Ketulusan Sang Dewa

Ketulusan Sang Dewa
Permohonan Sari


__ADS_3

Pagi kini kembali menyapa. Pergantian malam sangat cepat meski rasanya begitu menyesakkan dada. Sampai pagi ini mata wanita paruh baya yang tampak sembab terlihat melamun.


Rupanya semalaman Sari sulit tidur karena masalah kemarin. Hingga lamunannya pun buyar kala merasakan pergerakan di samping tubuhnya.


“Ayah sudah bangun?” tanyanya saat melihat sang suami yang menatap ke arahnya dengan mata yang silau.


Tuan Wijaya mengusap kedua matanya mencoba memperhatikan lebih jeli lagi wajah sang istri.


“Ibu tidak tidur semalam?” tanya Tuan Wijaya yang sepertinya tak menyangka. Bagaimana mungkin ia tidur dengan lelap sementara sang istri masih terjaga semalaman.


“Ibu nggak bisa tidur, Yah. Ibu masih kepikiran.” jawabnya lemah.


Helaan napas Tuan Wijaya keluarkan saat mendengar ucapan sang istri.


“Semua sudah terjadi. Ibu hanya harus memperbaiki diri ke depannya. Jangan buat hati Arex sakit, Bu. Dia sudah sangat baik pada keluarga kita.” ujar Tuan Wijaya menasehati.


Sari hanya mengangguk. Namun ketukan terdengar di depan pintu kamar mereka.


“Tuan, Nyonya, sarapan sudah selesai. Nyonya muda dan Tuan muda Arex sudah menunggu.” Segera Tuan Wijaya bangkit dari tempat tidur untuk membuka pintu kamar.


“Baik, kami segera menyusul. Kami mau mandi sebentar, Bi.” jawabnya sopan.

__ADS_1


Pelayan dengan segera menganggukkan kepalanya patuh.


Sedangkan di meja makan kini Bimala dan Arex tengah membicarakan kepergian mereka ke rumah sakit setelah sarapan.


“Rex, kamu yakin tidak ada urusan di kantor? Bagaimana kalau pekerjaan di kantor menumpuk? Aku bisa kok pulang. Di sini Ayah dan Ibu tidak hanya berdua kan? Banyak pelayan dan orang-orang kepercayaan kamu.”


Bagaimana pun Bimala paham kesibukan sang suami. Jangankan Arex yang sebagai pemilik perusahaan, ia yang hanya sebagai manager HRD saja, satu hari tidak masuk kerja di meja sudah menumpuk berkas yang harus ia kerjakan.


Arex meneguk segelas susu di tangannya.


“Jangan khawatirkan itu semua. Apa gunanya orang-orang yang ku gaji?” Telak. Bimala hanya bungkam.


“Ya yah kau pemilik perusahaan itu.” jawaban Bimala membuat Arex tersenyum smirk.


“Atau jika kau ragu dengan orang-orangku, kau bisa percaya dengan orang-orangmu, Mal.” Bimala yang tengah mengemil lauk tiba-tiba hampir tersedak.


Ia menatap tanya sang suami. Apa maksud orang-orangnya? Rosa dan kawan-kawan? Tidak kan.


“Orang-orangku? Siapa?” tanya Bimala melanjutkan ingin tahunya.


“Pengagumku.” jawab Arex singkat.

__ADS_1


Kemudian tak lama sebelum Bimala sempat bertanya lagi, kedua orangtua yang di tunggu akhirnya kini ikut bergabung di meja makan.


Tentu dengan Tuan Wijaya yang mendorong kursi roda sang istri.


“Bu, Ibu tidak tidur? Mata Ibu menghitam.” Bimala tampak syok melihat wajah Sari yang tampak kacau meski rambut sudah ia basahi.


Sari dan Wijaya saling pandang kemudian wanita paruh baya itu mengangguk pelan.


“Astaga, hari ini Ibu haris terapi. Bagaimana mungkin keadaan Ibu tidak fit seperti ini?” Arex ikut bersuara.


Namun, kini pikiran Sari bukan terfokus pada kesembuhannya. Ia justru fokus memikirkan masalah kemarin.


“Rex, apa tidak sebaiknya kita kembali ke Indonesia saja?” Sontak pertanyaan Sari membuat semuanya saling memandang tak percaya.


Kembali ke Indonesia? Sungguh Sari sangat membuat mereka bingung.


“Bu, kok kembali ke Indonesia? Ibu nggak mau sembuh?” tanya Bimala.


Sari terdiam sejenak. “Ibu ikut pengobatan di sana saja. Ibu tidak betah di sini.” Ia tertunduk setelah mengatakan isi hatinya.


Tidak betah, tentu saja karena keberadaan Pandu. Ia khawatir jika Pandu dan ibunya akan melakukan hal yang tidak-tidak.

__ADS_1


__ADS_2