
Semuanya yang di takutkan pun ternyata terjadi perlahan. Usai Bi Lala tidak berani menutupi cerita, Sari tampak sangat murka. Wajah keriputnya mendadak merah padam.
“Ini tidak bisa di biarkan!” gumamnya.
“Bi, saya sudah katakan pada Bibi untuk mengawasi mereka dan melaporkan pada saya. Kenapa tidak Bibi lakukan?” tanyanya penuh rasa kesal.
Bi Lala yang takut, hanya bisa menunduk sembari terus mengatakan maaf. Ia tidak berani mengatakan apa yang ia pikirkan selama ini. Jika sang majikan telah salah besar memisahkan seseorang yang sudah menikah dari suaminya.
“Maaf, Nyonya. Maafkan saya. Saya benar-benar salah, Nyonya.”
Kesal, Sari pun memilih membersihkan diri di dalam kamar sembari beberapa kali mencoba menghubungi sang anak. “Huh, pasti Mala masih kerja. Percuma saja menelponnya. Laki-laki itu benar-benar tidak bisa di biarkan. Lihat saja, kau berani main-main dengan saya…” seringai licik ia tampilkan di wajah basahnya itu.
Kini Sari tengah menikmati segarnya air di bath up demi menyegarkan kepalanya yang mendadak terasa mendidih.
“Ini semua karena Ayah memberikan dia jalan. Sebenarnya apa yang Ayah lihat dari lelaki itu sih? Si Mala lagi pake acara mau baik sama laki-laki itu. Ini benar-benar tidak bisa di biarkan. Arex pasti sudah mencuci kepala anakku.”
Beberapa saat berlali, kini di halaman depan rumah tampak mobil memasuki halaman dan berhenti tepat di depan pintu rumah. Kala mendengar suara pintu mobil tertutup, secepat itu juga muncul sosok wanita yang baru selesai make up tipis usai mandi.
Kedua tangannya sudah bertopang di pinggang siap memberikan ayat-ayat panas pada anak dan menantunya.
“Pelan-pelan, Mal.” Itulah suara Arex terdengar kala menuntun sang istri dengan Mala yang memegang kepalanya.
“Heh heh apa apaan ini? Lepas tangan kamu? Jauhkan! Kamu dengan saya bilang apa?” Segera Arex pun melepaskan pegangannya pada kedua bahu Bimala.
“Bu, jangan buat ribut. Malu sama tetangga…” Belum saja Bimala sempat berucap, Sari sudah lebih dulu memotongnya.
“Mala, jangan banyak drama. Sekarang kamu masuk ke kamar!” bentak Sari dengan tangan menunjuk ke dalam rumah.
“Bu, Mala sakit-“ Arex menghentikan ucapannya saat sang mertua mengangkat tangan di depannya. Seolah memberi isyarat untuk diam.
“Kamu, jangan pernah mengeluarkan suara kamu di depanku jika bukan aku yang memintanya.” Wanita paruh baya yang sangat kesal pada Arex kini melangkah masuk ke rumah tanpa perduli bagaimana Arex lelahnya hari ini dan bagaimana anaknya sakit sejak semalam.
Seperginya Mala ke kamar, wanita itu tak muncul lagi untuk keluar. Hingga tiba-tiba suara pintu terbuka. Manik mata Mala hanya melirik sekilas tanpa berniat bicara pada sang Ibu.
__ADS_1
“Apa kamu lupa siapa pria itu, Bimala? Pria yang mati-matian kamu hina. Apa kamu mau dekat sama pria seperti itu? Ingat impian kamu masih cerah jalannya. Asal kamu jangan sampai kebablasan.” Sari berdiri di ambang pintu tanpa berniat masuk ke kamar sang anak. Bahkan sakitnya Mala pun ia tidak perduli.
Mala hanya berbaring lemah di atas tempat tidurnya. Matanya bahkan terasa panas karena tubuhnya yang kembali terasa hangat pula.
“Jika kamu tidak bisa mengontrol diri kamu sendiri, maka Ibu yang terpaksa mengontrolnya.” Seketika Bimala menoleh saat mendengar ucapan sang Ibu.
Di lihatnya pintu di tutup oleh sang ibu dan terdengar suara kunci terputar dari luar. Bimala menggeleng lemah.
“Bu, jangan kunci pintunya! Ibu, buka pintunya!” Berkali-kali wanita itu berteriak namun sayangnya Sari tidak menghiraukan sama sekali. Ia melenggang keluar rumah dengan kunci kamar anak di tas serta kunci cadangan juga.
Belum sempat wanita itu memasuki mobilnya, matanya kembali melihat sosok Arex yang tengah memotong tanaman.
“Heh, kamu! Sini!” panggil sari.
“Iya, Bu.” sahut Arex.
“Kamu cuci mobil Mala dan masukkan ke garasi. Ingat, jangan sekali-kali kamu mencuci otak anak saya.” Peringatan tegas Sari seolah hanya angin lalu bagi Arex.
Di dapur, Bi Lala mendengar teriakan dan gedoran pintu dari arah lantai atas. Semua pekerjaan dapur ia tinggalkan seketika. Saat tahu jika suara bersumber dari arah dapur, Bi Lala sang terkejut.
“Ya ampun, Nona Mala.” Bibi tahu jika keadaan sang nona mudanya sedang lemah. Ia begitu khawatir.
Segera, wanita itu berjalan berlari menuju tempat di mana Arex berada.
“Arex yang baru saja turun dari mobil sang istri berniat untuk mencari posisi yang pas agar bisa mencuci, justru di kejutkan dengan panggilan Bi Lala.
“Tuan! Tuan! Nona Mala, Tuan.” panggil Bi Lala tergopoh-gopoh.
“Ada apa, Bi?” tanya Arex heran.
“Nona Mala di kunciin dari luar oleh Nyonya, Tuan. Itu sekarang teriak-teriak terus katanya sakit, Tuan. Bibi tidak tahu sakit apanya.” Melihat kesedihan di wajah Bi Lala, Arex pun berlari masuk ke rumah dan menaiki tangga secepat mungkin.
“Bu, buka pintunya. Mala sakit banget, Bu. Kepala Mala mau pecah. Tolong, Bu.” Arex sangat sedih mendengar istrinya kesakitan.
__ADS_1
Matanya melihat pintu yang begitu kokoh. Rasanya tidak mungkin jika ia mendobraknya.
“Tuan, Nyonya membawa kuncinya serta kunci serep juga.” keluh sang bibi.
“Bibi, siapkan makanan untuk Mala. Saya akan mencari cara. Dia sudah seharusnya makan dan minum obat.” tutur Arex segera berlalu meninggalkan Bi Lala.
Di luar Arex berusaha mencari sebuah tangga di gudang belakang rumah. Pria itu berjalan dengan membopong tangga panjang dan berat itu.
Sementara Bi Lala yang melihat aksi Arex cukup terpesona. “Benar-benar menawan. Pantas saja Nona Mala luluh dalam hitungan waktu kurang 24 jam.” tuturnya menatap takjub.
“Bi, sudah siap makannya?” teriak Arex yang membuyarkan lamunan Bi Lala.
“Eh iya, Tuan. Susah, maksudnya sudah.” Bi Lala terbata.
Ia mengikuti langkah Arex yang ternyata berjalan ke arah belakang tepatnya posisi kamar Mala. Tangga panjang berlipat sudah ia bentangkan ke atas.
“Sini, Bi makannya.” Arex mengambil dan mulai memanjat. Sementara Bi Lala tampak ikut memegangi tangga, takut jika suatu hal yang tidak di inginkan terjadi.
Tok tok tok
Suara ketukan di jendela kamar, membuat Mala yang tampak bersandar di pintu kamarnya menoleh ke belakang.
Matanya bergoyang melihat siapa yang datang. Masih bisa ia lihat meski tidak begitu jelas. “Mala, ayo makan. Kau harus segera minum obat.” tutur Arex menyodorkan bungkusan rantang.
Mala yang memegangi kepalanya pun berusaha berjalan ke arah jendela dan membukanya lebar. Air matanya seketika jatuh melihat bagaimana Arex perhatian padanya.
Arex panik melihat air mata itu. Kedua tangannya segera meletakkan rantangan dan menangkup wajah sang istri.
Tak ada yang peduli bagaimana sosok wanita yang di bawah sini. Bi Lala mendongak sampai merasakan leher belakangnya begitu sakit. “Lah kok hilang? Apa Tuan membantu Nona Mala makan yah? Yasudah lah saya tunggu saja.” ucapnya pada diri sendiri.
Kembali pada keadaan di kamar. “Ayo cepatlah makan baru minum obat. Keadaanmu belum pulih benar.” ujar Arex yang membuka rantangan untuk sang istri.
Tanpa ia duga, Bimala sudah memeluknya begitu erat dan meneteskan air matanya.
__ADS_1