
Tubuh lemas, kepala pusing, keringat dingin mengucur deras di dahi dan seluruh tubuhnya. Itulah yang Bimala rasakan saat ini. Bibirnya begitu pucat.
“Ayo sekarang makan, jangan menangis. Tubuhmu sangat lemah.” Arex menyuapi sang istri usai melerai pelukannya.
Patuh, Mala menuruti dan memakan semua suapan dari sang suami.
Selesai makan, minum, dan minum obat, Arex mengusap dahi wanita itu dengan tisu. Tak ada percakapan sama sekali di kamar itu. Arex tahu jika Mala terus menatap wajahnya sedari tadi. Namun, ia memilih fokus untuk kesembuhan sang istri.
“Maaf,” satu kata yang terucap dari bibir Mala saat itu dan seketika menghentikan gerakan tangan Arex.
“Tidak ada yang perlu di maafkan,” sahut Arex singkat.
Pelan Arex merebahkan tubuh Bimala di tempat tidur. Selimut pun ia letakkan dengan pelan di tubuh sang istri tak lupa beberapa bantal ia letakkan di sisi kiri dan kanan sang istri agar memberikan kenyamanan.
“Rex,” tangan Mala menggenggam pergelangan tangan sang suami.
“Aku salah, sudah kasar dan tidak menghargai kamu. Boleh kamu memaafkan ku?” tanyanya dengan suara lemah.
Arex terdiam untuk beberapa saat hingga pria itu menghela napas kasar.
“Ibu sudah berlaku seperti ini padamu. Itu jelas salah besar, terlebih sudah mengarahkan seorang anak ke jalan yang salah dengan menganggap pernikahan seperti mainan. Bisakah kita tinggal menjauh dari Ibu?” Mendengar penuturan Arex, Bimala mendadak terdiam kikuk.
Ia tidak mungkin jauh dari sang Ibu. Bagaimana pun wanita paruh baya itu adalah orang yang sudah melahirkannya dan selalu menjadi garda terdepan untuknya ketika ada apa-apa.
“Maaf, aku tidak bisa. Pergilah, aku ingin istirahat. Karena besok kerjaanku sangat banyak di kantor.” ujar Bimala bergerak membelakangi tubuh Arex yang duduk di sisi tempat tidur.
Sudah Arex duga, berat untuk Mala menentang sang ibu. Ia pun sadar, dirinya adalah orang baru di kehidupan Mala. Tidak cukup hanya beberapa hari menjadi suami perhatian lantas meluluhkan hati wanita keras seperti Mala.
“Baiklah, sebaiknya istirahat. Karena sore ini aku yang harus menjaga Ayah di rumah sakit sampai besok. Segeralah sembuh.” tutur Arex berdiri menatap punggung sang istri.
“Jangan lupa minum obat.” ujarnya lagi kemudian menutup jendela kamar dan turun ke bawah dengan tangga yang masih di pegang oleh Bi Lala.
“Aduh Tuan, tangan Bibi kesemutan lama sekali di atasnya.” keluh Bi Lala bernafas lega.
__ADS_1
“Maaf, Bi.” respon Arex yang hanya berwajah datar.
Pria itu berjalan menuju kamarnya dan membersihkan diri. Setelah membersihkan diri, ia pun memesan ojek online untuk mengantarkannya menuju rumah sakit.
Tak butuh waktu lama, Arex tiba di rumah sakit dan kini ia sudah mengetuk pintu ruangan ayah mertuanya.
Tok tok tok
“Masuk!” Suara wanita dari dalam yang tentu Arex tahu siapa pemiliknya.
Saat pintu terbuka, tatapan sinis pun Arex dapatkan. Wanita paruh baya itu mencebikkan bibirnya kala melihat Arex.
“Seharusnya kamu datang setengah jam lalu.” gerutunya dengan kesal. Bagaimana tidak, ia sudah berpenampilan rapi dan modis harus menunggu lama sang menantu menjaga suaminya yang baru saja terlelap setelah minum obat.
“Maafkan saya, Bu.” tutur Arex apa adanya. Pria itu hanya diam saat melihat Sari melewatinya dengan wajah angkuh.
Seperginya wanita itu, Arex memutuskan untuk duduk di sisi ranjang sang mertua.
“Ayah, Ibu sudah pergi.” ujar Arex yang tahu jika pria di hadapannya kini hanya pura-pura tidur.
Arex terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. “Huh Ayah ini ada-ada saja. Hitung-hitung menjaga kesehatan Yah, makan makanan rumah sakit. Kan menu sehat. Yasudah, Ayah ketik saja mau makan apa saja. Setengah jam semua akan datang.” tutur Arex yang tertawa bahagia.
Dengan gerakan cepat, Wijaya sudah mengetikkan banyak menu di ponsel sang menantu dan terkirim pada kontak bernama Luna. Tentu, Wijaya tahu betul siapa wanita itu, ia adalah sekertaris Arex yang di percayakan mendampingi asisten Arex saat ini menghandle pekerjaan yang Arex alihkan pada mereka.
“Bagaimana, Arex? Apa ada hal yang menjadi titik terang perjuanganmu?” Pertanyaan Wijaya membuat Arex mengangguk dan tersenyum.
“Tanpa bantuan dari Ayah, nyatanya Arex bisa mendapat pelukan Mala.” Senyuman tersungging di wajah pria tampan itu. Wijaya bahkan menggelengkan kepalanya heran.
“Arex Arex, Ayah benar-benar bingung. Kamu pria yang sempurna. Tapi kenapa sampai bisa jatuhnya pada anak Ayah yang tidak seberapa itu? Bahkan dengan jalan seperti ini lagi? Ayah tidak bisa sampai pada pikiran mu, Arex. Ayah ingin membantu pun, kau tidak setuju. Hanya cara ini saja yang kau setuju.” Wijaya geleng-geleng kepala heran.
“Yah, semua tantangan di luar sana sangat mudah Arex taklukkan. Maka dari itu Arex ingin mendapat tantangan untuk urusan hati dengan sesuatu yang lebih seru. Setidaknya, Arex bisa menguji kesabaran untuk istri Arex itu.”
Keduanya pun tanpa sadar oleh waktu terus berbincang hingga makanan Wijaya pun berdatangan.
__ADS_1
Arex bahkan tak ingat lagi tentang sang istri yang berada di rumah.
Jam dinding menunjukkan angka sepuluh malam. Kedua mata Mala terbuka kala mendengar pintu kamarnya terbuka dari luar.
“Ibu,” Mala terduduk lemas menatap Sari yang baru pulang.
“Bi, taruh makannya. Kalau perlu suap Mala. Saya harus mandi dan istirahat.” Melihat wajah dingin sang ibu, Bimala takut. Ia berlari turun dari tempat tidurnya dan mengejar sang Ibu.
“Bu, jangan marah sama Mala, Bu. Mala sakit, Bu.” Tangis wanita itu memohon.
Seperti apa pun kejamnya Sari, wanita itu tentu tersentuh hatinya melihat Bimala yang keadaannya seperti saat ini.
Ia pun menggenggam tangan sang anak. “Mala, kamu mau mendengar Ibu kan?” tanyanya dengan lembut.
Cepat Bimala mengangguk patuh. “Bu, Mala tidak pernah membantah dengan Ibu.”
Keduanya berjalan kembali ke kamar Bimala dengan Sari yang memapah tubuh sang anak. Bimala ia baringkan dan Sari memilih duduk di sisi tempat tidur sang anak.
“Dia pria yang tidak jelas asal usulnya, Mala. Bisa saja dia terlihat baik sama kita, tapi kita tidak tahu niatnya apa? Dia tiba-tiba datang, ayah kamu sakit, dan meminta kalian menikah. Itu hal yang sangat mengganjal hati Ibu. Kamu satu hari menikah dengannya langsung berubah. Bagaimana Ibu tidak marah?” Perlahan Bimala pun merenungkan ucapan sang ibu.
Matanya menatap sayu ke arah sang Ibu. “Iya, Bu, Mala salah. Dia laki-laki asing yang tidak tahu baik atau tidaknya.” jawabnya lemah.
“Ibut tidak akan mudah setuju dengan pernikahan kalian. Karirmu saat ini sedang bagus, Mala. Ibu tidak mau karena pria asing itu, semuanya hancur. Fokus dengan karir kamu, Bimala.”
Setelah perbincangan keduanya, akhirnya semalaman itu Sari terjaga mengurus sang anak dengan sangat telaten. Ia ingin Bimala segera sembuh agar tidak di manfaatkan oleh sang menantu dengan memberikannya perhatian lagi.
Makanan, minum obat, dan pijatan Mala dapatkan semuanya dari sang ibu hingga ia benar-benar terlelap dengan nyaman kala itu.
Di sini, di rumah sakit. Wijaya yang baru saja terlelap karena kekenyangan masa bodoh dengan sikap Arex yang uring-uringan karena rindu dengan sang istri.
“Huh lama sekali pagi. Mala sudah tidur belum yah? Apa dia sudah makan dan minum obat? Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengannya?” Berbagai pertanyaan khawatir terus ia gumamkan malam itu.
***
__ADS_1
Hai hai author kembali dengan menyapa kalian. Maaf yah jika slow update. Karena author sibuk sekali. Mohon dukungannya yah, kalau komentarnya lebih dari 5 author akan langsung update nih.