Ketulusan Sang Dewa

Ketulusan Sang Dewa
Kesedihan Arex


__ADS_3

Sebuah rumah sakit swasta menjadi tempat tujuan Arex melangkah keluar dari mobil saat ini. Seorang wanita yang tak kalah tergesa berjalan pun berada di sisinya.


“Mal, pelan-pelan. Nanti kau terjatuh.” Arex menggenggam tangan Bimala yang hendak berlari seakan berjalan membuatnya tak bisa sampai di tempat tujuan.


“Rex, ibuku skarat. Bagaimana bisa aku berjalan perlahan.” lawan Bimala sedikit emosi.


Arex pun hanya diam tak ingin menambah rasa kalut pada sang istri.


Beberapa saat ketika melewati beberapa ruangan, tampak sosok Tuan Wijaya yang berdiri bolak balik sembari memijat kepala dan berpindah mengusap wajah kasar.


“Ayah!” Seketika Bimala yakin hal buruk menimpa sang ibu. Ini benar nyata bukanlah mimpi.


Tuan Wijaya menoleh ke sumber suara. “Bimala,” Suara serak Tuan Wijaya ketika menatap kehadiran sang anak yang berlari.


“Ayah, bagaimana Ibu?” Arex bertanya lebih dulu dari Bimala. Karena Bimala saat ini sudah syok lebih dulu memeluk tubuh Tuan Wijaya.


Air mata pun menetes di kedua pipi Tuan Wijaya. Ia menunduk sedih saat ingin menjawab pertanyaan sang menantu.


“Ayah sedang bertelepon pada ibumu. Tapi saat itu, kami sedang bertengkar. Padahal Ayah hanya berniat mengerjai Ibumu agar segera pulang. Tapi, Ibumu yang mengamuk di jalanan membuat supir di depan tidak fokus dan hilang kendali hingga tabrakan dengan mobil yang dari arah lain.” Tuan Wijaya sungguh menyesal telah membuat istrinya kebakaran jenggot.


Ia tak menyangka semua menjadi masalah besar seperti ini.


“Ayah melacaknya dan meminta bantuan polisi. Mereka segera menghubungi petugas terdekat. Dan di sinilah sekarang…”

__ADS_1


“Maafkan Ayah, Mala.” Bimala menggeleng menangis.


Mereka kini berada di depan ruang IGD.


“Ayah, jangan khawatir. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Kita tunggu keterangan dokter setelah ini.” Arex yang seperti biasa tetap berusaha tenang.


Baginya rumah sakit yang saat ini merupakan rumah sakit kecil tipe C memanglah kurang pas untuk menangani hal besar, karena bisa di pastikan peralatan dan lainnya kurang memadai. Tapi, kembali lagi pada kondisi kritis sang mertua, tidak memungkinkan dirinya untuk mengambil tindakan memindahkan dang mertua.


“Arex usahakan setelah semuanya bisa di tangani, kita akan pindah rumah sakit, Ayah.” tuturnya tegas.


Tuan Wijaya hanya bisa menurut apa kata sang menantu. Ia percaya Arex memiliki kemampuan untuk mengatasi hal ini.


“Bimala, duduklah. Ibu pasti baik-baik saja. Jangan terlalu membuatmu lelah, aku tidak ingin kau sakit.” tutur Arex.


“Ayo, Nak.” ucap Tuan Wijaya membawa Bimala duduk setelah melihat respon anaknya pada Arex acuh.


“Ayah, Arex harus menghubungi seseorang dulu.” tuturnya pamit dengan sopan.


Tuan Wijaya yang matanya merah, kini mengangguk mengijinkan sang menantu pilihannya pergi.


***


Lorong yang sepi membuat Arex leluasa menghubungi seseorang yang tak lain adalah kepala rumah sakit miliknya.

__ADS_1


“Halo Tuan Arex, wah suatu kehormatan besar anda menghubungi saya. Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” Sapaan hormat dengan senyuman yang tak terlihat membuat Arex langsung menjawab to the point.


“Saya minta dokter terbaik, mertua saya kecelakaan. Tidak memungkinkan jika saya membawanya keluar dari rumah sakit ini. Anda bisa hubungi segera pihak rumah sakit ini untuk menanyakan detail yang di butuhkan. Layani dengan baik.” tutur Arex langsung di sanggupi kepala rumah sakit.


“Baik, Tuan. Segera meluncur ke tempat.” jawabnya.


Panggilan pun terputus kala itu. Arex pun berjalan kembali menuju tempat dimana istrinya berada saat ini.


Bimala sangat sedih, Arex harus bisa menenangkannya.


Di saat yang bersamaan pula kedatangan Arex, pintu ruangan pun terbuka dan nampaklah sosok dokter.


“Dokter, bagaimana Ibu saya?” Bimala bergerak cepat menghampiri sang dokter.


“Mohon maaf, keadaan pasien saat ini masih belum sadar. Tekanan darahnya pun meninggi. Kami masih berusaha menormalkannya. Dan…kakinya seperti mengalami hal yang serius karena lukanya cukup parah. Kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan setelah menunggu pasien sadar.” Bimala, Tuan Wijaya, dan Arex sama-sama kaget mendengarnya.


“Ibu, Ayah…” tangis Bimala takut sesuatu yang di pikirannya benar terjadi.


“Dokter, usahakan apa pun untuk istri saya. Saya mohon.” ucap Tuan Wijaya.


“Tuhan, berikan kesembuhan pada mertua saya. Berikan kesembuhan yang ajaib dari Mu Tuhan. Jangan biarkan hati istri saya terluka seperti ini lebih lama lagi. Saya tidak akan kuat melihatnya.” ucap Arex dalam hati merasa hatinya di iris-iris sangat sakit.


Matanya menatap nanar sang istri, yang menyakitkan lagi dalam keadaan seperti ini pun Bimala sama sekali tidak ingin membagi kesedihannya pada dirinya. Arex merasa menjadi suami yang gagal tak bisa menjadi sandaran ketika Bimala terpukul.

__ADS_1


“Bimala, tidakkah kau sudi bersandar padaku? Aku akan sangat tulus memberikan mu ketenangan, Mala.” tatapan nanar dari Arex tak ada yang melihatnya.


__ADS_2