
Matahari pagi menembus jendela apartemen, mengantar kehangatan pada tubuh dua insan. Sebuah pelukan yang hangat kala dirinya berusaha membuka mata.
Perlahan sedikit ditatapnya wajah itu, "Krisan..." gumamnya tersenyum. Kembali menutup matanya, dengan tubuh tanpa sehelai benangpun, hanya tertutup selimut putih tebal. Mengingat gerakannya ketika tidur mungkin membuat handuk terlepas di dalam selimut.
Tidak malu sedikitpun? Tentu saja, mereka dari kecil hidup bersama di panti asuhan. Bahkan berbuat hal konyol agar tidak pernah diadopsi, Krisan yang mengacak-acak rambutnya sendiri? Bahkan Rain lebih parah, pernah dengan sengaja memakai pakaian Krisan, agar tidak jadi diadopsi.
Benar-benar hanya memiliki satu sama lain itulah mereka dari semenjak selalu bersama di panti, saling menjaga dan mengasihi.
Hingga tiba-tiba pintu dibuka seorang gadis...
"Krisan, kamu punya karet ram..." kata-katanya sembari memegangi phoncellnya. Terdiam dengan raut wajah pucat, menatap malaikat di atas tempat tidur sang jomblo abadi.
Tak...tak...
Bahkan phonecellnya terjatuh,"Ka... kalian!!" teriaknya yang bagaikan syok berat.
Rain menutup matanya, masih berpura-pura tertidur, mendekap tubuh Krisan yang perlahan membuka matanya.
"Sela, kamu sudah pulang," ucap Krisan dengan nada suara khas orang bangun tidur.
"Dia siapa!? Kamu, kalian..." ucapnya bingung tidak percaya, Krisan membawa seorang pria ke kamarnya. Dan apa itu? Dari selimut yang hanya menutupi sebatas perutnya, dapat disimpulkan sang pria memang tidak memakai atasan. Entah bagaimana dengan bawahannya.
"Dia hanya teman..." kata-kata Krisan tiba-tiba disela, Rain membuka matanya, memeluknya yang masih duduk di atas tempat tidur dari belakang.
"Aku teman ranjangnya..." ucap Rain sensual, mencium leher Krisan yang hanya memakai kaos rumahan dan celana pendek.
Benar-benar adegan dewasa, sensual, mendebarkan. Apa yang akan dia lakukan berikutnya pada Krisan? Aku penasaran... gumam Sela dalam hati, dengan liurnya yang hampir menetes.
Krisan segera melepaskan pelukan Rain, mendorongnya,"Rain, sajak kapan otakmu rusak?"
"Sejak aku mencintaimu..." jawaban tidak tau malu itu lagi yang keluar.
Jujur saja, setiap kata itu terucap hatinya berdebar tidak menentu, terasa berbunga-bunga. Tapi, tidak boleh, menikah dengan Rain berarti memiliki takdir yang buruk.
Krisan memijit pelipisnya sendiri, menoleh pada teman satu apartemennya. "Dia Rain, kami hanya teman satu panti. Tidak berbuat apa-apa, hanya saja semalam listriknya mati, jadi aku memintanya tidur denganku,"
"Jika terjadi sesuatu juga tidak apa-apa. Kamu sudah dewasa, Krisan segeralah menikah..." ucap Sela, seorang mahasiswa yang memang jauh lebih muda, tahun ini baru berusia 22 tahun.
__ADS_1
"Menikah? Dengan siapa?" Krisan mengenyitkan keningnya.
"Denganku..." ucap Rain tersenyum padanya.
"Tidak, aku lebih memilih menjadi istri ke sembilan seorang kepala suku pedalaman dari pada menikah denganmu," Krisan menghela napas kasar mulai bangkit.
Namun dengan cepat Rain menahan tangannya,"Kamu tega melihatku ke luar dari selimut dalam keadaan tanpa satu helai benangpun menutupi tubuhku. Hanya kamu yang boleh melihatnya, dia tidak..." gumamnya menoleh pada Sela.
"Ja...jadi benar-benar tidak mengenakan apapun!? Kalian semalam melakukannya!? Aku pergi!! Silahkan lanjutkan!!" teriaknya, dengan cepat menutup pintu kamar.
"Tu... tunggu..." ucap Krisan kehabisan kata-kata untuk menjelaskan situasi aneh ini.
Bersamaan dengan itu Rain keluar dari selimut, seluruh tubuhnya terlihat tanpa sensor. Mengambil handuk di dalam selimut, kemudian kembali memakainya."Apa bajuku sudah kering?" tanyanya, mengingat pakaian seragam kerja yang kemarin usai dicuci dan dimasukkannya ke dalam mesin pengering. Di gantung menunggu sisa air benar-benar menghilang.
"Rain, kamu tidak malu atau sungkan padaku!?" tanya Krisan tidak mengerti.
"Tidak, aku malu dan sungkan pada wanita lain. Hanya tidak malu dan sungkan padamu..." jawabnya, mulai berjalan menuju kamar mandi, tempatnya menggantung pakaian.
"Kenapa?" Krisan masih tidak habis fikir, pada pemuda yang kala waktu belum terulang selalu menjaga image dingin, di hadapannya.
"Karena aku mencintaimu," lagi-lagi kata itu yang terucap, sembari memasuki kamar mandi.
***
Sama seperti hari biasanya, mereka hanya sarapan dengan nasi goreng buatan Krisan. Termasuk Rain yang makan dengan lahap, bibir pemuda itu tersenyum. Makan dengan cepat, bagaikan pengungsi yang kelaparan.
Ini adalah makanan buatannya...ini adalah makanan buatannya... gumamnya dalam hati, masih teringat jelas, memori kala waktu belum terulang. Kue moka terakhir buatan istrinya, kue yang dimakannya seorang diri. Sepasang cincin pernikahan yang dipesannya sebelum waktu terulang masih menjadi bandul kalungnya. Mungkin untuk mengingatkan dirinya sendiri, itu bukanlah sebuah mimpi, dirinya memang diberi kesempatan kedua oleh-Nya.
Namun, kini Krisan ada di dekatnya, tengah makan dengan tenang. Sambil sesekali membalas pesan seseorang melalui phoncellnya.
"Siapa?" tanya Rain dengan nada posesif.
"Teman kencanku, malam ini aku akan mengikuti kencan buta," jawab Krisan tersenyum tanpa dosa.
Kencan buta? Kamu terang-terangan mengatakan akan berselingkuh di hadapanku? Tidak boleh... Krisan hanya akan berakhir menyukai hujan... batinnya. Berusaha tersenyum.
"Kencan buta? Kenapa harus mengikuti kencan buta?" tanya Rain masih makan dengan lahap.
__ADS_1
"Tentu saja untuk mencari pasangan hidup, ayah yang baik bagi anak-anakku kelak..." wanita itu tetap tersenyum tanpa rasa bersalah. Tidak memiliki hubungan dengan Rain, tidak ada kata kekasih atau hubungan suami-istri yang mengikat mereka seperti dahulu.
Rain yang memang telah memakai pakaian kerja tertunduk, menghabiskan nasi goreng di piringnya. "Aku akan menjadi ayah yang baik untuk anak kita nanti. Entah kamu percaya atau tidak..."
Sela menggenggam jemari tangan Krisan, berbisik padanya,"Dia tulus padamu..."
"Jangan menilai orang dari luarnya saja," ucap Krisan enggan berdebat.
Hingga, Rain mulai bangkit,"Boleh aku minta sisa nasi gorengnya?" tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh Krisan.
Namun tanpa diduga, Rain mengambil dua buah kotak bekal dari rak dapur. Sisa nasi goreng, semuanya dimasukkan ke dalam dua buah kotak.
"Aku pulang..." ucapnya tidak tahu malu, membawa dua kotak bekal nasi goreng.
"Pulang sana!!" Krisan menghela napas kasar, masih sibuk dengan teman chatting yang akan bertemu dengannya di sore hari.
"Aku mencintaimu!!" Rain mengedipkan sebelah matanya, sebelum meninggalkan apartemen, menutup pintu depannya.
"Aku membencimu!!" jawaban Krisan masih tetap sama.
***
Menunggu beberapa saat, akhirnya mobil asisten pribadinya tiba juga. Rain menaikinya, duduk di kursi penumpang bagian belakang.
Kembali membuka salah satu kotak bekal, memakannya penuh senyuman.
"Tuan, jadwal hari ini...." kata-kata sang asisten terpotong.
"Kamu tidak lihat aku sedang makan!! Sudah aku bilang seminggu ini, aku ingin berlibur," ucapnya dengan mulut penuh.
Sang asisten mengenyitkan keningnya sedikit melirik. Menatap dua buah kotak bekal, dengan isinya makanan buatan rumah.
"Tuan, nanti malam akan ada perjamuan, di restauran..."kata-kata sang asisten kembali terpotong.
"Tunda satu hari, istriku akan mencoba berselingkuh malam ini..." kesalnya, menusuk nusuk telur dadar gulung pelengkap nasi goreng dengan kesal.
"Istri?" sang asisten mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
__ADS_1
Bukannya orang sinting ini gay ya? Makanya tidak pernah bernapsu pada wanita maupun. Aku sampai menjaga jarak darinya. Tapi, apa ini sekarang? Istri? Dia punya istri... batinnya, tidak mengerti tetap fokus pada jalanan.
Bersambung