
Di ruangan pemeriksaan, kini usai sudah pemeriksaan yang di lakukan Sari. Wanita paruh baya itu tidak sadar jika kini proses pemeriksaan telah usai.
Terlalu menyesali perbuatannya pada sang menantu membuat wanita itu larut dalam kesedihan yang mendalam sejak ia memasuki ruang pemeriksaan.
Beberapa pengobatan untuk area lainnya juga sudah di lakukan oleh dokter.
“Pasien memang benar mengalami kelumpuhan,” ujar sang Dokter yang kini sudah berada di ruang pemeriksaan.
“Tetapi ini tidak terlalu parah. Terapi yang rutin akan mempercepat proses penyembuhan, Tuan,” manik mata Dokter menatap Arex yang ia segani.
“Berarti Ibu saya masih bisa jalan kan Dokter?” Bimala sangat antusias bertanya. Dan mendapat jawaban dari sang dokter.
“Syukurlah. Kami lebih tenang mendengarnya, Dokter. Setidaknya masih ada harapan untuk istri saya jalan kembali.” ujar Tuan Wijaya,
Arex yang sedari tadi hanya diam mendengar penjelasan sang dokter akhirnya angkat suara.
“Jika pengobatan di luar negeri apa ada kemungkinan, Dok?” Arex tenang namun penuh pertimbangan saat bertanya.
__ADS_1
“Ya, saya menyarankan pengobatan yang berada di Singapur, Tuan. Salah satu rumah sakit yang khusus untuk lumpuh akan saya rekomendasikan untuk mertua anda, Tuan.”
Arex mengangguk pelan, “Segera uruskan rujukan ke rumah sakit itu. Secepatnya.” pintah Arex dan segera di patuhi oleh sang dokter.
Tuan Wijaya dan Bimala sama-sama menoleh pada Arex yang berdiri di belakang mereka.
“Ayah tenang saja. Sekarang kita harus lihat keadaan Ibu. Semua akan di urus pihak rumah sakit.”
“Rex,” Bimala memanggil nama sang suami saat mereka bertiga berada di luar ruangan sang dokter.
Tak tahu berucap bagaimana lagi, Bimala sungguh sadar kesalahannya menilai Arex selama ini. Bahkan setelah semuanya terbongkar, Arex sama sekali tidak pernah membahasnya. Seolah tidak pernah terjadi perselisihan antara mereka.
“Bimala, pulanglah bersama Arex. Kalian istirahat. Ayah mau berduaan dengan Ibu kalian,” Tuan Wijaya paham keadaan rumah tangga sanh anak yang sepertinya membutuhkan ruang untuk membahas hubungan mereka.
“Tapi Ayah,” Bimala melepaskan pelukannya.
“Tidak, Ayah. Kami tetap di sini menemani Ayah dan Ibu,” jawab Arex menimpali.
__ADS_1
“Dokter sudah bilang Ibu sudah tidak apa-apa hanya pemulihan, urusan kakinya kita hanya menunggu terapi atau rumah sakit berikutnya. Kalian tidak perlu khawatir.” jelas Tuan Wijaya lagi.
“Baiklah, Mala dan Arex pulang dulu. Besok kami akan datang pagi-pagi sekali, Ayah tidur saja bersama Ibu.” sahut Bimala.
“Nanti saya meminta orang untuk membawakan selimut untuk Ayah.” Sambung Arex perhatian.
Wijaya tersenyum, hatinya begitu hangat melihat anaknya sudah menerima sang menantu dengan baik, begitu pula sang istri yang sepertinya tidak akan mampu untuk menghindari sang menantu lagi.
***
“Bu, ada apa?” Kini di ruangan rawat. Tuan Wijaya menggenggam tangan sang istri yang terus bungkam sembari menatap langit-langit ruangan rawat.
Tak ada pembicaraan sejak pertama ia masuk menemui sang istri. Ruangan yang begitu nyaman di sediakan rumah sakit. Tentu semua atas nama Arex.
“Kita beruntung mempunyai menantu seperti Arex, Bu. Dia sudah menyuruh rumah sakit mempersiapkan keberangkatan kita ke Singapur. Ibu jangan bersedih lagi, Ibu akan segera berjalan lagi.” Kini mata yang menatap kosong tiba-tiba bergerak menatap pria di depannya.
“Ayah tidak bercanda? Ayah tidak bohong? Apa ibu masih ada kemungkinan berjalan?” Sungguh Sari sudah putus ada menerima kenyataan adalah sala satu pilihan untuk tetap bertahan hidup dengan kaki yang tidak bisa berjalan lagi.
__ADS_1