Ketika Istriku Menyerah

Ketika Istriku Menyerah
Etika


__ADS_3

Santoso menghela napas kasar, mengangguk membenarkan. Menatap ke arah putranya yang terdiam sejenak.


"Kenapa?" tanya Willy tertunduk yang sejatinya masih menyayangi ibunya, tidak mengerti dengan tindakan ayahnya yang memutuskan untuk menikah lagi.


"Ayah memperbaiki kesalahan ibumu. Karena itulah ayah menikah lagi, untuk membalasnya..." kata-kata ambigu darinya mulai mengambil gelas, membuka lemari es.


Willy mengepalkan tangannya, menatap tajam ke arah Santoso."Aku tidak akan membela ayah. Bagaimana pun sifat ibu, ibu tidak pernah..."


"Maaf..." hanya satu kata yang keluar dari mulut Santoso membuat Willy terdiam, tertegun, mendengarkan."Maaf, lebih memanjakan Sarah dari padamu. Kamu sudah menjadi anak yang baik. Satu-satunya anak kandung ayah..."


"A...apa maksud ayah?" tanya Willy menatap Santoso yang tiba-tiba memeluknya.


Santoso mengeratkan pelukannya, air matanya mengalir tidak terkendali."Sarah bukan putri kandung ayah. Irwan adalah ayah kandungnya. Ibumu bahkan membawa Irwan masuk ke rumah kita sebagai supir pribadi..."


Tangan Willy gemetar, mempercayai kata-kata ayahnya? Tentu saja, masih sedikit teringat jelas di benaknya, kala Santoso yang masih kuliah sambil bekerja pulang hingga larut.


Ibunya mengobrol dengan tetangga sebelah mereka, di tempat kos-kosan murah. Seorang kontraktor muda yang masih bujang, terkadang duduk saling bergurau, layaknya sepasang kekasih. Namun, saat itu dirinya masih terlalu kecil, mengira itu adalah hubungan persahabatan.


Willy kecil tidak selalu di rumah, ada kalanya dirinya tidur atau bermain di luar tempat kost bersama teman sebayanya. Namun saat, dirinya kembali untuk minum usai bermain, pintu kamar kost tiba-tiba terkadang terkunci dari dalam.


Mengetuk pun, ibunya tidak menjawab. Benar-benar aneh, sandal ibunya dan Irwan masih ada di depan kamar kost. Pertanda mereka ada di dalam.


Kini dirinya mengerti, sang ibu mengkhianati ayahnya selama puluhan tahun. Tertutup rapat oleh kedok tetangga yang baik, dan kini berkedok supir pribadi.


Berusaha bertindak dewasa tidak menyalahkan keputusan ayahnya, itulah yang dilakukannya.


"Ayah mencintainya?" tanya Willy.


"Ayah sedang belajar, dia adalah mantan istri Irwan. Memiliki anak yang masih sekolah, karena ibumu, Irwan mengacuhkan istri dan anaknya. Dia wanita yang baik..." jawab Santoso.


Willy menghela napas kasar, melepaskan pelukan ayahnya."Aku ingin kembali pada Sasha, keluar dari rumah ini. Tinggal di rumah mertuaku..."


"Kenapa? Bukannya kamu tidak mencintai Sasha?" Santoso mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Aku mencintainya, hanya ingin melindunginya dari obsesi ibu dan Sarah. Dulu aku pernah lebih berpihak pada Sasha, karena itu ibu dan Sarah sempat hampir mencelakainya. Bertahun-tahun aku tidak ingin memiliki anak dari Sasha, berpura-pura berselingkuh. Tidak ingin istriku dicelakai lagi... awalnya aku kira perceraian adalah jalan terbaik, menunggunya untuk menyerah. Kemudian menghamilinya tepat saat kami akan bercerai..."


"Membiarkannya tinggal di rumah mertuaku, agar dia dan calon anakku selamat dari rasa iri Sarah. Tapi aku salah, aku merindukannya, kesulitan tanpanya. Jadi ini keputusan yang aku ambil, tinggal dengannya di rumah mertuaku untuk sementara waktu. Ayah mertuaku memiliki kesetabilan finansial dan kekuasaan politik. Dia akan akan dapat melindungi kami..." Willy mengutarakan maksudnya pada ayahnya.

__ADS_1


"Minta maaflah pada ayah mertuamu. Tunjukkan ketulusanmu, jelaskan semua yang terjadi. Katakan ayah juga meminta maaf sudah mengacuhkan Sasha selama ini ..." Santoso tersenyum, mengusap pucuk kepala putranya. Kebahagiaan Willy adalah hal yang utama saat ini, putra tunggalnya.


***


Pria paruh baya itu kembali ke kamarnya, membawa tea pot yang terbuat dari kaca, serta gelas kosong.


Bug...


Suara pintu tertutup terdengar, membuat Ina terbangun. Mengerjap-ngerjap kan matanya, menatap ke arah suaminya yang menyodorkan segelas air putih padanya.


Dirinya mulai bangkit, menutupi tubuhnya yang dipenuhi dengan tanda keunguan menggunakan selimut."Terimakasih..." ucapnya tersenyum, meminum air putih yang diberikan pria yang berusia 10 tahun lebih tua darinya.


Lebih tampan dari Irwan? Memang tidak, tapi cukup rupawan baginya. Kini dirinya merasa lebih dihargai, dan dicintai. Berbeda dengan dulu, saat bersama dengan mantan suaminya.


Pria yang melewati malam pertama usai pernikahan dengannya dalam keadaan mabuk. Merenggut kesuciannya, sambil menyebutkan nama Morena berkali-kali.


Hati yang masih terasa sakit, saat mengingat kembali masa lalu. Ditinggalkan dengan alasan bekerja di luar kota dalam keadaan hamil 4 bulan. Tidak pernah mengirim uang, jika dirinya memintapun hanya bentakan lewat sambungan telepon yang didapatkannya, dengan jumlah uang yang dikirimkan Irwan hanya 200.000 rupiah.


Uang yang hanya dikirim jika dirinya meminta. Tidak setiap bulan, karena itu Ina sempat bekerja di laundry ketika dirinya masih hamil, menabung untuk biaya persalinan, serta menerima pakaian bayi bekas milik tetangga dan saudaranya.


Suami? Status yang dulu tidak dihargai Irwan. Mungkin menikah dengan Ina, hanya karena Morena yang tidak bersedia meninggalkan Santoso, kala bisnis sebagai kontraktor Irwan rugi besar. Sedangkan Santoso mulai dapat menata karirnya. Belum lagi perusahaan yang baru didirikan Santoso, saat itu.


Pria bodoh yang meninggalkan Ina dan Wawan yang masih berada dalam kandungan. Hanya demi cintanya pada Morena.


Ina tersenyum, inikah rasanya memiliki suami yang menyayanginya? Santoso memang terlihat kaku dan tegas dari luar, tapi memperlakukannya dengan baik.


Gelas yang telah tandas diletakkannya di atas meja, meraih tengkuk Santoso, memangut bibirnya. Tidak ingin kehilangan suami seperti ini, Morena-lah yang bodoh menyia-nyiakannya.


Ina tersenyum, mungkin kini dirinya sudah dapat mencintai Santoso. Bukan dari rupa fisik atau kekayaannya, tapi pada kasih sayang Santoso terhadap Wawan dan dirinya.


Sepasang tubuh di balik selimut yang bergerak pelan memperlihatkan wajah pasangan yang saling memangut, menonggakan kepala mereka menikmati hangatnya malam.


***


Beberapa berkas telah ditangani, Jacob menatap wajah Krisan penuh senyuman. Putri almarhum Zoya yang telah lama menghilang.


"Kamu terlihat hidup dengan baik, aku akan menjaga milik Zoya untuk generasi berikutnya..." ucap Jacob, menatap perut Krisan yang mulai membuncit.

__ADS_1


"Terimakasih, aku tidak pandai mengurus aset. Selain itu aku sudah mendapatkan segalanya dari suamiku," Krisan tersenyum, usai menandatangani surat perjanjian baru tentang warisan yang didapatkannya dari almarhum kedua orang tuanya.


Isinya? Semua aset milik almarhum Zoya akan dikelola dan dikembangkan yayasan dengan pembagian keuntungan 50%. Hingga generasi selanjutnya memiliki usia yang cukup untuk mengelolanya.


Bayi mungil yang kini ada dalam kandungannya.


"Sudah selesai!? Ferdy, antar mereka ke hotel..." Rain mengenyitkan keningnya menatap tidak suka, pada Robert (pengacara) dan Jacob (pemilik yayasan). Mengingat dengan jumlah warisan yang dimiliki Krisan walaupun istrinya menolak untuk mengelolanya.


Tapi status seorang Rain tidak aman saat ini. Keluarga Krisan jauh lebih kaya darinya. Itu artinya dirinya dapat ditinggalkan kapan saja oleh istrinya. Mungkin Krisan akan tinggal di luar negeri jika sedikit saja bertengkar dengan dengannya.


Krisan akan menuntut cerai, menikah dengan keluarga pengusaha kelas dunia, memiliki status yang lebih setara. Kalangan atas? Memiliki perusahaan? Tidak ada gunanya, ketika almarhum mertua jauh lebih kaya dari Rain.


"Maaf, kalian harus pergi..." Ferdy menghela napas kasar, harus banyak-banyak bersabar, menghadapi sifat Rain yang mudah berubah.


"Krisan, aku masih ingin kamu tinggal di tempat kami. Mengelola aset ayahmu, aku akan menyiapkan kediaman yang lebih besar untuk kalian nantinya..." ucap Jacob masih ingin merubah keputusan Krisan.


Rain mengepalkan tangannya, dapat dibayangkan olehnya Krisan tinggal terpisah dengannya, hanya dapat menemui Krisan sebulan sekali. Kemudian para pria rupawan menggoda istrinya untuk meninggalkannya.


Bucin tingkat tinggi? Itulah dirinya, yang terobsesi pada istrinya.


"Tidak boleh, Krisan mabuk udara. Iya kan sayang...?" ucap Rain posesif pada istrinya.


Krisan menipiskan bibir menahan tawanya."Iya..."


"Tapi saat kecil kamu bahkan sering mengikuti ayah dan ibumu ke beberapa negara. Tidak akan ada masalah, jadi..." kata-kata Jacob disela.


"Aku akan tinggal disini. Mungkin putraku nanti saat dewasa nanti yang akan mengelolanya. Suamiku terlalu mencintaiku..." Krisan tersenyum menolak bujukan Jacob.


Sedangkan Rain mengalihkan pandangannya,"Siapa yang mencintaimu," ucapnya berpura-pura acuh, menahan perasaan berbunga-bunga di hatinya.


"Kamu, mau ke kamar, membantuku mencari jalan untuk melahirkan nanti?" bisik Krisan.


Rain mengangguk segera bangkit."Sudah malam, kalian tidak ingin kembali ke hotel!? Aku sudah ngantuk, ayo tidur jika kurang tidur kamu akan bertambah jelek..." kata-kata pedas dari mulutnya menarik Krisan ke kamar mereka.


Meninggalkan tiga orang pria terdiam di ruang tamu.


"Majikanmu pasti benar-benar merepotkan. Kamu hebat..." puji Robert pada Ferdy.

__ADS_1


"Ayo pergi... sebelum mendengar suara laknat dari majikan tidak beretika..." komat-kamit mulut Ferdy mengomel terdengar kesal.


Bersambung


__ADS_2