adanya rasa kasih di dalam sana.
"Kamu dengar? Aku mencintaimu, maaf..." ucapnya menahan tengkuk Krisan. Kali ini tidak mendapatkan perlawanan. Wanita itu memejamkan matanya, tangannya lemas dalam tangisannya.
Mempercayai? Apakah dapat mempercayai Rain? Entah, namun dirinya mencintai Rain hanya itulah yang terasa saat ini.
***
Kamar hotel telah mereka disewa, menyisir rambut istrinya yang basah. Sama-sama hanya mengenakan jubah mandi saja, usai membersihkan diri.
Menatap pantulan wajah mereka di cermin, senyuman mengembang di wajah sang pemuda.
"Cincin ini aku pesan khusus untukmu, menggati cincin pernikahan yang dulu sempat kita jual. Setelah kematianmu, aku mengundurkan diri dari pekerjaanku. Menjadi kasir di swalayan tempatmu bekerja sebelumnya," Rain berusaha tersenyum, menatap wajah istrinya dengan tubuh yang masih bergerak, jantung yang masih berdetak, raga yang masih memiliki nyawa di dalamnya.
"Dara?" tanyanya, juga hanya menatap lurus ke arah pantulan wajah mereka di cermin.
"Dia hanya atasanku, apapun yang dikatakannya padamu adalah sebuah kebohongan," jawabnya tersenyum lembut.
"Tapi dia mengatakan mengandung anakmu, dan suaramu yang sedang mandi..." kata-kata Krisan terhenti, Rain menggeleng.
"Hari itu hari ulang tahunku, ada pesta kejutan disana. Tubuhku basah dan kotor oleh krim, karena itu aku meminjam kamar mandi..." jawabnya, meletakkan sisir di atas meja.
"Selama dua tahun, aku hidup sendiri, hingga hari kematianku. Melintasi waktu? Jika tidak mengalaminya sendiri, aku juga tidak akan percaya. Tapi dikesempatan kedua yang diberikan oleh-Nya, aku ingin mencintaimu dengan cara yang lebih benar,"
"Mengucapkan kata cinta lebih sering, tidak mencari perhatianmu dengan meminta dan memerintahmu melakukan sesuatu. Tapi aku akan lebih memberikan perhatian padamu, tanpa malu atau menjaga image lagi..." ucapnya tersenyum, tiba-tiba mengangkat tubuh Krisan.
"Rain turunkan aku...!!" pintanya.
Pemuda itu menurunkannya diatas tempat tidur, menarik tali jubah mandi yang dipakainya sendiri memperlihatkan tubuh atletisnya tanpa penghalang."Bagaimana dengan putra kita? Berikan kesempatan baginya untuk hidup kembali," bisiknya, menarik tali jubah mandi istrinya.
Bersambung
__ADS_1