
Tangisan terdengar sesenggukan di dalam kamar. Pelan, Arex serta sang mertua meletakkan tubuh dingin Sari.
“Bu, apa yang terjadi?” Bimala turut mendekati sang ibu. Di genggamnya tangan sang ibu yang masih menangis.
Sari bahkan terlihat pucat. Sungguh ia tak menyangka jika temannya tega melakukan hal itu ketika marah.
“Kaki ibu sakit,” keluhnya menunjuk area mata kaki yang tergores. Sepertinya ada bagian kursi roda yang melukainya.
Yah kelumpuhan Sari memang tidak permanen. Bahkan sakit di kakinya pun masih bisa ia rasakan.
“Bu, tahanlah. Kita ke rumah sakit segera.” Arex berlari meminta pelayan di luar untuk menyiapkan mobil oleh supir.
“Bu, sabar yah. Kita ke rumah sakit sekarang.” Mereka semua nampak sangat khawatir melihat keadaan Sari. Takut jika sampai berpengaruh pada kaki yang sedang dala masa pengobatan itu.
Susap payah ia menahan sakit hingga kini mereka pun sudah berada di rumah sakit. Dokter segera memeriksa keadaan kaki pasiennya.
Arex, Wijaya, dan Bimala sama-sama cemas menanti hasil pemeriksaan. Bahkan pertanyaan masih bersarang di kepala mereka semua atas apa yang terjadi.
Seketika kecemasan mereka buyar saat dokter usai memeriksa kaki pasien.
“Dok, apa yang parah? Kaki ibu saya tidak apa-apa kan?” Arex cemas sekali. Meski saat ini Sari tak menangis kesakitan lagi.
Kakinya perlahan mulai berkurang sakitnya.
“Tidak ada yang parah. Ini hanya terluka, tapi saya sudah berikan obat di lukanya, Tuan.” sahutnya.
Mereka semua tampak lega dan setelah selesai mengurus berbagai administrasi, Arex mengajak pulang untuk istirahat.
Sepanjang perjalanan pria itu memikirkan tak akan melepaskan wanita yang tega mendorong sang mertua. Bagaimana jahatnya Sari, ia tetap tidak akan tega melihat wanita lain menyakiti sang mertua yang sudah menjadi ibu baginya.
“Bu, apa yang Tante Mely lakukan pada Ibu? Kenapa dia datang ke rumah? Apa Ibu yang memanggilnya?” tanya Bimala.
Sari terdiam sejenak. Rasanya sangat takut jika harus berterus terang. Ia yakin sang suami pasti akan mengamuk mendengar pengakuannya setelah ini.
__ADS_1
“Iya, apa yang Ibu bicarakan sama Mely? Kenapa sampai dia semarah itu?” sahut Wijaya penasaran.
Sari tertunduk merasa sangat bersalah.
“Ibu yang salah, ini semua Ibu yang meminta. Jeng Mely marah karena Ibu membatalkan perjodohan Bimala dan Pandu, Yah. Maafkan Ibu, Rex.” Bukan meminta maaf pada suami dan anak. Sari justru meminta maaf pada sang menantu.
Jelas orang yang paling di rugikan jika itu sampai terjadi adalah Arex. Karena Sari tahu bagaimana Arex sangat mencintai sang anak.
“Menjodohkan?” Wijaya dan Bimala sama-sama terpekik kaget.
Sementara Arex sudah yakin jika itu adalah penyebabnya. Dari gelagat bicara Mely pada Sari di rumah sakit, tentu Arex bisa mengerti itu semua.
“Ibu benar-benar kelewatan. Bagaimana bisa Bimala sudah menikah, suaminya ada, sehat walafiat panjang umur. Ibu malah menjodohkan dengan pria lain. Benar-benar Ayah tidak habis pikir. Wijaya sampai menggelengkan kepala.
Begitu pula Bimala yang tercengang sungguh tak habis pikir jika pertemuannya dengan Pandu ternyata ada maksud lain, bukan semata bertemu sebagai teman lama.
“Bu, kenapa Ibu tidak bicara dengan Mala? Apa Pandu yang Ibu maksud pria yang cocok dengan Mala?” Sari menunduk meneteskan air mata.
Kali ini ia akhirnya mendapatkan penghakiman dari suami dan anaknya. Terlebih rasanya tak sanggup melihat wajah sang menantu. Andai saja Arex seperti pria lain pasti ia akan sangat kecewa.
“Mal, bawa Ibu istirahat.” pintah Arex menurunkan kursi roda di belakang mobil dengan Bimala yang patuh pada sang suami.
Keheningan terjadi cukup lama hingga akhirnya mereka berpisah di kamar masing-masing.
Bimala tampak menghela napas kasar usai menutup pintu kamarnya. Di kasur, Arex sudah duduk bersandar menatap kedatangannya.
“Ada apa?” tanya pria itu melihat wajah di tekuk sang istri.
“Ibu benar-benar keterlaluan.” rutuknya.
“Bukankah dulu kamu juga menyukai perjodohan itu?” tanya Arex membungkam bibir Bimala.
Yah semua yang di suguhkan sang ibu tentu Mala setuju. Termasuk mendapat jodoh dan bercerai dari Arex yang miskin.
__ADS_1
“Rex, itukan dulu. Lagi pula aku juga tidak tahu kalau jodoh yang di maksud ibu adalah Pandu. Dia mah teman aku. Gimana bisa aku sama dia?” kilahnya enggan di salahkah.
Arex menggeleng sembari terkekeh kecil. “Ibu juga sama. Melakukan kesalahan itu dulu. Sekarang hanya waktu mendapat akibatnya saja. Sudahlah jangan menghakimi Ibu. Kasihan dia.” pintah Arex dengan raut tenangnya.
Bimala diam dan menuju kamar mandi. Wanita itu memilih menyegarkan tubuhnya dan malam itu mereka pun tidur dengan tenang.
Berbeda dengan suasana di kamar yang lain.
“Bu, sudahlah jangan menangis. Seharusnya Ayah yang marah. Kenapa jadi Ibu yang menangis terus.” Wijaya sampai pusing kala melihat istrinya penuh penyesalan.
Ia bingung bagaimana menghadapi kehidupan kedepannya. Semua yang ia lakukan rasanya membuatnya tak punya nyali lagi. Rasa malu sangat besar menguasai pikirannya saat ini. Belum lagi dengan para teman sosialitanya. Derajatnya yang tidak setinggi teman-temannya semakin mudah untuk membuatnya di rendahkan.
Mely pasti tidak akan diam saja saat ini.
“Bu, itu akibat ulah Ibu sendiri. Kenapa harus seperti ini. Yang harus Ibu lakukan adalah menghadapinya. Bukan jatuh seperti ini.” tutur Wijaya.
“Ibu malu sama teman-teman Ibu, Yah. Jeng Mely pasti akan mempermalukan Ibu di depan mereka semua.” Helaan napas akhirnya Wijaya keluarkan usai mendengar ucapan sang istri.
“Hah kirain nangis kenapa? Sudalah tidak usah ikut kumpul lagi. Dari dulu Ayah juga tidak setuju kan Ibu kumpul-kumpul seperti itu. Kalau bukan menghamburkan uang apa lagi selain gosip? Ibu tetap bisa bernapas kan sekali pun tidak ikut berkumpul. Duduk tenang di rumah nunggu kita dapat cucu itu yang pas untuk Ibu.” Sari mengusap air matanya setelah mendengar ucapan sang suami.
Sementara matanya bisa melihat Wijaya yang membelakanginya tidur dengan selimut sudah menutup tubuhnya.
Lelah memikirkan sang istri, nyatanya yang di pikirkan justru memikirkan para istri-istri orang. Sungguh menyebalkan bukan.
***
Umpatan demi umpatan Mely keluarkan saat memasuki rumahnya. Tubuhnya pun ia lempar asal di atas sofa.
“Lihat saja, sudah berani main-main dengan saya. Tidak semudah itu kalian bahagia di atas kekecewaan saya dan Pandu.” geramnya mengepalkan tangan kesal.
“Mah,” Suara Pandu sontak membuat wajah kesal tertekuk milik Mely seketika cerah begitu saja.
“Pandu, sudah pulang kamu? Akhirnya…sini, sini Mamah mau bicara tentang rencana kita.” Mendengar itu kening Pandu mengernyit bingung.
__ADS_1
“Rencana?” tanyanya penasaran.
Mely mengangguk dan tersenyum smirk. Matanya menaikkan sebelah alis penuh rencana jahat.