Ketulusan Sang Dewa

Ketulusan Sang Dewa
Jamu Buatan Bibi


__ADS_3

Suara derit ranjang terdengar mulai berirama, dua tubuh polos kini telah menjadi satu dalam balutan selimut tebal.


Siapa sangka, jika itu bukanlah penyatuan yang sesungguhnya.


“Rex, jangan!” Teriakan di dalam selimut terus terdengar.


Gerakan bergelombang tak beraturan dalam selimut terus terlihat hingga suara teriakan-teriakan dan beradu kekuatan terus terjadi.


“Arex, geli!” Bimala bergerak kesana kemari berusaha melepaskan diri dari kungkungan Arex.


Selimut terhempas dan terlihat Arex mengatur napas. Matanya yang sendu berkabut gairah harus ia tahan sejenak.


Bimala yang berada di bawah menatap wajah sang suami gugup bercampur malu.


“Pejamkan saja matamu, Mal. Ayolah.” bujuk Arex yang sungguh tidak tahan lagi.


Ia pikir akan mudah membawa sang istri menikmati indahnya pernikahan. Nyatanya, Bimala tak sepenuhnya berani.


“Rex, oke. Tapi jangan lihat. Aku masih malu.” Wajah Bimala memerah. Ia pikir Arex tidak akan nekat mengajaknya secepat ini.


Sayang, mata Arex tergoda oleh penampilannya yang memakai handuk saja. Bahkan Arex tak perduli dengan kegugupan Bimala saat menggendongnya paksa dengan keadaan polos ke tempat tidur.


“Ini ibadah, Bimala. Besok kita sudah harus berangkat.” Emosi sedikit muncul dalam diri Arex. Tetapi, secepat kilat ia pun menepis rasa egoisnya.


Bimala diam sejenak melihat wajah tampan Arex. Dengan suara lirih ia mengatakan,


“Lampunya matikan, jendela tutup rapat.”


Mendengar kalimat perintah sang istri, Arex bergerak cepat turun dari tempat tidur. Semua ia lakukan hingga kamar benar-benar gelap gulita. Hanya ada setitik cahaya dari alat pendingin.


“Sekarang sudah semuanya. Kita mulai yah?” Suara berat Arex terdengar. Bimala yang tak lagi punya cara menunda hanya bisa pasrah.


Pertama, Arex menikmati bagian bibir sang istri. Pergulatan dua bibir terus berlangsung hingga seiring berjalannya gairah, Arex melancarkan tangan menjelajahi sesuatu yang sudah lama ia nantikan.


Perjalanan Arex terus berlanjut hingga mereka berhasil melakukan pelepasan hasrat. Sama-sama wajah puas terpancar di wajah Bimala dan Arex terlihat saat lampu kamar sudah menyala.


Jika di kira, Bimala tak lagi malu, sepertinya salah besar. Ia justru sangat malu saat melihat wajah sang suami yang menatapnya dalam.


“Mau kemana?” tanya Arex menggenggam tangan Bimala saat melihat sang istri bergerak dari tempat peraduan mereka.

__ADS_1


“Mau bilas badan.” segera ia berlari ke kamar mandi.


Arex tersenyum melihat bokong sintal milik sang istri yang berlari ke kamar mandi. Matanya seakan menatap lapar benda kenyal itu.


Tak menyia-nyiakan waktu, rasa yang Bimala tawarkan nyatanya tak membuat Arex puas hanya dalam sekali.


“Maafkan aku, Mal. Kali ini aku ingin egois,” ujar Arex tersenyum menyeringai menyusul langkah sang istri ke kamar mandi.


Di dalam sana, ia melihat tubuh bagian belakang Bimala yang berdiri di bawah shower. Satu tegukan saliva ia lakukan sebelum tangan Arex melingkar di tubuh polos sang istri yang sedang mandi.


“Rex, astaga!” pekik Bimala sangat terkejut mendapat pelukan yang tiba-tiba.


Arex tak bersuara, ia hanya menggerakkan tangannya dengan lembut pada tubuh istri tercinta.


“Rex,” rengek Bimala yang tidak tega menolak sang suami lagi.


“Ada apa? Hem? Kita menikmati lagi sebentar? Aku benar-benar menginginkamu, Mal. Bolehkah?” Pertanyaan Arex seolah menghipnotis perlawanan Bimala.


Menolak permintaan sang suami, sepertinya tak mampu Bimala lakukan lagi. Sensasi yang begitu nikmat ia rasakan sebelumnya seolah menepis rasa sakit yang masih terasa.


Tak ada jawaban Arex dapat, ia kembali menghujam sang istri dengan serangan-serangan kenikmatan.


Rasa dingin serta geli yang mereka rasakan di kamar mandi akhirnya beriringan dengan gerakan agresif keduanya serta suara yang tak lagi Bimala tahan seperti pertama kali.


Hentakan kasar dan cepat kini berakhir dengan mata yang terpejam menikmati sejenak permainan memabukkan.


“Aku mandikan yah?” Usai permainan kedua kalinya, Bimala hanya tersenyum dan menerima perlakuan manis sang suami.


Tangan Arex bergerak benar-benar memandikan sang istri dan menggendongnya setelah melilitkan handuk pada sang istri.


Cukup melelahkan memang, hingga keduanya memutuskan untuk makan di kamar saja.


“Bi, makan malamnya di bawa ke kamar saja.” Pria tampan di depannya benar-benar memperlakukannya bak seorang ratu.


Senyum Bimala pun sampai saat ini belum pudar dari wajahnya. Kepuasan dan rasa cinta semakin menambah pandangannya pada sosok Arex.


“Rex, terimakasih yah.” ucap Bimala pelan.


Arex mengusap rambut basah sang istri lalu mencium kening wanitanya.

__ADS_1


“Aku yang terimakasih, Mal. Aku senang bisa memiliku seutuhnya.” tutur Arex sangat bersyukur perjuangannya sudah sempurna hingga di titik ini.


Bimala yang benar-benar di buat bahagia di balik kejadian menyedihkan yang terjadi pada sang ibu, akhirnya tak kuasa menahan diri dan memeluk sang suami.


Arex adalah pria yang begitu sempurna untuknya, bahkan dalam permainan tak sedikit pun Arex tega melakukan dengan agresif sebab takut menyakiti sang istri.


“Aku bersyukur memilikimu, Rex. Maafkan sifatku dan Ibu dulu padamu. Aku malu.” ujar Bimala masih belum bisa melupakan kesalahannya.


“Ssst! Itu memang wajar, karena aku tiba-tiba datang padamu dengan keadaan dekil. Aku yang bertekad akan memperjuangkan cintaku. Sekarang biarkan aku membahagiakanmu, dengan begitu aku juga akan bahagia,”


Pelukan keduanya tiba-tiba terlepas saat ketukan pintu kamar terdengar dari luar.


“Tuan, permisi.” Dua pelayan datang membawakan makanan untuk dua majikannya yang sedang kehabisan tenaga itu.


“Ini Tuan, makan malamnya.” ucap pelayan satu.


“Terimakasih, Bi.” sahut Arex singkat.


Dua pelayan itu hendak berbalik, “Bi, tolong buatkan jamu hangat untuk saya dan Mala. Untuk menyegarkan tubuh.” pintah Arex.


“Untuk stamina apa Tuan? Kerja? Pikiran? Sakit? Atau Ranjang?” Pertanyaan pelayan dua tiba-tiba keluar begitu lancar.


Pelayan satu menyenggol lengan pelayan dua karena terlalu lancang.


“Rex,” Bimala memukul pelan tangan sang suami.


Arex tergagap mendengar pertanyaan pelayan. Baru kali ini ia mendengar jamu sebanyak itu fungsinya.


“Memang untuk ranjang ada Bi?” tanya Arex penasaran. Boleh juga sepertinya kalau di coba.


Arex jauh lebih tertarik dengan hal itu sepertinya.


“Ada, Tuan. Telor ayam kampung hehehe, pasti makin hot.” Kekehan pelayan dua dengan wajah polos tanpa sadar membuat Arex tersenyum juga.


“Yah, saya mau itu, Bi.” jawab Arex yang membuat Bimala berwajah masam menahan senyum dan malu.


Seperginya dua pelayan itu, Bimala masuk ke dalam selimut tanpa mau menatap wajah sang suami lagi.


“Mal, ayo makan. Sudah terlalu malam kita makan.” tuturnya dengan wajah polos.

__ADS_1


“Rex, aku malu.” keluh Bimala masih sembunyi.


“Mereka berpengalaman dari kita pasti mengerti. Sudah jangan malu. Kita halal kok.” jawab Arex santai.


__ADS_2