
Irwan menghela napas kasar, mengapa rencananya, hari ini tidak berhasil? Pria yang menatap ke arah Sarah yang berada di lantai satu. Itulah anak kebanggaannya, anak yang berhasil menjadi politikus dan sekarang baru memulai berkarir di dunia bisnis, menjadi direktur anak cabang perusahaan milik Santoso.
Hanya beberapa langkah lagi, melenyapkan Santoso dan Ina maka dirinya dapat mengakui Sarah sebagai putrinya.
Wajahnya tersenyum, mungkin Sarah akan memeluknya dengan bangga setelah mengetahui pengorbanannya. Buah cinta dirinya dengan Morena? Itulah Sarah, satu-satunya anak yang dimanjakannya.
Anak yang mungkin orang lain akan mengatakannya sebagai hasil sebuah kesalahan, sebuah aib, tapi itulah anak yang dihargainya. Mengapa? Karena Sarah dilahirkan oleh wanita yang dicintainya.
Apa ini sebuah kesalahan? Tentu saja tidak, Santoso dulu kuliah sembari bekerja tidak memberikan uang yang cukup untuk kebutuhan Morena. Dirinya-lah yang memberikan segalanya, jadi tidak dapat menyalahkan perasaannya dan Morena yang tumbuh perlahan.
Buah cinta dari perasaan yang tulus, karena itulah Sarah terlahir. Namun, hanya karena bisnis kontraktornya merugi, sedangkan perekonomian Santoso melejit. Itulah yang menyebabkan segalanya terjadi.
Pemikiran Morena yang masih mencintai Irwan, ingin bersama Irwan berubah. Jika saja, saat itu bisnisnya masih maju, sedangkan karier Santoso tidak maju, mungkin Morena sudah menikah dengannya. Membesarkan Sarah bersama. Cinta tulus dan suci, dalam otak mereka, tidak menyadari berapa orang yang telah mereka sakiti atas nama cinta.
Aneh bukan? Cinta egois yang masih terpaku pada harta. Apa yang akan terjadi hari ini? Mungkin juga akibat dari keserakahan cinta mereka.
Sarah melangkah menapaki tangga. Menatap dengan pandangan kosong ke arah Irwan.
"Nona muda..." sapa Irwan, tertunduk pada putrinya.
"Boleh kamu mati untukku?" pertanyaan yang keluar dari mulut Sarah membawa pisau dapur. Menatap ke arah Irwan dengan pandangan kosong.
Jemari tangan Irwan tiba-tiba gemetar. Mati? Apa maksud dari kata-kata putri kandungnya. Pria yang tiba-tiba mundur selangkah, namun begitu juga dengan Sarah yang maju selangkah.
"Kamu menyayangiku kan? Bagaimana jika kamu mati untukku? Terlalu memalukan memiliki ayah sepertimu..." kata-kata dari mulutnya dengan tatapan kosong.
Mata yang menatap ke arah Irwan, tetangga sekaligus supir yang memberikan perhatian berlebih padanya. Kala Santoso terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
"Kamu sudah mengetahuinya, aku ayahmu. Kita akan bahagia bersama setelah ini, tinggal selangkah lagi..." kata-kata dari mulut Irwan. Kebahagiaan? Itulah yang menyelimuti hatinya, menatap ke arah putrinya. Walaupun tidak mengakuinya, namun perlahan hati itu akan luluh. Itulah keyakinannya.
__ADS_1
"Ayah, apa kamu bersedia mati untukku? Aku tidak ingin memiliki ayah sepertimu..." tanya Sarah lagi, pada Irwan yang terdiam sejenak tidak menjawab.
Mulutnya bergetar, hingga akhirnya memilih mengalihkan pembicaraan, menatap pisau di tangan kanan putrinya.
"Kita akan bersama, statusmu tidak akan turun. Ayah akan menggantikan posisi Santoso, jadi..." kata-kata Irwan disela.
"Jadi tidak bisa ya?" Sarah meneteskan air matanya dalam senyuman. Menggerakkan pisau bagaikan hendak menikam Irwan.
Seperti dugaannya, Irwan merebut pisau dari tangannya.
Srasssh....
Darah mengalir, jantung Irwan berdegup cepat menatap senyuman bercampur air mata dari wajah pucat putrinya. Tangan dingin terasa di pergelangan tangannya, tangan Sarah yang mencengkram pergelangan tangan Irwan. Tangan yang merebut pisau dari tangan Sarah sebelumnya.
Darah mengalir dari mulut wanita muda itu, pisau di tangan Irwan yang diarahkan Sarah tepat di perutnya sendiri."Tepat pada saat kematianku, baru aku akan rela memanggilmu ayah..." kata-kata penuh senyuman dari mulut Sarah terbata-bata.
Pisau dapur yang sedikit menembus dari perut ke punggungnya. Mengalirkan darah segar dari mini dress biru yang dikenakannya. Wanita yang tidak dapat menerima dirinya berasal dari tempat yang rendah. Bahkan anak dari hasil perselingkuhan.
Begitu juga dengan tangan Irwan yang masih memegang pisau, melepaskan tangan dari pisau yang menancap di perut putrinya.
Pelukan pertama yang didapatkannya dari putrinya. Tubuh mendingin yang lemas, jatuh ke pelukannya. Haruskah dirinya bahagia dengan pelukan ini?
"Sarah..." ucapnya dalam tangisan, membalas pelukan dari tubuh lemas putrinya. Wajah yang semakin memucat bagaikan mayat, tuan putri yang tidak dapat menerima kenyataan.
"Bertahanlah... tolong... tolong putriku," ucapnya, dengan kaki lemas tanpa tenaga, mengepalkan tangannya menahan rasa duka. Mencoba mengangkat tubuh lemah itu.
"Aya... ayah..." panggilnya lemah berusaha tersenyum, mengalirkan darah dari mulutnya. Memanggil ayah di penghujung usianya.
Mengapa mengambil keputusan ini? Dirinya tidak ingin menjadi anak dari seorang Irwan. Jika ayahnya tidak bersedia mati untuknya, maka dirinya yang harus mati untuk mengakhiri ikatan darah ini. Ikatan antara ayah dan anak yang terlalu menyakitkan baginya untuk menerima kenyataan. Sebuah keegoisan yang telah mengakar berada dalam dirinya.
__ADS_1
"Ayah..." lirihnya menatap wajah Irwan yang menitikan air mata. Membawa tubuhnya yang masih tertancap pisau. Darah yang mengalir, membasahi lantai marmer, mengalir tidak dapat dihentikan, menuruni tangga, mengikuti jejak sang ayah yang mengangkatnya.
Taukah kalian apa yang terjadi kala manusia kehilangan sepertiga darahnya? Tidak ada pasokan oksigen yang cukup untuk menghidupkan sel. Kesadaran akan menurun, mata yang terlihat buram, kini terasa sedikit gelap.
Dirinya kini berada dalam mobil, dengan supir lain sebagai pengemudinya. Apa waktunya akan habis? Entahlah...
Irwan mendekapnya, dekapan yang terasa hangat kala tubuhnya mendingin. Jika ini adalah kesadaran terakhirnya maka...
"A...aku mengakuimu se...se... sebagai ayah yang ku benci..." lirihnya, kembali memuntahkan darah segar, bibir memutih berlumuran darah.
Anak egois yang seharusnya tidak melakukan ini.
"Biar ayah saja yang mati...kamu masih harus menikah. Ji...jika kamu hidup ayah akan mati setelah kamu menikah dengan Rain. Kamu akan menikah!!" kata-kata putus asa meyakinkan putrinya yang terdiam, tatapan kosong dengan pandangan buram berusaha untuk tetap dalam kesadarannya.
Sarah menggeleng,"Aku tidak menyukai darahmu, hari ini aku meminjam tanganmu untuk mengeluarkan darahmu dari tubuhku. Sekarang aku hanya Sarah, di kehidupan yang akan datang. Jangan menjadi ayahku..." pintanya, berusaha menyentuh pipi Irwan dengan jemarinya yang berlumuran darah segar, hingga tangan dingin putrinya terasa.
"Ay...ayah..." tangan Sarah di pipi Irwan jatuh, kala senyuman di bibir pucat berlumuran darah itu masih menyungging. Mata yang terpejam dalam kedamaian, hati yang penuh keegoisan merelakan segalanya.
"Bangun...bangun... jika kamu tidak menyukai ayah. Biar ayah saja yang mati..." pinta Irwan dalam tangisannya, mengguncang-guncang tubuh putrinya."Sarah! Ayo bangun..." lirihnya dengan jemari tangan berlumuran darah putrinya sendiri.
Takdir yang berubah? Semua kembali pada segalanya. Mentalitas Sarah memang sudah tertanam hal yang buruk sejak awal. Jika waktu tidak terulang, hal lebih mengerikan yang terjadi. Santoso mati di tangan Irwan, sedangkan Sarah berakhir membunuh Irwan tanpa mengetahui jati dirinya. Hingga berakhir membunuh dirinya sendiri di sel penjara.
Mengapa demikian? Hukum karma yang terikat pada kakinya, berlaku. Sarah hanya kertas putih yang dituliskan dengan tinta emas oleh orang tuanya. Menjadikannya berimajinasi hidup dalam kesempurnaan. Kesempurnaan yang dijadikan sebuah, patokan baginya.
Hingga, kala kesempurnaan yang itu tidak dapat digapainya. Hanya rasa sesal dan putus asa yang tiba...
Bersambung
...Apa aku salah? Aku salah, aku tau dan tetap berjalan dalam kegelapan......
__ADS_1
Sarah...