
Sesuai pemilik keputusan, pagi ini Arex menegaskan jika sang mertua akan tetap berada di Singapur sampai pengobatan usai.
“Bu, semua akan aman. Saya jamin itu, wanita itu tidak akan pernah Arex ijinkan menyentuh seujung kuku pun Ibu. Sekarang Ibu harus fokus dengan penyembuhan saja. Jangan buat kami kecewa, Bu.” Sari terdiam mendengar ucapan sang menantu.
Hingga sarapan usia, mereka bergegas menuju rumah sakit tempat Sari akan melakukan terapi. Arex tentu sudah mengurus semuanya.
Hari itu pemeriksaan hingga terapi berjalan selama kurang lebih tiga jam. Dan Arex membawa mereka kembali pulang. Ia tak ingin sang mertua kelelahan di masa penyembuhannya.
“Kita langsung pulang, Rex?” Bimala bertanya pada sang suami. Ia pikir Arex akan membawa mereka ke tempat lain dulu.
Sayangnya Arex menyuruh supir kembali ke rumah. “Keadaan Ibu masih butuh istirahat dan pemulihan. Kita harus pulang, Mal. Nanti jika Ibu sudah sembuh, kemana pun kalian mau kita akan pergi.” Senyum bahagia terbit di wajah Bimala serta kedua orangtuanya.
Mereka pun dengan senang hati pulang ke rumah untuk menikmati kebersamaan keluarga itu.
Jika Sari di antar ke kamar untuk istirahat oleh Bimala, lain halnya dengan dua pria yang kini memilih untuk duduk dengan catur yang berbaris rapi di meja depan mereka masing-masing.
__ADS_1
“Terimakasih, yah Rex.” Ucapan Tuan Wijaya membuat Arex menatap pria paruh baya di depannya.
“Ayah, atas apa?” tanya Arex bingung.
Tuan Wijaya terkekeh, kemudian ia melepas kaca matanya.
“Menantu pilihan Ayah yang tepat. Ayah rasanya ingin berteriak memamerkan menantu pilihan Ayah.” Arex tersenyum menggelengkan kepala mendengar pujian sang mertua.
Inilah yang ia suka dari Tuan Wijaya. Pria yang selalu membuatnya merasakan sosok papah. Hangat dan ceria. Arex menyayangi Tuan Wijaya seperti ayahnya sendiri.
Pengobatan dan segala kebutuhan Sari saat itu hingga kini menginjak waktu dua bulan lamanya akhirnya sedikit menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Meski hanya satu minggu Arex dan Bimala menemani mereka di Singapur, tak membuat penjagaan lengah. Banyaknya orang yang Arex perintah untuk mengawasi rumah di Singapur membuat sosok wanita paruh baya dengan penampilan elegan itu akhirnya menyerah untuk masuk ke rumah itu lagi.
“Huh benar-benar sulit kalau begini. Sudahlah sebaiknya aku tunggu saja si Sari sampai sembuh. Enak saja lari dari janji begitu saja.” umpatnya menggerutu kesal sembari melajukan mobil kembali pulang.
__ADS_1
Pagi yang cerah di negara yang berbeda, Indonesia.
Samar-samar Arex mendengar suara yang tak asing di kamar mandi seperti kesakitan.
“Mala, ada apa yah? Masih pagi sekali lagi.” batinnya seraya menatap jam dinding di kamar besar miliknya.
“Astaga, Bimala!” Arex terlonjak kaget saat mendapati sang istri membuka pintu kamar mandi seusai mengeluarkan seluruh isi perutnya lalu jatuh pingsan di depan pintu kamar mandi.
“Mal, sabar bertahanlah. Kita ke rumah sakit.” Arex panik segera menggendong sang istri membawanya ke mobil. Tak perduli dengan pakaian piyama yang menempel di tubuhnya saat itu.
Dengan kantuk yang tiba-tiba hilang, kini Arex melajukan mobil penuh rasa cemas. Di sampingnya sang istri sudah nampak pucat. Bayangan berbagai macam penyakit menyerang pikirannya saat mengendarai mobil pagi yang cukup padat itu.
“Mal, aku mohon tetaplah baik-baik saja. Jangan buat pengorbananku harus kembali berjuang mempertahankanmu untuk di sisiku. Jangan pernah meninggalkan aku, Mal.” Sepanjang jalan Arex terus memohon dalam kecemasannya.
Maafyah kak, bab lanjutannya lama banget. Dari pihak Noveltoonnya yang lama review sampai semalaman. Mau di lanjut update takutnya numpuk. Ini pertama kali saya alami sampai sehari semalam nggak di review.
__ADS_1