Ketika Istriku Menyerah

Ketika Istriku Menyerah
Narsis


__ADS_3

🍀🍀🍀🍀Maaf kalau ada typo, besok aku revisi, karena aku cuma baca ulang sekali dengan mata hampir tertutup. Night 😴😴😴😴🍀🍀🍀🍀


Dengan ragu Rain melangkah, memasuki rumah milik Sakha. Matanya menelisik, segalanya telah dimilikinya. Namun, pria itu tidak kunjung pulang menemuinya dan sang nenek.


Rasa sakit itu masih ada, sang ayah yang meninggalkannya tanpa menoleh sedikitpun. Randy? Itulah identitasnya dahulu, sebelum Krisan hadir dalam kehidupannya.


Jemari tangannya mengepal, memasuki ruang tamu yang cukup besar. Beberapa foto lama terpajang di dinding dan meja. Foto Randy dan Sakha, anak yang selalu dipotong rambutnya dengan menggunakan mangkok oleh sang ayah.


Masih teringat jelas dibenaknya, seseorang yang tidak lelah menjaganya. Makan bersamanya, mencintainya sepenuh hati. Tukang ojek yang terkadang membawa putranya berkeliling kota, sebagai hadiah mendapatkan peringkat pertama.


Ayah yang baik dibalik keterbatasan mereka, itulah Sakha. Hingga segalanya berubah, kala sang ibu yang tidak pernah mencintainya pergi dengan pria lain. Sakha yang benar-benar terpuruk saat itu.


Namun meninggalkan putranya pada sang nenek yang telah renta? Hanya satu hal yang disyukuri Rain, dapat bertemu dan menjaga satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus. Bahkan menatap wajah renta itu pergi menghadap-Nya.


Foto sang nenek diraihnya, dilepaskan dari bingkainya. Disimpan dalam kantungnya."Aku mencuri foto nenek," gumamnya.


Apa yang dialami oleh ayahnya? Dirinya tidak pernah mencoba mencarinya lagi sebelum waktu terulang. Tapi siapa yang menyangka, Sakha berakhir bunuh diri, karena rasa bersalah pada ibu dan putranya.


Kini waktu telah terulang, banyak kejadian yang berubah. Banyak hal baru yang terungkap, tentang Krisan maupun dirinya, sepasang suami istri yang seharusnya sudah mati dengan anak mereka.


Hingga Sakha melangkah menuruni tangga menatap Rain yang telah ada di ruang tamunya. Sepasang ayah dan anak yang saling menatap.


"Ada apa? Aku sedang sibuk," ucap Sakha duduk di sofa memulai pembicaraannya.


"Dimana keluargamu?" tanya Rain ikut duduk di sofa meminum secangkir teh yang sebelumnya disuguhkan pelayan.


"Aku tidak memiliki keluarga lagi selain putraku," jawabnya berusaha tersenyum.

__ADS_1


Tidak memiliki lagi selain putranya? Lalu bagaimana dengan paman dan bibi di desa yang dulu mengusirnya. Saudara-saudara kandung dari ayahnya yang tidak pernah menjenguk Warijah. Membiarkan dirinya dan sang nenek terkadang menahan rasa lapar tidak dapat membeli beras. Hanya memakan sayur daun singkong untuk mengganjal perut.


Jemari tangannya mengepal, saat mengingat perjuangan sang nenek agar perut mereka terisi. Meminjam uang pada anaknya sendiri? Warijah pernah melakukannya, namun malah diusir dengan alasan tidak punya uang, sama-sama kesusahan.


Nenek renta yang menghidupi cucunya selama setahun, sebelum akhirnya menutup usianya. Mungkin hanya tetangga yang berbaik hati pada mereka dahulu, bersedia menjemur sisa nasinya kemarin. Diberikan pada mereka untuk dimasak kembali.


Merawat sang nenek? Randy kecil sudah berusaha semampunya. Memijatnya setiap malam, memberi makan ayam peliharaan mereka, bahkan anak itu sudah memegang sabit di usia muda. Membantu menanam singkong dan membersihkan lahan tetangga. Berharap neneknya tidak terlalu kelelahan agar dapat menemaninya lebih lama.


Tapi apa daya, takdir berkata lain, sang nenek juga pergi meninggalkannya. Anak-anaknya yang dulu mengacuhkan, tidak mempedulikan Warijah, menjual rumah sebelum kuburan sang nenek kering.


Ayahnya (Sakha)? Mungkin sama saja, ayah yang tidak mempedulikan putranya dan ibunya sendiri. Rasa dendam dan sakit itu masih ada. Namun, jika ini untuk menyelamatkan nyawa Krisan dan calon anaknya, semua akan dilakukan Rain, walau harus mengorbankan harga dirinya.


"Aku mengetahui keberadaan putramu," ucap Rain mengambil kue kering dalam toples kaca, kemudian memakannya."Lumayan enak," gumamannya.


Sakha tertawa kecil menghela napas kasar,"Aku tidak akan tertipu, itu adalah tipuan lama. Bahkan pernah ada orang yang mengaku sebagai putraku,"


"Tidak membuktikan apapun, banyak anak yang juga mengalami hal serupa," jawab Sakha berusaha untuk tenang. Sejatinya jemari tangannya gemetar, pemuda ini bagaikan mengenal Randy dengan sangat baik.


"Lebih spesifik lagi, dia phobia pada *njing, dapat menggunakan kedua tangannya untuk menulis kiri dan kanan," Rain tersenyum, menatap ke arah sang pria paruh baya.


Benar-benar informasi tentang Randy putranya yang jenius, hal langka yang tidak dapat ditemui pada semua orang. Menggunakan tangan kiri dan kanannya secara seimbang. Dapat menulis menggunakan dua pensil, sekaligus dengan tangan kiri dan kanannya.


"Dimana Randy?" tanyanya, jantungnya berdegup cepat, kali ini benar-benar informasi tentang keberadaan putranya.


"Aku akan mempertemukanmu dengan putra, menantu dan cucumu. Tapi dengan satu syarat, bantu aku menangani Santoso," Rain menghela napas kasar, jika ini satu-satunya cara untuk menjamin kehidupannya dan keluarganya, akan dilakukan olehnya.


"Menantu? Cucu? Randy sudah menikah?" tanyanya tersenyum dengan air mata terurai, segera diseka olehnya. Dirinya tidak sendiri lagi, bahkan telah memiliki menantu dan cucu.

__ADS_1


Rain mengangguk,"Jika ingin bertemu dengan mereka, aku ingin meminta bantuanmu, aku ingin mempertahankan keluargaku,"


Sakha tertunduk sejenak, kemudian tertawa,"Bocah sombong berwajah tengil sepertimu meminta pertolonganku?"


"Tua bangka sepertimu perlu pertolonganku untuk menemukan putramu?" tanya Rain berusaha tersenyum membalas hinaan ayahnya.


"Tua bangka? Tapi wajahku masih bisa menyayangi selebriti usia 30-an?" gumamnya, berusaha tersenyum.


"Kamu juga memanggilku berwajah tengil, padahal aku tampan dari lahir," Rain tidak mau kalah, namun sejenak pemuda itu tersenyum. Mungkin jika dirinya, Krisan dan calon anaknya selamat. Randy akan kembali pada ayahnya, membawa cucu dan menantu untuk Sakha.


"Bantu aku menghadapi Santoso dengan tulus, sepenuh hati, tidak boleh tanggung-tanggung. Aku berjanji kamu tidak akan menyesal setelah bertemu Randy nanti," lanjutnya.


Sakha menghela napas kasar, mengetahui pemuda cerdas ini tidak mungkin membocorkan dengan mudah keberadaan putranya. Namun hanya satu pertanyaan yang keluar dari mulutnya."Apa dia masih membenciku?"


"Aku berjanji, setelah dia pulang aku sendiri yang akan memintanya untuk memaafkanmu. Randy akan pulang jika kamu membantuku, aku berjanji..." jawab Rain mengulurkan tangannya.


"Tolong jaga putraku, selama dia belum pulang," pintanya, membalas uluran tangan Rain.


Tidak ada yang dapat dilakukannya lagi. Langsung menyetujuinya? Tentu saja, sudah 20 tahun putranya menghilang. Tidak ada satupun informasi yang benar-benar tertuju pada Randy. Bahkan informasi dari mantan istrinya hanya informasi ambigu.


Tapi saat ini? Alergi, phobia, dan kemampuan khusus? Bahkan Melani tidak mengetahui alergi dan kemampuan khusus putranya. Hanya mengetahui tentang phobia.


Tapi pemuda ini bagaikan begitu mengenal Randy seperti sahabat karibnya. Satu SD? SMP? SMU? Atau satu universitas. Mungkin satu panti asuhan? Entahlah, namun Sakha sudah dapat tersenyum saat ini, mengetahui putranya masih hidup, bahkan akan ada menantu dan cucu. Rumah sepinya akan menjadi ramai.


"Istri Randy, pasti lebih cantik daripada istrimu. Putraku dulu populer saat Taman Kanak-kanak, bahkan di Sekolah Dasar juga. Dia mewarisi ketampananku," celotehan Sakha.


"Narsis..."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2