
Rasa lelah yang menyerang di tubuh besar milik Arex kini membuat wajah pria itu tak sanggup lagi bersuara lantang saat memasuki rumah megahnya. Langkahnya yang lemas di sambut dengan senyuman lebar di wajah wanita paruh baya.
"Rex, baru pulang? Ayo masuk. Biar Ibu bantu bawa yah?" Sari dengan lembutnya meraih tas kerja sang menantu. Serta Arex yang mencium punggung tangan sang mertua.
Kini pria itu hanya berjalan menuju kamar. "Bimala di kamar baru saja mandi. Ibu siapkan makan malam dulu yah?"
Arex tersenyum. "Terimakasih, Bu. Sebaiknya Ibu istirahat saja pelayan sudah cukup, Bu." titahnya tak tega jika sang mertua sampai bekerja terlalu lelah.
Sungguh Sari tak menurut, ia sangat merasa bersalah lantaran kejadian siang tadi. Di tatapnya punggung sang menantu yang berjalan menjauhinya.
"Mala keterlaluan. Tas itu harus aku jual lagi, tapi bagaimana bisa mendapatkan harga semahal itu? Kasihan Arex." gumamnya kini menyesal mengingat bagaimana Bimala dengan mudahnya membayar tas dengan harga tiga kali lipat.
Ia pun menata beberapa makanan di meja makan tanpa henti memikirkan cara apa yang harus lakukan demi mengembalikan harga tas yang tidak masuk akal barusan.
Di dalam kamar, Arex menatap tubuh sang istri yang baru saja muncul di pintu kamar mandi. "Rex, sudah pulang? Maaf..." wanita itu tak sempat melanjutkan ucapannya kala sang suami sudah lebih dulu bersuara.
"Mengapa mandi malam, Sayang? Tidak baik untuk wanita hamil sepertimu." ujar Arex sangat perhatian.
Ia mendekati sang istri mencium dan memeluknya erat. Aroma segar dari tubuh Bimala membuatnya seketika hilang lelah.
"Aku baru saja pulang bersama Ayah dan Ibu. Kalau tidak mandi mana bisa aku tidur." jelas Bimala datar.
__ADS_1
Arex segera melerai pelukannya dan membuat Bimala menahan pelukan pria itu. Mata wanita berkulit sawo itu menatap dalam sang suami. Ada rasa khawatir yang ia rasakan saat ini.
"Rex," ucapnya pelan dan lirih.
"Apa kau marah?" lanjut Bimala bertanya dengan perasaan sangat sadar jika ia baru saja melakukan kesalahan.
Mendengar pertanyaan istrinya, kening Arex mengernyit heran. "Marah? atas dasar apa, Mal? Aku hanya lelah sekali. Banyak masalah di kantor." curhatnya pada Bimala.
"Aku tadi siang mengeluarkan uang banyak sekali." Bimala menunduk menyesali perlakuan buruknya yang terlalu mudah berfoya-foya. Ia tak bisa menahan diri kala melihat sang ibu berebut tas mewah dengan para teman-teman sosialitanya di masa lalu.
Sementara Arex yang mendengar hanya tersenyum. Ia tahu apa yang istrinya baru beli siang tadi. Sebab sekertaris Arex sendiri pun mengatakan jika ada pengeluaran yang tinggi dari kartu kredit miliknya. Sebab selama ini Arex bahkan jarang dan hampir tak pernah mengeluarkan uang sebanyak itu meski pun ia sangat kaya.
Bimala satu-satunya wanita yang memiliki jalan untuk mengeluarkan isi kartu ajaib itu.
"Hanya itu? Dia tidak ada marah?" gumamnya bertanya dengan wajah syok.
Pintu kamar mandi pun tertutup dengan rapat, di luar kini Bimala begitu gelisah. Ia ingin menjelaskan pada sang suami namun Arex membuatnya harus menunggu lagi hingga selesai mandi.
"Aku janji akan menggantinya meski tidak semuanya. Tapi, aku kan tidak bekerja sudah. Aduh bagaimana ini? Arex pasti kesal gara-gara tas itu. Maafkan aku, Rex. Aku tidak tega dengan ibu yang di olok sama temannya."
Hal yang sama di lakukan oleh Sari di dapur, ia bahkan berusaha membuatnya kolak pisang terenak menurutnya untuk sang menantu. Sebab ia adalah biang kerok sang anak harus menguras banyak uang di kartu sang suami.
__ADS_1
"Bu, buat makan apa lagi? Sudah banyak di meja makan itu." Tuan Wijaya berjalan mendekati sang istri sebab ia merasa sudah sangat lapar.
Sari tengah menuangkan santan ke dalam masakan kolak pisangnya.
"Sepertinya pas dengan cuaca dingin, Yah. Ibu mau buatkan Arex kolak. Kan ini pertama kali Ibu buatkan menantu." tuturnya tersenyum meski terlihat kaku di wajah sang suami.
"Pas dengan cuaca atau pas dengan harga tasnya? Makanya Bu, jangan terlalu bernafsu tinggi. Tas itu tidak ada istimewanya. Kasihan Arex." ucap Tuan Wijaya seolah sengaja membuat nyali sang istri semakin menciut.
"Ayah ini kok buat Ibu jadi bersalah sih?" kesal Sari menatap tajam sang suami.
Keduanya terus berbicara saling menyalahkan dan membela diri masing-masing hingga akhirnya suara Arex dan Bimala mendekat.
"Malam Ayah, Ibu." sapa pria itu dengan wajah yang segar meski tubuhnya letih.
Senyuman kedua mertuanya tampak menyambut kedatangan Arex kala itu. Kini mereka duduk di meja makan dengan tenang. Tak ada obrolan ketika mereka menikmati makan malam hingga selesai.
Dan saatnya mertua mencuri hati sang menantu, Sari lakukan. "Rex, Ibu ada buat kolak buat penghangat tubuh kamu. Di dalamnya ada campuran jahe juga. Pasti tubuh kamu capek sekali yah?" Senyuman di wajah Sari membuat Arex menerima mangkuk kolak itu dengan antusias.
"Wah...sepertinya sangat enak, Bu." ujar Arex.
Suapan demi suapan terus Arex lakukan hingga beberapa kali akhirnya pria itu menyendok kolak ke mulutnya.
__ADS_1
"Ibu mau minta maaf, Rex." Sari berucap tanpa basa basi. Ia sungguh tidak tenang untuk memakai uang menantu sebab semua pengeluaran Arex akhir-akhir ini terlalu banyak hanya untuk dirinya saja.