
"Kita akan kemana?" Rain mengenyitkan keningnya.
"Aku tidak bekerja hari ini, tapi jangan berharap kamu juga tidak bekerja..." jawaban tegas dari mulut Krisan yang tidak memikirkan mereka baru saja menikah.
"Kamu sama seperti Ferdi, sekretarisku," cibir Rain tertawa kecil, masih konsentrasi pada jalan raya.
"Memiliki suami tampan dan kaya adalah impianku dari kecil. Agar tetap menjaga peninggalan orang tuaku, walaupun aku tidak begitu pintar," jawab Krisan tersenyum pada suaminya.
Rain menghela napas kasar, sebenarnya enggan untuk bertanya. Namun, ini juga harus diketahui olehnya, jika ingin menyelidiki niat Santoso yang sebenarnya,"Krisan, apa saja yang kamu ingat tentang masa kecilmu? Apa kedua orang tuamu memiliki aset selain perusahaan dan rumah?"
"Aku baru berusia 7 tahun saat mereka meninggal, tidak mungkin kan aku mengerti tentang aset mereka..." jawabnya cengengesan.
Sedih? Mungkin iya, namun Krisan kecil sudah ikhlas perlahan akan kepergian kedua orang tuanya. Mungkin ini yang terbaik, ada sebuah pertemuan, juga ada sebuah perpisahan. Dari ayah yang selalu menggedongnya di punggungnya yang hangat dan lebar. Serta ibu yang selalu cerewet, mencemaskan dirinya.
Sepasang orang tua yang selalu menyayanginya. Walaupun mereka telah tenang di sisi-Nya saat ini.
Pergi tanpa kata-kata perpisahan yang indah, dalam ketakutan akan kematian. Pesawat yang mengalami kerusakan mesin, seluruh penumpang mungkin gemetar saat itu. Mengetahui ini saat-saat terakhir hidup mereka, tidak dapat pulang menemui keluarga mereka yang mungkin setia menunggu. Dalam sebuah kesia-siaan.
Krisan tidak melihat sendiri, namun mengetahui dengan pasti, pasangan yang saling mencintai itu akan berpegangan tangan erat. Mengharapkan yang terbaik untuk putri mereka.
Hanya doa dalam senyuman yang ada saat ini. Karena putri mereka, akan terus mencintai mereka, menginginkan yang terbaik untuk kedua orang tuanya.
***
Beberapa jam yang sungguh membosankan untuk Krisan, menatap Rain berbicara dengan perwakilan salah satu perusahaan yang memberikan proposal padanya.
Hingga matanya tertuju pada seorang pria yang juga terlihat tengah mengantuk, seorang pria yang mungkin dapat membantunya nanti. Dialah Ferdy yang usai tidak tidur sama sekali karena harus mempersiapkan pernikahan sekaligus resepsi majikannya dalam waktu 24 jam.
Mungkin jika Ferdy memiliki ilmu setingkat Bandung Bondowoso (Roro Jonggrang), dirinya sudah usai membuat 998 candi, dua lagi Krisan dan Rain yang akan dirubahnya melengkapi 1000 candi saking kesalnya, pada dua mempelai, yang menganggap mempersiapkan pernikahan semudah menggoreng telur.
"Bangun!! Kamu sekretaris Rain kan? Bisa kita bicara berdua...?" tanyanya sedikit berbisik, menatap Rain yang berdebat dengan klien, duduk di meja berbeda dengan mereka dalam sebuah restauran.
__ADS_1
Ferdy mengenyitkan keningnya, menatap wanita cantik yang baru dinikahi tuannya. Apa sebenarnya tujuan dari wanita ini? Apa berselingkuh dengannya? Tapi dirinya hanya seorang sekretaris.
Namun, Ferdy menelan ludahnya sendiri, wanita yang benar-benar cantik. Bimbang harus menerima atau menolak ajakan Krisan untuk berselingkuh.
"Ayo, kita bicara di atap..." ucap Krisan, menarik tangan Ferdy meninggalkan area restauran yang terdapat di lantai tiga.
Tangan wanita yang benar-benar halus, haruskah dirinya berakhir menjadi pemuas ranjang dari istri majikannya?
Hingga pintu lift terbuka. Ferdy mengepalkan tangannya sudah bertekad menjelaskan secara tegas dirinya tidak mungkin mengkhianati Rain.
Namun, tidak ada kata yang terucap dari bibirnya. Masih bimbang melirik kecantikan nyonyanya.
Menjadi selingkuhan... setia kawan... menjadi selingkuhan... setia kawan... batinnya komat-kamit ingin membuat keputusan tegas nantinya jika dugaannya pada Krisan benar.
Hingga langkah kakinya terhenti usai menaiki tangga darurat yang telah berkarat. Angin berhembus menerpa wajah mereka.
Jantung Ferdy berdegup cepat, bukan karena jatuh cinta. Namun, takut pada yang akan terjadi selanjutnya.
Hingga satu keputusan diambilnya,"Nyonya, aku tau maksud anda membawaku kemari. Tapi maaf, berapapun uang anda!! Secantik apapun wajah anda!! Tuan adalah orang yang paling aku hormati, jadi..."
"Dara?" Ferdy mengenyitkan keningnya mencoba mengingat-ingat.
Nama burung? Merek Mie? Lirik lagu... banyak yang ada di fikirannya tentang kata Dara.
"Apa Rain belakangan ini bertemu dengan wanita bernama Dara?" tanya Krisan penasaran.
Ferdy menggeleng,"Dia tidak pernah dekat dengan wanita kecuali denganmu. Aku pernah berfikir dia itu memiliki penyimpangan, dengan kata lain suka main pedang-pedangan. Tapi nyatanya masih menyukai wanita normal,"
Benar-benar ganjil baginya, jika Rain memiliki sifat yang sama saat ini dengan saat waktu belum terulang. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Rain bisa berselingkuh?
Tidak ada yang tetap dari suatu takdir. Krisan tidak menyadari satu bulan lagi adalah ulang tahun Rain. Hari dimana dirinya seharusnya mati. Namun, sebuah takdir dibelokkan, tentunya juga memiliki konsekwensi untuk orang lain.
__ADS_1
***
Sebuah konsekuensi? Itulah yang dirasakan seorang wanita tanpa disadarinya. Waktu yang berbeda, jalannya sebuah takdir akan berbeda pula.
Sakha tersenyum, mulai melangkah usai membaca ulang beberapa dokumen. Merindukan putra dan ibunya? Tentu saja, foto tua mereka yang tersenyum masih ada di atas mejanya.
Hingga suara keributan terdengar, seorang wanita memaksa masuk ke ruangannya. Dengan seorang security yang mencoba untuk mencegahnya.
"Melani?" Sakha mengenyitkan keningnya, melepaskan kacamata bacanya. Menatap Seorang wanita yang menerobos masuk."Biarkan dia masuk..."
"Iya pak..." jawab sang security, pergi meninggalkan Melani dalam ruangan Sakha.
Wanita itu melangkah masuk, berjalan mendekatinya,"Sakha, maaf atas prilakuku dulu, aku sudah menyadari kesalahanku. Bisa kita kembali bersama?"
Sakha mengerjapkan matanya tidak percaya. Apa Melani tidak mengingat umurnya saat ini? Ingin rujuk kembali... batinnya.
"Kamu sudah punya seorang anak sambung dan seorang anak kandung dari Ari (suami Melani saat ini). Bercerai kemudian kembali padaku, diusia ini? Jangan bergurau, aku tidak tertarik lagi padamu..." cibirnya tertawa kecil.
Jika difikirkan lagi olehnya, entah berapa wanita yang ingin ingin menjadi istrinya semenjak status sosialnya meningkat. Lebih muda, bahkan lebih cantik dari Melani, wanita yang tega membuang putra tunggal seorang Sakha.
"Aku mencintaimu, kamu lupa perjuangan kita dari nol untuk membesarkan Randy?" tanyanya melangkah mendekat.
Sakha mengepalkan tangannya, perjuangan? Sedangkan sebagi seorang ibu hampir setiap hari Randy ditipkannya pada tetangga, pergi entah kemana, membawa uang hasil kerja keras Sakha.
Peduli? Bahkan tidak, Randy dibiarkan tidak mandi. Sementara dirinya sudah membersihkan diri terlebih dahulu. Sakha-lah yang mengajari putranya untuk mandiri, tidak ingin sang ibu membentaknya yang kelaparan. Anak yang mengambil nasinya sendiri saat ditinggalkan pergi bekerja oleh sang ayah.
Perjuangan? Entah anak dan suaminya makan apa, Melani tidak peduli, membawa semua uang belanjaan rumah hanya untuk makan malam di restauran.
Hingga pernah ada hari dimana Sakha hanya menyuapi putranya dengan nasi putih dan garam. Rasanya percuma bekerja setiap hari demi istri yang tidak peduli padanya. Sakha yang saat itu hanya bekerja sebagai tukang ojek, dengan penghasilan tidak tetap. Terlalu buta, tidak melihat keburukan istri yang dicintainya.
"Aku tidak peduli, kita sudah berpisah, hargai suamimu yang sekarang!!" ucapnya tersenyum meremehkan.
__ADS_1
Melani mengepalkan tangannya, berusaha tersenyum,"Kita rujuk kembali, maka aku akan memberikan informasi dimana tetanggaku meninggalkan Randy 20 tahun yang lalu..."
Bersambung