
Tidak butuh waktu lama, siang itu Bimala dan Arex akhirnya tiba di Singapur.
Keduanya berjalan dengan dua orang pria yang membawakan barang keduanya. Arex berjalan santai dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya. Wajah putih yang sangat kontrak bertemu pakaian hitam membuat mata wanita di sampingnya kesal.
Bimala melihat wajah acuh sang suami lalu beralih ke lengannya. “Si*alan putihan dia yah dari gue?” umpatnya yang baru merasa tersaingi.
Sebagai wanita, rasanya Bimala seperti di jatuhkan harga dirinya. Sedangkan Arex, tak tahu jika dirinya sedang di perhatikan.
“Mal, ayo masuk.” pintahnya saat mobil yang siap mengantar mereka sudah terbuka pintunya.
“Sabar napa?” Kening Arex mengernyit mendengar ucapan ketus sang istri. Ia pun menghentikan langkah lalu menoleh ke belakang.
Tangannya membantu Bimala naik ke mobil setelah itu mereka pun pergi dalam keheningan. Bimala yang memilih untuk tidur membuat Arex ikut merebahkan kepalanya bersandar menikmati perjalanan ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, senyuman hangat menyambut mereka berdua. Bukan Sari, melainkan pria yang berjas putih yang sejak kemarin menunggu Bimala tiba.
“Bimala,” ucapnya tersenyum hangat.
Wajah tampan yang tak berubah sejak dulu tak membuat Bimala lupa akan sosok pria di depannya ini.
Dengan senyuman lebar Bimala juga menyambutnya. “Segar? Iya kan?” serunya berteriak heboh tak sadar jika mereka di rumah sakit saat ini.
Ulurang tangan keduanya membuat mata Arex mendelik hebat. Sontak, pria itu menarik tangan sang istri cepat.
Acuh, pria berjas putih itu malah fokus pada wanita yang selalu membuatnya gelisah dua hari ini.
“Pandu Segara, berhenti memanggil seperti itu, Mal.” ucapnya tak terima.
Meski sedang di landa cemburu, nyata Arex masih bisa bersikap di depan kedua mertuanya.
“Bagaimana, Bu? Apa ada keluhan lain setelah tiba di sini?” Arex beralih bertanya pada sang mertua.
Sembari mengawasi pergerakan sang istri. Jangan sampai Bimala melewati batas bertegur sapa dengan pria yang entah siapa. Arex pun tidak tahu.
“Semuanya baik-baik saja, Rex. Hanya kaki Ibu saja sampai saat ini…” Sari menatap sedih kakinya.
Arex pun mendapat kabar dari dokter langsung jika sang mertua besok sudah boleh keluar rumah sakit dan melakukan perawatan jalan serta terapi.
“Mala, berikan Arex minum dulu. Kalian pasti lelah.” Bukan Wijaya, melainkan Sari yang bersuara.
__ADS_1
Kekehan Bimala bersama Pandu membuatnya tak enak pada sang menantu.
Lantas setelah itu, wajah ceria Pandu berubah datar. Seolah ada yang mengusik kesenangannya kali ini.
“Maksud Tante Sari apaan sih? Kenapa dia justru perhatian sama pria itu?” batin Pandu kesal namun berusaha menutupi kekesalan itu.
Sari menatap wajah Pandu sekilas tanpa bicara. Di sini ialah yang bersalah.
“Aku harus bisa memperbaiki ini semua. Sebelum semuanya terlambat.” batinya bermonolog.
“Bentar yah, Pan. Obrolan kita jadi keputus deh. Banyak banget nih pembahasan kita yang selanjutnya.” Bimala bersuara seolah meminta Pandu jangan pergi dulu.
“Apa tidak mau minum dulu?” Pertanyaan Arex menghentikan Bimala saat hendak mendekat pada Pandu lagi setelah memberikan minum pada sang suami.
“Mala, minum dan makanlah dulu bersama Arex. Masih banyak waktu kita di sini.” Wijaya akhirnya buka suara.
“Pandu, nanti kami akan kabari jika akan keluar dari rumah sakit. Biar kami putuskan dulu akan mengingap dimana?” Dengan sopan Wijaya berkata seakan menjaga perasaan Pandu yang sudah dengan baik menawarkan tinggal di rumah. Semua atas permintaan sang ibu.
Mendengar hal itu, segera Arex menyahut. “Kenapa harus putuskan Ayah? Kita tentu akan pulang ke rumah. Arex rasa rumah itu tidak akan kebesaran untuk kita berempat.” Bimala menoleh pada sang suami.
Rumah? Rumah siapa yang di maksud? Tidak akan kebesaran? Apa itu artinya…
Sedangkan Pandu yang mendengar itu merasa kecewa. Dengan perasaan dongkol ia pun pamit undur diri.
“Om, Tante, semuanya saya pamit dulu. Masih banyak pasien yang harus saya tangani.” ucapnya berlalu.
Arex hanya tersenyum mendengar hal itu. Ia pun beralih menatap Bimala. “Itu aksi cemburu atau balas dendam?” tanyanya menatap heran pada Bimala.
Setahunya sang istri adalah wanita yang tak suka berbaur dengan lawan jenis. Lalu apa tadi, bahkan Bimala tak henti-hentinya mengeluarkan stok pertanyaan pada Pandu.
“Apaan sih?” Wijaya hanya menggeleng kepala melihat Bimala justru melenggang ke kamar mandi.
Arex menghela napas dan kembali menghubungi seseorang.
“Ya, Tuan.”
“Bawakan makanan ke kamar rawat.” ucap Arex singkat.
Meski ada makanan di atas nakas ruangan sang mertua. Arex memilih untuk membeli makanan baru. “Bu, apa ini makanan dari pria tadi?” tanya Arex menunjuk makanan yang masih tertata di dalam mika.
__ADS_1
“Iya, jangan di buang. Mubazir, Rex.” sahut Sari begitu lembut.
Wanita yang jahat melebihi nenek sihir itu kini sudah menjelma menjadi wanita lemah lembut dan murah senyum. Sungguh, rasanya Wijaya geli sendiri melihat sikap sang istri.
Senang, tentu saja ia rasakan. Tetapi melihat wajah judes sang istri yang sudah mendarah daging sejak ia mengenal Sari, rasanya tidak pantas istrinya berlaku baik.
“Ayah, apa yang salah?” Mata teduh Sari kini mendadak berubah kembali kala melihat sang suami seperti tersenyum. Tapi senyum yang menyiratkan ribuan ejekan.
“Apa sih, Bu? Ayah diam saja.” sahut Wijaya.
“Ayah hanya khawatir jiwa Ibu tertukar sama orang lain setelah kecelakaan itu.” kekehnya membuat Arex juga ikut terkekeh.
Tok tok tok
Tiba-tiba suara ketukan di pintu menghentikan canda tawa mereka bertiga. Semua mata menoleh pada pintu yang terbuka.
“Jeng Sari,” sosok wanita yang sebaya dengannya tersenyum masuk ke dalam ruangan.
“Eh Jeng. Masuk, maafyah merepotkan sejak kemarin. Lagi pula Pandu sudah saya suruh pulang juga tidak mau pulang-pulang.” Sari cipika cipiki oleh wanita yang baru datang.
Dia adalah ibu dari Pandu Segara. Pria yang berniat Sari jodohkan dengan Bimala sebelum terungkapnya sosok Arex.
“Ah tidak apa-apa. Itu sama sekali tidak merepotkan kok. Lagi pula memang seharusnya kan calon menantu di repotkan sama mertua.” Celotehan Mely, ibu Pandu membuat bibir Sari bungkam seribu bahasa.
Sumpah demi apa pun bukan ini yang ia harapkan sekarang. Ia sudah tobat.
“Ehem,” Deheman keras Wijaya membuat Sari gelagapan.
Segera otaknya berpikir apa yang akan ia lakukan,
“Oh iya, Jeng kenalkan ini Arex. Menantu saya. Suaminya Bimala.” ujarnya menunjuk Arex yang duduk.
Pria tampan yang jauh berlipat-lipat tampannya dari Pandu membuat wajah Mely masam.
“Salam kenal, Nyonya.” Sapa Arex berdiri dari duduknya menangkupkan tangan. Sayang, sapaan itu tak mendapatkan sambutan baik dari sosok Mely.
Wajah ceria wanita paruh baya itu kini berubah masam, ada rasa yang tak biasa ia rasakan saat ini.
“Apa-apaan sih Sari ini? Jangan bilang dia berubah pikiran? Ini pasti menantu yang katanya itu cuman jadi parasit? Tidak, Pandu sudah jatuh cinta sama Bimala, jangan sampai Sari seenaknya saja membatalkan perjodohan ini.” umpatan Mely dalam hati membuat suasana seketika hening kala itu.
__ADS_1