Ketulusan Sang Dewa

Ketulusan Sang Dewa
Pertanyaan Yang Masih Banyak


__ADS_3

Kala membuka pintu usai makan, manik mata Bimala menatap jengah. Sungguh malas rasanya melihat kamar berantakan.


“Kita ke taman belakang saja. Biar Bibi bersihkan kamar. Ayo.” Bimala tak bersuara.


Ia hanya menurut saja dengan apa yang di ucapkan oleh sang suami. Arex menggandeng tangan istrinya untuk bersantai siang itu. Batal pergi hari ini, membuatnya enggan untuk ke kantor.


Lagi pula sudah ada orang-orang kepercayaan Arex yang mengurus perusahaan. “Bibi!” panggilnya kebetulan melihat salah satu pelayan lewat menunduk.


Pelayan itu segera mendekat tanpa menatap wajah sang tuan.


“Bersihkan kamar dan ganti spreinya, Bi. Setelah itu suruh lainnya menyiapkan makanan ringan di taman belakang.” Ucapan Arex segera mendapatkan anggukan dari sang pelayan.


“Baik, Tuan.” jawabnya.


Suasana sejuk dan menenangkan mereka rasakan di taman belakang. Suara pancuran air mengalir di taman itu menambah rasa nyaman.


Sepasang suami istri duduk bersampingan dengan saling diam.


“Posisimu sudah di ganti oleh orang baru di kantor.” Sontak Bimala mendelikkan matanya kaget. Ia sampai menegakkan tubuhnya menatap sang suami.


“Rex, itu posisiku. Bagaimana mungkin di gantikan?” tanyanya tak terima.


Arex menatap sang istri. “Manager HRD besar tanggung jawabnya. Beda dari karyawan di bawahnya. Bagaiman mungkin kau mendudukinya sedang sudah banyak liburmu? Aku sudah katakan itu tidak pantas untukmu.” jelas Arex.


Bimala terdiam sejenak. “Aku di bagian mana?” tanya pasrah.


Sadar jika Arex penguasa perusahaan raksasa itu.


“Kau bagian catering saja. Itu pun kalau tidak keberatan.” ujar Arex santai namun membuat Bimala hampir lepas jantungnya.


Sekian lama ia bekerja dan sekolah, apa ia hanya menjadi tukang catering. Sungguh menggelitik hati Bimala.


Wanita itu terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. Merasa ucapan sang suami sungguh tak masuk akal.


“Rex, kau bercanda tidak lucu. Jabatan apa itu? Tidak. Aku tidak mau.” tolak Bimala mentah-mentah.


“Oh baiklah. Aku akan meminta Luna atau Reno untuk mencarikan catering khusus untukku, sepertinya menarik di antarkan makan dan di temani makan siang dengan catering khusus. Di rumah di temani makan dengan istri. Berbeda-beda tetap satu rasa.” Arex terkekeh melihat mata Bimala yang membola seolah siap melompat dari cangkangnya.


“Rex!” pekik Bimala seketika di sambut teriakan riuh suara cempreng yang ramai.


“Bimala!”

__ADS_1


“Mala,”


“Babang Oli, i am coming!” Seruan empat wanita tiba-tiba berhambur mendekat ke arah taman belakang.


Di sana terlihat dua pelayan yang memberi jalan ke arah taman belakang.


Di saat itu juga Bimala menggigit bibirnya menerka apa yang akan terjadi setelah ini.


“Argh!” umpatnya dalam hati menggigit bibir bawahnya kecil.


Sungguh kekesalan yang Arex buat belum sempat hilang kini sudah di tambah lagi dengan kedatangan para sahabatnya.


Arex hanya menatap kedatangan empat wanita.


“Kalian kenapa kesini? Kok bisa?” Bimala berdiri tanpa menyambut hangat kedatangan Wanda, Rosa, Leni, dan Nara.


“Mal, kita datang loh. Kok lu nggak nyambut kita dengan baik sih?” ucap Nara berakting sedih.


Bimala memijat keningnya pening rasanya.


“Sayang, aku ke ruang kerja dulu yah? Kalian bisa lanjut bersenang-senangnya. Sebelum besok kita berangkat.” ujar Arex penuh pengertian.


“Bang, senang-senangnya sama abang aja lebih seru. Bimala pasti rela kok.” Kedipan mata Rosa membuat Bimala mengumpat kesal.


“Apaan sih lo? Ah!” Bimala mendorong Arex menjauh dari teman-temannya.


“Bang Oli, kita siap jadi ke dua ketiga dan keempat. Bimala kan nggak suka sama Babang Oli.” Lantang Leni berteriak kegirangan melihat Arex yang menjauh.


Kini suasana pun kembali hening saat Bimala sudah kembali seorang diri. Ia tampak menatap satu persatu temannya.


Empat temannya berjejer berdiri sedangkan Bimala berjalan mondar mandir dengan tangan yang bersedekap. Seakan siap menghakimi mereka.


“Siapa yang suruh kalian ke sini?” Pertanyaan pun lolos dari bibir Bimala setelah mengumpulkan kesabarannya.


Semua menggeleng serentak. “Nggak ada, Mal. Kan kita pengen tahu rumah laki lo. Ups salah, maksudnya rumah lu.” Rosa menutup sebentar bibirnya yang keceplosan.


“Kita kan lagi pada libur, Mal. Makanya mau ngunjungin teman kita yang mau berangkat besok. Kita tuh mau beri semangat buat kamu.” Basa basi mereka sudah tak membuat Mala asing lagi.


Kekesalan Bimala perlahan hilang seiring berjalannya waktu, mereka pun mulai menikmati sore itu dengan canda tawa.


Tak perduli dengan pria yang gelisah di ruang kerjanya. Batalnya berangkat hari ini nyatanya tak membuatnya memiliki waktu banyak pada sang istri.

__ADS_1


Arex berusaha membuka laptop dan bekerja, sayang pikirannya sudah terlanjur tidak fokus bekerja.


“Bi, mereka belum pergi?” tanya Arex di depan pintu ruang kerja.


Sudah 3 jam lamanya sejak kedatangan teman-teman sang istri, sungguh Arex bosan sekali berada di ruang kerjanya seorang diri.


“Belum, Tuan. Ini Nyonya minta di buatkan persiapan barbeque, Tuan.” Arex menghela napas kasar. Itu artinya sang istri masih lama bersama teman-temannya.


***


Pagi tanpa terasa datang menyapa. Sebuah koper berukuran sedang sudah bergeser menuju bagasi. Beberapa bodyguard turut mengawal keberangkatan Arex dan Bimala pagi itu.


“Rex, mana tiketnya?” Bimala melihat sang suami sudah berjalan memasuki sebuah pesawat dengan menggandeng tangannya.


Keningnya mengernyit, pesawat yang tidak ada sama sekali penumpang selain mereka.


“Kita pakai ini, kenapa harus pakai tiket. Ayo duduk.” ujar Arex.


Mata Bimala menatap takjub pesawat jet pribadi yang ia naiki untuk pertama kalinya.


“Kamu bayar berapa pakai ini, Rex? Ini mahal kan?” Bimala masih tidak tahu saja jika ini adalah pesawat yang Arex miliki sejak lama.


“Duduk tenang dan nikmati perjalanan.” pintah Arex.


“Rex, tunggu. Aku penasaran. Ini bukan pesawat kamu kan? Kemarin kita gagal berangkat karena terlambat penerbangan.” Bimala ingat benar jika mereka kemarin ingin naik pesawat umum.


Arex menghela napas mendengar pertanyaan sang istri.


Bimala memang belum banyak tahu tentangnya.


“Ini pesawat kita. Kemarin aku sengaja ingin naik pesawat umum. Karena yang ini sedang di sewa. Sekarang aku sengaja mengosongkan jadwal pesawat agar kita terbang dengan nyaman. Sudahlah jangan banyak tanya. Nikmati perjalanan.”


Percakapan pun berakhir dengan keheningan. Semua pertanyaan di kepala Bimala sungguh mengganggu pikirannya. Ia gengsi jika harus berlembut-lembut membujuk sang suami.


Jika mereka berada di penerbangan saat ini, berbeda dengan suasana di rumah sakit.


“Paman, kapan Bimala tiba?” Seorang pria yang berprofesi sebagai dokter di rumah sakit itu tampak menunggu Sari yang terbaring di brankar.


Sejak kemarin tak hentinya ia bertanya kapan Bimala tiba. Sungguh penantian yang tak terduga akan bertemu Bimala di saat ia sedang bekerja di rumah sakit tanpa harus kembali ke Indonesia dulu.


“Hari ini mereka baru tiba, karena kemarin tidak jadi berangkat.” jawab Wijaya tanpa senyuman ramah.

__ADS_1


__ADS_2