
Pagi yang cerah kini seolah ikut tersenyum menyambut kehadiran sosok Sari dan suami di halaman yang asri dengan cantiknya bonsai yang di bentuk sedemikian rupa itu. Ini adalah hari kedua mereka berada di Indonesia.
Beberapa tanaman yang berbunga turut mekar warna warni di sana. “Wah segarnya yah, Ayah? Ibu senang sekali di sini.” Sari tersenyum melangkah di samping sang suami.
Wijaya hanya menghela napasnya kasar.
“Dulu aja ngusir menantu dari rumah. Sekarang Ibu malah betah di rumahnya. Kalau ayah yang jadi menantu Ibu, sudah Ayah balikin tuh posisi kita. Ibu, Ayah suruh bersihin halaman ini. Hitung-hitung jadi buat bayar pengeluaran di Singapura kemarin.” tutur Wijaya terkekeh dan Sari mendengarnya seketika sangat kesal.
Hingga wanita paruh baya itu berjalan cepat meninggalkan sang suami yang menggetarkan kedua bahu lantaran tertawa mengejek.
“Bu, pelan-pelan larinya. Nanti kalau Ibu jatuh kenapa-kenapa sama kakinya, Si Arex pasti nggak mau lagi kasih pengobatan.” Tak perduli, Sari terus berjalana mengelilingi halaman yang luas itu.
Hingga akhirnya ia melihat sebuah mobil terparkir di depan jalan sana. Keningnya mengernyit.
“Mobil itu tidak asing?” batin wanita itu bertanya-tanya.
__ADS_1
Pelan ia mendekat semakin dekat pada pagar rumah yang terbuka sedikit saat satu pelayan tengah membersihkannya.
“Itu Jeng Mely?” Sari menunjuk dan bertepatan dengan itu pula, ia melihat mobil mewah milik sang teman sudah melaju dengan cepat.
“Ada apa sih, Bu?” tanya Wijaya mendekati sang istri.
“Ayah, Ibu, ini susu dan rotinya.” Bimala berteriak memanggil kedua orangtua.
Sontak perbincangan Wijaya dan sang istri akhirnya terhenti. Dan kini mereka menuju ruang tengah untuk menikmati sarapan ringan itu.
Terlebih selama ini tubuh Bimala langsing tanpa lemak yang tumpah-tumpah.
“Yah masih seperti biasa, Yah. Sejauh ini aman saja kok. Oh iya, Hari ini kan Arex mau ke kantor. Apa ayah sama ibu mau jalan-jalan? Biar sama Mala. Kita ke mall gitu.” ajaknya yang sangat bosan jika sehari saja tak jalan.
Sari yang mendengarnya lantas menggelengkan kepala. “Ibu ingin istirahat saja, Mal. Ibu lelah kalau harus ke mall.” Keluhnya yang terasa sangat tidak mungkin untuk Bimala.
__ADS_1
Ia sudah menjadi anak wanita paruh baya itu cukup lama. Bagaimana mungkin ia bisa tidak tahu apa kesukaan sang ibu.
“Haha sejak kapan ibu lebih memilih di rumah dari pada harus ke mall. Bu, merk Luv, gucch, herme…semuanya lagi banyak yang terbaru. Ibu yakin nggak mau kesana? Mala sih sudah pasti kesana. Iyakan, Sayang?” ucapnya pada sang suami setelahnya.
Arex yang paham pun hanya bisa tersenyum lebar. Ia benar-benar melihat sisi Bimala yang gila harta setelah di larang bekerja olehnya.
“Kenapa cuman senyum? Mulai takut hartanya habis? Aku kerja deh kalau gitu.”
“Mala!” Tegur Wijaya yang tidak tahu jika sang anak tengah bercanda.
“Ayah, tidak apa-apa.” Arex bersuara pelan pada sang mertua.
“Sayang, belilah apa yang kamu suka. Lagi pula aku kerja untuk kamu. Uangku masih banyak untuk memenuhi semua tas keluaran terbarumu itu.” Tangan besarnya mengusap lembut rambut sang istri.
“Hehe Ibu juga boleh yah, Rex?” celetuk Sari malu-malu tapi mau.
__ADS_1