
Arex yang tampak tenang usai menikmati sarapannya separuh mini meneguk segelas air putih. "Mereka aku pekerjakan semua untukmu, Mal. Selama aku di perusahaan, mereka bertugas menjaga dan menemanimu." Mulut Bimala menganga tak percaya mendengar ucapan sang suami.
Bahkan kekesalan Bimala bertambah kali lipat kala melihat bagaimana respon para temannya yang seolah mendukung pikiran salah sang suami. Sungguh, di kehamilan mudanya Bimala merasa sangat tertekan. Jika orang yang hanya melihat memang menyenangkan bermalas-malasan di rumah tanpa mengerjakan apa pun dan di kurung di rumah saja.
Tapi, tidak bagi Bimala. Wanita yang selalu terbiasa mengerjakan segalanya seorang diri. Wanita yang biasa sibuk dengan pekerjaan di kantor, ia benar-benar mau gila menjalani perhatian sang suami yang bahkan baru hendak berjalan dua hari.
Tanpa berkata apa pun lagi, Bimala menghempas sendoknya kesal lalu berjalan menuju kamar. Tak perduli bagaimana Arex memanggilnya berteriak hingga akhirnya pria itu menyusul sang istri yang ternyata sudah mengunci pintu kamarnya.
"Wah Bimala kayaknya ngambek deh?" ujar Leni yang menduga.
"Yah, pasti gara-gara kita juga ikut mendukung suaminya." sahut Rosa yang sadar bagaimana Bimala akan sangat marah jika mereka bersekutu dengan pria tampan itu.
"Ini pasti juga sangkut patunya dengan wanita hamil muda yang sensitif. Mala bukan wanita yang ngambekan seperti itu." Nara ikut menimpali.
Para wanita itu hanya bisa menunggu di ruang makan tanpa berani berniat mendekati arah kamar. Meski mereka mendengar jelas bagaimana Arex berteriak sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar yang tak kunjung di buka.
"Mal! Buka pintunya, Sayang. Ayo buka dulu. Ada apa? Apa kau marah aku seperti ini? Mal, ini semua demi anak kita, Sayang. Aku mohon bekerja samalah denganku." Ketukan yang berkali-kali Arex ayunkan nyatanya hanya di pandangi wanita berkulit sawo itu dari arah kasur.
Matanya bahkan sudah basah oleh air mata, tangan Bimala tampak memeluk bantal guling dengan wajah sangat sedih.
"Kau keterlaluan, Rex. Kau bahkan mengorbankan kebebasanku hingga aku rasanya ingin gila. Aku tidak betah di rumah terus. Bahkan ini baru berjalan dua hari. Bagaimana aku menjalani selama sembilan bulan? Aku tidak akan sanggup." keluhnya menangis sedih.
Andai saja Arex mengurung hanya selama ia bekerja dan membawa Bimala keluar rumah sekedar merefresh pikiran mungkin saja wanita itu tak akan keberatan. Sayangnya, sepanjang hari Bimala hanya boleh terkurung di rumah saja lebih tepatnya di dalam kamar usai pria itu pulang kerja.
Ketukan dan teriakan dari luar kamar nyatanya membuat Bimala menulikan indera pendengarannya. Wanita itu kini mengusap air mata dan memilih untuk melihat ke arah ponsel yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidurnya.
__ADS_1
Tangannya tampak bergerak mendail nomor kontak yang bertuliskan 'ibu'. Sambungan telepon beberapa kali terdengar berusaha untuk menghubungkan jarak mereka yang cukup jauh itu. Hingga di sambungan ke sekian kalinya, akhirnya Bimala mendengar suara wanita yang ia rindukan menyapa.
"Halo, Bimala? Ada apa, nak?" tanya Sari dengan sangat hangat.
Wajahnya tampak mengernyit saat beberapa saat tidak ada suara Bimala terdengar. Hanya ada sesapan dari hidung yang seperti orang tengah flu. Nampaknya kini Bimala mengusap cairan yang lolos dari hidungnya lantaran menangis.
"Mal?" panggil pelan Sari. Wanita itu mengedikkan bahu kala sang suami bertanya dengan gerakan di wajahnya. Seolah Wijaya bertanya ada apa? dan Sari menjawab, tidak tahu.
"Bu, Mala ingin di sana saja bersama kalian." tutur Bimala mendadak manja dan itu membuat Sari semakin heran mendengarnya.
Ia tak pernah mendengar Bimala seperti itu manjanya. "Ada apa, Nak? Katakan pada Ibu? Jangan seperti ini. Kau membuat kami khawatir. Ingat cucu ibu masih sangat muda di sana. Itu sangat rentan, Sayang." Sungguh penuturan Sari membuat hati Bimala semakin sedih. Ia merasa saat ini kasih sayang wanita itu benar-benar tulus dan menyentuh hatinya.
"Apa Arex melakukan sesuatu padamu, Nak?" lanjut Sari lagi.
"Bu, tidak ada yang Arex lakukan. Mala hanya lelah saja, Bu. Arex mengurung Bimala bahkan tidak boleh Bimala turun dari tempat tidur. Itu benar-benar membuatku stress, Bu. Aku tidak bisa seperti ini terus." keluh Bimala panjang lebar pada sang ibu yang justru membuat Sari menghela napasnya kasar dan tersenyum lucu.
Ia mendengarnya sangat gemas, seolah keluhan sang anak bukanlah masalah yang serius. Itu hanya perihal keposesifan pria yang terlalu mencintai anaknya.
Sungguh Sari semakin yakin jika sang menantu adalah pria yang tepat untuk anaknya tanpa ada keraguan sedikit pun di hatinya pada Arex.
"Mal, sudah jangan menangis, Nak. Jaga cucu Ibu. Tidak boleh terlalu beban pikiran itu sangat bahaya. Biarkan kali ini Ibu yang membantu mu yah. Ibu akan bicara pada suamimu. Arex butuh bimbingan. Itu wajar sayang, suamimu itu masih awam bukan seorang yang sudah berpengalaman dalam hal istri hamil. Kali ini tugas Ibu untuk menjadi pembuka jalan pikirannya. Sebaiknya kamu tenang dan istirahatlah. Ibu janji akan membantu menjelaskan pada Arex, okey?"
Mendengar penuturan sang ibu, Bimala akhirnya bisa bernapas lega. Bagaimana bisa ia sangat emosional. Sementara apa yang ibunya katakan memang benar. Arex tak di ragukan lagi bagaimana cintanya pada Bimala. Dan semua terjadi lantaran tak ada orang yang bisa memberikan Arex pemahaman. Bahkan dokter saja belum sempat banyak memberikan gambaran pada pria tampan itu.
Senyuman pun terlukis di wajah manis Bimala kala mengingat bagaimana suaminya begitu mencintainya. "Baiklah, Bu. Terimakasih, semoga saja setelah mendapat telepon Ibu, Arex memperbolehkan Bimala jalan-jalan keluar meski tak boleh bekerja. Setidaknya bukan di kurung dalam rumah."
__ADS_1
Akhirnya panggilan pun berakhir dengan ucapan salam dari keduanya. Hingga akhirnya ketukan yang terus terdengar di luar kamar itu terhenti kala tangan Arex melihat ponsel miliknya yang berada di saku celana. Kening pria itu mengernyit heran melihat sang mertua menelponnya.
"Halo, Bu." sapa Arex dengan hangat pada sang mertua.
Senyuman di wajah Sari masih terbit dengan lebar meski percakapannya bersama sang anak yang saat ini mendadak cengeng telah berakhir.
"Rex, boleh Ibu bicara sebentar, Nak?" tanya Sari lemah lembut.
"Silahkan, bu. Bicaralah." ucap Arex.
"Rex, Bimala itu tengah hamil muda. Usia kandungan yang sangat rentan keguguran jika mengalami lelah dan stress." penuturan sang mertua mendapat anggukan kepala dari pria tampan itu.
Matanya sesekali menatap ke arah pintu yang masih tertutup rapat.
"Jadi, alangkah baiknya...jika hatinya senang dan tubuhnya fit. Tadi Bimala mengadu pada Ibu katanya dia terkurung dan stress di rumah lantaran tidak bisa melihat suasana luar. Kamu khawatir, Ibu tahu itu. Tapi sebaiknya tidak perlu di kurung begitu. Kasihan kalau Bimala sangat bosan. Apalagi istrimu sudah terbiasa sibuk di luar rumah. Biarkan dia keluar atau bersamamu saat tidak sibuk. Jangan di kurung, wanita hamil itu sangat sensitif, jadi hatinya harus selalu tenang." Arex menghela napas mendengar ucapan sang mertua.
"Apa itu tidak apa-apa jika Bimala berjalan keluar, Bu? Bukankah itu akan melelahkan terus melangkah?" pertanyaan Arex membuat Sari terkekeh geli mendengarnya.
"Bimala pasti tahu kapan tubuhnya segar dan lelah. Jika lelah ia akan berhenti berjalan sendiri. Yang penting jangan membuatnya stress, tinggal di rumah tanpa melakukan kesibukan bukanlah hal yang mudah, Rex." Dengan segala pemahaman, akhirnya Arex pun mengerti dan panggilan mereka segera berakhir dengan Arex yang sempat membahas perkembangan sang mertua.
Sari pun sangat puas dengan pelayanan rumah sakit hingga ia mulai merasakan langkahnya semakin tidak begitu berat seperti dulu.
Panggilan berakhir dengan Arex yang meletakkan ponsel di saku celananya.
"Sayang, Bimala! Buka pintunya. Kau ingin jalan bukan? Ayo pergilah bersama mereka. Aku harus ke kantor. Tapi habiskan dulu sarapannya." ucap Arex berteriak pada sang istri.
__ADS_1