Ketulusan Sang Dewa

Ketulusan Sang Dewa
Eksekusi


__ADS_3

Rencana bangun pagi buta, ternyata gagal total. Semua pakaian, bantal, dan selimut sudah berserak di lantai kamar itu. Suasana pagi yang cerah di luar menembus kamar utama di rumah megah milik Arex.


Silau pantulan kaca yang tertutup gorden putih memantul pada cermin make up besar di kamar itu. Wajah manis Bimala tak terusik sama sekali.


Dengkuran halus menemaninya tidur nyenyak, begitu pun dengan Arex yang juga bahkan mengorok. Tubuhnya benar-benar tepar setelah semalaman menikmati tubuh sang istri yang selalu menggiurkan baginya.


Hal yang sama terjadi di ruangan kerja, tampak Luna dan Reno yang tertidur di kursi kerja dengan kepala mereka berada di meja tepatnya.


Rumah besar yang biasa sunyi itu, kini membuat beberapa pelayan bertanya-tanya di dapur.


“Tuan dan Nyonya kok belum turun sarapan? Bukannya mereka harusnya berangkat?” Pelayan satu bertanya pada pelayan dua.


“Iya yah, lagi pula semalam tidak ada pesan untuk di bangunkan juga.” jawab pelayan lainnya.


“Coba di bangunin, tapi siapa yang berani?” Mereka saling menatap tak ada yang berani menyodorkan diri.


Hingga akhirnya semua berinisiatif bersama mengetuk pintu kamar.


“Tuan! Tuan! Tuan!” Panggilan bersamaan dengan ketukan pintu samar-samar namun tidak begitu terdengar jelas.


Hingga tulang jadi para pelayan itu merasa sakit sendiri akibat mengetuk pintu yang sangat keras dan kokoh.


“Ah sudahlah. Sepertinya Tuan tidak jadi berangkat. Tanganku sakit.” Mereka pergi kembali ke dapur untuk mengerjakan pekerjaan lainnya.


Jarum jam bergerak terus menerus seiring mentari yang bergerak semakin naik ke atas. Tepat pada jam 11 siang, suara teriakan terdengar dari kamar utama.


“Astaga! Jam 11! Rex, Arex bangun! Kita kesiangan! Aduh sakit!” Bimala teriak kaget dan merintih saat terlalu banyak bergerak.


“Ada apa sih, Mal?” Arex bangun dengan mata yang mengerjap ia berusaha mengumpulkan kesadarannya.


Namun, rasa kantuk begitu membuatnya tak bisa bangun sama sekali.


“Rex, bangun!” Bimala menggoyang-goyang tubuh sang suami saat melihat Arex kembali tidur karena tak sanggup untuk bangun.


“Ini pasti gagal berangkat kalau gini ceritanya.” Bimala pun turut tidur kembali.


Tak sanggup rasanya setelah lembur semalaman, harus melakukan perjalanan sepertinya tidak mungkin.


Di ruangan kerja, pelayan datang membawakan dua cangkir teh hangat untuk Luna dan Reno.


“Nona, Tuan, bangun.” Takut-takut pelayan membangunkan dua orang itu.

__ADS_1


“Ada apa?” Suara serak Luna menjawab sang pelayan. Sedetik kemudian matanya membulat melihat cahaya matahari dari jendela yang sudah terbuka.


“Astaga!” pekiknya langsung berdiri dari duduknya.


“Bi, jam berapa ini?” tanya Luna.


Wajah kantuknya berubah jadi panik.


“Sudah jam 11, Nona. Saya pikir di sini tidak ada orang tadi.” jelas sang pelayan.


Luna menatap dimana Reno sudah ngorong dengan nyenyak di sofa. Entah sejak kapan pria itu pindah ke sofa.


“Astaga pake ngorok lagi.” kesal Luna. Ia pun bergerak membangun Reno.


“Ren, bangun. Ren, kita ada meeting pagi ini.” Luna menggoyang-goyangkan tubuh Reno.


“Reno!” Teriaknya tepat di telingan Reno.


Bukan hanya Reno yang kaget, pelayan pun sampai tersentak tubuhnya. “Bangun!” Teriak Luna.


Reno mengusap matanya dan kaget bukan main.


“Lun, jam berapa? Kita meeting.” sahut Reno sadar matahari di luar bukan matahari pagi lagi.


***


Bangun kesiangan ternyata bukan hanya menjadi suasana yang mengejutkan. Nyatanya, Bimala pasrah saja saat tubuh sang suami sudah bergerak liar di atasnya kala itu.


Sakit dan lelah bekas semalam saja belum sembuh, kini Bimala di haruskan kembali melayani sang suami.


******* dan goyangan siang itu berakhir dengan suara erangan panjang Arex. Hingga akhir permainan mereka di akhirnya dengan suara dering ponsel milik Bimala.


“Ayah,” ujar Bimala menatap sang suami yang masih mengatur napasnya.


“Angkatlah.” jawab Arex singkat.


Ragu-ragu Bimala mengangkat panggilan itu. “Halo, Yah.” ucapnya.


“Bimala, apa kalian sudah berangkat? Atau sudah di bandara? Kenapa tidak mengabari Ayah?” Pertanyaan sang ayah membuat Bimala bingung mau menjawab apa.


“Em kami…Arex masih, itu yah tiba-tiba ada meeting. Besok kami akan berangkat.” Bimala gugup saat mengatakan kebohongan.

__ADS_1


Kening pria paruh baya itu mengkerut mendengar ucapan sang anak. “Yasudah, kabari Ayah kalau mau berangkat besok yah? Ayah cemas kirain sudah berangkat tapi nggak ada kasih kabar.”


“Iya, Yah, nanti Bimala kabari.” sahut Bimala.


Akhirnya sambungan telepon pun berakhir. Dan siang itu keduanya memutuskan untuk segera mandi dan keluar dari kamar.


“Aw sakit.” Bimala merintih saat ingin duduk di kursi meja makan.


“Ada apa, Mal? Apa yang sakit?” tanya Arex melihat sang istri duduk tak nyaman.


Pelayan yang ada di sana hanya melakukan aktifitas mereka.


Bimala tak menjawab, ia hanya menikmati makan pagi dan siang yang ia jamak itu.


Tring! Tring! Tring!


Suara dering ponsel kembali terdengar kala itu. Bimala melirik ponselnya dan melihat nama Wanda menelpon.


“Angkat saja.” pintah Arex.


Sungguh Bimala rasanya malas mengangkat panggil temannya. Ini pasti tidak jauh-jauh dari Arex.


“Malas ah. Mau makan.” jawab Bimala.


Tanpa ia duga tangan besar Arex sudah mengambil ponsel sang istri dan menggeser layar hijau yang ternyata itu adalah panggilan video.


“Aaaaa!!” Jeritan di seberang sana membuat mata Bimala membulat sempurna.


“Babang Oli!” Wanda menjerit histeris melihat wajah tampan Arex.


Arex memberikan ponsel itu pada sang istri. Ia hanya ingin memastikan jika yang menghubungi benar wanita.


“Nggak usah lebay deh. Suami gue tuh.” ketus Bimala saat melihat wajah Wanda yang senyum-senyum geli.


“Mal, lu nggak jadi berangkat?” tanya Wanda.


“Nggak!” Singkat Bimala menjawab.


“Oke bagus deh kalau gitu.” Seketika sambungan telepon pun mati.


Bimala yang acuh hanya melanjutkan makannya tanpa tahu jika di sini. Para teman-temannya sudah berkumpul di rumah Wanda siap meluncur ke rumah Bimala. Atas ijin dari sang mertua Arex, para wanita itu mendapatkan alamat rumah Bimala yang memang di sembunyikan.

__ADS_1


“Siap eksekusi babang Oli guys.” Seruan kompak empat teman wanita Bimala melajukan satu mobil menuju rumah Bimala.


__ADS_2