Ketika Istriku Menyerah

Ketika Istriku Menyerah
Kejujuran


__ADS_3

🍀🍀🍀🍀 Mengandung konten dewasa, bocil menyingkir!🍀🍀🍀🍀


Krisan mengangguk, memejamkan matanya membiarkan bibir suaminya menjelajah. Sepasang jubah mandi teronggok di lantai, deru napas tidak teratur terdengar dari sepasang suami-istri.


Rambut pemuda itu masih setengah kering, menatap mata Krisan dari atas tubuhnya,"Kamu tidak mempercayaiku?"


Krisan hanya terdiam, mempercayai atau tidak tidaklah penting baginya. Pada kenyataannya hanya Rain yang kini dimilikinya. Bahkan jika janin berkembang di rahimnya, itu adalah penghubung diantara mereka.


"Aku tidak peduli, kamu mempercayaiku atau tidak, hanya kamu yang aku miliki..." air mata pemuda itu menetes membasahi wajah Krisan. Senyuman tetap terlihat di wajahnya, Krisan masih hidup hanya itulah yang terpenting baginya.


Meraup tubuh itu perlahan, tidak terburu-buru sama sekali. Memujanya, memainkan lidah dan mulutnya, menjalar dari area leher, menciptakan suara decapan yang kuat.


"Ugh..." suara yang keluar dari mulut Krisan memejamkan matanya meracau.


"Berikan kesempatan anak kita untuk hidup," bisiknya di area telinga, menjilatinya pelan.


Terus-menerus menggoda tubuh itu untuk menegang menginginkannya. Pandangan matanya beralih, memainkan area sensitif bagian atas milik istrinya.


Bibirnya tidak berhenti mencumbui secara bergantian. Memainkan lidah dan mulutnya, setiap racauan Krisan membuat adrenalinnya semakin terpacu, detak jantungnya berdegup cepat.


Hingga rambutnya diremat jemari tangan istrinya, yang menutup matanya. Menegangkan, menaikan punggungnya, seolah tidak mengijinkan Rain untuk berhenti.


"Ra...Ra... Rain," racaunya limbung.


Tidak menyadari kakinya yang telah terbuka,"Aghhhh...hh...hhh..." suara sensual mereka bersamaan. Merasakan gesekan dan tekanan di area sensitif bagian bawah mereka.


Dua pasang mata yang saling menatap, dalam deru napas tidak teratur. Napas yang saling berbenturan, menghirupnya pendek-pendek. Ini terasa benar-benar memabukkan.


Rain menunduk membiarkan Krisan memeluk tubuhnya."Percayalah, aku mencintaimu, hingga akhir hidupku," ucapnya dengan air mata bahagia yang mengalir.


Krisan mengangguk, perlahan merasakan tubuhnya dihujam dari dalam, dengan gerakan pelan. Masih mendekap erat tubuh suaminya.


"Kri... Krisan...hhh...hhh..." racaunya tergagap, mengatur jarak, dengan deru napas tidak teratur. Merasakan seluruh kenikmatan menjalar di tubuhnya, berpusat pada bagian inti yang bagaikan memintanya terus bergerak.

__ADS_1


Tubuh itu berguncang di bawahnya, meremat kain sprei. Hanya pemuda ini yang dimilikinya, seorang anak yatim-piatu yang tidak memiliki apapun lagi."Hhh....hhh...hhh... aku mencintaimu," ucapnya memejamkan matanya menikmati semua sensasi yang dirasakannya.


Hingga pada akhirnya benih-benih hangat itu kembali melebur, mencari titik untuk dibuahi. Menginginkan bersatu untuk membentuk anggota baru keluarga kecil mereka.


Pasangan yang kembali saling mendekap, merasakan ada gerakan kecil yang tersisa ditengah kenikmatan yang mereka rasakan. Kedutan yang terasa bersamaan, menurunkan hasrat mereka dalam tubuh polos yang kelelahan sesaat.


"Aku juga, aku mencintaimu. Lebih dulu dari kamu mencintaiku," ucapnya tersenyum, merapikan anak rambut istrinya. Yang terlihat masih mengatur napas.


"Kapan?" tanya Krisan membalas senyumannya.


Rain melepas penyatuan mereka, mendekap erat tubuh dibawah selimut putih tebal."Sejak kamu membuatku berbicara untuk pertama kali, hari pertama kamu memasuki panti asuhan. Aku menginginkanmu untuk menjadi keluargaku,"


"Tidak mungkin! Saat itu aku menindih tubuhmu dan memaksamu untuk memakan cokelat," jawab Krisna tertawa kecil.


"Karena kamulah yang membuatku dapat melupakan rasa sakitku. Saat ibuku berbalik badan tidak mempedulikan putranya yang kakinya dikoyak seekor *njing. Saat itulah aku gemetar ketakutan, seperti tidak mempunyai tempat yang aman untuk berlindung..." Rain mengelus pelan pucuk kepalanya, merasakan hangatnya pelukan tubuh tanpa busana.


"Jadi karena itu kamu mencintaiku? Kenapa tidak pernah mengatakannya?" tanya Krisan, menonggakan kepalanya. Menatap mata Rain.


"Bodoh! Aku tidak memiliki apapun selain dirimu. Aku tidak mungkin meninggalkanmu. Kecuali umurku sudah habis," ucapnya tersenyum.


"Jika di kesempatan ini kita juga ditakdirkan untuk mati. Aku ingin seperti kedua orang tuamu yang mati bersama. Kamu tau betapa sulitnya aku hidup selama dua tahun, tanpa kehadiranmu? Lebih buruk daripada di neraka,"


"Terkadang aku berfikir untuk menyusulmu, tapi tidak boleh, karena Tuhan membenci umatnya yang menyia-nyiakan hidupnya. Aku hanya dapat menganggap anak-anak di panti asuhan sebagai putra kita. Agar aku dapat tetap bertahan,"


"Di ujung usiaku, seorang balita hampir terjatuh di tralis balkon. Aku melihat semua anak adalah putra kita, karena itulah aku mengorbankan nyawaku untuk menyelamatkannya," ucapnya tersenyum, air mata membasahi pipinya tiada henti, mengingat masa-masa sendirinya tanpa ada pegagan atau semangat untuk terus hidup.


"Dikesempatan ini, kita akan menua bersama-sama dan mati di hari yang sama," Krisan tersenyum, menghapus air mata suaminya.


Perlahan bangkit, duduk diatas tubuh Rain yang masih berbaring.


"Ka...ka...kamu mau apa?" tanyanya gelagapan.


"Kamu sering mencibirku tentang WOT kan? Sekarang akan aku tunjukkan kemampuanku, lagipula kamu menyukaiku karena ketika kecil aku mendudukimu kan!?" Krisan tersenyum.

__ADS_1


"Agghh....hhh...hhh," pasangan suami istri yang memejamkan matanya sejenak menonggakkan kepalanya, menikmati penyatuan mereka kembali.


Rain mulai duduk, mendekap tubuh istrinya yang bergerak. Menikmati segalanya, menyemai benih kecil mereka.


***


Di tempat lain...


Mobil telah terhenti, di depan sebuah villa. Seorang pria turun, membukakan pintu mobil bagian belakang, seorang wanita keluar dari sana.


Berjalan memasuki villa, sang pria membukakan pintu depan untuk sang wanita. Supir dan nyonyanya itulah, status mereka yang terlihat. Namun, seiiring pintu depan yang tertutup, pasangan paruh baya itu mulai melakukan ciuman panas.


"Morena..." ucapnya diakhir ciuman panjang mereka, mengecup singkat bibirnya berkali-kali.


"Sayang, jadi bisa bantu putri kita?" pintanya, mengalungkan tangannya pada leher Irwan (supir Santoso).


"Santoso selalu memanjakan Sarah. Mintalah bantuannya," jawab Irwan, tersenyum lembut.


"Tidak bisa," Morena melepaskan pelukannya, berjalan menuju sofa, membaringkan tubuhnya di sana.


"Dia mulai tidak peduli pada Sarah. Lebih mementingkan Willy dan aset-aset milik Zoya. Aku tidak menginginkan hal sulit, atau akan menghalangi jalannya. Hanya suami Krisan, dari pada dibunuh lebih baik membuat mereka bercerai. Sarah menginginkannya, namanya Rain, latar belakang, pendidikan, semua pantas dan cocok untuk Sarah," gumamnya kesal.


"Lalu apa yang kamu inginkan?" tanya Irwan, mengangkat kepala Morena, agar berbaring menjadikan pahanya sebagai bantal. Membelai lembut rambut wanita yang dicintainya.


"Buat Krisan untuk tidur dengan Willy. Rain akan bercerai dengannya, begitu juga Willy dapat memiliki Krisan sebagai istrinya. Tolong bantu aku, ini juga untuk masa depan Sarah," pintanya.


Irwan mengangguk, menyanggupi, tersenyum melepaskan paksa pakaian yang dikenakan Morena.


Menyakiti pasangan mereka masing-masing itulah yang mereka lakukan. Irwan meninggalkan istri dan seorang anaknya di rumah mertuanya. Tidak pernah mengirimkan uang sama sekali, dengan alasan belum mendapatkan pekerjaan tetap.


Istrinya? Bekerja sebagai pembantu untuk menghidupi dirinya sendiri dan anak laki-laki mereka, yang kini masih SMU. Tidak mengetahui perbuatan suami yang bahkan hampir tidak pernah pulang untuk menemuinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2