Ketika Istriku Menyerah

Ketika Istriku Menyerah
Ibu Tiri


__ADS_3

Rain menghela napas kasar, menatap ke arah Krisan yang tengah berbicara dengan beberapa staf menyangkut kedatangan pemilik hotel. Wajah cantik yang sama, sebelum waktu terulang hanya dirinya yang dapat mengerti kecantikan dalam diri Krisan. Tapi sekarang semua orang sudah dapat menatap kecantikan fisiknya.


"Panggil manager restauran!" perintah seorang pria paruh baya, terlihat tidak senang dengan makanan yang disajikan.


Rain menoleh ke arah asal suara, benar-benar suara berisik yang menggangu. Sejenak terdiam mengenyitkan keningnya, walaupun sudah menua tapi masih sedikit mirip,"Ayah," gumamnya segera menyembunyikan dirinya, di dekat bar.


Dirinya sedikit mengintip, masih kesal? Tentu saja, Sakha yang meninggalkannya dengan sang nenek, tidak akan dilupakan olehnya."Lihat wajah mesum itu, dia pasti menikah lagi, punya anak lain, makanya melupakanku dan nenek..." komat-kamit bibir itu bergumam.


Namun, sejenak perhatiannya teralih menatap ke arah gadis yang dicintainya. Berjalan menangani komplain Sakha.


"Ini makanan atau sampah!?" bentaknya pada Krisan.


"Ayah sialan! Berani-beraninya pada menantumu sendiri..." geram Rain melihat semuanya dari jauh masih merangkak bersembunyi di belakang meja bar.


Krisan menghela napas kasar,"Akan kami ganti sesuai dengan selera anda. Tapi tolong jelaskan bagian mananya yang tidak enak. Agar dapat kami perbaiki..."


"Ini kurang krispi!!" Sakha membuat alasan. Wanita itu tersenyum, meraih kripik bayam yang menjadi hiasan.


Krak...


"Krispi..." ucapnya mematahkan dengan jari.


"Dagingnya aku pesan weldon tapi aku mendapatkan yang hard," alasannya lagi, masih ingin menguji kesabaran Krisan.


Wanita itu meraih pisau mengirisnya, memperlihatkan daging yang masih memiliki tekstur sedikit lembut di dalamnya. "Tingkat kematangan weldon..."


"Ada rambut di soup," alasan lainnya, telah memasukkan sehelai rambut sang wanita penghibur sebelumnya ke dalam soup.


Krisan bergerak ke arah dapur,"Damien!!" panggilnya. Seorang pemuda berkembangsaan Prancis keluar dengan rambut pirang panjangnya, membawa pisau daging.


"Apa!?" tanyanya.


"Ada tamu yang komplain lagi tentang rambut. Aku benar-benar akan memotong rambutmu kali ini. Jika kamu tidak dapat mengatasinya," jawab Krisan.


Damien mulai melangkah di hadapan Sakha masih dengan pisau daging dibawanya,"Aku satu-satunya orang yang memiliki rambut panjang di dapur. Dan anda lihat sendiri! Rambutku pirang! Ini hitam!!" jawabnya tegas, tidak ingin kehilangan rambut yang dipanjangkannya dengan susah payah.

__ADS_1


"Semua masalah bisa diatasinya..." gumam Rain penuh kebanggaan, masih merangkak bersembunyi.


Sakha tertawa, kemudian merogoh sakunya, memberikan uang tip untuk Damien."Tidak ada yang salah dengan makanan yang aku pesan, semuanya terasa sempurna. Ini tip dariku,"


"Terimakasih, jangan pernah bermain-main soal rambut lagi..." geram sang chef muda melangkah pergi.


Mata Sakha kembali melirik pada Krisan, yang tengah berbincang dengan bawahannya."Sabar dan tenang dalam mengatasi masalah tidak gegabah... tinggal satu pengujian terakhir, apa murahan seperti Melani dan wanita muda lain?" gumamnya dengan suara kecil, tidak dapat didengarkan oleh sang manager.


"Manager!!" panggilnya kembali.


Krisan mengenyitkan keningnya, berusaha tersenyum. Berjalan menghampiri Sakha.


"Ada apa tuan?" tanyanya.


"Ini kartu namaku. Aku adalah pemilik maskapai penerbangan Two Wings Air, kamu pasti mengetahui. Bagaimana jika nanti malam kita makan bersama? Mengadakan candle light dinner, berdua..." ucapnya.


Rain yang mendengar semuanya membulatkan matanya. Haruskah dirinya mulai menulis naskah FTV 'Ibu tiriku adalah istriku,' ayahnya kali ini benar-benar keterlaluan. Berani-beraninya menginginkan menantunya sendiri.


Dengan cepat Rain bangkit keluar dari tempat persembunyiannya. Merangkul pinggang Krisan,"Maaf, dia sudah punya pacar," ucapnya geram.


"Iya, aku memang seorang pelayan, memangnya kenapa? Tua bangka!" bentak Rain, tidak kalah sengit.


"Siapa yang mengajarimu sopan santun!? Aku yakin ayahmu sama tidak beretikanya denganmu!!" Sakha mulai tersulut emosi, berucap penuh kemarahan.


"Iya!! Ayahku memang tidak beretika..." Rain menatap tajam.


Dua orang yang saling berpandangan sengit, saling tidak menyukai, entah ada dendam apa.


"Maaf tuan, atas ketidak sopanannya. Sebagai permintaan maaf, kami akan memberikan segelas wine secara gratis..." ucap Krisan mulai menarik tangan Rain.


"Kemari!! Dasar pembuat masalah..." lanjutnya sedikit berbisik menarik Rain kedalam ruangannya.


"Dasar anak-anak jaman sekarang, tidak punya etika, mungkin IQ-nya terlalu rendah. Berbeda dengan Randy yang selalu pintar, mandiri dan sopan..." komat-kamit mulut itu kembali membanggakan putra tunggalnya. Merendahkan pemuda yang baru pertama kali ditemuinya.


***

__ADS_1


Hingga ruangan manager F&B itu kembali terlihat. Kunci masih berada di gagang pintu, kesempatan ini tidak akan dilewati oleh Rain. Krisan yang masuk lebih dulu, membuatnya leluasa mengunci pintu dari dalam tanpa sepengetahuan Krisan.


"Kenapa kamu melakukannya?" Krisan mengenyitkan keningnya kesal.


"Dia siapa?" Rain juga terlihat sama kesalnya, posesif. Dari kedatangannya Sakha hanya berniat mengganggu Krisan. Sudah mengenal sebelumnya? Mungkin saja kan? Istri dan ayahnya memiliki hubungan.


"Penghuni kamar nomor 1012, yang mencoba bunuh diri pagi tadi. Aku dan beberapa karyawan hotel mencoba menghentikannya," jawab Krisan terus terang.


"Cinta yang berawal dari menghentikan aksi bunuh diri!?" gumam Rain lebih posesif lagi.


"Cinta? Orang itu mungkin seusia dengan ayahku," Krisan tertawa kecil, canggung menatap mata tajam penuh kemarahan yang bahkan tidak pernah dilihatnya sebelum waktu terulang. Tidak membentak, namun terkesan mengerikan.


Wanita itu mulai sedikit berfikir, kemudian tersenyum mungkin inilah kesempatannya lepas dari seorang Rain."Tapi dia kelihatan seperti tipikal pria dewasa yang baik, pengayom, calon ayah yang baik nantinya,"


"Dia sudah tua!! Hanya wajahnya saja yang muda!!" bentak Rain.


"Yang tua lebih berpengalaman, tipikal pria idaman. Mapan, walaupun sudah berusia masih tetap tampan..." pujinya, memanas-manasi Rain dengan sengaja.


Ayo katakan, dasar wanita tidak setia!! Lalu tampar aku!! Kita putus!! Katakan dengan tegas... harapannya dalam hati.


"Aku juga tampan dan bersikap dewasa, tidak ada kurang dariku..." kata-kata yang keluar dari mulut Rain tidak mau kalah.


"Memang tidak, tapi sifatku yang memang tidak setia. Karena itu putuskan hubungan kita..." Krisan tersenyum, duduk di pinggiran meja kerjanya.


Rain tiba-tiba juga ikut tersenyum, tidak setia? Itu bukanlah sifat Krisan. Wanita mana yang bersedia mengorbankan dirinya agar kekasihnya dapat kuliah. Wanita mana yang tidak ingin menyusahkan hidup suaminya hingga lebih memilih berhemat untuk dirinya sendiri.


Krisan, bukanlah wanita sempurna. Namun, hati Krisan yang sempurna untuk mencintainya.


Pemuda itu mendekat, mencium bibirnya tanpa aba-aba tengkuk Krisan ditahannya. Posisinya yang duduk di pinggir meja, mulai terdorong menjatuhkan beberapa buku dan alat tulis yang ada disana.


"Rain lepas! Jika ada orang masuk ..." kata-kata Krisan yang mencoba mendorongnya terpotong.


"Sudah aku kunci, diam dan nikmati saja..." ucapnya semakin menghimpit tubuh Krisan untuk duduk sepenuhnya di meja. Menggerakkan bibirnya, menyapa lidah yang saling membelit.


Ini harus dihentikan... gumam Krisan dalam hatinya, namun tubuhnya seperti menolak untuk berhenti.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2