
Pacar gelap? Mungkin sama dengan hubungannya dengan Morena. Pria itu tertegun, mengepalkan tangannya, wajahnya tersenyum, ternyata semua orang sama saja. Yang dilakukannya dengan Morena bukanlah sebuah kesalahan hanya hal yang lumrah.
"Pacar Gelap? Aku potong rambutmu!!" ucap Krisan geram.
"Maaf, aku hanya bercanda! Setelah menikah kamu semakin sensitif saja," jawabnya tertawa, melarikan diri pergi.
Sejenak tangannya kembali lemas, ternyata bukan. Apa tindakannya salah? Tidak, tidak ada yang salah dalam hal cinta. Dirinya tidak berbuat kesalahan sama sekali. Perasaan antara dirinya dan Morena adalah nyata.
"Pak Irwan bisa tunggu disini, atau pulang dulu. Nanti jam 6 sore jemput saya," ucap Krisan tersenyum, meninggalkan supirnya.
"Baik," jawabnya.
Cukup sesuai dengan Willy, setelah menikah dengan Willy. Tinggal menyatukan putri kandungnya Sarah dengan Rain. Menantu yang sempurna, mungkin juga dapat mengangkat status sosialnya.
Irwan melajukan mobilnya, banyak hal yang terbayang dibenaknya menatap Rain dan mengetahui segala yang dimilikinya. Menikahkan Sarah? Kali ini dirinya memiliki rencana sendiri. Mencari jalan untuk menghabisi Santoso, menggantikan posisinya.
Iri dan cemburu, merasa harga dirinya diinjak harus berbagi tubuh Morena dengan pria itu. Perasaan yang bertahun-tahun dipendamnya, kini akan terlaksana dengan kehadiran Rain sebagai kandidat menantunya.
Tangannya memegang stir erat masih teringat jelas di benaknya. Kala Santoso mencium bibir Morena saat dirinya menyetir mobil, bahkan memasukkan jarinya ke dalam pangkal paha wanita yang dicintainya.
Tidak dapat menerimanya benar-benar tidak dapat. Andai saja proyeknya dulu tidak mengalami kerugian besar, andai saja Santoso tidak mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris. Mungkin dirinya dan Morena sudah menikah, meninggalkan Santoso yang berasal dari keluarga miskin.
Namun dalam sebulan situasi berbalik saat itu, Morena tidak dapat berpisah dengannya lagi, guna menjamin kehidupan Sarah nantinya. Sedangkan dirinya menikah hanya untuk status, pelampiasan hasrat kala Morena tidak dapat melayaninya.
Tapi saat ini, Morena ada setiap saat. Karena itulah istri dan anaknya dibiarkan pulang ke rumah orang tuanya. Sudah bertahun-tahun tidak dinafkahi olehnya. Seluruh gajinya yang sedikit, hanya untuk Morena dan Sarah. Morena tidak ingin berbagi, dirinya hanya boleh mencintai seorang Morena.
Cinta yang memerlukan perjuangan dan pengorbanan, menyakiti banyak orang. Itulah yang dijalani Irwan.
Yang ada dalam imajinasi bahagianya saat ini, dirinya menggantikan di posisi Santoso. Krisan menikah dengan Willy, memiliki anak darinya. Cucu yang akan mewarisi kekayaan, cucu kecil yang akan dimanfaatkannya. Sedangkan Sarah memiliki Rain suami sempurna yang mencintainya. Semua terlihat bahagia bukan? Termasuk dirinya dan Morena.
__ADS_1
Tapi langkah pertama yang harus diambilnya, pengorbanan yang harus dilakukannya. Membunuh janin dalam perut Krisan, merogoh seluruh uang di sakunya. Mendatangi apotik, menyuap petugas apotik untuk memberikan penggugur kandungan.
Kantung keresek kecil dibawanya, bibirnya tersenyum. Sebotol minuman rasa buah dibelinya untuk mencampurkan obat.
Matahari mulai tenggelam, menunggu di mobil dengan sabar. Impiannya akan segera terwujud, wanita yang tengah mengandung itu melangkah pada akhirnya. Berbicara dan berdebat dengan sang chef muda.
Kemudian kembali berselisih jalan, Krisan memasuki mobilnya,"Ini pak ada sedikit makanan," ucapnya pada Irwan menyodorkan sekotak makanan.
"Terimakasih," Irwan meraihnya, tersenyum padanya."Ini ada minuman, nyonya pasti haus," ucapnya menyodorkan minuman rasa buah pada Krisan.
"Jangan panggil nyonya, panggil saja Krisan," ucap Krisan tersenyum.
Irwan mengamati dari spion bagian dalam mobil. Botol itu diangkat Krisan, terlihat meminumnya. Tinggal menunggu, janin itu akan segera mati. Itulah yang ada di fikirannya.
Dengan kecepatan sedang mengendarai mobilnya menuju panti asuhan. Wajah cantik itu diliriknya berkali-kali. Willy bukanlah orang yang jahat, jadi dirinya tidak bersalah sama sekali. Menggantikan Rain dengan Willy? Tidak ada bedanya. Sama-sama pria mapan dan baik, ini demi kebahagiaannya dan Morena nantinya. Mengorbankan kebahagiaan semua orang demi keegoisannya dan Morena.
Hingga mobil terhenti di depan area panti asuhan. Ferdy sudah menunggu di sana, Krisan turun dari mobil, dibantu oleh Irwan menurunkan beberapa kotak yang ada di dalam mobil.
"Kalau begitu saya permisi makan malam dulu," Irwan kembali melajukan mobilnya meninggalkan Krisan dan Ferdy yang segera memasuki panti asuhan.
"Agghh, tolong...Ferdy perutku sakit. Hubungi Rain..." rintih Krisan tiba-tiba memegangi perutnya, terduduk di lantai.
"Kamu meminum atau memakan sesuatu yang mencurigakan!? Aku sudah mengirimkan pesan untuk berhati-hati, kenapa bisa ceroboh!?" dengan cepat Ferdy mencoba menghubungi rumah sakit terdekat. Penuh kepanikan memeluk Krisan yang merintih terduduk.
Cicilan rumah, cicilan mobil, uang untuk arisan, bayar listrik, bayar air, belum lagi cicilan panci. Nak kamu harus bertahan, agar ayahmu tidak memecatku... komat-kamit dirinya dalam kepanikan, penuh harapan akan kekuatan sang janin kecil.
"Nak kamu harus kuat!! Tolong!! To..." teriakannya meminta pertolongan terhenti, bibir Ferdy dibekap dengan tangan oleh Krisan.
"Aku cuma bercanda," Krisan mulai bangkit sembari tersenyum, menyodorkan botol berisikan minuman rasa buah yang hanya berpura-pura diminum olehnya sebelumnya."Bawa ke lab, aku curiga karena segel minumannya sudah terbuka saat diberikan padaku. Syukurlah, Rain menyadari orang itu supir pribadi keluarga Santoso,"
__ADS_1
Tangan Ferdy gemetar, wajahnya juga masih terlihat pucat,"Jadi cucilah rumah, maaf maksudku anakmu tidak apa-apa dia hidup dan baik-baik saja?" tanyanya.
"Sepertinya tidak apa-apa," Krisan mengangguk.
Suami istri br*ngsek! Kalau anak itu mati, aku akan menjadi pengangguran... batin Ferdy masih berusaha tersenyum pahit.
"Ayo kita bagikan pada anak-anak panti," lanjutnya tersenyum, membawa beberapa barang yang ringan.
Krisan melangkah menghela napasnya, dirinya harus lebih mandiri, berusaha menghadapi masalah sebelum nyawa anak dan suaminya ada dalam bahaya. Hanya mereka yang saat ini dimilikinya.
"Ferdy, bisa buat seolah-olah aku mengalami keguguran? Aku ingin mengunjungi rumah keluarga Santoso..." gumam Krisan.
Tikus putih ini ingin memasuki kadang macan? Tidak, tidak boleh... fikirnya.
"Krisan maaf tidak bisa, Rain bisa memecatku jika..." kata-katanya terhenti, wanita itu menyelanya.
"Kalau begitu aku ingin bertemu dengan Sarah, tidak masalah bukan?" tanyanya.
Ferdy kembali menggeleng,"Aku tidak bisa!!" jawabnya tegas.
***
Rain menatap ke arah jalanan yang ramai. Berfikir apa yang harus dilakukannya. Namun, hanya jalan buntu yang didapatkannya.
Hingga gerbang besar rumah itu terlihat, rumah yang cukup megah. Dengan kolam ikan di bagian sampingnya, serta air mancur di bagian depannya.
Rain mulai turun dari mobilnya, merapikan penampilannya sendiri. Perlahan sedikit melirik ke arah spion mobil,"Aku terlahir begitu tampan, putraku yang akan lahir. Pasti sama tampannya,"
Matanya kembali menatap gedung besar di hadapannya,"Sakha, aku akan meminta bantuanmu kali ini," kali ini gumamnya melangkah ragu.
__ADS_1
Bersambung