Ketika Istriku Menyerah

Ketika Istriku Menyerah
Pie Kenari


__ADS_3

Saat ini...


Perusahaan baru yang lebih besar, berkembang pesat. Rumah mewah yang juga lebih luas daripada rumah milik almarhum Zoya. Tidak ada yang kurang dalam kehidupan mereka.


Willy kini membantu sang ayah di perusahaan, Sarah? Gadis itu menjabat sebagai wakil gubernur. Morena begitu bangga menyombongkan kehidupan suami, putri dan putranya. Dirinya merasa bangga dan sebagai seorang ibu yang berhasil.


Tapi tetap saja, sejatinya yang mereka miliki saat ini berasal dari harta yang bukan hak mereka. Zoya dan Wanda apakah dapat tenang menatap mereka yang memiliki segalanya? Entahlah, namun ada beberapa hasil perbuatan yang tidak dituai langsung, bagaikan karma yang menanti di bagian akhir.


Tidak ada yang salah secara hukum, karena perusahaan milik Zoya memang telah pailit, rumahnya dijual untuk membayar hutang perusahaan. Krisan tidak memiliki apapun lagi.


Seharusnya anak yang tinggal di panti asuhan itu sudah berusia 28 tahun. Notaris dan pihak yayasan yang berbasis di luar negeri sudah dapat menduga-duga sang anak mungkin sudah menikah.


Dua orang pria berkebangsaan asing turun di area kedatangan penumpang bandara internasional. Tujuan mereka mengembalikan aset pada pemiliknya atau setidaknya, jika ingin tetap dikelola yayasan mereka, surat perjanjian baru harus dibuat.


"Robert, kamu sudah mengetahui alamat baru mereka?" tanya Jacob (pemilik yayasan) pada sang notaris.


"Sudah, terakhir saat aku menunjukkan tanda bela sungkawa, sekertaris almarhum Zoya yang bernama Santoso yang merawat anak itu. Jadi tempat tinggal Santoso pasti sama dengannya," jawab Robert, menarik kopernya.


"Jika Krisan dirawat dengan baik, aku yakin dia tidak akan melupakan keluarga yang membesarkannya," Jacob melambaikan tangannya, menghentikan taksi.


Aset yang dikelola yayasan kini telah berkembang lebih besar lagi. Cabang dari hotel, villa dan real estate, semua mengalami kenaikan harga. Bahkan hotel-hotel tersebut kini telah membuka lebih banyak cabang. Sering dipergunakan untuk menjamu tamu sekelas pejabat penting atau pemimpin negara.


Cabang hotel dan villa tidak hanya ada di satu negara namun lebih dari 10 negara. Belum lagi beberapa villa yang sering disewakan, dan tower apartemen yang dimiliki almarhum Zoya yang sebelumnya memiliki harga sewa sedang. Menjadi harga sewa tinggi, akibat pemindahan area pusat kota. Yayasan yang dipilih ayah dari Krisan memang awalnya bukan yayasan besar, namun dapat dipercayakan untuk memegang amanah. Kini yayasan itu telah berkembang menjadi semakin besar.


Seperti perjanjian setengah keuntungan menjadi milik yayasan. Dan itu juga digunakan oleh yayasan untuk menolong anak-anak terlantar sebagian besar berasal dari Afrika dan negara-negara berkembang.


Sedangkan setengahnya lagi setelah dipotong uang pengembangan dan pengelolaan, masuk ke akun bank milik Krisan. Jumlahnya? Sulit dibayangkan uang yang terkumpul dalam waktu 21 tahun. Mungkin apa yang dimiliki Santoso yang dikatakan kalangan atas, akibat perusahaan yang maju. Hanya secuil dari uang dalam akun bank milik Krisan.


Mobil melaju menembus ramainya hiruk-pikuk perkotaan. Hingga akhirnya sampai di kediaman milik Santoso, rumah mewah yang cukup besar. Namun anehnya dua orang ini tidak takjub sama sekali. Mereka sudah terbiasa bertemu dengan tokoh kalangan atas kelas dunia.


ART datang menyambut mereka, membuatkan minuman. Kemudian berlari ke lantai dua memanggil majikannya.

__ADS_1


"Krisan mungkin dirawat dengan baik, mereka tidak termasuk kekurangan bukan?" tanya Robert.


"Santoso sendiri hanya memiliki rumah sewa dulu. Rumah ini mungkin hasil dari mengelola perusahaan kecil milik Zoya..." jawab Jacob.


Hingga tuan rumah turun, Morena dan Santoso, berjalan dengan memakai pakaian kalangan atas, bahkan Morena bagaikan toko emas berjalan, "Maaf anda siapa?" tanya Santoso duduk berhadapan dengan mereka.


"Ini Jacob dan saya sendiri Robert, omong-ngomong dimana Krisan apa dia sudah menikah?" tanyanya tidak menjelaskan, terlebih dahulu maksud kedatangan mereka sebelum melihat Krisan dengan mata kepala mereka sendiri.


Santoso mengepalkan tangannya, menduga-duga dari dua orang ini merupakan teman dari almarhum Zoya. Mencari alasan adalah yang dilakukannya saat ini.


"Krisan, 20 tahun yang lalu perusahaan milik Zoya mengalami masalah, rumahnya juga disita. Kami ingin membawanya tinggal bersama kami di rumah sederhana. Tapi dia melarikan diri dari rumah, tidak tahan dengan kehidupan kami yang serba sulit..." Santoso menunduk, mencoba mengundang simpati.


"Begitu ya? Jika begitu kedatangan kami tidak ada artinya. Kami akan mencari Krisan di tempat lain. Menyerahkan warisan yang diterimanya jika sudah menikah," mata Jacob menelisik, mengetahui ada banyak kebohongan dalam diri orang ini.


"Warisan?" tanya Morena memastikan pendengarannya.


Jacob mengangguk,"Selama ini yayasan yang saya kelola diberi kepercayaan untuk menjaga aset-aset milik Zoya yang berada di luar negeri. Pastinya aset-aset yang bernilai tinggi,"


Robert mengeluarkan sebuah map salinan perjanjian. Dan rincian jumlah aset serta dana di rekening Krisan yang mencapai ratusan juta dollar.


Santoso meraihnya tangannya gemetar, jantungnya berdebar cepat. Ini benar-benar gila, Zoya memiliki aset sebanyak ini, bahkan salah satu hotelnya yang berada di negara lain tidak sebanding dengan hasil kerja keras Santoso saat ini.


Hingga, kebohongan lain dicobanya,"Maaf kami berbohong untuk menjaganya dari orang-orang yang sering berpura-pura sebagai kerabatnya. Kami akan memanggil Krisan, dia ada di kamarnya sekarang..." ucap Santoso menggelengkan kepala ke pintu samping tangga. Pintu tempat Sarah berada.


Morena yang mengerti dengan isyarat suaminya segera melangkah ke kamar putrinya. Beberapa saat berlalu, Sarah yang sudah diberi instruksi untuk berpura-pura sebagai Krisan tersenyum.


"Siang..." ucapnya duduk dengan anggun.


"Ini Krisan, kami menjaganya dengan baik, iya kan sayang...?" Morena tersenyum merangkul Sarah.


"Iya, bibi Morena merawatku dengan baik..." Sarah tersenyum, kesal? Tentu saja, Krisan ternyata bahkan jauh lebih memiliki segalanya di bandingkan dengan dirinya. Tidaklah mengapa, dirinya akan tetap dapat merebut segalanya, sekarang dan selamanya dirinya adalah nona muda yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Kamu bertambah cantik, paman sudah lama tidak bertemu denganmu, semenjak di Spanyol dulu, kamu masih ingat pada paman? Ini paman membawakan pie kenari untukmu sebagai oleh-oleh, kamu menyukainya kan?," Jacob mengeluarkan pie kenari kemasan.


"Aku tidak mungkin melupakan paman. Anda, paman sahabat ayahku yang dulu ada di Spanyol kan?," ucapnya meraih pie kenari.


"Makanlah, jangan sungkan, kamu bahkan dulu merengek memintanya..." Jacob tersenyum, di hadapannya.


Morena menatap ke arah putrinya,"Makan saja..."


Sarah hanya tersenyum mulai membuka kemasannya tanpa ragu. Mengunyahnya, bahkan menghabiskan potongan besar.


"Kamu siapa?" senyuman di wajah Jacob menghilang.


"A...apa maksud paman?" tanya Sarah gelagapan.


"Aku tidak pernah ke Spanyol. Aku bertemu dengan Zoya dan Krisan saat di Holland. Selain itu, Krisan alergi pada buah kenari. Zoya sendiri yang mengatakan, anak itu akan ruam parah karenanya..." ucapnya tersenyum penuh hina.


"A...aku lupa karena sudah terlalu lama. Lagipula alergiku sudah sembuh. Aku ..." kata-kata Sarah disela.


"Pertanyaan sederhana, kapan kamu berulang tahun!?" tanyanya kembali.


Sarah melirik ke arah ibunya, namun sang ibu dan ayahnya hanya terdiam mereka tidak pernah peduli dengan tanggal ulang tahun Krisan. Tanggal ulang tahun? Bahkan alergi kenari baru diketahui mereka hari ini.


"Kami tidak memiliki kepentingan lagi disini, saya rasa sudah cukup. Kami akan mencari sendiri anak itu," mata Robert menelisik kediaman mewah tersebut,"Zoya dulu pernah menolongku. Jadi aku pastikan akan ada penyelidikan tentang bankrutnya perusahaan Cargo milik Zoya. Jika satu sen saja uangnya masuk ke saku kalian, aku akan membawa ini ke jalur hukum,"


Santoso menghela napas, hanya ada satu kesempatan, menyuap mereka."Tunggu! Aku berjanji akan membagi setengah aset milik Krisan. Asalkan kalian dapat memalsukan Sarah putri kami sebagai Krisan,"


Langkah Jacob yang ingin pergi terhenti,"Kamu kira hanya kami yang mengawasi!? Ada pihak bank yang tidak akan bisa dibohongi. Jikapun tidak ada yang mengawasi, aku tidak akan mengambil harta anak yang membantu membiayai yayasanku selama lebih dari 21 tahun. Entah sudah berapa anak terlantar, miskin, bahkan orang-orang berkebutuhan khusus yang makan dari 50% hasil pembagian keuntungan aset milik Zoya,"


"Dengar! Aku tidak takut pada manusia! Tidak tunduk dan memuja uang! Tapi takut pada Tuhan! Doa jutaan orang yang dapat hidup dengan lebih baik dari pembagian hasil keuntungan warisan anak itu, akan didengarkan Tuhan! Aku tidak ingin dibenci oleh-Nya,"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2