
Kegelisahaan kian mendera perasaan Arex saat ia mendengar penjelasan sang dokter.
“Nona Susan sebelumnya telah menjadi pasien saya, Tuan. Tetapi beberapa waktu terakhir ia saya sarankan keluar negeri untuk melakukan pengobatan lebih intensif. Karena penyakit gagal hati yang begitu bahaya. Dan Nona Susan setuju, karena peralatan di luar lebih lengkap.” tutur sang Dokter yang jujur dengan keyakinannya di luar negeri.
Seketika Arex menampakkan matanya yang berembun.
“Saya tidak menyangka, Dokter. Kalau dia pergi karena penyakit.” sedih Arex meratapi kebodohannya.
Dokter mengangguk paham. Ia tahu, kebanyakan dari orang yang memiliki penyakit sangat tidak ingin orang di sekelilingnya merasakan kesedihan dan kecemasan itu.
“Tetapi, Tuan tidak usah khawatir. Nona Susan sudah mendapatkan penanganan serta pendonor hati yang tepat. Keadaannya saat ini hanya karena belum pulih seratus persen. Nona Susan hanya butuh istirahat untuk pemulihan dan ketenangan.” Lanjut Dokter menjelaskan.
Setelah bertemu dengan Dokter, kini Arex kembali berjalan menuju ruangan dimana wanita yang dulu selalu menjadi penghias harinya kini terbaring menutup kedua matanya.
“Maafkan, aku Susan. Hati ini sudah memiliki tempat. Aku berharap kesembuhan yang baik untukmu. Dan kelak kau akan bahagia dengan pria lain.” batin Arex sembari menatap wanita di depannya.
__ADS_1
Tanpa ia tahu jika saat ini di perusahaan Bimala begitu gelisah.
“Ah sudahlah aku bawa berkas sembarang dulu. Dari pada kecolongan. Awas saja kalau Arex berselingkuh. Jangan pikir dia kaya dan punya segalanya bisa menindas aku yah?” umpatnya menggeram kesal dan melangkah menuju ruangan Arex, sang suami.
“Bimala? Ada apa? Tuan Arex tidak ada di dalam.” cegah Luna yang saat itu kebetulan berada di luar ruangan sang atasan.
Sontak, Bimala gelagapan karena takut ketahuan jika ia ingin memergoki sang suami. Terlebih saat ia mendengar sang suami tak ada di ruangannya.
“Apa! Arex, em maksudku Tuan tidak ada di ruangannya? Memang kemana? Bukankah tadi ada wanita yang datang padanya? Lalu dimana mereka sekarang?” Pertanyaan beruntun Bimala lontarkan tanpa jeda.
Bimala gugup. “Eh tidak-tidak. Nanti saja, sepertinya aku harus merevisi beberapa bagian. Kapan Tuan kembali? Mungkin akan segera ku perbaiki.” Bimala masih penasaran kemana sang suami pergi kini.
Luna tersenyum dalam hati. “Wah ada yang cemburu buta sepertinya?” ucapnya dalam hati.
Jelas, wajah dan ekspresi Bimala tak bisa di bohongi. Wanita itu seperti kebakaran jenggot kala mengetahui sang suami berada di luar kantor bersama wanita lain.
__ADS_1
“Yasudah. Tidak ada perlu lagi kan? Kembali ke ruangan.” pintah Luna dan Bimala mengangguk patuh.
Meski sebenarnya langkahnya begitu berat rasanya.
Setiba di ruangan, Bimala menghempaskan map yang ia bawa sebagai alasannya tadi.
“Aku harus telepon Arex. Yah, aku harus menelponnya.” ucapnya buru-buru meraih ponsel.
Ketika panggilan terus terdengar memanggil, kekesalan Bimala semakin memuncak kala tak kunjung mendapatkan jawaban.
Sekali lagi ia menelpon melalui panggilan video kali ini. Hasilnya masih sama nihil. Sungguh, Bimala sangat geram. Berbagai pikiran buruk mulai berterbangan di kepala wanita itu.
“Ahh enggak. Aku adalah istrinya. Arex mencintaiku. Tidak. Tidak mungkin dia selingkuh kan?”
Bimala yang tidak bisa fokus berkerja memilih duduk di kursi dan menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan.
__ADS_1