Ketika Istriku Menyerah

Ketika Istriku Menyerah
Cincin Untuk Istriku


__ADS_3

Sakha menghela napas kasar, menatap remeh pada mantan istrinya,"Walaupun menemukan alamat panti asuhannya, kamu tidak menemukan keberadaannya kan? Jika kamu sudah menemukannya maka sekarang kamu sudah membawa Randy kemari untuk membujukku,"


"Randy sedang berada di luar kota, jika kamu ingin menemukannya..." kata-kata Melani terhenti, Sakha berjalan mendekatinya, melangkah melewatinya. Kemudian memeluknya dari belakang.


"Jika kamu bisa membawa putraku ke hadapanku. Kita kembali, aku tidak ingin hanya kata-kata, tapi juga bukti, melihat wajah putraku yang masih hidup dengan mata kepalaku sendiri..." bisiknya, tersenyum di telinga Melani.


Sudah 20 tahun, menyewa detektif, datang menelusuri sekolah dasar, menengah pertama, menengah atas, bahkan universitas hanya untuk mencari informasi orang yang memiliki nama dan usia yang sama dengan putra tunggalnya. Tapi tidak ada hasil sama sekali, hingga kini.


Terdiam dengan rasa bersalah dan putus asanya seorang diri. Mengingat anak yang tersenyum ketika dirinya menggunakan mangkuk besar untuk mencukur rambut putra tunggalnya, seorang diri. Memakan nasi putih sepiring berdua berlaukkan garam.


Tapi kini ada harapan kecil untuk menemukan putranya. Wanita ini tidak akan dilepaskannya, hingga dirinya kembali bertemu dengan putra tunggalnya. Setelahnya terserah dirinya akan melakukan apa bukan, membuangnya? Menikahinya tapi tidak pernah menganggap keberadaannya, atau lebih buruk lagi membeberkan semua niatnya pada Ari.


Jangan bermain-main dengan jiwa pendendam Sakha. Putra tunggalnya, yang harus diusir ibu kandungnya, anak yang phobia terhadap *njing dibiarkan sang ibu menangis kesakitan dengan luka gigitan di tubuhnya. Tidak akan dibiarkannya begitu saja. Melani yang bodoh, seharusnya bersyukur, Sakha pernah sempat melupakan perasaan sakit yang dipendamnya.


"Bagaimana?" bisiknya, membuat keseimbangan tubuh Melani bagaikan menghilang. Sakha 20 tahun lalu, berbeda dengan saat ini, bentuk tubuh yang atletis di usianya saat ini, wajah itu masih rupawan bagaikan berusia 30 tahunan. Padahal sejatinya telah menginjak setengah abad.


Kulit yang putih, ditambah dengan perusahaan penerbangan yang dimilikinya. Melani benar-benar menginginkannya.


Sama dengan dahulu ketika menikahinya, calon pilot muda rupawan yang melepaskan cita-citanya untuk menikahi Melani.


Dalam 8 tahun usia pernikahan mereka semuanya berubah, suaminya yang berhenti dari sekolah penerbangan guna bertanggung jawab padanya dan putranya menjadi tukang ojek. Tubuh putih, dengan wajah rupawannya tidak terlihat lagi, tersengat cahaya matahari, tubuh atletisnya menjadi bertambah kurus seiring waktu saat itu.


Saat itulah Ari, sang duda satu anak muncul. Terlihat lebih tampan, memiliki dompet yang lebih tebal. Membuat Melani lupa diri, meninggalkan suami dan anaknya.


Tapi lihat saat ini, perut Ari membuncit, rambut di kepalanya jarang-jarang, berbanding terbalik dengan mantan suaminya Sakha yang jauh bertambah rupawan.


Tidak menyadari, kulit Melani sendiri telah keriput, rambutnya beruban walaupun diwarnai hitam olehnya. Tubuhnya yang dulunya indah telah kendor. Ingin mengejar Sakha? Apa pantas? Entahlah, seharusnya Melani cukup bersyukur dengan apa yang dimilikinya saat ini.


Memiliki Ari, suami yang hampir botak dengan perut buncit. Tapi diberikan kebebasan memakai uangnya, uang yang dipergunakannya untuk menjelajahi tubuh pria muda.

__ADS_1


Mungkin ego dan keserakahannya tidak terima, menginginkan Sakha kembali untuk dimilikinya.


"Aku akan membawa Randy ke hadapanmu," ucapnya tersenyum, berbalik, mengalungkan kedua tangannya pada leher Sakha. Berjinjit hendak mencium bibirnya, namun Sakha mendorongnya.


"Bawa Randy ke hadapanku. Maka aku akan menikahimu, membuatmu menjerit di ranjang setiap malamnya..." ucapnya tersenyum, kembali duduk di kursi kebesarannya. Menghubungi sekretarisnya,"Panggil keamanan, ada wanita gila di kantorku,"


"Sakha, apa maksudmu dengan wanita gila!?" bentak Melani, menatap ke arah mantan suaminya.


"Jika Randy sudah ada di hadapanku dan kamu berjasa membawanya kembali, maka bersiaplah menjadi istriku. Hingga saat itu, kamu hanya wanita gila di mataku..." senyuman menyinggung di wajahnya. Menyalakan komputer di hadapannya, guna mengerjakan beberapa berkas yang dikirim melalui e-mail.


"Aku akan membawa Randy ke hadapanmu!!" ucap Melani, berjalan meninggalkan ruangan Sakha. Membanting pintu ruangan tersebut dengan kencang.


Sakha mengenyitkan keningnya, menatap pintu yang tertutup sempurna,"Dia sudah berubah menjadi tua, menjadi nenek dengan cepat,"


Laci meja kerjanya dibuka olehnya, terdapat cermin yang tidak begitu besar, diangkatnya, menatap penampilannya sendiri."Aku tetap tampan, tidak bertambah tua," gumamnya membanggakan dirinya sendiri.


"Entah dimana Randy sekarang, mungkin dia juga sedang bercermin mengeluh tentang ketampanannya sendiri..." gumamnya.


***


Apakah wajah Sakha dan Randy tidak mirip? Sebenarnya sedikit mirip, hanya saja sang ayah terlalu membanggakan putranya, mengabaikan kemungkinan putranya berganti nama menjadi Rain, bocah tidak tahu sopan santun.


Sedangkan Randy sendiri, memiliki jiwa pendendam seperti ayahnya. Hingga Rain enggan untuk mengakui dirinya, sebagai Randy yang telah berganti nama.


Seperti dugaan Sakha, putranya saat ini, telah selesai berhadapan dengan klien, sedikit melirik pantulan bayangannya yang samar dari kaca tebal tembus pandang.


"Aku memang tampan, sungguh diukir dengan pahat terbaik dari sang pencipta. Tidak ada wanita yang bisa memalingkan wajahnya dariku," gumamnya narsis, bangga dengan penampilannya sendiri.


Hingga pandangannya beralih, hendak menunjukkan pesonanya pada istrinya tersayang.

__ADS_1


Tapi naas, cinta tidak berbalas, meja yang ada cukup jauh darinya kosong. Sekretaris dan istrinya menghilang, apa ini perselingkuhan antara istrinya dengan sekretarisnya?


Tidak peduli apapun lagi, Rain melangkah cepat setelah usai membayar. Berjalan mencari keberadaan istrinya tersayang dengan sekretaris br*ngseknya.


***


Beberapa puluh menit yang lalu...


"Jadi ini karena kamu mencemaskan Rain akan berselingkuh?" tanyanya, meyakinkan pendengarannya.


Krisan mengangguk membenarkan,"Tolong katakan padaku jika Rain berselingkuh suatu hari nanti..."


Ferdy menghela napas kasar, mulai berjalan duduk di salah satu sudut atap bangunan. Sedikit melirik cincin pernikahan yang tersemat di jari manis Krisan. Yang mengikutinya duduk disampingnya.


"Kamu percaya, ada orang yang pernah melintasi waktu?" tanyanya ambigu.


Krisan tertunduk diam tidak menjawab, hanya merasakan terpaan angin di rambutnya. Mengepalkan tangannya, menunggu akan kemana arah pembicaraan sang sekretaris.


"Rain sulit didekati, dia tidak memiliki seorang sahabat pun kecuali aku. Pernah ada kalanya dia terpuruk menangis saat hari ulang tahunnya, mengatakan itu hari kematian istrinya. Menggenggam erat sepasang cincin yang menjadi bandul kalungnya," ucap Ferdy ingin bercerita sekilas tentang sahabatnya.


Krisan terdiam, jantungnya berdegup cepat, apa Rain juga mengalami hal yang sama dengannya?


"Lalu?" tanyanya berusaha bertindak senormal mungkin, menyembunyikan luka di hatinya.


"Aku memaksanya menemui psikiater, hasilnya dia tidak menderita gangguan kepribadian atau masalah jiwa apapun. Dia mungkin pandai berbohong, hingga psikiater menganggapnya normal," Ferdy mulai tertawa kecil.


"Aku semakin tertarik dengan ceritanya, yang perlahan ingin jujur dengan imajinasi karangannya. Di kehidupan sebelum waktu terulang dirinya menikahi seorang gadis yang dicintainya, gadis itu bernama Krisan..."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2