Ketulusan Sang Dewa

Ketulusan Sang Dewa
Rumah Sakit Permata


__ADS_3

Dari sejak sarapan hingga mereka tiba di parkiran depan kantor, Arex hanya melihat wajah Bimala diam, tangan bersedekap, dan bibir mengatup rapat. Bukan seperti pada umumnya mengerucut karena kesal.


“Mau sampai kapan seperti itu? Hah?” tanya Arex dengan suara lembutnya.


Di tatapnya wajah sang istri yang tak melihatnya sedikit pun. Bimala yang enggan bicara apa pun dengan sang suami segera melepas sedekap tangannya dan hendak membuka pintu mobil.


Secepat kilat pula, Arex menggenggam tangannya.


“Bimala, saya belum selesai bicara. Jangan biarkan perusahaan saya memperkerjakan orang dengan hanya melamun. Saya tidak ingin rugi.” Kata-kata sindiran Arex begitu menohok di hati Bimala.


“Aku akan berkerja dengan sungguh-sungguh. Lepaskan tangan saya Tuan.” jawab Bimala tak kalah tegasnya.


Sayangnya, Arex tak kunjung melepaskan tangan Bimala. Justru ia menyuruh supir untuk mengunci seluruh pintu mobil usai meminta sang supir keluar meninggalkan mereka berdua.


Arex yang sudah melihat tak ada siapa pun selain ia dan Bimala, kini melepaskan genggaman tangannya erat.


“Kau cemburu dengan Susan?” Pertanyaan yang sungguh penuh percaya diri namun memang benar.

__ADS_1


Bimala mendelik geli rasanya mendengar penuturan Arex. “Siapa yang cemburu? Aku tidak pernah cemburu pada siapa pun” jawabnya angkuh. Pandangan Bimala buang ke arah samping jendela yang hanya memperlihatkan parkiran kosong.


Setelah mendengar hal itu, Arex yang tidak bisa menahan sesuatu segera melancarkan aksinya.


Tangan kekar dan besar itu bergerak menarik leher mungil dan jenjang lalu satu tangannya bergerak memoncongkan bibir merah dan mendaratkan bibir tebal merah khas seorang pria.


“Emh!” Meronta beberapa kali nyatanya Bimala tak bisa melawan atau sekedar melepaskan pagutan Arex.


Sungguh memalukan! Bukannya meminta maaf, Arex justru membuatnya memberikan ciuman pertama yang tak pernah Bimala bayangkan sebelumnya.


“Manis! Sekarang pergilah bekerja. Ingat, setiap kali kau akan marah padaku, bibir ini sendiri yang akan menghukum bibir yang tak mau bicara itu.” Tepat di saat itu, Arex membuka mobil dengan kunci yang ada di sakunya.


Sepanjang jalan menuju ruang kerjanya, Bimala menunduk merasa hilang kepercayaan dirinya. Tatapan yang biasanya selalu meninggi, kini menciut.


Meski yang berulah hanya satu orang, yaitu Arex. Tetapi ia begitu hilang mula di buat sang suami.


“Dasar Arex keterlaluan. Menjelaskan tidak! Minta maaf pun tidak, sekarang seenaknya main cium, ahhh menyebalkan!” Bimala memukul-mukul bibirnya sendiri mengingat bibir itu sudah mendahului hatinya kali ini.

__ADS_1


Meski di dalam hati kecilnya ada rasa yang tidak bisa di jelaskan.


Sepertinya Arex memiliki firasat yang tepat. Hari itu, sejak peristiwa fisrt kiss Bimala bekerja dengan pikiran kacau.


Senang dan kesal di pikirannya membuat ia serba salah ingin membagi itu semua dengan siapa.


Satu-satunya orang yaitu ibunya saja sudah tak ada kabar.


“Sepertinya aku butuh mereka. Tapi kalau aku beritahu yang sebenarnya, ini sangat memalukan. Pasti mereka akan mengatai ku. Secara dari awal aku tidak mengakui Arex. Haduh ini bagaimana sih?” batin Bimala menimbang-nimbang untuk membagi perasaan dilemanya terhadap suami tampannya itu.


Sedangkan di ruangan yang berbeda, tampak Arex menatap foto sederhana yang tidak begitu jernih gambarnya. Yah, foto pernikahan ala kadarnya dengan Bimala di rumah yang sebenarnya ia sewa pada waktu itu untuk melancarkan perannya.


Lamunan Arex buyar saat mendapati teleponnya berdering.


Kening Arex mengernyit melihat nama Tuan Wijaya. “Ayah, ada apa yah? Apa ada yang tertinggal? Rasanya tidak ada.” batin Arex heran.


Segera ia mengangkat teleponnya.

__ADS_1


“Arex, ke rumah sakit permata segera.” Suara serak khas orang menangis membuat Arex membulatkan matanya.


“Ayah? Ada apa, Ayah? Siapa yang sakit, Yah?” Intonasi suara Arex pun meninggi mendapati sang ayah benar-benar histeris usai mengatakan berita mendebarkan tersebut.


__ADS_2