
Hari ini mereka memulai hari yang baru, dalam rumah yang dibeli Rain, rumah yang tidak begitu besar. Namun bernuansa minimalis, dengan halaman dilengkapi tempat bermain anak-anak. Hanya dua pelayan yang ada disana.
Sudah beberapa beberapa minggu mereka tinggal bersama dalam rumah yang baru. Membuka matanya sembari tersenyum, ini sudah sering terjadi, piama yang berserakan di lantai, meninggalkan pasangan yang tidak mengenakan sehelai benangpun. Saling mendekap dalam tempat tidur yang hangat, hanya berselimutkan bedcover tebal.
Krisan tersenyum menonggakan kepalanya,"Rain..."
"Em?" tanyanya, masih mendekap tubuh istrinya, menyambut pagi yang dingin.
"Menurutmu memerlukan waktu berapa lama hingga anak kita kembali?" Krisan ikut mengeratkan pelukannya.
"Masa sebelumnya, kira memerlukan waktu lebih dari dua tahun setelah pernikahan. Mungkin kali ini juga, mau melakukannya lagi?" Rain kembali tersenyum, mendekatkan tubuh mereka agar semakin bergesekan.
Krisan menggeleng,"Aku hamil..."
"Ha...hamil? Dia hadir lebih cepat?" tanya Rain memastikan pendengarannya.
Wanita itu mengangguk,"Aku tidak tau, tapi hasilnya positif, setelah terlambat datang bulan satu minggu. Pulang kerja, aku sudah ke rumah sakit, hasilnya tetap sama positif, usianya mungkin sekitar 4 minggu sudah ada detak jantungnya,"
Rain tersenyum memeluknya lebih erat lagi, akhirnya kali ini buah hati mereka benar-benar akan hadir. Air matanya mengalir mungkin terlalu bahagia rasanya,"Terimakasih..." lirihnya.
Jalannya waktu yang berubah, jenis pekerjaan yang berbeda pula yang diambil Krisan. Mungkin itulah penyebab, buah hati kecil mereka juga hadir di waktu yang lebih singkat.
"Aku mencintaimu, mencintai putra kita, aku akan menjadi ayah yang baik," ucapnya tersenyum dalam tangisannya.
"Rain, anggota keluarga kita bertambah. Bantu aku melindunginya..." gumamnya menyambut kebahagiaannya.
Rain mengangguk sembari tersenyum, membayangkan kaki kecil yang akan berlari di rumah mereka.
Pasangan suami-istri yang melupakan, hari ulang tahun Rain sudah dekat. Hari dimana Krisan meregang nyawanya, jalannya takdir yang berubah? Tapi apa benar demikian, takdir Sakha berubah karena kehadiran Krisan. Namun Krisan? Entah apa yang akan terjadi, apa dirinya akan kembali kembali mengalami hal serupa. Atau akan ada tangan yang menyelamatkannya.
***
Harum aroma sarapan pagi tercium, hanya masakan sederhana tahu, tempe dan sup berisikan sayap ayam. Kenapa hanya itulah menunya? Krisan sendiri tidak pandai memasak, tidak memiliki bakat sama sekali.
__ADS_1
Namun, seiring waktu yang terulang, Rain memahami segalanya. Sifat hemat istrinya, serta kemampuan memasak yang buruk. Dirinya hanya dapat tersenyum, tidak pernah bosan atau mengeluh lagi, karena makanan hangat inilah yang dirindukannya.
Senyuman mengembang diwajahnya, pagi ini. Bersamaan dengan diketuknya pintu rumahnya. Pelayan segera berlari membukakan pintu, hari ini supir yang khusus ditugaskan mengantar jemput Krisan telah sampai, mulai bekerja. Supir yang direkrut sendiri oleh Ferdy berdasarkan pengalaman kerjanya.
"Ferdy, ayo sarapan bersama," ucap Krisan tersenyum, menatap Ferdy yang datang bersama seorang pria paruh baya.
"Tidak!! Tidak boleh, sarapannya hanya ada dua porsi saja..." Rain menatap sinis, masih curiga dengan hubungan Ferdy dengan istrinya.
Aku juga tidak berselera, tadi pagi aku sarapan club sandwich, dengan potongan daging sapi yang besar. Tapi majikanku hanya makan tahu tempe, jadi berasa kaya... batinnya, menahan tawanya.
Krisan menghela napas kasar,"Ferdy nanti malam aku ingin ke panti asuhan. Bisa ikut bersamaku? Rain lumayan sibuk. Aku ingin membagikan tas dan seragam sekolah disana,"
"Jangan macam-macam!!" Rain menatap tajam, menunjuk Ferdy menggunakan garpu di tangannya. Mengingat kondisi Krisan yang sedang hamil, sedangkan dirinya juga memiliki janji temu dengan petinggi salah satu perusahaan.
Istrimu memang cantik, tapi sayangnya cicilan rumah, dan mobilku lebih penting, ditambah dengan ibuku yang ikut arisan, padahal cicilan panci belum lunas... gumamnya dalam hati.
"Baik tuan," jawabnya.
"Dia siapa?" tanya Krisan dengan mulut penuh.
"Nyonya!! Tidak boleh terlalu akrab dengan istri majikan. Tidak ada istilah aku, kamu," tegasnya protektif, tidak ingin Ferdy lebih dekat dengan Krisan lagi.
"Jangan kaku begitu, Ferdy itu temanmu, juga berarti temanku. Panggil seperti biasa saja, jangan terlalu kaku," Krisan menghela napas kasar sembari tersenyum.
"Omong-omong, kamu memberi tau kehamilanku pada Ferdy? Aku bukannya baru mengatakannya tadi pagi padamu," ucapnya menatap ke arah suaminya.
"Antisipasi, yang terpenting keselamatan anak kita..." Rain tersenyum, kembali meminum air dingin di gelasnya.
"Calon bapak, entah kapan aku bisa menikah," gumam Ferdy mengambil satu buah irisan tempe hangat, lalu memakannya."Tempe biasa, tapi hasil masakan seorang istri memang berbeda..." ucapnya mencemooh.
"Memang! Makanya menikah! Jangan memakan hasil masakan istri orang!!" ucap Rain merebut sisa tempe setengah gigitan dari tangan Ferdy. Kemudian kembali memakan sisanya.
Astaga pelitnya, nanti aku akan memakai chicken teriaki sebagai pelampiasan... geramnya dalam hati dengan bibir masih tetap mengunyah.
__ADS_1
Sementara Irwan terdiam, menghela napas kasar. Menatap pasangan muda yang bahagia, keluarga yang harus dihancurkannya, untuk kebahagiaan wanita yang dicintainya dan anaknya.
Hal yang dilakukannya? Akan dimulai dari janin yang ada di perut Krisan. Memastikan hanya anak dari Willy yang akan ada didalam sana.
Bibirnya tersenyum, menatap Rain, pria mapan, rupawan, dan baik hati, menang hanya pantas untuk putrinya Sarah.
***
Mobil mulai melaju meninggalkan kediamannya, dengan Ferdy berada di kursi pengemudi. Meninggalkan Krisan yang berangkat ke hotel tempatnya bekerja dengan mobil lainnya bersama Irwan.
Sejenak Rain menghela napas, melonggarkan dasi yang dipakainya."Kirim orang untuk mengawasi Krisan!" perintahnya.
"Ke... kenapa tuan?" tanya Ferdy tidak mengerti.
"Orang yang kamu bawa ke hadapanku hari ini adalah supir pribadi keluarga Santoso. Mereka mulai bertindak," jawab Rain, menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang bagian belakang.
"Lalu kenapa kamu menerimanya? Anak dan istrimu..." kata-kata Ferdy disela.
"Karena mereka orang yang tekun dan cekatan. Jika aku menolak Irwan untuk bekerja, maka berikutnya orang lain yang akan dikirim. Atau menggunakan taktik yang lebih rumit. Jadi tahan pergerakannya buat mereka merasa menang. Saat tidak waspada, kita tikam dari belakang," ucapnya menatap ke arah jendela mobil, hujan gerimis mulai turun. Bayangan kematian istrinya kembali tersirat.
Langit yang benar-benar gelap, saat kematiannya, mengguncang tubuhnya yang telah tidak bernyawa, berharap Krisan-nya kembali hidup. Sekarang dirinya tidak selemah seperti dahulu lagi, melindungi istri dan anaknya, menginjak orang-orang yang menyakiti Krisan adalah tujuannya.
Hal yang ingin diselidiki olehnya adalah tujuan Santoso. Sebelum benar-benar menghadapinya. Tapi Rain tidak memiliki kekuasaan yang cukup untuk menghadapi Santoso.
Pemuda itu lagi-lagi menghela napas kasar, menemukan jalan buntu. Hingga pada akhirnya bergumam sendiri,"Haruskah aku meminta pertolongan ayahku yang narsis?" gumamnya.
"Kamu punya ayah!?" tanya Ferdy mengenyitkan keningnya.
"Tidak aku lahir dari batu..." jawab Rain kesal.
"Owh..." tanpa di duga hanya itulah kata-kata yang keluar dari mulut Ferdy mengingat imajinasi tingkat tinggi dari tuannya yang mengatakan dirinya melintasi waktu.
"Owh? Kamu percaya aku lahir dari batu, seperti kera sakti!! Aku ini lahir dari sel telur ibuku yang dibuahi oleh benih ayahku! Saat mereka merasakan nikmatnya berhubungan! Dasar perjaka lapuk!! Jelas saja aku punya ayah!!" geramnya kembali menatap ke arah jendela.
__ADS_1
Owh, rupanya kamu masih sedikit waras...
Bersambung