
Pasangan yang sama-sama tidak mengenakan sehelai benangpun? Itulah mereka, terdiam di balik selimut putih tebal. Perut Krisan terlihat membuncit, bagaikan gundukan.
Rain perlahan mengulurkan tangannya dengan ragu menyentuh perut membuncit di balik selimut. Gerakan lembut terasa di jemarinya,"Dia menendang..." ucapnya antusias.
Rain yang sama, jika masalah anak dalam kandungannya istrinya, dirinya tidak akan menjaga image lagi. Penyebabnya? Tentu saja, ini adalah anggota keluarga barunya.
Hanya Krisan yang dimilikinya, dan kini ditambah makhluk mungil ini.
"Rain, lebih seringlah mengatakan kamu mencintaiku, agar aku yakin..." pinta Krisan, menyadari satu hal, jika ingatan Rain tentang mengulangi waktu akan menghilang. Mungkin ingatannya juga akan menghilang suatu hari nanti.
Saat itu, jika Rain tidak meyakinkannya mungkin hal yang sama akan kembali terjadi lagi. Akan ada Dara lain yang hadir diantara mereka, menimbulkan keraguan, berakhir dengan perpisahan yang menyakitkan.
Rain terdiam sejenak,"Aku...aku lapar..." ucapnya hendak bangkit, meraih piama berbetuk kimononya.
Namun, tangan Krisan menariknya, ini mungkin kesempatan terakhir yang diberikan Tuhan. Jika hal yang sama terjadi, mungkin dirinya benar-benar akan mati."Jika aku mati, apa kamu baru akan mengatakannya..."
Jantung pemuda itu berdegup cepat. Kematian? Mengapa Krisan membicarakan soal kematian? Kehilangan Krisan? Sesuatu yang tidak dapat diterima olehnya, hanya wanita ini satu-satunya anggota keluarganya...
Air matanya tiba-tiba mengalir."Jangan mengatakan tentang kematian. Kamu tidak akan pernah mati, akan menemaniku hingga tua nanti. Kita akan mati bersama-sama saat cucu-cucu kita telah tumbuh besar..."
Krisan menggeleng, kemudian tersenyum."Tidak akan ada yang tau soal kematian. Setiap detik manusia akan dapat mati, seperti kecelakaan yang kamu alami saat menyelamatkanku dan anak kita. Menjadikan mobilmu sebagai perisai untuk menyelamatkanku..."
"Karena itu kamu tidak akan mati, tidak akan pernah..." ucap Rain berusaha tersenyum, dengan air matanya yang mengalir. Tidak dapat dibayangkan olehnya, jika satu-satunya wanita dalam hidupnya berakhir meninggal.
Wanita itu hanya tersenyum, tepatnya berusaha tersenyum."Jika kamu tidak ingin mengatakannya aku tidak apa-apa..."
Jemari tangan Rain mengepal, tidak tahan menatap wajah yang tertunduk penuh kekecewaan di hadapannya. Pemuda yang menghirup napas."Aku mencintaimu, jangan mati, jangan pernah meninggalkanku. Karena aku ingin mati disaat yang sama denganmu. Hanya kamu yang aku miliki," ucapnya berusaha tersenyum, namun air matanya mengalir tidak terkendali.
Tidak dapat membayangkan bagaimana wajah istrinya mendingin nantinya. Bagaimana jika jazad tanpa jiwa terkubur dalam tanah meninggalkan dirinya. Sesuatu yang sejatinya sudah pernah dialaminya sebelum waktu terulang. Perasaan sakit yang menghujamnya walaupun tidak dapat mengingat segalanya.
"Terimakasih... katakan kamu mencintaiku lebih sering. Agar aku lega..." ucapnya tersenyum, perlahan dua pasang mata itu kembali terpejam. Bibir yang saling bersentuhan, menuntut, berdecap perlahan.
Hingga tautan yang perlahan terlepas."Aku mencintaimu," Rain tersenyum tulus kali ini.
Takdir kematian Krisan yang terhindar karena Rain. Namun kematian dirinya sendiri? Terjatuh dari balkon lantai 9 apartemen, ketika menyelamatkan seorang anak kecil. Dua tahun setelah kematian istrinya, kini tinggal satu setengah tahun.
Apa kematiannya dapat dihindari? Mencegah sesuatu terjadi, bagaikan menggunakan payung dari daun talas. Air yang bimbang entah akan terjatuh ke tempat lain.
"Aku akan menjagamu, Rain tetaplah hidup untukku dan anak kita..." janji Krisan penuh senyuman, kembali memangut bibir suaminya.
***
__ADS_1
Memakai pakaian yang lebih rapi, datang untuk berkunjung, itulah yang dilakukan Sarah. Mulai menekan bel rumah, membawa dua buah paper bag. Wanita yang hanya berusaha tersenyum. Krisan sudah keguguran? Itulah yang dikatakan ibunya. Selama ini dirinya hanya pernah menemui Rain di luar rumah. Berpura-pura tidak sengaja bertemu, namun kali ini dirinya datang ke rumah pemuda itu.
Perlahan pintu dibuka, menampakan wanita yang tengah hamil sekitar 8 atau 9 bulan. Memang dirinya sudah lama tidak pernah bertemu dengan Krisan.
Kesal? tentu saja...
Jemari tangannya mengepal namun wajahnya berusaha tersenyum. Wanita yang tengah hamil besar, mengenakan daster selutut. Dengan beberapa tanda keunguan di lehernya.
"Kenapa kemari?" tanya Krisan menatap padanya.
"Aku hanya ingin membawa oleh-oleh untuk Rain... dia..." kata-kata Sarah pada Krisan terhenti, menatap seorang pemuda menuruni tangga dengan hanya memakai jubah mandinya saja.
Tubuh atletis, wajah rupawan yang masih belum benar-benar kering, serta rambutnya yang basah. Membuat Sarah diam tertegun. Semua yang diinginkannya harus dimilikinya? Itulah prinsip hidupnya yang ambisius.
Tapi apa bisa? Krisan tengah mengandung saat ini dan Rain tipikal orang yang tidak mudah didekati.
"Krisan, aku akan mengantarmu ke rumah sakit hari ini. Sebaiknya suruh tamumu pulang..." kata-kata menusuk dari Rain menatap tidak suka dengan kedatangan Sarah.
"Sarah, ada keperluan apa kemari? Jika tidak penting sebaiknya kamu pulang," ucap Krisan penuh senyuman, mengelus perutnya sendiri.
Kesal? Tentu saja, Irwan mengatakan Krisan telah mengalami keguguran, karena itulah Irwan berhenti berpura-pura menjadi supir pribadi Krisan. Tapi kini? Kandungan yang semakin membesar, dirinya telah dibohongi.
Krisan seharusnya bercerai dengan Rain, kemudian menikah dengan Willy, agar dirinya dapat menikmati segala hal yang dimiliki wanita ini. Dirinya-lah yang pantas untuk seorang Rain. Terbiasa merebut semua yang dimiliki Krisan dari kecil, tempat tidur, pakaian, perhiasan, bahkan lemari, semua hal berpindah ke kamarnya. Dirinya kini menginginkan Rain, dan harus mendapatkannya.
"Aku ingin bertemu dengan Rain, menurutku kalian bukan pasangan yang cocok. Seorang pengusaha dengan manager hotel, sama sekali tidak sepadan..." ucapnya terus terang.
Ferdy yang baru datang untuk menjemput Rain, mendorong Sarah yang menghalangi jalan. Kemudian menghela napas kasar, menatap majikannya yang bahkan masih memakai jubah mandi, sedikit melirik ke arah Krisan yang kelihatannya juga belum bersiap-siap.
"Br*ngsek!" pekik Sarah hampir terjatuh.
"Tuan sebaiknya cepat-cepat bersiap untuk ke rumah sakit. Agar kita tidak terlambat ke acara pembukaan pusat perbelanjaan," ucap Ferdy penuh senyuman, tidak mempedulikan keberadaan Sarah.
"Kamu membuatku terjatuh!! Aku..." kata-kata Sarah disela.
"Ferdy usir dia!" perintah Rain sembari berjalan menuju lantai dua.
"Baik..." Ferdy menarik tangan Sarah secara paksa namun wanita keras kepala itu memegang pintu.
"Aku tidak mau pergi!" ucapnya.
"Kamu harus pergi!" tegas Ferdy.
__ADS_1
Krisan menghela napas kasar, ikut naik ke lantai dua guna bersiap-siap. Matanya sedikit melirik ke arah Sarah, wanita yang bertambah ambisius di bandingkan ketika masih muda.
Apa yang akan terjadi padanya? Tidak akan ada yang tau tentang masa depan. Namun perlahan Krisan menyadari satu hal. Prilaku wanita ini benar-benar tidak wajar, bukan seperti Willy yang lebih tenang. Atau Dara yang tidak mengatakan terang-terangan menginginkan Rain.
Mungkin situasi akan lebih sulit nanti...
***
Hari ini mobil kepolisian tiba, setelah Jacob melaporkan segalanya.
Hukuman yang menjerat Santoso mungkin hanya beberapa bulan, dirinya juga harus mengembalikan uang hasil penggelapan dananya terhadap perusahaan almarhum Zoya.
Baju tahanan kini dikenakannya. Ina dan Wawan? Hanya dua orang itu yang biasa menjenguknya. Sedangkan Willy, kini sementara tidak dapat menemui ayahnya. Mengingat mertuanya yang seorang politisi. Menunggu dengan sabar pemberitaan tentang Santoso mereda, barulah dirinya dapat menemui ayahnya, agar citra mertuanya tidak tercoreng.
Namun tanpa di duga, hari ini Sarah datang sendiri menemui ayahnya. Bangkrut? Tidak, masih banyak aset yang dimiliki Santoso. Hanya sebagian kecil hartanya yang disita.
Seorang anak yang menemui ayahnya tanpa membawa buah tangan."Ayah kenapa uang bulananku tidak di transfer!?" tanyanya dengan nada tidak suka.
"Kamu sudah cukup dewasa untuk bisa bekerja..." jawaban dari Santoso acuh.
"Ayah! Keperluanku banyak! Ayah tidak bisa menghentikan uang bulananku tanpa ijin!! Ayah juga kan yang membiarkan Willy tinggal di rumah mertuanya!? Ayah aku ingin Willy bersama dengan Krisan, dan aku dengan Rain! Apa ayah tidak memikirkan kebahagiaanku!?" bentak Sarah.
"Apa kamu pernah memikirkan kebahagian Willy!? Willy selalu mengalah padamu!! Dia hanya ingin kembali pada istrinya, apa itu salah!?" Santoso tersenyum menatap wanita di hadapannya. Putri? Sarah bukanlah putrinya, anak hasil perselingkuhan yang dimanjakannya. Diperlakukan layaknya tuan putri. Bahkan terkadang mengorbankan kebahagiaan putra kandungnya.
Semua hanya karena hasutan Morena. Santoso menghela napas kasar, berusaha menetralkan emosinya. Tidak ingin mengungkapkan bahwa wanita di hadapannya hanyalah putri seorang supir.
Pria yang masih sedikit memiliki rasa kasih pada wanita di hadapannya.
Namun...
Plak...
Sarah berdiri dari tempatnya duduk menampar pria di hadapannya."Kenapa ayah berubah!? Kita akan bertambah kaya jika aku menikah dengan Rain!! Ayah juga dapat mengendalikan Krisan!! Mengambil semua miliknya,"
Tangan Santoso mengepal, mulai tertawa ganjil, mungkin ini semua karma. Seorang putri mengerikan yang haus akan harta, putri yang bahkan bukan darah dagingnya.
"Aku tidak ingin mengatakan ini. Tapi kamu yang memancingku. Mulai sekarang hanya Willy anak kandungku dan Wawan anak sambungku yang merupakan keturunanku..." ucap Santoso, masih setia duduk menatap Sarah penuh senyuman.
"Apa maksud ayah?"
Bersambung
__ADS_1