
Mendengar penuturan sang mertua, bukannya kaget atau marah. Justru Arex hanya tersenyum saat Sari mengakui memakai uang sang menantu siang tadi dengan jumlah yang tidak sedikit.
"Tapi Rex, Ibu tidak bermaksud menghabiskannya..." kilah wanita paruh baya itu takut.
"Ibu benar, Rex. Aku yang bersalah. Tadi aku yang memaksa Ibu. Lagi pula aku tidak akan mungkin tega jika Ibu harus di permalukan teman-temannya." Bimala membela sang ibu.
Dan reaksi Tuan Wijaya hanya acuh sembari menikmati makan malam yang menggugah seleranya.
"Itu bukan masalah. Sudahlah jika ibu masih ingin membeli lainnya belikan saja. Jangan terlalu membesarkan masalah uang, Mal." Semua melongo mendengar penuturan Arex kala itu.
Bimala meneguk segelas air dengan cepat. Begitu pula dengan Sari, ia sampai mengusap keningnya. 100 juta lebih ia pakai hanya demi membeli tas dengan harga yang jauh di bawahnya sungguh rasanya ia ingin gila sendiri.
Sejak kejadian hari itu Sari jauh lebih berubah lagi. Berkat nasihat sang suami, Tuan Wijaya akhirnya Sari benar-benar meminimalisir pengeluaran. Bahkan ia pun tak pernah lagi keluar rumah selain melakukan terapi atau makan bersama di restauran.
Hingga kini tanpa terasa perubahan itu terus berlanjut tanpa terasa Bimala sudah memasuki detik-detik melahirkan. Semua kehidupan begitu terasa membahagiakan hati ibu hamil itu. Tak ada lagi beban pikiran atau masalah dari orangtuanya.
Bahkan sosok Pandu dan Mely yang berusaha mengusik kedamaian mereka, tampak tidak pernah memunculkan batang hidung mereka lagi. Yah semuanya tentu berkat kerja keras tangan Arex, menantu idaman Sari.
"Bu, tolong pastikan Mala baik-baik saja. Saya sedang dalam perjalanan." Suara teriak dari Arex di seberang sana tampak terdengar beriringan dengan suara motor yang melaju.
__ADS_1
Jalanan yang macet membuat pria itu tak bisa menggunakan mobil dari arah kantor ke rumah sakit tempat sang istri akan di tangani saat ini.
"Rex, Mala akan melahirkan. Pembukaannya sudah lengkap. Kamu harus cepat, di dalam dia terus meminta Ibu menunggu kamu di luar." Sari pun tak kalah panik menelpon sang menantu.
Debaran jantung Arex semakin kencang kala mendengar permintaan sang istri dari mertuanya.
"Pak, tolong lajukan lagi motornya." Arex yang tengah menaiki ojek online bahkan tak perduli bagaimana helm di kepalanya ingin terjatuh ke belakang. Helm yang tak layak pakai beberapa kali bergantung di leher pria itu lantaran tertiup angin.
Hingga beberapa menit kemudian motor matic itu tiba di depan rumah sakit.
"Ini pak," Arex memberikan selembar uang tanpa melihat nominalnya, bahkan ia tak perduli bagaimana teriakan tukang ojek ingin memberikan kembaliannya uang itu.
Langkah lebar milik Arex terus terayun menuju ke tempat persalinan sang istri.
"Rex, cepat masuk. Akhirnya kamu datang juga." tutur Sari dengan tenang lalu meminta sang menantu pergi menemui Bimala.
Di luar tersisa Sari dan sang suami yang saling berpelukan menenangkan, sementara Arex menuju ke arah tempat sang istri berteriak dan menangis. Keringat memenuhi kening Bimala, bahkan air matanya pun juga ikut menetes.
"Rex..." lirihnya. Ia begitu senang dengan tersenyum kecil melihat sang suami datang di waktu ia benar-benar merasa ada dorongan kuat dari dalam perutnya kala itu.
__ADS_1
Belum sempat Arex melangkah menggenggam tangan sang istri, saat itu pula ia mendengar suara jerit panjang dari bibir sang istri.
"Aaaaaaaaa!"
"Alhamdulillah...." Dokter dan beberapa perawat akhirnya tersenyum lega melihat persalinan yang begitu mudah di lakukan Bimala.
Di saat itu mereka mendengar suara tangisan bayi menggema di ruangan itu. Air mata Arex tanpa sadar menetes kala melihat bagaimana wujudnya dalam versi kecil. Rasanya sungguh begitu bahagia kala hari yang sangat di tunggu-tunggu akhirnya tiba.
"Sayang, anak kita sudah lahir." tutur Arex sembari memeluk sang istri yang juga meneteskan air mata sangat terharu.
"Rex, kita punya baby..." ucap Bimala membalas pelukan sang suami meski tak memiliki tenaga lantaran terlalu lama menahan sakit selama di perjalanan ke rumah sakit.
"Mal, selamat yah Nak." Sari dan Tuan Wijaya datang memasuki ruangan bersalin.
Mereka semua tersenyum bahagia menyambut baby yang baru datang di bawa perawat usai di bersihkan.
Semua mata berbinar bahagia hari itu atas kelahiran baby yang sangat tampan. Yah bayi pertama mereka adalah laki-laki. Bahkan dari hari pertama itu lahir wajah sang ayah sama sekali tak ada kurang di wajahnya.
"Terimakasih, sudah hadir menjadi penerang di antara Mamah dan Papah, Sayang." Arex mencium kepala sang anak usai memberikan azan dan menyerahkan pada sang istri untuk mencari sumber asinya.
__ADS_1
Kini lengkaplah perjuangan seorang dewa. Arex benar-benar bersyukur atas apa yang ia perjuangkan selama ini. Cintanya yang tulus pada Bimala sudah ia dapatkan, dan kini buah hati yang begitu ia nantikan juga sudah hadir.
"Terimakasih, Mal. Kau benar-benar pelengkap dan penyempurna kebahagiaanku." batin Arex bermonolog.