Ketulusan Sang Dewa

Ketulusan Sang Dewa
Menantu Limited Edition


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama setelah beberapa bulan Sari dan sang suami berada di negara singa itu. Rumah sang menantu yang megah tentu sangat memanjakan matanya. Senyuman merekah di wajah mereka semua saat memasuki rumah. Tampak beberapa pelayan menyambutnya di depan pintu.


"Bu, kamar Ibu dan Ayah sudah kami renovasi. Semoga betah yah, Bu." Arex mengatakannya dengan tenang.


Sari bahkan sampai menggeleng tak percaya mendengarnya. Sebegitu besar harapan sang menantu untuknya berada di rumahnya kali ini.


"Rex, seharusnya tidak perlu repot seperti ini. Ibu sudah pasti betah tinggal di sini. Rumah sebesar dan semewah ini sudah sangat nyaman tidak perlu di renovasi lagi. Apalagi untuk Ibu dan Ayah..." Sari sungguh merasa sangat tidak enak pada sang menantunya.


Sayangnya Arex tak menanggapi dengan serius. Ia hanya tersenyum sedikit dan membalas ucapan sang mertua. "Itu hal yang tidak seberapa untuk ibu dan ayah. Semoga berikutnya Arex dan Mala bisa membuat kalian menjadi orangtua yang paling bahagia, Bu." tuturnya yang membuat Sari tak sanggup mengatakan apa pun lagi.


Dengan bangganya Wijaya bersuara. "Bagaimana, Bu? Menantu pilihan Ayah limited edition kan?" goda Wijaya pada sang istri yang membuat Sari tersenyum malu-malu.

__ADS_1


Bimala yang sejak tadi hanya diam di sisi sang suami sampai terharu mendengar setiap kata yang keluar dari mulut sang suami.


"Terimakasih yah, Rex." tuturnya menggenggam tangan sang suai.


Arex menggeleng. "Jangan berterimakasih, justru aku yang meminta maaf. Selama menjadi suamimu aku belum bisa membuatmu bahagia seperti pria pada umumnya yang sangat romantis." Arex sadar dengan pernikahan mereka selama ini Bimala belum pernah mendapatkan kejutan yang mengharukan dan membahagiakan darinya.


Tanpa berkata-kata Bimala tak bisa menahan diri lagi untuk tidak memeluk tubuh sang suami meski di depan kedua orangtuanya.


Tanpa terasa air mata Bimala jatuh dan meresap di baju milik sang suami. Hingga pada akhirnya kini Arex mengusap lembut rambut sang istri.


"Arex, Mala, lanjutnya di kamar saja yah. Ibu sama Ayah duluan." teriakan dari Sari membuat Arex dan Bimala sadar jika ternyata mereka di tinggal sang orangtua ke kamar.

__ADS_1


"Ayah, Ibu!" Bimala mengerucutkan bibirnya melihat pintu kamar yang sudah tertutup rapat.


Di ruangan tengah rumah luas ini, Arex dan Bimala kembali mengeratkan pelukan mereka dan tersenyum bersama.


"Benar kata Ibu. Sepertinya kita lanjutkan di kamar saja." bisik Arex yang membuat wajah Bimala mendadak merah gelap. Lantaran kulit wajahnya yang tak begitu putih di tambah masa kehamilan yang semakin hitam, kini memunculkan rona malu di wajahnya.


Tanpa aba-aba terdengar teriakan Bimala di ruangan itu saat tubuhnya sudah melayang di udara sebab sang suami menggendongnya menuju kamar ala bridal style.


Kini di dalam kamar dua pasangan yang tak lagi muda, dua pasang mata mereka memperhatikan setiap sudut kamar yang sudah di desain dengan begitu mewah dan menyegarkan mata. Beberapa vas bunga terletak di kamar itu juga.


"Arex benar-benar tidak tanggung-tanggung mempersiapkan kamar kita, Ayah?"  celetuk Sari menatap kagum sembari beberapa kali berdecak.

__ADS_1


"Yah begitulah menantu yang terdzolimi, Bu." sahut sang suami yang membuat mata Sari termanjakan jadi melotot kesal mendengarnya.


__ADS_2