Ketika Istriku Menyerah

Ketika Istriku Menyerah
Wanita Yang Aku Cintai


__ADS_3

Air mata Sasha mengalir, dirinya bagaikan tidak berarti lagi di rumah besar itu. Jemari tangannya mengepal memegang kemeja suaminya. Lagi-lagi, ada noda lipstik terlihat di kemeja suaminya. Apa yang kurang darinya? Mungkin hanya anak, sampai saat ini dirinya belum juga dapat mengandung.


Hingga Sasha menghapus air matanya, menatap kedatangan Sarah, memasuki kamarnya tanpa permisi,"Aku pinjam sepatumu," ucapnya.


Tidak kali ini, wanita ini benar-benar tidak tahu diri. Hanya sepasang sepatu yang tersimpan di sana. Semuanya telah habis dibawa dengan alasan meminjam olehnya.


"Tunggu!" teriaknya, memegang lengan Sarah."Kamu tidak lihat hanya ada satu sepatu! Jika kamu meminjamnya, besok apa yang aku gunakan untuk kerja!!"


Kotak sepatu di tangan Sarah diambilnya, dibantingnya, hingga isi kotak berserakan di lantai."Jika ingin meminjam lagi! Kembalikan semua yang kamu pinjam dulu!!,"


Sarah mengepalkan tangannya,"Aku, walaupun masa jabatanku sudah berakhir. Tapi mulai besok aku akan kembali ke perusahaan ayahku!! Tidak bisakah sebagai kakak ipar kamu bersimpati!? Perempuan tidak berguna! Bahkan anak saja tidak punya!!" bentaknya.


"A...aku sudah berusaha memeriksakan diriku, Willy yang tidak pernah mau..." kata-katanya terhenti, Willy yang baru pulang membanting tas kerjanya. Melemparnya ke atas tempat tidur.


"Jadi kamu menuduhku mandul!?" ucapnya mencengkram kuat lengan Sasha."Aku tidak mandul! Kamu hanya wanita br*ngsek yang berselingkuh! Karena itulah aku tidak sudi memiliki anak darimu!! Aku...aku sendiri yang memberikan perintah pada pembantu untuk mencampur minumanmu dengan obat kontrasepsi..."


Senyuman menyungging di wajahnya, menahan rasa sakit yang menghujam dadanya. Perintah dari ibunya? Itulah yang melandasi dirinya untuk menikah dengan Sasha. Berusaha menumbuhkan perasaan cinta perlahan, namun setelah mencintainya terlalu jauh. Dirinya tidak dapat kembali lagi, terpenjara dalam rasa sakitnya seorang diri...


***


Lima tahun yang lalu...


Tidak banyak yang dapat terjadi, pada sebuah pernikahan yang berdasar dari sebuah kebohongan. Tidak mencintai, namun bersikap bagaikan mencintai. Hari ini juga sama wanita ini mengenakan dasi untuknya.


Telah satu minggu mereka menikah, namun Willy tidak kunjung menyentuhnya juga. Wanita yang tidak mengerti dengan suami yang dulu selalu mengejarnya dengan memberikan buket bunga mawar merah. Kebiasaan itu masih ada, tapi ada yang salah dengan suaminya. Kenapa Willy tidak menyentuhnya juga?


Willy menatap wajah itu lekat perlahan tersenyum, wanita yang kini telah menjadi istrinya. Tidak mencintainya? Memang benar, hanya mencintai statusnya saja, namun entah kenapa hatinya mulai tenang setiap pagi menatap wajah Sasha.


Hingga pagi itu benar-benar berbeda, pinggang wanita itu didekapnya, saling menatap beberapa saat. Perlahan memejamkan mata mereka dalam senyuman, sinar matahari yang melewati tirai jendela, sinarnya tertutupi sepasang suami istri yang memangut bibir, terlihat kaku untuk pertama kalinya.


Perlahan terlepas, Sasha menunduk, meraba bibirnya sendiri. Sedangkan Willy mengambil jas-nya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal,"A...aku berangkat!!" ucapnya gelagapan, untuk pertama kalinya mencium bibir seorang wanita, merasakan sensasi berbeda, jantungnya berdegup cepat sulit dikendalikan.

__ADS_1


Pemuda itu segera berlari, keluar dari kamar, menyenderkan tubuhnya di dinding lorong, tersenyum-senyum sendiri menyentuh bibirnya.


Awal sebuah pernikahan yang indah, saat itu Sasha yang baru saja menyandang status sebagai seorang menantu. Cukup sungkan, membiarkan Sarah leluasa memasuki kamarnya, mengambil barang dengan status meminjam.


Tidak masalah baginya, yang terpenting pernikahannya baik-baik saja. Hari demi hari berlalu, ada kalanya perasaannya dan Willy semakin dalam setiap harinya.


Bunga selalu dibawanya sepulang kerja, bunga yang perlahan terjatuh di atas lantai, seiring ciuman dengan kata "Aku mencintaimu," kata-kata yang saling berbalas, memangut, menyambut pakaian mereka yang berhamburan. Dengan peluh yang berpadu, tubuh yang beradu untuk pertama kalinya.


Menyakitkan, namun Willy mencintainya, itulah yang terlihat saat ini. Sesekali mereka bertaut kembali seiring menikmati penyatuan.


Buket bunga mawar merah yang masih tergeletak di lantai dengan beberapa kelopaknya yang berhamburan. Menyambut malam pertama dari pasangan suami-istri yang telah menikah selama beberapa bulan.


Saling mendekap dalam selimut yang tebal, usai menyemai benih dalam rahim istrinya. Willy tersenyum, mencium keningnya,"Kamu yang pertama bagiku. Begitu juga aku yang pertama bagimu. Aku mencintaimu...aku akan menjagamu..." janjinya.


Tapi terkadang yang tersisa adalah sebuah janji semata. Sudah hampir satu tahun pernikahan mereka. Hubungan yang semakin membaik, bagaikan hanya satu-satunya untuk mereka. Disanalah letak kesalahannya...


Ada hari dimana Sarah lebih lancang lagi, berniat meminjam kalung giok bernilai tinggi, warisan turun-temurun bagi anak perempuan tertua dari keluarga Sasha. Sasha tidak mengijinkannya, menawarkan perhiasan yang lain, untuk dikenakan Sarah.


Prang...


Kotak kalung giok yang terbuat dari kaca hancur berantakan. Willy yang tengah menikmati makanannya naik ke lantai dua.


"Ada apa ini!?" tanyanya yang baru tiba di kamarnya.


"Kakak..." Sarah berpura-pura menangis, berlari ke arah Willy. Sedangkan Sasha tertunduk, bingung harus menjelaskan.


Plak...


Satu tamparan mendarat di pipi Sarah, untuk pertama kalinya Willy menampar wajah adiknya. Merebut semua milik Krisan? Prilaku buruk Sarah dari kecil memang belum berubah, malah semakin buruk. Dan kini ingin merebut semua milik Sasha? Tidak akan dibiarkan oleh Willy.


"Kakak!?" ucap Sarah memegangi pipinya yang memerah.

__ADS_1


"Ini warisan keluarganya!! Kamu bisa mengambil yang lain!! Tapi ingat kembalikan! Dia kakak iparmu! Bukan Krisan yang yatim-piatu tidak memiliki keluarga!!" bentaknya pada sang adik.


Tidak terima? Itulah yang dirasakan Sarah meninggalkan kamar Willy. Menuju kamar Morena sang ibu.


Perlahan Willy berjongkok, hendak mengambil kalung giok yang masih utuh. Tapi tanpa diduga, pecahan beling melukai jarinya, meneteskan sedikit darah.


"Ini kalungmu, jaga baik-baik, jangan letakkan di sini. Lebih baik titipkan pada ibumu," ucap Willy tersenyum, menyerahkan kalung giok milik Sasha.


Namun istrinya tiba-tiba menangis, meraih kalung giok. Kemudian menggengam jari Willy yang terluka, menyesap darahnya menggunakan mulutnya.


"Hentikan, ini menjijikkan," ucap Willy tersenyum bahagia, dengan ulah spontan istrinya. Entah dari kapan dirinya terjerat untuk mencintainya.


***


Tidak menyadari sifat iri dengki manusia dapat berkumpul menjadi satu. Morena tidak dapat menerima Willy menampar adiknya sendiri. Mengembalikan Willy yang hanya menyayangi Sarah, adalah tujuan mereka saat ini.


Hingga sebuah rencana mulai disusunnya, agar Willy kembali dingin pada istrinya. Sarah membawa Sasha ke mall dengan alasan hendak berbelanja beberapa keperluan.


Memberinya obat tidur dosis tinggi yang dicampur ke dalam sebotol minuman rasa buah. Tanpa curiga, Sasha meminumnya, duduk bersama Sarah di kursi panjang untuk beristirahat.


Hingga kepalanya terasa berputar lemas tertidur di tempat duduknya.


***


Hari sudah mulai larut, Willy yang seharusnya pulang besok dari luar kota sampai lebih awal. Melangkah menapaki tangga, melewati kamar ibunya yang sedikit terbuka.


"Kamu tenang saja, jika ini gagal, ibu akan mencari cara lain. Agar kakakmu tidak terlalu mencintai Sasha. Apa kamu sudah melakukannya dengan baik, seolah-olah Sasha berselingkuh?" tanyanya.


Sarah tersenyum mengangguk, sementara Willy yang baru datang mengepalkan tangannya. Air matanya mengalir, entah kenapa ibunya tidak pernah memikirkan kebahagiaannya, hanya kebahagiaan Sarah saja.


Bingung bagaimana harus melindungi istrinya. Kembali berjalan seolah tidak mengetahui apapun. Mencari keberadaannya Sasha.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2