Ketulusan Sang Dewa

Ketulusan Sang Dewa
Ujian Bimala


__ADS_3

Senyuman saat itu terukir indah di wajah tampan pria yang samar-samar Bimala lihat. Matanya yang baru terbuka terasa silau saat melihat ruangan yang sangat terang dengan pencahayaan. Bahkan tangannya memijat lemah kepala yang masih pusing. Gejolak mual di perut terasa semakin bertambah.


"Sayang, kau sudah sadar?" Arex memeluk Bimala dengan wajah yang sangat bahagia.


Bimala aneh melihat itu, ia menyipitkan mata masih menerka apa yang terjadi?


"Rex, kau bahagia aku sakit? Apa jangan-jangan pikiranmu menginginkan aku sakit dan di gantikan dengan wanita lain?" Senyuman di wajah Arex seketika runtuh mendengar tuduhan sang istri.


Bagaimana mungkin ia dengan mudah mengganti Bimala, sedangkan menaklukkannya saja sangat sulit. Terlebih dengan perjuangan yang menyakitkan.


"Aku jauh dari sifat seperti itu, Mal. Aku bahagia karena..." Arex sengaja menggantung ucapannya.


Bahkan ia tidak perduli dengan sosok dokter yang ikut tersenyum-senyum tanpa sadar melihat pemandangan yang membahagiakan di depannya.


"Karena apa? Cepat katakan! Apa aku sudah naik jabatan?" Yah inilah sosok Bimala, wanita yang selalu gila jabatan dan karir. Sayang Arex tak menanggapi ucapan sang istri. Ia ingin bahagia hari ini dan tidak ada yang boleh merusaknya, termasuk sang istri.


"Kita akan punya anak. Kamu hamil, Mal." seru Arex yang memeluk tubuh Bimala erat.

__ADS_1


"Hah?" Bimala tercengang menutup mulutnya tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia bahagia sekali, sungguh ini kabar yang sangat membahagiakan. Ia membalas pelukan sang suami jauh lebih erat.


"Rex, ini beneran? Kamu nggak bercanda kan?" tanyanya antusias.


Pelukan keduanya pun Arex lepas dan ia mengangguk memastikan pada  sang istri jika ucapannya benar adanya. "Aku tidak bercanda, Sayang. Sekarang ayo kita keluar dan mengurus semuanya. Setelah itu kau harus stay di rumah."


Belum lima menit kebahagiaan itu menghujani keduanya, kini luntur sudah senyuman di wajah Bimala kala mendengar ucapan sang suami yang belum jelas terinci.


Tidak, Bimala tidak mungkin berhenti dari bekerja kan?


"Sudah, sekarang jangan pikir yang lainnya. Fokus dengan kebahagiaan kita yah?" Arex keluar setelah berpamitan pada sang dokter.


Senyuman terus terpancar bahagia di wajah tampan Arex. Bahkan ia tak perduli dengan sapaan beberapa petugas rumah sakit yang berpapasan dengannya.


Bimala hanya mengikuti langkah sang suami yang mendorongnya dengan kursi roda. Yah kursi roda yang Arex pikir meminimalisir keguguran. Meski sang dokter mengatakan tidak perlu kursi roda, pikiran Arex tetap meyakini jika janin itu bisa dengan mudah jatuh jika sang ibu banyak bergerak apalagi melangkah.


Sepanjang perjalanan pulang, beberapa kali Arex menyetop mobilnya di tepi jalan. Dan ini adalah yang ke delapan kalinya.

__ADS_1


"Mal, apa perutmu sakit?" tanyanya tak lupa tangannya bergerak mengusap perut rata sang istri.


Bimala menatap jengah sang suami. "Rex, aku baik-baik saja. Tidak perlu berhenti lagi seperti ini. Kapan kita sampainya?" ucap Bimala yang ingin segera sampai rumah dan istirahat.


Arex mengangguk dan melanjutkan perjalanan ke rumah.


"Sayang, nanti sampai di rumah segera kabari Ibu dan Ayah. Mereka pasti sangat senang tahu kau hamil." ujarnya menghibur Bimala yang sudah tampak menekuk wajahnya. Wajah manis yang selalu ia lihat kini tampak mendung karena kesal.


"Bagaimana aku bisa mengabari mereka? Mobil ini saja tidak sampai-sampai rumah. Yang ada tengah malam baru kita sampai di rumah dan Ibu bisa saja sudah tidur."


Tak ada sahutan dari Arex selain tangan yang ia usap lembut di rambut sang istri. Inilah yang selalu membuat Bimala tak tega marah lama-lama dengan sang suami. Arex selalu bertutur kata lembut padanya. Bahkan meski hanya usapan tangan di kepala, membuat hati Mala meleleh.


"Yasudah, besok saja juga tidak apa-apa kok." jawaban Arex sontak membuka mulut Bimala tercengang.


Besok? sungguh tak ada niat untuk menambah kecepatan mobil? Hah Bimala menyandarkan tubuhnya pasrah menikmati perjalanan yang membosankan ini.


Andai saja perjalanan sangat macet, Arex adalah orang nomor satu yang paling suka rela berada di barisan paling belakang. Begitu pikir Bimala.

__ADS_1


__ADS_2